
"Aku ke toilet sebentar." Gea pamit pada Sena dan Aileen. Gadis itu beranjak dari duduknya, dia berlalu dari sana setelah mendapatkan sahutan dari kedua sahabatnya.
Gea sedikit buru-buru meninggalkan ballroom. Pergi ke toilet hanya alasan saja. Karna sebenarnya Gea ingin mengikuti Glen yang baru saja dia lihat keluar dari ballroom seorang diri.
Sedangkan Adeline masih di berada di tempat duduknya.
"Kemana Om Glen,," Lirih Gea sembari mengedarkan pandangan. Padahal sudah buru-buru mengejar pria itu, tapi masih ketinggalan jejak juga.
"Mungkin ke toilet,," Gea kembali bergumam sendiri dan langsung pergi ke toilet.
Sebenarnya tidak penting mengikuti pria itu, tidak ada hal yang ingin di bicarakan oleh Gea juga padanya. Gea hanya penasaran saja bagaimana sikap Glen ketika melihatnya tanpa ada Adeline di sampingnya. Jika tadi pria itu bersikap dingin dan pura-pura tak mengenalnya, mungkin Glen bisa bersikap lain ketika bertemu dengannya tanpa ada orang lain yang mereka kenal di sana.
Senyum di bibir Gea merekah. Tidak salah dia langsung menuju toilet, karna pria yang dia cari benar-benar ada di sana. Glen tengah berdiri di depan lorong toilet pria bersama seorang pria yang terlihat seumuran. Keduanya terlihat sedang mengobrol serius.
Sekilas merapikan rambut dan gaunnya, Gea sengaja berjalan ke arah Glen. Berpura-pura akan pergi ke toilet wanita yang kebetulan harus melewati toilet pria. Karna ada orang lain di sana, Gea sengaja meluruskan pandangan tanpa menoleh pada kedua pria itu. Dia juga tak mau membuat Glen curiga kalau sebenarnya sudah mengikutinya.
Glen menyadari kedatangan Gea saat gadis itu semakin dekat ke arahnya. Dia menatap Gea yang tidak meliriknya sama sekali.
Begitu berjalan di depan Glen, Gea tiba-tiba kehilangan keseimbangannya akibat high heels yang dia pakai. Glen reflek ingin menangkap tubuh Gea yang hampir terjatuh, tapi temannya lebih dulu meraih tubuh Gea.
Gadis yang sempat berteriak itu kini dalam pelukan seorang pria yang menahan tubuhnya karna hampir terjatuh. Kedua tangan Gea juga berpegang pada bahu dan lengan pria tersebut karna reflek. Sempat terdiam beberapa saat dalam posisi itu, Gea bergegas menyeimbangkan badannya dan melepaskan diri dari pelukan pria itu karena melihat tatapan tak bersahabat dari Glen.
"Kamu nggak papa.?" Tanya pria yang baru saja menolong Gea.
Gea hanya mengangguk kecil tanpa berani melakukan kontak mata dan berbicara lebih banyak. Karna tatapan mata tajam Glen seolah sedang mengintimidasinya. Padahal dia tidak sengaja jatuh ke pelukan pria lain, tapi sorot matanya seolah-olah Gea bersalah karna Gea di tolong oleh pria tersebut.
"Makasih." Ucap Gea lirih. Dia lalu sedikit menjauh dan siap-siap untuk pergi. Tatapan Glen terlalu mengerikan, membuat gadis itu ingin buru-buru pergi dari sana.
"Tunggu sebentar." Pria itu menahan pergelangan tangan Gea saat Gea baru saja melangkah untuk pergi. Tak mau melihat tatapan Glen semakin tajam, Gea bergegas menarik tangganya dari genggaman pria itu.
"Kenapa.?" Tanya Gea pada pria tersebut. Dia bingung karna langkahnya di tahan saat akan pergi dari sana.
"Bukannya tadi kamu mau ke toilet. Kenapa malah balik lagi.?" Ucapan pria itu membuat Gea jadi salah tingkah karna malu.
