
Memang dasar duda mesum. Alih-alih menahan diri untuk tidak menyentuh Arumi yang sedang terlelap, dia justru berbuat jahil pada istrinya itu dengan berniat mem perko sanya.
Mungkin karna juniornya sudah tidak tahan, apalagi melihat tubuh putih Arumi hanya berbalut br -a dan celana d@-lam saja.
Tapi Agam tidak langsung melancarkan aksinya. Dia ingin melihat tubuh seksi Arumi di balut lingerie tipis yang menerawang.
Membayangkan Arumi memakai lingerie itu saja sudah membuat celananya semakin sesak. Juniornya sudah mengeras sempurna di bawah sana.
Agam sedikit mendudukkan tubuh Arumi dan memasukan lingerie itu ke kepala Arumi. Perlahan memasukkan tangan Arumi ke lubang lengan yang hanya memiliki tali tipis.
Meskipun tubuhnya di gerakan kesana kemari, Arumi sama sekali tidak terusik. Gadis yang baru saja menyandang status sebagai istri itu, masih tidur dengan nyenyak.
Sepertinya tragedi merenggut keper-awanan istri secara paksa benar-benar akan terjadi malam ini.
Agam sudah tidak peduli lagi dengan sesi percintaan yang panas dalam keadaan sama-sama sadar dan saling memberikan kenikmatan. Yang terpenting malam ini juniornya bisa menembus dan merasakan liang surgawi yang belum terjamah siapapun.
Agam tersenyum lebar. Senyumnya penuh kepuasan ketika berhasil memasangkan lingerie di tubuh Arumi. Untuk pertama kalinya Agam melihat Arumi memakai kain haram itu. Bukan hanya terlihat menggoda, tapi juga membuat akal sehat Agam tidak berfungsi dengan baik. Entah sudah berapa kali dia menelan saliva, merasakan hasrat yang tercekat di tenggorokan akibat melihat pemandangan menggiurkan.
"Apa kamu benar-benar tidur.?" Tanya Agam seraya menepuk-nepuk pelan pipi Arumi. Meski bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Arumi benar-benar sedang tidur, tapi rasanya sulit di percaya ada orang yang tidak bangun meski di telan-jangi, bahkan sampai di gantikan dengan baju lain.
"Baiklah, kita lihat sampai dimana kamu akan membuka mata." Agam tersenyum miring. Sorot matanya sudah berkabut gairah dan tidak bisa di bendung lagi.
Setelah membaringkan Arumi, Agam ikut berbaring di sampingnya dalam posisi miring. Dia menggunakan satu tangannya sebagai bantalan, dan satu tangannya lagi mulai menyusup ke dalam lingerie Arumi. Perlahan mengusap lembut kulit perut Arumi di balik lingerie tipis itu.
Arumi hanya menggeliat dengan mata yang masih terpejam ketika tangan Agam mere -mas salah satu bukitnya dari balik br -a. Awalnya pelan, tapi semakin kencang karna menimbulkan sensasi yang membuat gairahnya semakin terbakar.
Tidak puas hanya mere -mas di balik br-a, Agam lantas menyibak kain itu ke atas. Kini dua bongkahan kenyal itu lepas dari pembungkusnya.
Pucuk yang berwarna merah muda itu menjadi sasaran Agam kali ini. Dia memainkannya, memilin dan mencubit pelan benda kecil itu sampai berubah mengeras.
Raut wajah Arumi juga berubah, mungkin gadis itu sedang bermimpi mesum hingga terlihat seperti sedang menikmati sentuhan tangan Agam.
"Eughh,,," Arumi mengerang. Agam sudah memasukkan salah satu pucuk itu ke dalam mulutnya dan meng si sap kuat seperti bayi yang kehausan.
"Sudah seperti ini kamu belum bangun juga." Gumam Agam tanpa melepaskan pucuk bukit itu dari mulutnya.
Adrenaline justru semakin terpacu, dia semakin semangat untuk men ja mah tubuh Arumi dalam keadaan Arumi tengah tertidur.
Tidak sampai disitu, kini tangan Agam mulai bergerak ke bawah. Awalnya dia hanya mengusap bagian luar kain segitiga itu, lama-lama menyusup dan membenam tangannya ke dalam kain berwarna hitam itu.
