Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 126



Kehilangan salah satu calon anaknya membuat perasaan Gea hancur. Ada rasa kehilangan dan kekecewaan yang mendalam, yang membuat pikirannya tidak tenang. Namun semalam, Gea bisa tidur dengan nyenyak. Saking nyenyaknya, Gea sampai bermimpi Glen menemaninya sepanjang malam sembari menggenggam tangannya.


Gea baru bangun dari tidurnya setelah perawat dan Dokter masuk ke kamarnya untuk pemeriksaan rutin.


Begitu membuka mata, Gea langsung mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, seolah mencari sosok Glen yang semalam hadir di mimpinya.


Raut wajah Gea berubah sendu, dia tampak kecewa ketika mengetahui Glen tidak ada di sana.


Beberapa detik kemudian, Gea tersenyum kecut. Menertawakan perasaannya sendiri yang sempat kecewa karna tidak Glen tidak ada.


Lagipula untuk apa juga dia mengharapkan Glen setelah bertekad akan pergi dari kehidupan pria itu. Bukankah Gea seharusnya senang karna Glen tidak pernah muncul lagi sejak kamar ini siang.


"Kapan saya boleh pulang Dok.?" Tanya Gea pada Dokter yang baru selesai mengecek kondisinya.


Dokter itu tersenyum lembut pada wanita muda yang tengah mengandung itu. Bukan karna Gea pasien VIP, tapi karna Gea mengingatkan Dokter itu pada putrinya yang masih kuliah. Sedangkan Gea sudah menikah, hamil dan bahkan baru saja mengalami keguguran. Siapa yang tidak akan bersikap lembut setelah mengetahui semua kejadian yang menimpa Gea.


"Sebenarnya sudah bisa pulang hari ini, tapi suamimu sangat mencemaskan kondisi istri dan calon anaknya. Jadi dia meminta agar kami merawat kalian sampai benar-benar pulih dan kandungannya kuat." Jelas Dokter dengan senyum teduh yang terus merekah di wajahnya.


Dokter itu merasa bahwa Gea sangat beruntung memiliki suami seperti Glen. Sikap dan tindakan Glen selama di rumah sakit ini memang membuat siapa saja yang melihatnya bisa menilai kalau Glen sangat peduli dan mencintai Gea. Mereka tidak tau saja perbuatan Glen pada Gea selama ini. Bahkan jika mereka tau bahwa Glen penyebab semua ini, mereka tidak akan sudi untuk memuji sikap Glen.


Gea tersenyum getir mendengar penuturan Dokter soal Glen yang mencemaskan kondisinya. Pria itu terlihat cemas pasti karna merasa bersalah sudah melenyapkan satu nyawa yang bahkan belum terlahir ke dunia. Kalau kejadian buruk ini tidak terjadi, mungkin Glen masih dengan sikap acuh dan dingin memperlakukan Gea sesuka hati.


...******...


"Berhenti menangisi pria brengsek itu.!" Geram Sean pada sang Kakak.


Adeline sejak kemarin terus menangis setelah Glen datang ke rumah dan mengatakan ingin membatalkan pernikahan mereka.


Apalagi saat Glen mengaku bahwa ada wanita yang sedang mengandung anaknya dan dia akan bertanggungjawab atas wanita serta anak itu.


Adeline langsung terisak, dia meninggalkan ruangan keluarga dan mengunci diri di dalam kamar.


"Semua ini gara-gara kamu.!! Gea mendekati Glen karna ingin balas dendam.!" Teriak Adeline seraya melempar bantal ke wajah Sean.


"Ck..!! Jangan menutup mata Kak.! Gea sampai mengandung anaknya, itu artinya mereka berdua memang sama-sama suka.!"


"Balas dendam hanya alibi saja.! Pasti sejak awal Gea sudah mengincar Glen.!".Seru Sean yang tidak mau di salahkan.


"Kakak saja yang terlalu naif. Tidak bisa melihat kalau Glen lebih tertarik dengan wanita murahan itu.!" Cibir Sean seolah tidak puas menyalahkan semua orang.


"Aku tidak peduli apapun alasannya.! Yang jelas Gea memang sengaja melakukannya karna ingin melihat ku hancur seperti ini.!"


"Kamu harus bertanggungjawab Sean.!! Lakukan sesuatu.! Aku tidak mau pernikahan kami batal.!" Teriak Adeline penuh amarah.


Pernikahan yang sudah di depan mata tiba-tiba terancam batal. Perasaan wanita mana yang tidak hancur.?


