
"Aku berangkat dulu,," Agam meraih tengkuk Arumi untuk mengecup singkat bibir merah muda milik istrinya itu. Arumi hanya diam saja saat mulut Agam bergerak menyes sap bibirnya. Wajah cantiknya tampak lesu, ada kesedihan dalam sorot matanya karna akan di tinggal suaminya ke Jakarta.
"Berapa lama.?" Tanya Arumi sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang Agam, perlahan memeluk erat dan meletakkan kepala di dada bidang itu. Arumi memeluk Agam seolah dia tidak rela membiarkan suaminya pergi ke Jakarta.
"Aku usahakan selesai hari ini." Agam mengusap pelan punggung Arumi penuh sayang. Perasaan istrinya selalu buruk sejak perselingkuhan yang di lakukan oleh Andrew. Agam mencoba untuk memposisikan diri sebagai Arumi, meski terkadang tingkah Arumi cukup menguji kesabarannya.
"Aku tidak mau tidur sendirian di sini. Kamu harus pulang hari ini juga." Pinta Arumi sedikit merengek.
Agam tampak menarik nafas dalam. Dia juga tidak bisa memastikan urusannya bisa selesai hari ini juga atau tidak. Karena ternyata bukan hanya kecerobohan karyawan hotel saja, tapi ada sedikit masalah di laporan keuangan sejak 2 bulan lalu.
Sepertinya ada sedikit permainan di hotel cabang itu.
"Nanti kamu pulang saja ke apartemen Mama Amira. Atau mau ke rumah Mama ku.? Kamu sudah lama tidak main kesana kan." Ujar Agam memberi solusi. Setidaknya jika Arumi berada di apartemen Amira ataupun di rumah mertuanya, Agam bisa tenang menyelesaikan urusannya di Jakarta. Tanpa khawatir karna tidak ada yang menjaga Arumi di apartemen.
"Baiklah,," Arumi tidak membantah lagi. Sebisa mungkin berusaha memahami situasi dan pekerjaan suaminya meski sebenarnya tidak ingin di tinggal-tinggal.
"Jangan cemberut," Agam menarik kedua pipi Arumi, membuat wanita cantik itu mengukir senyum meski tampak terpaksa.
"Mau liburan ke luar negeri tidak.?" Tawar Agam untuk membujuk dan memperbaiki suasana hati istrinya.
"Suamiku sangat sibuk, mana ada waktu untuk liburan ke luar negeri." Sindir Arumi seraya melepaskan pelukannya.
"Sudah sana berangkat, nanti kamu terlambat." Arumi beranjak dari sana, Agam segera menyusul istrinya dan merangkul mesra pinggang ramping milik Arumi.
"Kamu kapan libur semester.? Nanti aku kosongkan jadwal." Ujar Agam yang masih berusaha membujuk Arumi, setidaknya sampai Arumi rela membiarkannya berangkat ke Jakarta.
Karna sekarang Arumi masih terlihat terpaksa.
"Kamu ingin pergi ke negara mana.?" Lanjutnya lagi. Tak peduli meski Arumi masih memasang wajah tak bersahabat.
"Aku ikut saja, asal liburannya nyata. Bukan sekedar janji." Celetuk Arumi penuh penekanan.
Agam terkekeh seraya mengusap gemas pucuk kepala istrinya yang sejak tadi menyindir dan bicara pedas padanya.
"Mau datang bulan ya.?" Seloroh Agam dengan candaan. Arumi hanya melirik tanpa mengatakan apapun.
...*****...
Gea baru sampai di apartemen pukul 2 siang. Dia sedang menggunakan akses card untuk membuka pintu apartemen Glen. Namun belum sempat membuka pintu, seseorang mencibir dirinya cukup pedas.
"Dasar ja-lang.!" Cibiran itu sontak membuat Gea berbalik badan. Dia tidak kaget melihat siapa orang yang baru saja menyebutnya ja-lang.
Suara itu tidak asing bagi Gea, siapa lagi kalau bukan Adeline.
"Kak Adeline.? Siapa yang kamu sebut ja-lang.?" Gea berlagak kaget dan sengaja mengedarkan pandangan seolah sedang mencari seseorang yang di sebut ja-lang oleh Adeline. Padahal di sana hanya ada dia dan Adeline.
