Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 125



Glen mengakhiri sambungan telfonnya ketika Dokter dan perawat pamit keluar dari ruangan. Pria itu menghampiri Dokter yang sudah menjauh dari ranjang Gea. Sebelum bicara pada Dokter itu, Glen lebih dulu melirik sekilas ke arah Gea.


Wanita itu langsung membuang muka ketika bertatapan dengan Glen.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok.?" Lirih Glen. Dia akhirnya menyebut Gea sebagai istrinya karna sejak awal Dokter itu sudah terlanjur mengira kalau dia adalah suami Gea. Bahkan saat menandatangani surat untuk melakukan tindakan medis, di sana disebutkan bahwa Glen adalah suami pasien.


Lagipula Gea sedang hamil dan butuh tindakan medis setelah kehilangan satu janinnya. Jika tidak ada yang mengaku sebagai suaminya, bisa-bisa pihak rumah sakit akan menanyakan keberadaan orang tua atupun keluarga Gea untuk meminta persetujuan atas tindakan medis yang harus di jalani Gea.


"Kondisinya sudah stabil, hanya butuh bed rest untuk beberapa minggu ke depan. Usahakan tidak melakukan aktivitas berat ataupun kelelahan."


"Untuk 2 hari ke depan kemungkinan istri Anda masih mengalami sedikit nyeri dan tidak nyaman di bagian perutnya. Tapi tidak perlu khawatir, itu hanya efek sementara karna baru saja mengalami perdarahan dan keguguran." Tuturnya panjang lebar. Dokter itu memberikan penjelasan yang cukup membantu Glen. Pria itu jadi tau harus melakukan apa untuk tetap menjaga kesehatan dan kehamilan Gea pasca kehilangan satu janinnya.


"Baik Dok, terimakasih." Ucap Glen seraya membungkuk sekilas. Pria itu kemudian menghampiri Gea setelah Dokter dan perawat keluar dari ruangan.


Glen menarik kursi agar lebih dekat dengan ranjang Gea untuk dia duduki. Namun, Gea langsung berbalik badan memunggungi Glen.


Wanita itu memejamkan mata rapat-rapat, bukan mau pura-pura tidur, tapi berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.


Saat ini hatinya sudah tercabik-cabik, dia merasakan kehancuran dan kehilangan yang amat besar sepanjang hidupnya. Ternyata dia khianati dan kehilangan Sean tidak ada apa-apanya di banding kehilangan darah dagingnya.


Meski belum pernah melihat wujud janin dalam kandungannya, namun kabar buruk itu cukup menganggu psikis dan hati Gea.


Wanita manapun pasti akan merasakan kehancuran yang sama jika kehilangan calon anak mereka.


"Sudah waktunya makan siang, aku akan minta perawat untuk mengantarkan makan siangmu kesini." Ujar Glen lembut. Padahal dia sadar sedang di abaikan oleh Gea, tapi masih berusaha mengajaknya berkomunikasi.


"Aku tidak akan makan sebelum perjanjian kita di akhiri. Sisa kerugiannya akan aku ganti dengan uang."


"Lagipula dengan kondisi ku yang seperti ini, aku tidak bisa melayani Om." Lirih Gea dengan nafas yang tercekat. Dia tidak ingin terlihat lemah meski hatinya rapuh setelah kehilangan satu bagian dalam dirinya. Namun pura-pura kuat tidak semudah menunjuk sesuatu.


"Dalam keadaan seperti ini, apa penting ki membahas soal perjanjian.?" Tanya Glen tak habis pikir.


"Kamu sedang mengandung anakku, lupakan soal perjanjian." Tegasnya penuh makna.


Gea langsung paham hanya dengan satu kali mencerna kalimatnya. Secara tidak langsung Glen akan menghapus perjanjian itu dan akan bertanggungjawab atas janin yang ada dalam. kandungan Gea.


"Percaya diri sekali menyebutnya anak Om. Bisa jadi ini anak pria lain yang menabur benih padaku.!" Sahut Gea ketus.