Agam mengusap lembut lembah milik Arumi yang di tumbuh bulu-bulu halus. Jemarinya mulai nakal, membelah lembah itu dari bawah ke atas, mencari benda kecil yang menjadi pusat sensitifnya.
Tidur nyenyak Arumi mulai terusik saat gerakan tangan Agam di bawah sana semakin cepat.
"Om,, Om lagi ngapain.?" Arumi seperti orang linglung saat membuka mata dan mendapati Agam sedang me nyu su dan memasukkan tangannya ke dalam kain segitiga di bawah sana.
Arumi sama sekali tidak memberikan respon, dia masih mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya setelah bangun tidur. Apalagi dia terbangun karna ulah jahil Agam.
Arumi mendorong bahu Agam ketika sudah kehabisan nafas. Agam menciumnya dengan sangat kasar dan dalam.
"Om hampir membunuhku." Protes Arumi. Nafasnya tercekat setelah di cium secara brutal oleh Agam.
"Itu karna kamu sudah menyiksaku." Sahut Agam.
"Bisa-bisanya kamu tidur nyenyak seperti itu."
"Sekarang mau ber cinta denganku atau membiarkan burungku masuk ke sangkar yang lain." Meski nada bicara Agam biasa saja, tapi jelas itu sebuah ancaman mengerikan bagi Arumi.
Enak saja Agam ingin melewatkan malam panas bersama wanita lain, tepat di malam pertama mereka.
"Maaf, aku benar-benar mengantuk dan lelah."
"Tunggu disini, aku akan cuci muka dulu." Arumi mencuri ciuman di bibir Agam sebelum turun dari ranjang dan berlari kecil ke kamar mandi.
Agam mengukir senyum tipis di iringi dengan gelangan kepala. Arumi memang sedikit aneh di banding wanita-wanita yang pernah dekat dengan Agam.
"Ya ampun, aku baru sadar sudah ganti costume." Pekik Arumi ketika menatap dirinya di pantulan cermin kamar mandi. Sebuah lingerie tipis yang melekat di tubuhnya, terlihat sangat seksi.
Arumi tak heran kenapa lingerie itu bisa melekat di tubuhnya, sudah pasti Agam yang telah melepaskan gaun pengantinnya dan menggantikannya dengan kain tipis itu.
"Sadar Arumi,, sadar,,," Arumi mencuci wajahnya dan menepuk-nepuk pelan. Nyatanya dia benar-benar mengantuk. Tapi ancaman Agam membuatnya harus sadar sepenuhnya agar bisa melewati malam pertama mereka.
"Kamu harus memuaskan Om Agam." Arumi bicara pada dirinya sendiri. Dia ingin membuat Agam semakin terjerat dan menempel terus padanya.
Selesai mencuci muka dan membersihkan diri. Arumi menghampiri Agam dengan senyum manis yang menggoda. Sengaja berlenggak-lenggok menghampiri Agam yang tengah duduk di tepi ranjang. Gadis berusia 18 tahun itu sudah siap memberikan mahkotanya pada sang suami.
"Kemari." Titah Agam seraya menepuk pahanya, menyuruh Arumi supaya duduk di pangkuannya.
Tanpa ada penolakan, Arumi menjatuhkan diri di atas pangkuan Agam dalam posisi miring. Tangannya langsung bergelayut di leher sang suami.
"Aku sedikit takut, bagaimana kalau punyaku robek.?" Tanyanya dengan raut wajah polos sekaligus bercampur takut.
Mengingat batang sakti itu berukuran cukup besar, Arumi tidak yakin lembahnya akan baik-baik saja jika di masuki. Bulu kuduknya sampai meremang, padahal baru membayangkan saja. Entah bagaimana kalau benar-benar di masuki. Tidak tau akan sesakit apa rasanya.
"Kamu nggak pernah belajar biologi.?" Tanya Agam dengan nada bicara yang sedikit mencibir.
"Kamu pikir kita keluar lewat mana.? Bayi jauh lebih besar dari milikku." Gerutu Agam. Dia tau kalau lembah itu elastis, jadi sesempit apapun akan tetap bisa dimasuki meski harus merasakan sakit lebih dulu.
"Tapi aku keluar lewat perut. Mama operasi sesar saat melahirkanku." Jawab Arumi enteng. Agam hampir menoyor kepalanya, tapi mengurungkan niat. Dia takut Arumi marah dan berakibat fatal untuk malam pertama mereka.