
Dering ponsel milik Agam merusak kesenangan Arumi. Gadis itu terpaksa turun dari pangkuan Agam dan memperhatikan Agam yang tengah merogoh ponsel di saku celananya.
Tanpa sengaja Arumi membaca nama kontak yang tertera di ponsel Agam.
"Livia." Gumam Arumi dalam hati. Dada seketika nyeri, dia terlalu mudah cemburu meski hanya hal sepele. Mendadak over thinking pada dua orang yang dulu pernah menjalin kasih.
Kisah mereka sudah lama berakhir, harusnya hal-hal semacam itu tidak mereka lakukan lagi meski hanya sekedar menelfon.
Agam tampak menautkan kedua alisnya. Pria itu cukup lama menatap ponsel yang terus berdering. Sampai akhirnya jarinya bergerak dan menggeser tombol merah untuk menolak panggilan.
Gadis cantik di sebelah Agam langsung mengulum senyum. Dia terharu sekaligus senang melihat Agam enggan menerima panggilan telepon dari Livia.
Hal itu menambah sedikit keyakinan dalam diri Arumi jika tidak ada yang spesial dari perasaan Agam terhadap Livia.
Arumi langsung mendekap lengan besar Agam yang kokoh. Arumi senyum-senyum tidak jelas dan kedua mata berkedip-kedip. Agam sampai heran menatap bocah itu.
"Kamu cacingan.?" Tanya Agam mengejek. Mood Arumi kembali anjlog, dia buru-buru melepaskan lengan Agam, lalu bergeser menjauh dari pria itu.
Agam benar-benar tidak peka. Tidak bisa membedakan suasana hati orang yang sedang kasmaran dan cacingan.
"Mulut Om seperti sambel level iblis. Pedas nggak ada obat.!" Gerutu Arumi kesal. Bibir mungilnya mencebik seperti bebek.
Agam tersenyum miring melihat Arumi emosi karna perkataannya.
"Ayo pergi,," Ajak Agam datar. Sama sekali tidak ada manis-manisnya mengajak Arumi beranjak dari sana. Pria itu membuat Arumi semakin jengkel saja.
"Om, aku lagi ngambek.! Harusnya Om bujuk aku.!" Gerutu Arumi sewot. Apalagi Agam sudah lebih dulu melangkahkan kakinya.
"Mana ada orang ngambek terang-terangan minta di bujuk," Jawab Agam acuh. Dari nada bicara dan ekspresi wajahnya bisa di tebak kalau Agam tidak punya niatan untuk membujuk Arumi.
"Oom,,,," Arumi merengek seperti balita. Memasang wajah sedih dan pura-pura akan menangis adalah jurus andalannya. Sampai akhirnya Agam terdengar menghela nafas, dia menghampiri Arumi dan meraih tangan mungil itu untuk di gandeng.
...******...
"Om. Bagaimana, bagus nggak?" Tanya Arumi meminta pendapat pada pria yang tampak melongo.
Arumi baru keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun terbaik di butik itu yang baru saja selesai di buat kemarin.
Arumi sebenarnya sudah memilih gaun sendiri, tapi saat pemilik butik sekaligus designer itu menunjukkan rancangan terbarunya, Arumi langsung terpikat dan jatuh hati. Jadi Arumi kemudian memutuskan untuk mencobanya.
Agam tidak menjawab, padahal mata pria itu fokus menatap Arumi. Tapi telinganya seolah tuli dan tidak mendengar saat Arumi bertanya padanya. Arumi sampai harus mengulangi ucapannya lagi.
"Om,, aku tanya bagaimana dengan gaunnya.?" Arumi sedikit menaikan nada bicaranya dan mengayunkan kedua tangan di depan wajah Agam. Barulah pria itu terperanjat dan langsung merespon Arumi.
"Dua-duanya bagus, kamu pilih yang nyaman di pakai saja. Jangan pilih yang lebih berat, kamu bisa kelelahan nanti." Ujar Agam memberikan saran. Arumi mengangguk paham seraya tersenyum senang.
"Aku mau ganti gaun yang ini saja." Ujarnya penuh semangat. Dia merasa jauh lebih cantik dan elegant dengan gaun yang melekat di tubuhnya itu.
