Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 115



"Hueek,,, Hueekk,,,"


Gea mendengar suara itu ketika tidak sengaja melintas di depan kamar Glen yang sedikit terbuka. Kening Gea mengernyit. Merasa heran mendengar suara mirip sedang muntah-muntah itu. Biasanya seseorang yang muntah itu karna sedang sakit, tapi baru beberapa menit yang lalu dia melihat Glen keluar dari ruang gym dan pria itu terlihat baik-baik. Segar dan bugar karna baru saja olahraga. Jadi aneh kalau tiba-tiba sekarang pria itu muntah-muntah.


Meski sebenarnya ragu untuk masuk, namun kekhawatiran Gea jauh lebih besar di banding keraguannya. Tidak peduli meskipun nanti Glen akan marah padanya karna menyelonong masuk ke kamar. Yang terpenting dia harus memastikan kalau Glen baik-baik saja.


Suara itu semakin terdengar ketika Gea memasuki kamar. Perlahan langkahnya menuju ke arah mandi dengan pintu yang tidak tertutup.


"Om,, Om baik-baik saja.?" Seru Gea dari jarak yang masih jauh agar tidak mengingatkan Glen.


"Hemm,," Glen hanya berdeham, lalu kembali muntah untuk terakhir kalinya. Mengeluarkan makanan terakhir yang masih tersisa di perutnya.


Padahal saat bangun tidur dia hanya makan apel dan pisang, 20 kemudian dia lanjut olahraga.


Glen membasuh wajah dan mulutnya. Gea sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi dan hanya diam menatap Glen dari pantulan cermin wastafel. Wajah Glen sedikit lebih pucat setelah mengeluarkan isi perutnya. Sekarang Gea bingung harus melakukan apa. Ini pertama kalinya dia melihat seorang pria muntah di depan matanya. Jadi tidak tau penangannya seperti apa. Tidak mungkin juga tiba-tiba Gea mendekat dan memijat tengkuk Glen. Pasti akan sangat canggung, mengingat tidak ada hubungan apapun di antara mereka.


"Om ingin aku buatkan teh hangat atau air hangat.?" Pada Akhirnya Gea hanya bisa menawarkan minuman hangat pada Glen. Wanita itu mundur beberapa langkah saat Glen berbalik badan seperti akan keluar dari kamar mandi.


"Teh hangat boleh." Jawab Glen seraya melewati Gea begitu saja. Kondisi Glen tampak lemas dan tidak beradaya. Pria itu malam duduk di sofa dan menyandarkan tubuh di sana sembari memijat pelipisnya.


Gea pamit ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Dia juga membawa sarapan, kebetulan tadi baru selesai membuat sup dan makanan lainnya. Gea juga membawa kotak p3k, siapa tau Glen akan membutuhkan obat.


Saat Gea masuk ke dalam kamar, Glen masih berada di posisi semula. Kali ini dengan mata yang terpejam. Dea dengan hati-hati meletakkan nampan besar di atas meja. Wanita berusia 18 tahun itu tampak bingung setelah meletakkan nampan, jadi hanya mematung di depan Glen.


Mau memanggil Glen tapi takut pria itu sedang tidur. Bisa-bisa terbangun dan mengganggu istirahatnya.


5 menit, 7 menit, sampai pada menit 10 Gea tersentak kaget.


"Kenapa diam saja." Seru Glen suara beratnya padahal matanya masih terpejam, tapi tau kalau Gea diam saja.


Sempat terperanjat, Gea langsung mengambil teh hangat dan memberikannya pada Glen.


"Itu tidak terlalu panas." Tutur Gea yang melihat Glen seperti ragu untuk meminum tehnya.


Setelah diberi tau kalau tehnya tidak terlalu panas, Glen baru meneguknya.


"Om belum sarapan. Tadi juga habis muntah." Ujar Gea.


"Aku bawakan sup, sebaiknya langsung di makan selagi hangat." Tuturnya dan mengambil cangkir bekas teh yang sudah habis.


"Ada obat juga, minum obatnya setelah makan." Tambahnya lagi. Glen hanya diam di tempat, namun tatapan matanya lari kemana-mana. Terkadang menatap lekat wajah Gea, atau melirik nampan yang tadi di bawa Gea. Lalu ketika Gea menatap ke arahnya, Glen akan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Gea sampai bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya Glen kenapa.?


