
Pagi itu Arumi sengaja bersiap lebih awal dan berangkat 1 jam lebih cepat dari biasanya.
Dia memiliki tempat tujuan lain sebelum pergi ke kampus.
Mobil yang di kendarai Arumi mulai keluar dari kawasan perumahan elite. Dia melajukan mobilnya menuju rumah Gea. Jarak rumahnya dan Gea tidak terlalu jauh. Tidak sekaya kedua orang tua Arumi, tapi keluarga Gea juga termasuk keluarga yang berada. Mereka memiliki bisnis keluarga di bidang kuliner.
Arumi sengaja ingin datang diam-diam tanpa sepengetahuan Gea, meski sejak kemarin sudah berencana untuk menemui sahabatnya itu dan bicara empat mata dengannya. Arumi akan meminta penjelasan pada Gea yang tidak mau membalas ataupun menjawab telfonnya. Bahkan nomor ponselnya kembali tidak aktif dan Gea tak pernah muncul di obrolan grup sejak kemarin sore.
Gadis itu memiliki niat baik terhadap sahabatnya. Selama ini Gea sudah menjadi teman baiknya lebih dari 3 tahun. Tidak memiliki hati rasanya kalau membiarkan Gea mengalami masalah seorang diri.
"Kenapa barang-barangnya di keluarkan.?" Arumi menajamkan pandangan dari seberang rumah Gea. Dari deretan rumah besar yang tampak sepi, aktifitas di halaman rumah Gea paling mencolok. Ada 2 mobil box besar yang terparkir di halaman rumah Gea. Dan 1 mobil terparkir di pinggir jalan.
Arumi menaikan laju kendaraannya karna untuk putar arah agar sampai di rumah Gea. Begitu memarkirkan mobil di pinggir jalan, Arumi langsung turun dan masuk ke halaman rumah sahabatnya itu.
"Pagi Om, Tante,," Arumi menghampiri dan menyapa kedua orang tua Gea yang tengah mengarahkan beberapa orang untuk mengangkut barang ke dalam mobil box.
"Arumi," Kedua orang tua Gea kompak menoleh.
"Kenapa barang-barangnya di angkut Tan.? Om dan Tante nggak pindah rumah kan.?" Arumi hanya kebingungan melihat semua furniture dan barang-barang pribadi di keluarkan dari dalam rumah.
"Apa Gea belum cerita sama kamu.?" Tanya Farah Lirih. Dia merangkul pundak Arumi dan membawa Arumi masuk ke dalam rumah.
Hubungan Arumi dan Gea memang sangat dekat, jadi Farah memperlakukan sahabat putrinya layaknya anak sendiri.
"Sebenarnya ada apa Tan.?" Arumi duduk di sofa yang belum di angkut. Dia tampak gusar.
Farah ikut duduk di samping Arumi.
"Kami akan pindah ke kampung halaman. Di Surabaya,," Lirih Farah dengan gurat kesedihan di wajahnya.
"Bisnis keluarga kami mengalami kebangkrutan dan rumah ini harus di jual."
"Om mengajak Tante dan anak-anak pulang ke Surabaya untuk memulai usaha di sana dari nol lagi." Farah tampak terpukul menceritakan musibah yang sedang menimpa keluarganya.
Sedangkan Arumi melongo tak percaya. Keluarganya sedang mengalami kesulitan, tapi Gea tidak menceritakan apapun padanya.
Sekarang Arumi tau alasan Gea menjual diri dan mencuri jam mahal milik Glen.
"Tapi Tan, bagaimana dengan kuliah Gea.?" Tanya Arumi. Dia juga belum siap berpisah dari sahabatnya itu.
"Gea akan tetap kuliah di Jakarta sampai lulus. Untungnya kami sudah membayar seluruh biaya kuliahnya di awal, jadi Gea masih tetap bisa kuliah." Tutur Farah penuh kelegaan.
Mungkin jika dia tidak melunasi seluruh biayanya di awal, Gea bisa ikut keluar dari kampus dan pergi ke Surabaya bersama keluarganya.
