Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 102



Braaakk,,,!!


Pintu toilet berhasil di dobrak Sean. Gea memberingsut mundur karna takut. Dia berdiri di sudut toilet dan berusaha menutupi benda sensitifnya dengan kedua tangan. Terlepas seintim apa hubungan dia dan Sean saat masih pacaran dulu, Gea tidak sudi jika tubuhnya di sentuh olehnya.


"Kamu sok jual mahal Gea.!" Sean mencengkam dagu Gea cukup kuat. Kesabarannya sudah habis akibat penolakan Gea. Padahal kalau Gea tidak melawan dan mau di sentuh, dia tidak akan berbuat kasar padanya.


"Jangan mendekat lagi Sean.!! Aku sangat muak denganmu.!!" Maki Gea penuh amarah.


Perlakuan kasar Sean membuat Gea semakin yakin untuk menghancurkan kebahagiaan Adeline. Tidak peduli meski Kakak perempuan Sean yang harus menanggung sikap buruk adiknya.


Sean atupun Adeline, tidak ada bedanya kalau salah satu dari mereka yang akan hancur. Tapi akan jauh lebih baik mereka berdua sama-sama hancur.


"Muak.? Aku tidak salah dengar kau muak padaku.?" Sean tersenyum sini. Dia semakin merapatkan tubuhnya, tak peduli meski sudah di larang mendekat.


"Tapi aku masih mencintaimu sayang, aku merindukan tubuhmu ini." Sean menahan kepala Gea hingga menempel di dinding, dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Gea dan memberikan rangsangan di sana.


Sean sangat hapal titik sensitif Gea. Wanita itu tidak akan bisa berkutik jika dia menjelajahi leher jenjangnya.


"Sean.!! Kau bajingan.!!" Maki Gea dengan mata memerah. Dia menahan tangis atas perlakuan buruk Sean padanya.


"Teriak saja,, tidak ada yang akan menolongmu." Sean terkekeh puas dan kembali menjelajahi leher Gea. Laki-laki itu bahkan berani meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


Gea terus memberontak, tubuhnya hampir tidak bisa bergerak karna Sean merapatkan tubuh mereka ke di dinding.


Sementara itu, Glen berjalan cepat meninggalkan ballroom. Wajah paniknya dan jalannya yang tergesa-gesa, membuat Adeline menaruh curiga pada Glen. Pria yang baru beberapa menit lalu menjadi tunangannya.


Tak mau punya pikiran buruk pada tunangannya, Adeline memilih untuk mengikuti Glen. Dia juga tidak mau berdiam diri di dalam ballroom dengan menahan rasa penasaran.


"Ponselnya bahkan di masukkan ke saku celana. Kenapa dia bilang akan menerima telfon." Gumam Adeline curiga.


Dia terus mengikuti Glen dengan hati-hati dan tentunya sedikit menjauh agar tidak membuat Glen merasa di ikuti.


"Dia tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan.?" Adeline semakin gusar ketika langkah Glen mengarah pada toilet wanita.


Entah feeling atau hanya tebakannya saja, Adeline yakin jika di dalam toilet wanita itu, Glen akan menemui seseorang.


"Gea,,,!! Gea kau di sini.?!!" Glen berteriak ketika memasuki area toilet wanita. Teriakan itu jelas di dengar oleh Adeline.


Mendengar Glen menyebut nama Gea, Adeline jadi teringat dengan mantan kekasih adiknya yang juga memiliki nama serupa.


"Om Glen,, tolong ak,,, emm,,," Mulut Gea langsung di tutup telapak tangan Sean.


"Diam.!" Bisik Sean dengan nada ancaman.


Gea sudah menangis sejak tadi, tepatnya setelah Sean merobek gaunnya di bagian depan.


Kini kebencian Gea pada Sean bukan karna perselingkuhan yang di lakukan oleh Sean saja, tapi kejadian hari ini akan menambah kebencian Gea pada mantan kekasihnya.


Gea sampai bersumpah pada dirinya sendiri, dia tidak akan berhenti balas dendam sebelum kehancuran itu si rasakan oleh Sean ataupun keluarganya.


