
Arumi telah melewati proses pertimbangan yang panjang untuk memakai salah satu hadiah dari sahabat-sahabatnya. Banyak hal yang harus di pertimbangkan demi keselamatan dirinya sendiri dari buasnya sangat suami di atas ranjang.
Setelah di pertimbangkan secara matang dan cukup lama, akhirnya Arumi memutuskan cosplay menjadi suster Jepang.
Sebelum pukul 9 malam, Arumi sudah memakai baju tempurnya. Dia sempat stok ketika berdiri di depan cermin besar. Rok dan baju mini itu tidak menutup bagian sensitifnya dengan sempurna. Bahkan hanya di bawa duduk saja, area intinya langsung terlihat. Arumi tidak mau gegabah, dia memilih untuk memakai kain segitiga supaya area intinya tertutup sempurna. Jangan sampai birahi Agam langsung terbakar ketika melihat benda itu tanpa penutup.
"Sayang, kamu sudah sampai dimana.?"
Arumi mengirimkan pesan pada suaminya. Sudah 20 menit dia menunggu Agam dan tidak sabar melihat reaksi Agam begitu melihatnya memakai kostum menggoda.
"10 menit lagi sampai. Mau beli sesuatu.?"
Arumi mengulum senyum saat membaca balasan dari Agam. Service yang dia berikan pada Agam beberapa hari ini, sepertinya berhasil mencairkan dinginnya sikap Agam padanya.
Kini pria itu lebih hangat dan penuh perhatian padanya.
"Cepat pulang saja, aku menunggu. Hati-hati di jalan."
Arumi kembali mengirimkan pesan beserta emoticon kiss berjumlah 3. Kalau Agam sadar, dia pasti paham kenapa Arumi mengirimkan 3 emoticon kiss padanya.
Selama ini mereka selalu mengulangi percintaan hingga 3 kali. Sebelum Agam mencapai ******* ke 3, dia tidak akan pernah berhenti.
Pesan itu hanya di baca oleh Agam. Jantung Arumi mulai bergemuruh, dia merasa Agam sudah paham maksud pesan singkat itu.
"Bagaimana ini.? Apa aku pura-pura tidur saja.?" Arumi bingung sendiri. Dia tidak tau caranya memberikan kejutan untuk Agam.
Setelah cukup lama berfikir, Arumi memutuskan untuk mencari ide di internet. Ada beberapa cara untuk memberikan kejutan pada suami. Arumi memilih mematikan semua lampu kamar dan duduk di tepi ranjang membelakangi pintu.
Dia mematikan semua lampu utama ketika mendengar suara deru mobil di halaman rumah.
Hanya 1 lampu tidur yang dibiarkan menyala, itupun hanya memancarkan sedikit cahaya temaram.
...******...
Agam buru-buru ke lantai atas, dia memegang tas kerja di tangan kirinya dan es krim kesukaan Arumi di tangan kanannya. Pesan manis Arumi di sertai emoticon kiss, membuat pikiran Agam melayang kemana-mana. Dia langsung paham maksud pesan Arumi.
"Kamu nggak usah mengelak lagi, katakan saja siapa wanita itu." Kegaduhan di kamar sebelah, membuat langkah Agam terhenti. Dia sampai mengurungkan niatnya membuka kamar Arumi karna tertarik mendengarkan keributan di kamar mertuanya. Sudah 2 kali dia mendengar kedua orang tua Arumi bertengkar. Hubungan keduanya terlihat sedang renggang, tapi selalu bersikap biasa ketika makan bersama.
"Amira,, Aku minta maaf." Suara Andrew tercekat penuh sesal.
"Jadi benar kan selama ini kamu punya wanita lain di belakangku." Ujarnya dengan kekecewaan dan amarah tertahan.
"19 tahun, 19 tahun kita bersama.! Tega kamu mengkhianati pernikahan kita.!" Suara Amira bergetar menahan tangis.