"Tante, aku turut prihatin. Semoga Tante dan Om bisa bangkit lagi dan sukses memulai usaha barunya." Ucap Arumi tulus.
"Syukurlah Gea masih tetap kuliah di sini."
"Apa aku bisa ketemu Gea.?" Arumi bertanya seraya mengedarkan pandangan ke lantai atas, berharap bisa bertemu Gea dan berbicara padanya.
"Kami juga sebenarnya tinggal di rumah keluarga Tante selama 2 minggu ini. Hanya saja Gea ingin belajar tinggal sendiri, jadi dia tinggal di kosan." Tuturnya.
"Sekarang rumah ini sudah terjual, jadi Tante harus segera pindah ke Surabaya."
"Gea nggak bilang apapun sama kamu.?" Pertanyaan Farah hanya di tanggapi anggukan oleh Arumi, gadis itu sampai kehabisan kata-kata lantaran tidak tau kalau selama ini Gea menyembunyikan masalah besar padanya.
Arumi merasa gagal menjadi sahabat yang baik karna tidak tau jika kondisi finansial keluarga Gea sedang buruk.
...******...
Setelah mengetahui alamat kosan yang Arumi dapatkan dari Farah, kini Arumi tengah berdiri di depan salah satu pintu kosan yang terletak di lantai 2. Kosan yang terbilang bagus dan besar untuk ukuran mahasiswi.
Arumi mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama penghuni kosan keluar dan tampak terkejut melihat kedatangan Arumi. Dia hendak menutup pintu kembali, namun Arumi lebih dulu menahannya dan memaksa masuk.
Gea tidak bisa berkutik lagi, dia lalu menutup pintunya dan duduk di sisi ranjang. Arumi ikut duduk di sebelahnya.
"Jam itu sudah aku jual." Ujar Gea. Pandangannya lurus ke depan dan tampak menerawang.
"Uangnya sudah aku pakai setengah, aku akan kembalikan sisanya sama orangnya langsung." Gea kembali menuturkan.
Arumi masih diam, sejujurnya dia tidak ingin membahas soal jam yang di curi oleh Gea.
Arumi lebih tertarik membahas masalah keluarga Gea yang berusaha di tutupi oleh sahabatnya itu.
"Lupakan dulu soal jam itu." Ujar Arumi.
"Kamu berhutang penjelasan padaku, Ge,," Arumi meraih tangan Gea, membuat Gea mau menatapnya.
"Apa gunanya aku.?" Tanya Arumi kecewa. Dia merasa jika Gea tidak benar-benar menganggapnya sahabat lantaran memendam masalahnya seorang diri tanpa mau bercerita padanya.
"Selama ini aku menganggap kamu lebih dari sahabat, tapi kamu,,," Arumi tak melanjutkan ucapannya. Dia menghela nafas berat seraya melepaskan tangan Gea.
"Selesai kuliah, bereskan barang-barang kamu. Rumahku terbuka lebar untuk kamu, Ge."
"Lebih baik kita ke kampus sekarang. Kita bicara lagi nanti."
"Aku janji akan merahasiakan semuanya dari Aileen dan Sena." Ujar Arumi kemudian beranjak dari duduknya. Dia dan Gea harus segera ke kampus karna 20 menit lagi kelas akan di mulai.
Gea ikut beranjak dengan tas yang sejak tadi dia pegang.
"Ar,,, makasih,," Suara Gea tercekat. Arumi yang baru saja membuka pintu, kini menoleh kebelakang. Dia tersenyum lebar penuh ketulusan dan menganggukan kepala.
Keduanya kemudian berangkat bersama ke kampus yang hanya berjarak 600 meter dari kosan Gea.
"Nanti aku akan meminta Om Agam untuk mempertemukan kamu dan Om Glen. Semoga Om Glen mau berdamai." Ucap Arumi.
Gea tampak berkaca-kaca, dia mengangguk samar dan mengucapkan terimakasih berulang kali pada Arumi.