Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 52



Arumi mungkin akan syok jika tau sahabatnya yang sejak tadi tidak menjawab telfonnya, ternyata sedang bertukar peluh dan cairan dengan Glen.


Tiada hari tanpa melakukan percintaan panas, itu yang dilakukan oleh Glen pada Gea.


Tapi walaupun Gea terpaksa menerima tawaran Glen, gadis itu akhirnya tetap menikmati setiap sentuhan sang casanova.


Lagipula siapa yang bisa menolak kenikmatan, di dukung dengan fisik tampan Glen dan postur tubuh sempurna.


Lebih baik ikut menikmati daripada mengeluh. Karna mau bagaimanapun, Glen akan tetap menyanderanya selama 5 bulan.


"Lebih cepat Baby,,!!" Seru Glen. Kedua tangannya me re mas kuat benda yang menggantung di depan wajah.


"Iya Om,," Gea langsung mempercepat gerakkannya. Kedua tangannya melingkar dengan nyaman di leher Glen.


Tidak di pungkiri terkadang Gea merasa tubuhnya terasa remuk lantaran Glen menggempurnya setiap hari. Tapi dia juga tidak mungkin menolak permintaan pria itu.


Beberapa menit berlalu, tubuh keduanya sama-sama menegang. De sa han keduanya semakin kencang. Mereka berdua sama-sama meracau tak jelas saat kenikmatan itu datang dan menjalar ke seluruh tubuh.


Gea ambruk di pangkuan Glen. Gadis itu meletakkan kepalanya di pundak Glen dengan nafas yang tersenggal.


Rasa nyaman mulai menyusup tanpa Gea sadari. Terlebih hatinya baru saja di hancurkan atas pengkhianatan cinta pertamanya.


Laki-laki yang sudah membuatnya kehilangan mahkota, kini tega mencampakkannya begitu saja. Melupakan janji-janji manis yang ternyata palsu.


"Makasih Om,," Lirih Gea. Gadis itu semakin mendekap erat tubuh Glen.


Entah ungkapan terimakasih untuk apa. Padahal disini jelas-jelas dia yang sudah di manfaatkan oleh Glen. Harusnya Glen lah yang berterima kasih pada Gea, dia tak perlu mengeluarkan uang setiap kali menggagahi gadis itu.


"Untuk apa.?" Tanya Glen.


"Semuanya. Om memberiku tempat tinggal yang lebih layak, makanan yang enak. Om juga nggak melaporkan aku." Tutur Gea. Setelah dipikir-pikir, tidak ada ruginya ikut dengan Glen. Daripada harus berurusan dengan polisi karna kasus pencurian, itu hanya akan membuat kedua orang tuanya berada dalam masalah.


Lagipula tinggal di apartemen Glen jauh lebih nyaman di banding tinggal di kamar kos berukuran kecil.


"Tapi semua itu nggak gratis, kamu sudah bersedia membayarnya dengan tubuhmu. Jadi untuk apa berterima kasih." Jawab Glen. Tangannya mulai nakal, menyusuri punggung polos Gea dengan perlahan.


Tubuh Gea meremang. Tak jarang dia merutuki dirinya sendiri yang mudah terangsang setiap kali Glen menyentuhnya. Entah karna Glen terlalu mahir membangkitkan gairah seseorang, atau Gea saja yang tak bisa mengendalikan diri.


"Om,,,!" Gea terkejut saat merasakan area intinya kembali penuh. Karna sejak mendapat pelepasan tadi, kedua benda itu memang di biarkan menyatu.


"Mau di bawah.?" Tawar Glen. Sorot matanya sudah dipenuhi kabut gairah lagi.


Gea mengangguk pasrah, menolak pun percuma. Dia juga tidak punya tenaga lagi jika harus bekerja di atas.


Dengan sekali gerakan, Glen menggulingkan Gea. Kini tubuh seksi itu berada di bawah kuasa Glen.


Gea hanya bisa meloloskan de sa han ketika Glen menjelajahi titik sensitifnya dengan tangan dan bibir. Sedangkan pinggulnya bergerak teratur.