Agam hanya bisa menarik nafas dalam mendengar pertengkaran mereka yang ternyata di picu oleh orang ketiga. Dia sedikit syok mengetahui Papa mertuanya memiliki wanita lain. Melihat sikap Andrew penuh kelembutan dan cinta pada keluarganya, rasanya sulit di percaya kalau Andrew bisa mengkhianati istrinya. Wanita yang sudah 19 tahun menemaninya dan melahirkan seorang anak untuknya.
Tapi yang jelas, Agam berharap permasalahan rumah tangga mereka tidak sampai berdampak buruk pada Arumi.
Membuka pintu kamar, Agam malah kebingungan karna ruangan itu sangat gelap. Fokusnya langsung tertuju pada ranjang, dimana siluet seseorang duduk di tepi ranjang dan membelakangi pintu masuk.
Beberapa saat merasa kebingungan, kini sudut bibir Agam justru mengukir senyum. Sudah menyadari kalau istrinya sedang memberikan surprise untuknya. Agam lantas mengunci pintu dan menghampiri Arumi. Dia berdiri di belakang istrinya yang tidak bergerak ataupun bersuara.
Agam hanya bisa menelan saliva ketika sudah berdiri di belakang Arumi. Kini dia bisa melihat baju apa yang di pakai oleh istrinya itu. Agam jadi tidak sabar menyalakan lampu utama dan menatap lekat tubuh seksi Arumi dalam balutan kostum tempur.
"Mau menunggu sebentar.? Aku belum mandi." Bisik Agam tepat di telinga sang istri dengan lembut. Aroma wangi dari tubuh Arumi langsung menguar dan menusuk indera penciuman Agam, membuatnya semakin tidak tahan untuk menyentuh Arumi.
"Hemm,, aku akan tetap disini." Arumi mengulum senyum, dia malu sendiri memberikan kejutan itu pada Agam.
"Aku beli es krim ke sukaan mu, makan saja sambil menunggu." Agam menyodorkan eskrim itu dari arah belakang, Arumi langsung menerimanya.
"Aku segera kembali." Lagi-lagi Agam berbisik, dia kemudian buru-buru pergi ke kamar mandi.
Sebenarnya bisa saja dia langsung memangsa Arumi, tapi Agam enggan merusak suasana yang sudah di buat oleh Arumi.
Istrinya itu pasti sudah mempersiapkan tubuhnya sebaik mungkin untuk menyambutnya malam ini.
Sedangkan Agam belum mandi sejak tadi pagi. Tubuhnya sedikit berkeringat, aroma parfum maskulinnya sudah mulai hilang.
10 menit berlalu, Agam keluar kamar mandi hanya dengan handuk kimono warna putih yah membalut tubuh lolosnya. Dia sudah menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya agar sama wanginya dengan Arumi.
Melihat Agam berjalan mendekat, Arumi lantas berdiri. Dia langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Agam dan menyambar bibir sang suami dengan agresif.
Agam sedikit terkejut, terlebih ada sensasi dingin dan manis ketika Arumi menempelkan bibirnya.
Rupanya Arumi memasukkan es krim ke dalam mulut sebelum mencium bibir Agam.
Agam tak mau kalah, dia membalas ciuman Arumi tak kalah rakus. Pria itu bahkan menyedot es krim dari mulut Arumi hingga habis tanpa sisa.
Suara peraduan bibir keduanya cukup panas sampai menimbulkan suara. Arumi makin rileks dan menikmati setiap lu ma tan bibir Agam.
Keduanya baru mengakhiri ciuman setelah hampir kehabisan nafas. Agam mendaratkan kecupan di kening Arumi sebelum akhirnya menyalakan lampu utama.
"Sayang,, kenapa di nyalain." Protes Arumi malu. Dia reflek menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Pemandangan indah seperti ini sayang jika di lewatkan." Jawab Agam sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Arumi hingga terlepas.
Mata Agam tak berkedip menatap istrinya dengan balutan baju seksi menggoda iman.