Gea sampai merutuki dirinya sendiri. Gara-gara melihat tatapan tajam Glen, otaknya sampai ngeblank. Dia lupa kalau sedang pura-pura akan pergi ke toilet.
Gea kembali berterimakasih padanya, kali ini mengucapkannya sambil menahan malu di depan Glen.
Tanpa banyak bicara, Gea berjalan cepat ke toilet wanita dan menghilang di balik lorong.
"Apa yang ada di otakmu." Tegur Glen.
Ricko, teman sekaligus tekan bisnis Glen itu malah terkekeh geli mendapat teguran tak bersahabat dari temannya. Biasanya Glen akan memberikan tanggapan jika melihat wanita cantik, tapi kali ini tampak berbeda.
Perkataan Glen seperti mencegah Ricko untuk tidak berfikir macam-macam pada wanita yang baru saja dia tolong tadi.
"Aku hanya berfikir gadis itu cukup menarik dan cantik. Kelihatannya masih sangat muda." Ujar Ricko. Dia terang-terangan memuji Gea, tanpa tau kalau gadis yang sedang dia puji itu memiliki hubungan terlarang dengan pria yang tengah menatapnya tajam.
"Ck.,, Kamu selalu bicara seperti itu setiap kali melihat wanita." Glen sampai berdecak.
"Bahkan kalau ada kambing betina yang di poles make up lewat di depanmu, mungkin akan kau bilang cantik juga." Cibirnya.
Ricko semakin tertawa geli mendengar cibiran Glen. Dia sebenarnya sempat berfikir kalau Glen sedang cemburu karna mendengarnya memuji wanita tadi. Tapi melihat keduanya yang seperti tidak saling mengenal, Ricko akhirnya menepis pikiran tersebut dan kini hanya menganggap celetukan Glen sebagai candaan saja.
"Kita sudah terlalu lama di sini, ayo masuk lagi." Ricko mengajak Glen untuk kembali ke ballroom.
"Duluan saja, aku harus menelfon seseorang." Glen seketika langsung sibuk dengan ponselnya.
"Ok, aku duluan." Ricko menepuk pundak Glen sebelum pergi dari sana.
Glen memasukkan ponselnya begitu melihat Ricko sudah jauh. Dan ketika pria itu tidak terlihat lagi, Glen seperti pencuri yang mengamati keadaan sekitar toilet. Setelah di rasa sepi, pria itu lantas masuk ke dalam toilet wanita. Entah apa yang ada dalam pikiran pria tersebut.
Gea baru saja membuka pintu toilet, tapi langsung di kejutkan dengan keberadaan Glen yang berdiri tepat di depannya.
Belum sempat membuka mulut untuk bertanya pada Glen, pria itu sudah lebih dulu membungkam mulut Gea dengan tangannya dan mendorong gadis itu ke dalam toilet.
"Om,, mau ngapain.?" Tanya Gea yang panik lantaran Glen juga masuk ke toilet, bahkan pria itu menutup pintu dan menguncinya.
"Jangan banyak protes, diam dan lakukan tugasmu seperti biasa." Tegas Glen. Meski pelan, tapi penuh penekanan.
Gea ingin menjawab lagi, tapi bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Glen. Pria itu menciumnya dengan sangat rakus dan sedikit kasar. Perlahan Glen mendorong tubuh Gea hingga gadis itu bersandar pada dinding toilet.
Gea tidak merespon ciuman Glen. Pikirannya kacau lantaran takut perbuatannya tertangkap basah oleh orang lain yang kapan saja bisa datang ke toilet. Walaupun keadaan toilet itu sangat sepi sejak Gea datang, tetap saja Gea merasa cemas.
Mau di taruh di mana wajahnya kalau sampai seseorang menangkap basah perbuatan mesumnya di toilet hotel.
Tapi sepertinya kecemasan itu tidak berlaku untuk Glen. Pria itu justru semakin tak terkendali dengan tangan nakalnya yang sudah mere-mas daging besar dan kenal di balik gaun Gea.