Glen seolah tak pernah bosan menikmati tubuh gadis berusia 18 tahun itu.


Suara dering ponsel sempat membuat Glen menghentikan aktivitasnya. Pria itu meraih ponselnya dan hanya menekan mode silent tanpa berniat untuk menerima panggilan.


Gea yang melihat itu hanya diam saja. Dia bisa menebak siapa yang menghubungi Glen.


...*******...


Dia sudah terlanjur kecewa pada Agam.


Kado dari Agam bahkan belum di bukan sampai detik ini. Arumi hanya meletakkannya di atas meja. sedangkan buket bunganya sudah mulai layu meski Arumi merendam tangkainya dalam pot berisi air.


Nothing special, begitu anggapan Arumi ketika melihat kado dan bunga itu. Dia juga tidak bersemangat menyambut hari ulang tahunnya yang tinggal menghitung jam saja.


Besok Arumi mengadakan acara dengan teman-teman kampus dan teman sekolahnya. Dia sudah menyewa satu restoran untuk merayakan ulang tahun sekaligus dinner.


Harusnya Agam ada di sana, menjadi bagian penting dalam pesta itu.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan. Sudah pukul 11 malam, tapi Arumi belum memejamkan mata. Mungkin dia terlalu berharap seseorang akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya tepat jam 12 malam.


"Gea,," Gumam Arumi saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Suasana hati Arumi sedikit membaik ketika mendapatkan telfon dari sahabatnya itu.


Arumi buru-buru mengangkatnya.


"Hallo Ge, kamu baik-baik saja kan.?" Hal pertama yang di tanyakan Arumi adalah keadaan Gea. Dia tentu khawatir pada sahabatnya itu yang entah tinggal dimana. Sampai detik ini Gea belum cerita apapun lagi padanya.


"Aku akan selalu baik-baik saja Ar, jangan khawatir." Jawab Gea meyakinkan.


"Kamu belum tidur Ar.?" Tanyanya.


"Sepertinya aku insomnia." Keluh Arumi sendu.


"Insomnia apa merindukan seseorang.?" Goda Gea. Dia tau kalau Agam sedang berada di luar kota sejak 2,hari lalu. Gea juga tau sahabatnya itu sedang kesal karna Agam dipastikan absen di pesta ulang tahun Arumi.


"Nggak usah mulai. Om Agam menjengkelkan." Adu Arumi kesal.


"Tapi Ar, Om Agam sepertinya udah mulai jatuh hati sama kamu. Mungkin pekerjaannya memang lagi banyak, bukan bermaksud memprioritaskan pekerjaan di banding kamu." Tutur Gea panjang lebar. Nasehatnya cukup baik untuk mendinginkan hati Arumi. Tapi Arumi sudah terlanjur kesal.


"Aku malas bahas Om Agam. Kita ganti topik saja,," Pinta Arumi.


Gea terkekeh kecil di seberang sana.


Mereka akhirnya membahas topik lain hingga tanpa sadar sudah hampir jam 12 malam.


Dan tepat jam 12, Gea memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Arumi. Membuat Arumi menangis terharu sekaligus kecewa. Kecewa karna bukan Agam orang pertama yang memberikan ucapan selamat padanya.


Namun disisi lain Arumi begitu mensyukuri adanya Gea. Sahabatnya itu berhasil menghibur dikala suasana hatinya sedang tidak menentu.


"Terimakasih banyak Ge, kamu memang terbaik." Ucap Arumi dengan suara serak lantaran menangis.


"Kamu jangan sungkan-sungkan minta tolong kalau butuh bantuan. Ge,, aku sebenarnya mengkhawatirkan kamu." Kata Arumi setelah mulai tenang.


"Selama ini kamu tinggal dimana.?" Tanya Arumi dengan rasa penasaran yang sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Aku baik-baik saja Ar, sejauh ini nggak ada kesulitan sama sekali. Makasih sudah selalu menawarkan bantuan padaku." Ucap Gea penuh rasa haru.


"Soal tempat tinggalku, secepatnya aku akan cerita."


Arumi akhirnya pasrah, dia memilih untuk menunggu Gea siap bercerita padanya.