"Aku.?" Tanya Gea dengan tampang pura-pura tidak tau dan mengarahkan jari telunjuk ke wajahnya sendiri.
"Apa aku harus mengulanginya lagi.?!" Sentak Adeline penuh amarah. Sikap Gea yang seolah tidak tau apapun, berhasil membuat Adeline meradang. Sekarang dia tau seperti apa sifat Gea yang sebenarnya.
"Ja-lang tidak tau malu.! Kamu sengaja menggoda Glen kan.?!!" Bentaknya seraya mencengkram lengan Gea. Cengkraman itu berhasil membuat Gea meringis kesakitan, namun dia tidak berniat menepisnya.
Itu karna suasana hatinya sedang baik. Akhirnya yang di harapkan terjadi juga. Gea tidak peduli dari mana Adeline tau hubungannya dengan Glen, yang terpenting dia berhasil membuat Adeline sakit hati.
"Kak Adeline, apa kamu sedang salah paham padaku.?" Gea memasang wajah sendu. Bukan untuk meraih simpati Adeline, melainkan untuk memancing kemarahan Adeline. Gea akan merasa puas kalau amarah Adeline meluap-luap. Dengan begitu dia bisa melihat sehancur apa perasaan Adeline setelah tau hubungannya dengan Glen.
"Aku tidak sejahat itu sampai tega menggoda tunanganmu." Sambungnya lagi. Dalam hati Gea tertawa puas. Melihat kehancuran Adeline adalah tujuannya, setelah ini bisa di pastikan Sean akan ikut terbakar melihat Kakaknya hancur dan sakit sakit.
"Wanita sialan,,!" Adeline hampir melayangkan tamparan di wajah Gea, beruntung Gea bisa mencekal tangan Adeline dan meremasnya kuat.
"Lepas.!! Kau tidak punya malu Gea.!! Benar-benar seperti ja-lang.!" Adeline terus mengumpat, memberikan cap ja-lang pada wanita yang pernah dekat dengannya karna berkencan dengan adiknya.
Gea tersenyum sinis.
"Kau pikir siapa yang sudah membuatku seperti ja-lang, hah.?!!" Bentak Gea tepat di wajah Adeline yang hanya berjarak beberapa senti. Adeline sampai menjauhkan wajah dengan mata terpejam. Sorot mata Gea penuh dengan amarah, terlalu mengerikan untuk di lihat.
"Apa mau mu.?! Aku bahkan tidak pernah melakukan kesalahan padamu.!" Teriak Adeline frustasi. Entah apa tujuan Gea mendekati dan menggoda Glen, padahal Gea jelas tau kalau Glen miliknya.
"Ya ampun,, kenapa aku sangat bahagia melihatmu hancur seperti ini Kak.?" Adeline terkekeh puas.
"Kamu memang tidak melakukan kesalahan, tapi kelakuan adikmu seperti iblis.!! Jangan salahkan aku kalau sekarang aku ingin merebut Glen darimu.!" Serunya. Kali ini Gea tertawa, suara tawanya menggema dan membuat Adeline mengepalkan kedua tangan.
"Bagaimana rasanya di khianati pasangan, hah.?" Tanya Gea mengejek.
"Aku bahkan bisa tinggal berdua dengan tunanganmu," Ujarnya sengaja memanas-manasi Adeline. Lagi-lagi Adeline kembali ingin menampar Gea, tapi kali ini Gea membiarkan pipinya di tampar oleh Adeline.
"Ja-lang murahan.!!" Umpat Adeline geram.
"Aaww,,, sakit sekali." Ucap Gea meledek. Dia pura-pura memasang wajah sedih sambil mengusap bekas tamparan di pipinya.
Tapi kemudian Gea tertawa keras.
"Ini tidak seberapa sakit di banding yang aku lakukan padamu Kak." Ucapnya penuh penekanan.
"Tunanganmu sangat hebat di ranjang, dia selalu membuatku men de sah nikmat." Bisik Gea.
"Bagaimana mungkin aku rela melihatnya menjadi milikmu." Lanjutkan dan buru-buru masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Adeline yang mematung di tempat dengan kedua pipi yang basah karna air mata.