
Pagi ini Glen masih datang ke perusahaan Agam untuk menyelesaikan pekerjaannya sekaligus meminta cuti selama beberapa hari karna akan melangsungkan pernikahan di Surabaya.
5 menit sebelum jam makan siang, Glen meninggalkan meja kerjanya untuk menemui Agam.
Sampainya di depan ruangan Agam, Glen mengetuk pintu dan langsung menyelonong masuk sebelum mendapatkan ijin. Tapi hal itu sudah biasa dilakukan Glen, Agam juga tidak pernah protes sama sekali. Apalagi mereka sudah cukup lama bersahabat, jadi tidak ada batasan meski sekarang status Glen menjadi bawahan Agam.
Namun kali ini Glen merasa menyesal karna sudah lancang menyelonong masuk ke ruangan Agam. Matanya jadi ternodai dengan adegan panas sang bos dan istrinya. Agam sampai melotot tajam sambil berusaha menutupi tubuh istrinya yang setengah telanjang.
"So-sorry Bro,," Ucapnya kikuk.
Sebelum mendapat amukan dari Agam, Glen langsung mundur perlahan sambil menutup pintu kembali. Nafasnya mendadak berat setelah melihat adegan panas itu. Dia tidak menyangka Agam akan mengajak istrinya ber cinta di ruangannya. Padahal yang Glen tau selama ini, Arumi adalah gadis polos, tidak seperti Gea ataupun temannya yang lain. Tapi Arumi mau saja ketika diminta menuntaskan hasrat suaminya di kantor, sekalipun kantor itu milik suaminya sendiri.
"Sialan, kenapa aku harus melihat adegan di waktu yang tidak tepat.!" Umpat Glen jengkel. Dia sudah lama menahan hasratnya, mengingat hubungannya dengan Gea sedang bermasalah.
Sekarang setelah melihat adegan panas itu, Glen mendadak panas dingin dan ingin merasakannya juga. Tapi Glen sadar kalau dia tidak akan bisa merasakannya dalam waktu dekat meski beberapa hari lagi dia dan Gea resmi menikah.
1 jam kemudian Glen kembali mendatangi ruangan Agam atas perintah Agam sendiri.
Belajar dari kesalahan sebelumnya, kali ini Glen menunggu jawaban dari Agam sebelum membuka pintu. Dia tidak mau melihat adegan panas seperti tadi karna efeknya masih terasa sampai sekarang.
Begitu Glen masuk ke ruangan, Agam mendengus kesal dengan lirikan tajam. Kalau saja bukan sahabatnya yang memergokinya sedang bercinta, Agam akan memecatnya detik itu juga karna sudah bersikap tidak sopan. Walaupun Agam menyadari kecerobohannya yang lupa mengunci pintu. Tapi tindakan Glen jauh lebih salah.
"****.! Kamu merusak mood saja.!" Gerutu Agam saat Glen duduk di depannya.
Glen menelan ludah susah payah, sepertinya dia membuat percintaan Agam jadi berantakan. Terlihat dari raut wajah Agam yang tidak bersahabat. Mungkin Arumi tidak mau melanjutkan kegiatan mereka setelah kejadian memalukan tadi.
"Sorry, aku tidak tau kalau Arumi datang." Glen menyengir kuda. Kalau saja dia tau di ruangan Agam ada Arumi, sudah pasti dia akan masuk setelah mendapat ijin dari Agam. Jadi kejadian seperti tadi tidak harus terjadi.
Sebenarnya Glen ingin menegur Agam karna tidak mengunci pintu disaat sedang berbuat mesum di ruangan kerjanya. Tapi Glen takut di tegur balik oleh Agam gara-gara menyelonong masuk ke ruangannya. Intinya mereka berdua memang sama-sama salah. Tapi mengingat perusahaan itu milik Agam dan dia bebas melakukan apapun di ruangannya, maka Agam tidak bisa disalahkan.
"Apa Arumi marah.?" Tanya Glen.
Agam mendengus kesal.
Glen kembali minta maaf, dia juga menitipkan permintaan maaf untuk Arumi pada Agam. Meski Agam terlihat enggan memaafkannya, namun pria itu tidak memperpanjang masalah. Glen akhirnya mulai mengutarakan tujuannya yang sengaja ingin bicara empat mata karna ingin meminta cuti selama 5 hari, sekaligus meminjam uang untuk berjaga-jaga jika orang tua Gea menginginkan pesta pernikahan yang mewah.
"Kenapa tidak jujur saja dengan kondisimu, agar mereka tidak meminta sesuatu yang memberatkan mu." Usul Agam.
"Aku bukan tidak mau meminjamkan uang, tapi lebih baik uang itu kamu gunakan untuk hal-hal yang lebih penting di masa depan." Terangnya.
Bagi Agam, meminjamkan uang tujuh ratus juta pada Glen bukan masalah besar. Dia akan meminjamkannya tanpa pikir panjang karna sudah lama mengenal Glen dan tau seperti apa kepribadiannya.
Tapi mengingat kondisi Glen sedang mengalami kesulitan ekonomi, Agam tidak setuju jika meminjam uang sebanyak itu hanya untuk pesta sehari. Kecuali jika Glen menggunakan uang itu untuk membuka usaha ataupun keperluan lain yang mendesak.
"Gea anak sulung, kedua orang tuanya menggantungkan harapan yang besar pada Gea. Aku sudah menghancurkan harapan mereka karna menghamili Gea." Glen menunduk lesu penuh sesal.
"Rasanya aku tidak berguna kalau pernikahan kami digelar sederhana."
Agam menghela nafas sembari memijat pelipisnya. Dia ikut pusing dengan permasalahan yang di hadapi Glen. Posisi Glen benar-benar sulit dan serba salah tentunya.
"Ya sudah terserah kamu saja." Sahut Agam.
Agam tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya berusaha memberikan saran, selebihnya tetap Glen yang berhak mengambil keputusan.
Selesai memberikan ijin cuti dan mentransfer sejumlah uang yang diminta, Agam menyuruh Glen keluar dari ruangannya karna dia harus membujuk Arumi lagi yang masih ngambek di dalam kamar.
Agam sengaja menyuruh Arumi masuk ke ruangan yang biasa dia pakai untuk istirahat ataupun menginap ketika harus lembur di kantor. Ruangan yang hanya berukuran 4 x 5 meter, namun lengkap dengan ranjang, lemari pakaian dan kamar mandi.
Begitu membuka pintu kamar, Agam tersenyum teduh lantaran melihat Arumi tengah tidur sembari memeluk guling.
Tidak mau menganggu waktu istirahat Arumi, Agam memutuskan kembali kemeja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan. Dia membiarkan Arumi istirahat dan berharap moodnya lebih baik setelah bangun tidur.
Sejujurnya Agam sedikit kewalahan ketika menghadapi mood Arumi yang sedang buruk. Walaupun tidak sering, tapi cukup menguji kesabaran. Mungkin karna efek kehamilannya, jadi suasana hati Arumi mudah berubah.
Tapi hali itu malah membuat Agam belajar tentang arti sabar dan belajar memperlakukan istri dengan penuh kelembutan.