"Baik Nona. Mari kita kecilkan dulu bagian pinggangnya agar lebih pas." Kata pemilik butik itu. Pinggang Arumi yang ramping membuat gaun berwarna putih itu terlihat longgar di bagian perut.
Sedangkan pria yang datang bersama Arumi tampak menatap intens punggung gadis itu hingga hilang dari pandangan.
Agam tak bisa menolak kecantikan yang terpancar dalam diri Arumi saat memakai gaun pengantin itu. Terkadang Agam merasa beruntung akan memiliki istri seperti Arumi, cantik luar dalam secara fisik dan hati. tapi tak jarang dia di buat kesal dengan tingkahnya.
...*****...
Arumi dan Agam dalam perjalanan pulang. Mereka sempat singgah sebentar untuk membeli es krim kesukaan Arumi. Kini gadis itu sedang sibuk menikmati es krimnya, sesekali mengajak Agam bicara dan menyuapkan es krim ke mulut pria tampan itu.
"Aaaa,,, buka mulutnya,," Begitu cara Arumi menyuapi es krim untuk Agam. Mulutnya sampai ikut terbuka seperti seorang ibu yang menyuapi bayinya. Agam menurut, lebih tepatnya dia terpaksa menerima suapan es krim dari tangan Arumi. Karna jika tidak di turuti, Arumi akan mengomel tanpa henti.
"Enak kan Om.?" Arumi melontarkan pertanyaan yang sama untuk ke tiga kalinya.
"Sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama, aku lempar kamu ke jalan." Ancam Agam main-main. Tapi ekspresi wajahnya tampak serius, membuat Arumi cemberut dan membuang pandangan ke arah lain.
"Salah siapa irit bicara." Gerutu Arumi lirih.
Sebenarnya Arumi hanya ingin mendengar Agam banyak bicara. Karna pria itu akan diam sepanjang jalan kenangan jika tidak di tanya.
Tapi terkadang Arumi berfikir apa yang menyebabkan Agam lebih banyak diam. Entah karna sikap Agam memang seperti itu, atau mungkin malas bicara dengannya.
Pasalnya beberapa kali Arumi melihat interaksi Agam dan Bianca saat mereka berdua masih memiliki hubungan. Sikap Agam ketika bersama dengan Bianca tidak sedingin sekarang.
"Biasanya seseorang akan terasa berharga kalau sudah pergi." Ucap Arumi kemudian memasukkan es krim ke dalam mulut. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang bicara dengan diri sendiri.
Agam menoleh sekilas, lirikan itu jelas berbeda dari biasanya. Ucapan Arumi begitu mengena di hati dan membuat pikirannya gelisah. Namun Agam sendiri tidak mengerti alasan di balik rasa gelisah yang menyelimuti pikirannya.
"Kita ke kantor sebentar, ada yang harus aku ambil." Agam bersuara tak berselang lama.
Arumi menoleh seraya menarik nafas dalam. Meski sudah di singgung terang-terangan, Agam tidak meresponnya sama sekali.
Entah harus dengan cara apa lagi membuat Agam menyadari sikapnya yang terkesan acuh dan tidak menghargai seseorang di sisinya.
"Aku tunggu di sini saja." Ujar Arumi begitu Agam menghentikan mobil di depan kantor.
Agam langsung mengangguk tanpa bicara apapun, pria itu kemudian turun dari mobilnya dan masuk begitu saja ke dalam kantor.
"Kita lihat saja nanti, suatu saat Om akan merasakan ada di posisiku." Arumi bergumam lirih saat Agam sudah hilang dari pandangan matanya.
Anehnya meski kecewa dengan sikap Agam, dia tidak memiliki kebencian sedikitpun pada pria itu.
Mungkin Arumi sedang merasakan cinta buta.
15 menit berlalu, Arumi melihat Agam keluar dari kantor. Buket bunga dan paper bag di tangan Agam langsung menjadi pusat perhatian Arumi.
Berbagai dugaan muncul di kepalanya tentang dua barang itu.
Entah dari seseorang untuk Agam, atau milik Agam yang mungkin akan di berikan pada seseorang. Yang jelas Arumi tidak berani berkhayal kalau kedua barang itu akan di berikan padanya. Karna Agam bukan tipe pria romantis jika bersama.