Glen berdiri di salah satu oilet yang pintunya terkunci. Dia jelas mendengar suara Gea di sana.


Tak mau buang-buang waktu, Glen menendang pintu cukup kuat hingga pintu itu terbuka.


Di dalam sana tubuh Gea sedang di tekan ke pojok dinding, mulutnya di tutup rapat. menggunakan tangan. Penampilan Gea sangat acak-acakan dengan gaun yang robek di bagian depan.


"Brengs3k.!!" Glen masuk untuk menyeret kerah kemeja Sean. Pria itu menyeret Sean keluar dari toilet dan melayangkan tinjuan di wajahnya hingga Sean terjatuh di lantai.


Tangis Gea pecah. Dalam keadaan yang kacau, dia menghampiri Glen memeluknya erat.


"Aku sangat takut." Ucapnya dan tangisnya semakin pecah. Gea sengaja memeluk Glen di depan Sean untuk membuat laki-laki itu tersulut amarah. Sean pasti tidak akan terima melihat tunangan Kakaknya di peluk wanita lain.


"Sekali lagi aku melihatmu menyentuhnya, aku tidak akan peduli meski kamu adik Adeline.!" Seru Glen penuh penekan.


Sean terkekeh dan mencoba berdiri.


"Kak, kamu tidak salah membelanya.?" Sean menatap penuh curiga.


"Apa kamu memiliki hubungan spesial dengan ja-lang itu.?" Tatapan Sean menelisik dan diselimuti amarah.


Gea memejamkan mata ketika mendengar Sean menyebutnya ja-lang. Dadanya seperti di lempar anak panah yang menancap di hatinya.


Sean pikir siapa yang sudah membuat Gea menjadi seperti ja-lang. Gea kembali bersumpah dalam hati, mengumpat perkataan buruk Sean padanya.


"Tutup mulutmu.!!" Glen hendak mau untuk kembali meninju Sean, namun Gea menahannya.


"Dia menciumku, tolong hilangkan nodanya di bibirku." Bisik Gea seraya mengalungkan tangan di leher Glen.


Tatapan Gea yang sayu dengan sisa air mata di pipi, membuat Glen tidak bisa menolaknya.


Glen menatap sejenak bibir Gea yang kemerahan. Tangan Glen seketika mengepal kuat dan melirik Sean tajam.


Detik berikutnya Glen langsung menyambar bibir Gea dan menciumnya dalam namun penuh kelembutan. Glen tampak tidak peduli meski di sana ada Sean yang bisa saja mengadukan perbuatannya dengan Gea pada Adeline.


"Kalian sangat menjijikkan.!" Sinis Sean penuh amarah.


"Apa bedanya dengan kamu.!" Jawab Glen tak mau kalah. Dia melepaskan jasnya, lalu memakainya pada Gea untuk menutupi bagian da-da Gea yang terbuka.


"Ayo pergi," Glen merangkul Gea, membawa Gea keluar dari toilet.


"Sebaiknya kamu pulang, kamu berhutang penjelasan padaku.!" Tegas Glen.


Gea tidak punya pilihan lagi selain menuruti perkataan Glen. Dia memesan taksi untuk pulang ke apartemen.


Sebelum itu, Glen lebih dulu menemani Gea sampai taksi itu datang dan memastikan Gea benar-benar meninggalkan hotel menggunakan taksi.


Glen kembali ke ballroom tanpa menggunakan jas. Dia kembali duduk di samping Adeline.


Tunangannya itu menatapnya aneh.


"Aku ke toilet dan jasku basah, jadi aku melepasnya." Ujar Glen, padahal Adeline tidak menanyakan apapun.


"Ya, lebih baik di lepas dari pada dia kedinginan." Glen menautkan alis mendengar ucapan Adeline.


"Maksudku, nanti kamu kedinginan kalau masih memakai jas basah." Ralat Adeline. Dia tampak tersenyum kaku, tentu saja menahan gejolak di dadanya yang bergemuruh. Kecewa, marah, sakit hati, semua perasaan itu sedang berkecamuk dalam hatinya.


Adeline bukan tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi di toilet, dia justru melihat semuanya dengan jelas. Tapi memilih pergi dan menutup mata sebelum Glen keluar dari toilet.