Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 60



"Jangan hamilin aku sekarang Om, nanti aja kalau kita sudah menikah." Pinta Arumi memelas. Lagi-lagi Agam harus menahan tawanya karna ucapan Arumi.


"Memangnya siapa yang mau buka segel di kantor." Ujar Agam sambil mendorong kening Arumi menggunakan telunjuknya. Dia tidak segila itu untuk meng unboxing Arumi di ruangan kerjanya. Sekalipun hasrat dan rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun untuk mencicipi gurihnya ABG, tapi pikirannya masih cukup waras.


Lebih baik menahan diri daripada menyesal kemudian. Karna Agam sudah mengatur akan seperti apa malam pertamanya bersama Arumi setelah mereka menikah.


"Jadi cuma mau icip-icip saja.?" Tanya Arumi dengan ekspresi polosnya. Dia kemudian bernafas lega setelah tau jika Agam tidak akan menghamilinya saat ini. Dan kini tidak lagi memberontak, bahkan terkesan membiarkan tangan Agam yang kini menurunkan dressnya sampai sebatas perut.


"Bukan cuma icip-icip, kamu juga harus memberinya jatah." Jawab Agam. Dia mengarahkan kedua matanya ke bawah, menatap benda di antara kedua pahanya yang sedang di duduki oleh Arumi.


"Om benar-benar mesum.!" Cibir Arumi seraya melemparkan pukulan kecil di dada bidang Agam.


Wajah putih Arumi sedikit merona, membayangkan adegan selanjutnya yang akan terjadi. Meski terkadang kesal harus menuntaskan hasrat tunangannya itu, tapi Arumi juga lebih banyak menikmatinya. Lagipula tidak ada yang bisa menolak pesona dan sentuhan Agam.Nyatanya Livia saja pantang mundur untuk mendekati Agam.


"Om,,,!" De sah Arumi kaget. Pasalnya Agam tiba-tiba mere mas dua bukitnya secara bersamaan.


"Ruangannya kedap suara, teriak saja sepuas mu." Agam berbisik, dia sengaja menempelkan bibirnya pada daun telinga Arumi dan memberikan gigitan kecil di sana. Tubuh Arumi di buat menegang. Dia mencengkram punggung dan lengan Agam saat gelayar kenikmatan yang bercampur geli menjalar ke seluruh tubuhnya.


Arumi tidak ditinggal diam, dia menangkup sebelah pipi Agam dan menyambar bibirnya. Lagipula Arumi memang menikmati momen-momen kemesumannya bersama Agam. Mungkin karna Arumi baru merasakan bagaimana nikmatnya mencapai *******, jadi jiwanya masih menggebu-gebu dan ingin selalu mengulangi kegiatan itu lagi dan lagi.


Awalnya Arumi hanya mengecup bibir Agam, tapi kemudian berubah menjadi lu matan kecil. Dan ketika Agam menyambut ciuman itu, Arumi semakin memperdalam ciumannya dan kedua tampak menikmati pertukaran saliva itu hingga suara kecapan dari bibir mereka terdengar cukup kencang.


Keduanya mengakhiri ciuman panas itu saat hampir kehabisan nafas. Kini keduanya saling menatap dengan nafas yang masih memburu.


Arumi tersenyum samar dan mengeratkan lingkaran tangannya di leher Agam.


Agam berdiri dan menggendong Arumi yang masih bergelayut di lehernya. Pria itu berjalan ke arah sofa dan merebahkan Arumi di sana.


Detik berikutnya Agam sudah mengungkung tubuh Arumi dan melahap salah satu bukit yang sudah bertambah ukurannya karna hasil karya Agam sendiri.


Arumi mengerang tertahan. Permainan Agam selalu membuatnya terbang tinggi. Mungkin karna Agam seorang duda, jelas dia berpengalaman dalam hal yang satu ini. Jika Arumi tidak menikmati dan terbuai dengan sentuhannya, maka kegagahan Agam perlu dipertanyakan.


Agam membuat beberapa stempel kepemilikan di kedua daging berkulit putih pulus itu. Dia merasa semakin bergairah jika melihat tanda kepemilikannya menempel di kulit putih Arumi.


Bibir Agam bergerak turun. Dia menyusuri perut rata Arumi yang tidak tertutup apapun. Arumi di buat kelimpungan karna Agam menghujani banyak ciuman di sana.


