Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 103



Gea menyunggingkan senyum tipis di balik wajah sendunya. Perbuatan buruk Sean membuat Gea marah dan takut, itu memang benar adanya. Tapi di balik perasaannya yang kacau akibat ulah Sean, ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri dalam diri Gea ketika dia berhasil membuat Glen meninggalkan acara demi untuk menolongnya.


Dan yang terpenting dia bisa menunjukkan pada Sean bahwa Glen memiliki kedekatan dengannya.


Ciumannya bersama Glen di depan Sean adalah bukti nyata tentang kedekatan mereka.


Hal itu sampai membuat Sean menatap tak percaya. Gea bahkan masih mengingat jelas perubahan wajah Sean setelah melihatnya berciuman dengan Glen.


"Kalau kamu pintar, sudah pasti kamu tau apa tujuanku." Gumam Gea dengan senyum licik penuh kepuasan. Akan lebih bagus kalau Sean sadar jika Gea memang sengaja mendekati Glen untuk merebutnya agar Adeline hancur.


Gea melepaskan jas milik Glen dan meletakkannya di atas ranjang. Jas itu telah menolong Gea dari rasa malu, menutupi gaun bagian depannya yang robek karna kebiadaban Sean padanya.


sudut bibir Gea terangkat, ada kebahagiaan yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya ketika mengingat kebaikan Glen padanya. Pria itu sampai rela melepaskan jasnya demi menutupi bagian tubuh sensitif Gea yang terekspos.


Tidak tau apa motif Glen membalut tubuh Gea dengan jas miliknya, sedangkan saat itu acara pertunangan Glen belum selesai. Tapi Glen merelakan jasnya untuk Gea.


Entah karna kasihan, atau Glen tidak mau pria lain melihat bagian tubuh Gea.


...******...


"Nyonya yakin mau mempercepat proses perceraian.?"


William, pria berusia 46 tahun itu tak pernah menyangka rumah tangga tuannya akan berakhir tragis. Selama 10 tahun bekerja untuk pasangan suami istri itu sebagai tangan kanan mereka, William menjadi saksi bagaimana kehidupan rumah tangga Amira dan Andrew sangat harmonis, Keduanya jelas saling mencintai. Mereka berdua juga tidak pernah melewatkan anniversary pernikahan setiap tahunnya.


William selalu yang di beri kepercayaan untuk membooking hotel ataupun villa setiap kali mereka berdua merayakan anniversary.


Kini setelah mengetahui permasalahan rumah tangga keduanya dan akan berujung dengan perceraian, jelas membuat William sangat syok.


"Lebih cepat lebih baik Wil. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa di selamatkan." Amira tersenyum getir. Jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat terluka pada keputusannya sendiri. Amira tak bisa menutup mata bahwa rasa cintanya pada Andrew cukup besar dan sudah terpatri dalam hatinya selama bertahun-tahun. Jelas bukan hal mudah untuk menerima semuanya dengan lapang dada.


William tampak menarik nafas dalam. Tarikan nafasnya terlihat sangat berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.


"Tuan Andrew tidak bisa di hubungi sejak sore. Supir pribadinya mengatakan kalau beliau melakukan penerbangan ke Surabaya."


"Menurut keterangan Edo, Tuan Andrew akan menyusul wanita itu." Tutur William yang terpaksa harus mengatakan tindakan Andrew pada Amira.


William lantas menundukkan wajah, dia tidak tega melihat ekspresi Amira yang terlihat semakin kecewa.


Bohong kalau Amira mengatakan tidak peduli apapun yang di lakukan oleh Andrew. Hatinya seakan di cubit ketika mengetahui Andrew begitu memperjuangkan wanita lain.


Alih-alih menemuinya, Andrew malah mengejar wanita itu.


Namun Amira semakin yakin dengan keputusannya untuk berpisah. Sikap Andrew sudah cukup memberikan bukti kalau di dalam hati pria itu memang lebih dominan pada Sofia.


"Biarkan saja dia berjuang untuk cintanya." Ujar Amira dengan senyum kecut.