Gea sengaja memancing amarah Glen dengan mengatakan kebohongan agar Glen membiarkannya pergi. Dengan mengatakan anak dari pria lain, Gea berharap Glen akan meragukan anak itu dan tidak berniat untuk bertanggungjawab lagi. Itu satu-satunya cara agar dia bisa lepas dari Glen.


Jangankan berfikir untuk memilikinya, hatinya bahkan sakit ketika melihat wajah Glen.


Bayangan wajah Glen yang menggagahinya tanpa belas kasihan, masih terbayang-bayang di ingatan. Glen bahkan tidak peduli dengan rintihannya yang mengeluh sakit di bagian perut.


Glen tampak menarik nafas dalam mendengar penuturan Gea. Pria itu terlihat sedang berusaha menahan amarahnya. Kalau tidak ingat dengan kesalahannya dan kondisi Gea saat ini, sudah pasti dia meluapkan amarahnya karna Gea berani mengatakan pria lain ikut menabur benih.


"Kita bahas nanti setelah kondisimu pulih." Ujar Glen yang tidak mau berdebat.


Dia memilih menghubungi perawat agar mengantarkan makan siang.


Sudah 2 jam sejak perawat mengantarkan makan siang ke ruangan mereka, sedikitpun makanan itu tidak berkurang. Gea menolak makan siang, dia sampai mengancam tidak akan makan selama Glen masih berada di sana.


Bukan tanpa alasan Gea menginginkan Glen pergi dari ruangan itu. Berada 1 ruangan dengan Glen cukup membuat nafasnya sesak. Gea masih belum bisa menerima kenyataan kalau Glen penyebab dia kehilangan salah satu calon anaknya.


"Baik aku pergi, tapi kamu harus makan dan minum obat. Langsung panggil perawat kalau kamu butuh sesuatu." Glen beranjak dari duduknya. Lama-lama pria menyerah juga karna perkataan dan usahanya tidak pernah di respon Gea. Gea selalu membuang muka, terkadang pura-pura tidur. Seperti sekarang, Gea juga tidak memberi respon apapun saat Glen akan pergi.


Sampai pukul 9 malam, Glen tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Entah pria itu benar-benar tidak berkunjung ke rumah sakit ini lagi, atau diam-diam malah memantaunya di luar ruangan kamar inap. Gea berusaha untuk tidak peduli selama Glen tidak muncul di hadapannya.


Kini Gea sedang memikirkan cara untuk melarikan diri dari Glen dan memulai hidup yang baru bersama calon anaknya. Keputusan Gea sudah bulat, dia tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Glen dan memilih berjuang sendiri dengan darah dagingnya.


Anggap saja ini salah satu cara untuk menghukum Glen. Memberikan Glen pelajaran agar merasakan bagaimana sakitnya kehilangan.


...******...


Pukul 11 malam, di saat penghuni kamar inap sedang terlelap, Glen menyelinap masuk.


Keadaan kamar cukup redup karna lampu utama tidak menyala. Glen menutup pintu perlahan dan menguncinya.


Duduk di samping ranjang, Glen menatap lekat wajah Gea tanpa bisa menyentuhnya. Glen enggan mengusik tidur nyenyak Gea. Apalagi kalau sampai membangunkannya, bisa-bisa Gea mengusirnya lagi.


"Maaf,," Lirih Glen nyaris tanpa suara.


Baru kali ini seorang Glen menyesali perbuatannya. Terbiasa berbuat seenaknya membuat Glen tidak peduli perbuatannya salah atau tidak. Kini setelah tanpa sengaja membunuh calon anaknya sendiri, Glen mulai merenungi semua kesalahannya.


Tak mau menyesal dan kehilangan untuk kedua kalinya, Glen akhirnya memutuskan menemui keluarga Adeline dan meminta agar pernikahan mereka di batalkan. Meski belum ada keputusan pasti karna Adeline langsung mengurung diri di kamar, setidaknya Glen sudah mengutarakan keinginannya dan alasan kenapa ingin membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata itu. Glen sadar keputusannya akan menyakitkan untuk Adeline, tapi dia tidak punya pilihan lain.