"Aku ke kamar dulu, mau mandi. Kalau butuh apa-apa, panggil saja ya." Seulas senyum tipis di lemparkan pada Glen, sebelum berbalik badan lalu mulai melangkahkan kaki.


"Kamu pikir aku bisa makan sendiri.?!" Seru Glen dengan bicara kesal. Gea sontak menghentikan langkah dan keningnya mengkerut sempurna.


Glen tidak bisa makan sendiri.? Memangnya apa yang terjadi dengan tangan kanannya.? Kedua tangannya bahkan masih berfungsi dengan baik saat tadi menerima cangkir teh.


Glen mencincingkan matanya melihat Gea tidak peka. Pria itu ingin berteriak minta di suapi tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan, atau mungkin gengsi pada Gea.


"Bisa-bisanya bertanya bagaimana.!" Gerutu Glen kesal. Wajahnya tampak masam, seperti wanita yang sedang merajuk. Itu malah membuat Gea semakin yakin kalau ada yang aneh dengan Glen.


Gea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sumpah dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Glen pikir dia cenayang yang bisa membaca pikiran orang tanpa di beri tau.


Meskipun Gea sempat berfikir kalau Glen minta disuapi, tapi mengingat Glen yang sebelumnya tidak pernah minta di suapi, Gea jadi menepis pikiran itu. Bagaimana kalau tiba-tiba Glen marah saat dia berinisiatif menyuapinya.


Hening,,,,


"Kenapa masih berdiri saja.?" Tanya Glen yang tampak semakin kesal dan tidak sabaran.


"Om, aku tidak tau sebenarnya Om minta apa.? Kalau Om tidak bilang, aku mana tau." Jawab Gea memberanikan diri.


Glen menghembuskan nafas kasar, dia membuang muka ke arah lain.


"Suapi.! Aku masih lemas karna muntah." Jawabnya ketus. Gea sampai melongo di buatnya. Sedikit syok karna tiba-tiba minta di suapi. Ada angin apa.? Atau jangan-jangan ketempelan penghuni di ruang gym tadi.


Karna Gea masih berdiri di tempat, Glen kembali menatap ke arahnya dan memberikan tatapan tajam. Wanita itu paham dengan kode dari Glen.


"Ba-baik Om,," Gea mengambil tempat di sebelah Glen, sedikit membuat jarak agar tidak terlalu dekat. Hati dan pikirannya sedang berkecambuk, memikirkan sikap Glen yang sangat aneh.


Dengan teleten Gea menyuapi Glen. Suana cukup hening karna keduanya sama-sama diam, seperti sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Tidak panggil dokter saja.?" Tawar Gea setelah memberikan suapan terakhir. Glen makan dengan lahap seperti orang sehat, tidak ada tanda-tanda sedang sakit kecuali saat muntah dan sesudah muntah. Karna terlihat lemas. Sekarang pria itu tampak sudah normal seperti biasanya.


"Aku tidak sakit, untuk apa panggil dokter."


"Bawa lagi kotak p3k nya, aku juga tidak butuh obat." Ujarnya panjang lebar.


Tak mau berdebat, Gea mengiyakan saja dan mulai membereskan alat makan tadi untuk di taruh di dapur.


"Mau kemana.?" Tanya Glen ketika Gea sudah berdiri dan mengambil nampan.


"Menaruh ini di dapur, lalu aku mau mandi." Jawabnya.


"Taruh nampan saja di dapur, setelah itu kembali ke sini."


Gea mengerutkan kening.


"Butuh apa lagi.?" Tanyanya heran.


"Butuh tubuhmu, memangnya apa lagi.?" Seru Glen sewot.


"Aku ingin bercinta." Tegasnya tanpa menatap Gea dan beranjak dari sofa, berjalan cepat ke kamar mandi, lalu masuk ke dalam.


Bagaimana dengan Gea.? Wanita itu kini sedang melongo di tempat. Sungguh itu bukan Glen. Gea pikir tadi Glen sudah kembali seperti semula.