
"Sebentar Ge, aku ingin bicara." Arumi menahan tangan Gea saat akan beranjak dari duduknya di kantin kampus. Arumi sengaja menahan Gea ketika Sena dan Aileen sudah pergi dari sana.
Gea duduk kembali di kursi semula. Ekspresi wajah Arumi yang tampak serius cukup membuat Gea gelisah. Gea sudah over thinking duluan, dia berfikir Arumi akan mengatakan tidak mau berteman dengannya lagi karna hamil di luar nikah. Walaupun tau kalau Arumi bukan orang seperti itu.
"Ada apa Ar,?" Gea tampak cemas menunggu Arumi bicara.
Arumi mengedarkan pandangan di sekitar tempat duduknya dengan Gea. Arumi akan membicarakan hal serius, jadi dia ingin memastikan agar tidak ada satu orangpun yang mendengar ucapannya.
Kebetulan meja yang mereka tempati berada di sudut kantin, beberapa meja di sekitarnya sudah kosong karna sebagian sudah kembali ke kelas masing-masing.
"Ini soal Om Glen." Ucap Arumi setengah berbisik. Walaupun tidak ada orang lain di sekitar tempat duduknya, Arumi sangat hati-hati untuk bicara. Masalahnya obrolan ini menyangkut nama baik Gea di kampus.
Gea langsung menggeser kursi lebih dekat dengan Arumi karna semakin dibuat penasaran. Tidak hanya itu saja, pikiran Gea juga semakin dibuat over thinking ketika Arumi akan membicarakan Glen.
Mengingat bagaimana sepak terjang Glen yang Gea tahu selama ini, Gea jadi berfikir Arumi mungkin akan menyampaikan hal buruk tentang Glen yang belum dia ketahui.
"Kamu melihat Om Glen bersama wanita lain.?" Tebak Gea yakin. Terlebih saat dugaannya diperkuat dengan kepindahan mereka ke apartemen lain. Gea yang awalnya tidak punya pikiran seperti itu, seketika langsung berfikir kalau Glen sengaja mengajaknya pindah karna apartemen lamanya akan di berikan pada wanita lain.
"Ck. Om Glen sudah tidak punya apa-apa, mana sempat dia memikirkan pergi dengan wanita lain." Sahut Arumi. Dari ucapan Arumi, sepertinya dia sudah tau kalau Glen rela melepaskan semua kemewahan yang selama ini melekat dalam dirinya demi untuk tetap berada disamping Gea dan calon anak mereka.
"Maksudnya.?" Dahi Gea mengkerut. Tadi dibuat penasaran, sekarang malah di buat bingung.
Kalimat 'Om Glen sudah tidak punya apa-apa' membuat Gea harus berfikir keras untuk mencernanya. Rasanya tidak mungkin seorang Glen tidak punya apa-apa, mengingat semua baju dan barang-barang yang melekat ditubuhnya berharga sangat mahal.
"Aku semakin yakin kalau kamu tidak tau keputusan besar apa yang sudah di ambil oleh Om Glen demi mempertanggungjawabkan perbuatannya pada kamu." Ujar Arumi. Respon Gea membuat Arumi semakin bersemangat untuk membeberkan apa yang dia ketahui tentang Glen beberapa hari lalu. Dia ingin membantu Gea lepas dari beban dan permasalahannya dengan menyatukan Glen dan Gea. Walaupun Arumi tidak terlalu menyukai Glen karna tabiat di masa lalunya, tapi dia tidak bisa melihat Gea berada dalam kesulitan.
"Kamu tidak memperhatikan penampilan Om Glen berubah saat berangkat kerja akhir-akhir ini.?" Tanya Arumi.
Gea mengangguk, sudah 4 hari Glen berangkat bekerja tanpa memakai jas dan dasi. Tapi Gea tidak mempermasalahkan hal itu, dia memilih bersikap cuek jika menyangkut Glen.
"Tunggu, bagaimana kamu bisa tau.??" Gea tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Ge, kemewahan Om Glen selama ini adalah pemberian dari pamannya. Om Glen juga memiliki jabatan tinggi di perusahaan milik pamannya itu, tapi sekarang dia memilih menjadi karyawan biasa di perusahaan suamiku." Tutur Arumi yang terlihat sendu saat mengucapkan kalimat terakhir. Mungkin kasihan melihat nasib Glen yang sekarang dan suaminya belum bisa memberikan jabatan yang lebih baik.
"Om Glen menentang pamannya sendiri karna lebih memilih kamu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat diminta mengembalikan semua fasilitas dan segala kemewahan lainnya." Arumi semakin memperjelas situasinya, Gea yang awalnya sempat kebingungan, perlahan mulai mengerti.
Bayangan Glen tiba-tiba melintas dalam benak Gea. Dia juga ingat saat Glen mengajaknya meninggalkan apartemen mewah dan pindah ke apartemen sederhana dengan menggunakan mobil biasa. Bukan mobil mewah ataupun mobil sport yang sering di pakai Glen.
"Ge, terlepas kesalahan Om Glen pada calon anak kalian, sebenarnya dia sangat menyesalinya dan serius untuk bertanggungjawab pada kalian." Tutur Arumi dengan tatapan intens. Dia bisa memahami luka di hati Gea karna kehilangan salah satu calon anaknya, tujuannya ingin menyatukan Gea dan Glen bukan untuk menambah luka di hati Gea pada pria itu, Arumi hanya tidak mau melihat Gea berjuang sendiri dengan kehamilannya dan membesarkan anaknya seorang diri.
"Kalau saja kamu melihat perjuangan Om Glen meminta pekerjaan pada suamiku, dia bahkan tidak keberatan menjadi karyawan biasa asal bisa bekerja secepatnya. Om Glen pasti ingin mengumpulkan banyak uang untuk biaya persalinan kamu dan masa depan kalian."
"Tapi kamu jangan khawatir, Kak Agam akan memberikan Om Gle jabatan yang lebih baik secepatnya." Arumi bicara panjang lebar dan Gea hanya bisa tertegun mendengarnya. Gea cukup terkejut dengan keseriusan dan usaha yang dilakukan Glen demi dia.
"Aku rasa Om Glen benar-benar sudah berubah. Kak Agam juga bilang seperti itu. Katanya Om Glen jadi pria yang dewasa dan bertanggungjawab" Arumi masih saja mengatakan hal-hal baik tenang Glen, dia sangat berharap Gea akan tersentuh hatinya dan berubah pikiran untuk menerima Glen menjadi suaminya.
"Membesarkan anak seorang diri pasti tidak mudah Ge, apalagi umur kita masih sangat muda. Lebih baik berdamai dengan keadaan, berbesar hati memaafkan kesalahan dan memperbaiki semuanya demi masa depan kamu dan anak kalian."
Arumi masih saja berbicara, sepertinya dia berhasil menyentuh hati Gea karna mata Gea mulai berkaca-kaca.