Dia bisa apa sekarang.? Hatinya terlanjur sakit. Sekalipun masih ada cinta di hatinya untuk Andrew, tapi dia tidak mau bodoh karna cinta dengan memaafkan dan menerima Andrew kembali. Pengkhianat adalah kesalahan fatal yang jarang bisa di terima oleh pasangannya. Bahkan mungkin tidak bisa di terima oleh siapapun.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang." William beranjak dari duduknya.


"Nyonya sebaiknya makan malam, jaga kesehatan." Ucap William penuh perhatian.


Amira tersenyum tipis dan hanya mengangguk.


"Terimakasih sudah mengurus semuanya." Ujar Amira seraya berdiri untuk mengantar William keluar dari apartemen.


"Sudah tugas saya Nyonya." Jawab William sopan.


...******...


"Kakak pikir aku mengarang cerita gila ini.?" Sean menatap tak habis pikir pada sang Kakak yang tidak percaya pada kesaksiannya tentang perbuatan Glen dan Gea di toilet hotel.


"Bukan tidak percaya, Kakak bahkan tidak mengundang Gea. Bagaimana bisa dia ada di sini.?" Tutur Adeline. Berulang kali dia menyangkal kesaksian Sean, padahal Adeline ada di sana dan melihat kejadian di dalam toilet tanpa di ketahui oleh mereka.


Entah apa yang melatar belakangi Adeline sampai tidak mau membenarkan penuturan adiknya. Adeline seolah ingin tutup mata dengan apa yang sudah dia lihat. Tak peduli meski hatinya terluka ketika melihat Glen berciuman dengan Gea. Tunangannya itu bahkan sampai menghajar Sean demi melindungi Gea. Hati wanita mana yang tidak akan hancur melihat tunangannya begitu peduli pada wanita lain.


"Lihat luka di wajahku.!" Sean menunjuk sudut bibirnya. Ada sedikit luka di sana akibat tinjuan dari Glen.


"Si brengs3k itu sampai memukul wajahku karna aku memergoki mereka sedang mesum. Apa Kakak masih berfikir aku bohong.?" Tutur Sean penuh amarah.


Dia sampai memutar balikkan fakta karna menaruh kebencian pada Glen. Jelas-jelas dia sendiri yang sudah berbuat mesum pada Gea, dan berbuat kasar untuk melecehkannya.


Tapi tidak terima ketika kesenangannya di ganggu oleh Glen, apalagi melihat Glen berciuman dengan Gea. Sebagai adik, Sean tentu tidak terima tunangan Kakaknya bermain gila dengan wanita lain.


Adeline menarik nafas berat. Dia tau adiknya sedang berbohong. Sekalipun hatinya terluka atas sikap Glen dan Gea, Adeline tidak bisa menutup mata akan kejahatan Sean pada Gea.a


Adeline tau situasi di sana. Sean yang mencoba melecehkan Gea, dan Gea menghubungi Glen untuk meminta pertolongan.


Hal yang membuat Adeline belum paham sampai detik ini adalah hubungan Gea dengan Glen. Adeline masih menerka-nerka, ada hubungan apa di antara keduanya sampai terlihat begitu intim.


...******...


Andrew sudah menunggu di stasiun sejak 3 jam yang lalu. Selama 3 jam itu Andrew tak pernah melewatkan untuk memperhatikan setiap orang yang turun dari kereta. Berharap bisa menemukan Sofia di antara ratusan penumpang yang keluar dari kereta.


Sayangnya Andrew harus menelan kekecewaan. Hingga larut malam, Sofia belum berhasil dia temukan.


Andrew mengusap kasar wajahnya, dia sudah sangat frustasi memperhatikan satu persatu orang di stasiun.


"Kamu dimana Sofia,," Lirih Andrew putus asa.


Dia merasa sangat berdosa dan bersalah ketika membayangkan Sofia yang tengah hamil muda namun harus melakukan perjalanan jauh.


Andrew beranjak, dia menarik kopernya dengan lesu. Tidak ada semangat sama sekali. Kehancuran sedang dia tuai akibat perbuatannya sendiri. Mungkin keserakahan akan membuat Andrew kehilangan keduanya.