Kruyukk,, kruyukkk,,,


Alarm perut yang minta di isi sudah berbunyi. Pemilik suara itu hanya menyengir kuda saat di tatap kesal oleh Agam. Tentu saja suara perut keroncongan Arumi langsung merusak suasana dan membuat gairah Agam terjun bebas.


Setelah tragedi perut berbunyi, mereka langsung menghentikan kegiatan yang sudah hampir panas itu. Agam menyuruh Arumi untuk merapikan kembali dressnya, kemudian mengajak gadis itu keluar dari kantornya dan pergi ke pusat perbelanjaan untuk makan siang bersama.


Kini keduanya sedang duduk bersebelahan dan baru saja menikmati makan siang mereka di restoran Korea.


Arumi tampak lebih nyaman di samping Agam. Entah karna rasa cintanya pada Agam semakin besar, atau mungkin karna sikap Agam yang lebih manis padanya.


"Aku mau menunjukkan sesuatu sama Om." Ujar Arumi. Dia mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja.


"Kemarin aku sudah bertemu dengan Kak Livia. Dia setuju untuk mengembalikan jaket Om padaku, tapi malah datang dengan tangan kosong." Arumi menggerutu. Dia masih emosi setiap kali ingat kejadian itu. Terlebih dengan perkataan Livia.


"Apa ini.?" Agam mengerutkan kening saat Arumi menyodorkan ponsel padanya.


"Buka saja, Om harus dengar semuanya." Kata Arumi dan memaksa Agam untuk memegang ponselnya. Agam menerima ponsel itu tanpa penolakan. Dia kemudian memutar rekaman suara itu.


Agam mendengarkan rekaman percakapan di ponsel Arumi dengan serius. Dia jelas mengenali suara kedua wanita dalam rekaman tersebut. Obrolan mereka awalnya terdengar masih santai, kelamaan berubah menjadi perdebatan.


Arumi memperhatikan raut wajah Agam yang berubah. Pria itu terlihat menahan kekesalannya saat mendengar Livia mengatakan kalau mereka berdua pergi bersama selama 2 hari.


"Jangan percaya padanya." Kata Agam setelah mendengarkan rekaman suara itu sampai selesai. Dia kemudian mengembalikan ponsel milik Arumi.


"Aku memang nggak percaya ucapan wanita itu. Aku merekamnya karna ingin menunjukkan pada Om bagaimana sifat wanita itu yang sebenarnya." Tutur Arumi menggebu-gebu. Saking kesalnya pada Livia, Arumi sampai tidak mau menyebut namanya.


"Penampilan benar-benar bisa membuat orang tertipu. Siapa yang akan percaya kalau wanita itu sangat pandai mengadu domba dan mengarang cerita." Gerutu Arumi. Seolah belum puas menunjukkan kebusukan Livia, Arumi ingin membuat mata Agam semakin terbuka lebar untuk melihat seperti apa sebenarnya sosok Livia.


"Aku sudah melarang mu bertemu dengannya, tapi kamu memaksa." Ujar Agam. Sebenarnya dia sudah memiliki firasat akan ada sesuatu yang terjadi jika Livia dan Arumi bertemu dan bicara 4 mata. Agam juga sadar kalau sebenarnya Livia masih berusaha keras untuk mendekatinya.


"Karna aku ingin memberikan peringatan pada wanita itu agar berhenti mengejar calon suamiku. Tapi dia malah mengarang cerita yang membuatku emosi." Arumi mencebik kesal.


"Sudah jangan marah-marah." Agam mengacak-acak pucuk kepala Arumi.


"Om,,,!" Rengeknya seraya menghindar dan merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ayo pulang, kamu masih punya tugas penting yang harus di kerjakan." Ujar Agam seraya beranjak dari duduknya. Tatapan mesumnya seketika bisa terbaca oleh Arumi. Agam pasti akan melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda.


"Tugas apa Om.?" Arumi pura-pura tidak tau. Dia dengan santainya masih duduk dan menyeruput minumannya.


"Jangan pura-pura, kamu bahkan lebih tau." Celetuk Agam datar. Dia menggandeng tangan Arumi dan membawanya pergi dari restoran itu.