Menikah dengan Glen adalah impiannya. Dia bahkan berusaha menutup mata akan tabiat buruk Glen di belakangnya. Adeline berfikir bahwa Glen pasti akan berubah jika sudah menikah dengannya, jadi dia tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap mau menerima segala kekurangan Glen.


"Kak, apa lagi yang kamu harapkan setelah tau Glen menghamili wanita lain.?!" Seru Sean tak habis pikir. Glen sudah mengaku menghamili Gea, tapi Adeline masih berharap pernikahannya dengan Glen tetap berlangsung.


"Kamu suruh Gea pergi dari kehidupan Glen.! Dia tidak boleh merebut Glen dariku.!" Seru Adeline dengan tatapan tajam penuh amarah dan kekecewaan.


...******...


Sayangnya pria itu harus menelan kecewa, Gea tidak mau menatap apalagi bicara dengannya.


Wanita yang sedang mengandung anaknya itu malah menghubungi perawat hanya untuk mengusirnya.


Tapi perawat yang datang malah tidak berani mengusir Glen. Tugasnya sebagai perawat hanya untuk mengurus pasien, bukan untuk ikut campur masalah rumah tangga pasiennya.


Dia sampai meminta maaf pada Gea karna tidak bisa menuruti permintaannya, lalu pamit undur diri ruangan rawat itu. Membiarkan pasangan suami istri di dalam sana agar menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan orang lain.


"Kamu belum mandi kan.? Mau aku bantu mandikan.?" Tawar Glen santai.


Gea sampai melirik malas pada sosok pria yang sepertinya sudah kehilangan malu. Sudah di usir tapi tidak mau pergi, sekarang malah ingin membantunya mandi. Apa Glen lupa dengan perbuatannya. Seperti tidak punya salah sedikitpun.


"Tidak mau mandi.?" Tanya Glen karna Gea hanya diam saja.


"Ya sudah, aku saja yang mandi." Glen beranjak dari duduknya, dia mengusap sekilas pucuk kepala Gea dan berlalu ke kamar mandi.


Gea memejamkan mata rapat-rapat. Perasaannya menjadi tidak karuan setelah Glen mengusap kepalanya. Apalagi pria itu sempat menatapnya sembari tersenyum tipis. Senyumnya tampak berbeda, terlihat teduh dan tulus.


Disaat Gea sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, ponsel Glen di atas nakas berdering.


Gea reflek melirik ponsel yang di tinggalkan pemiliknya ke kamar mandi. Ada panggilan masuk dari Adeline.


Gea mengerutkan kening, sejak kapan Glen mengubah nama kontak Adeline menjadi nama saja.? Terakhir kali dia lihat kontak Adeline di beri nama panggilan yang romantis.


Tidak bermaksud lancang, Gea perlahan meraih ponsel Glen untuk menerima panggilan dari Adeline. Dia hanya ingin tau apa yang akan dibicarakan Adeline pada Glen.


"Kak,, kenapa tidak pernah menjawab teleponku." Suara Adeline di seberang sana terdengar sendu.


"Aku mohon jangan batalkan pernikahan kita. Acaranya 2 hari lagi, bagaimana bisa di batalkan begitu saja.?" Suara Adeline tercekat. Gea bisa menebak kalau Adeline sedang menahan tangis.


Harusnya Gea tertawa puas melihat Adeline hancur karna Glen membatalkan pernikahan mereka, karna sejak awal memang berniat merebut Glen dari Adeline. Tapi pada kenyataannya, Gea merasa bersalah pada Adeline.


Mungkin hatinya tidak cukup jahat untuk menertawakan penderitaan orang lain.


"Kak Adeline, aku Gea." Lirih Gea penuh sesal.


"Aku akan pergi dari sini dan memastikan Om Glen tidak jadi membatalkan pernikahan kalian." Sambungnya cepat.


"Kau.!! Dasar ja-lang tidak tau malu.!!" Adeline teriak histeris.


"Apa kau puas melihatku hancur seperti ini.?!!"


"Semua ini gara-gara kamu dan anak sialan itu.!! Kalian tidak seharusnya ada di dunia ini.!!" Maki Adeline penuh amarah.


Gea tersenyum sinis mendengar Adeline menyebut darah dagingnya sebagai anak sialan.


Padahal dia berniat baik dengan mengembalikan Glen padanya.


"Sepertinya aku berubah pikiran. Anak yang kamu sebut sialan ini butuh sosok ayah kandungnya.!" Tegas Gea penuh penekanan dan langsung memutuskan sambungan telfonnya.