
Glen dan Gea saling terdiam cukup lama. Keduanya saling menatap. Baik Glen maupun Gea, keduanya seperti tidak berniat membuka obrolan lebih dulu. Glen seolah menunggu Gea membuka buka suara. Menjelaskan padanya apa yang baru saja dia katakan pada Adeline. Tapi nyatanya setelah cukup lama dia terdiam, sengaja memberikan waktu pada Gea agar bicara, Gea sama sekali tidak mengatakan apapun.
Pria itu sampai menghembuskan nafas kasar. Menyugar rambut ke belakang seraya memejamkan mata sejenak, lalu kembali menatap Gea. Dia tidak tau kenapa wanita itu hanya diam saja setelah semua yang sudah dia ucapkan pada Adeline.
"Kamu tidak ingin memberi penjelasan padaku.?" Ujar Glen pada akhirnya. Daripada dia menunggu Gea yang tak kunjung buka suara dan membuatnya penasaran, lebih baik langsung di tanya saja.
”Apa yang harus aku jelaskan.?" Gea malah balik bertanya. Raut wajahnya masih datar, tidak banyak perubahan sejak melihat keberadaan Glen.
Meski dia tau Glen mendengar semua pengakuannya, Gea sama sekali tidak merasa takut ataupun bersalah. Dia tampak pasrah kalaupun pada akhirnya Glen akan marah dan membuangnya setelah tau kebenarannya.
Lagipula memang dia berniat meninggalkan pria itu jika kondisi fisik dan finansialnya sudah cukup baik.
"Semua yang kamu katakan di depan Adeline. Kamu tidak ingin menyangkalnya.?" Glen menatap intens, dia sangat berharap Gea akan menyangkal semua pengakuan pahit itu yang cukup menyakitkan ketika dia mendengarnya.
Gea tampak menarik nafas pelan.
"Tidak." Jawabnya tegas. Tidak ada keraguan sama sekali saat mengatakannya, Gea benar-benar tidak peduli dengan reaksi Glen setelah ini. Pada kenyataannya memang benar seperti itu. Untuk apa juga menyangkal semua ucapannya kalau tidak ada untungnya sama sekali. Gea juga tidak berharap di pertahankan, jadi tidak perlu berbohong hanya untuk menyangkal semua ucapannya.
"Semua yang Om dengar dari mulutku adalah kebenaran. Aku bicara seperti itu pada Adeline bukan untuk membuatnya semakin hancur, tapi kenyataannya aku memang merencanakan semua ini." Tutur Gea ketika Glen hanya diam saja.
"Lalu kenapa sekarang kamu ingin mengakhiri semuanya, alih-alih menerima tawaran untuk menikah denganku." Glen menatap penuh selidik.
Melihat dendam dan amarah Gea pada Sean yang begitu besar, harusnya Gea bersedia menikah dengannya agar balas dendamnya tercapai. Tapi Gea malah menolak untuk menikah, meski masih bersedia tinggal dengannya.
"Bukankah jika kita menikah, balas dendammu semakin sempurna." Ujar Glen. Kalimat provokasi itu sengaja di lontarkan Glen supaya Gea bisa mempertimbangkan ajakannya untuk menikah.
Rupanya meski tau jika Gea hanya memanfaatkannya untuk balas dendam, Glen tetap ingin menikahi wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu.
Gea tersenyum kecut.
"Jangan lupakan perbuatan Om pada calon anakku.!" Tegasnya penuh penekanan. Satu kalimat itu bisa di artikan sebagai jawaban penyebab Gea menolak tawaran Glen untuk menikah.
Kesalahan yang fatal, sampai Gea tidak berniat lagi bisa memiliki Glen. Hatinya terlanjur sakit, hancur dan kecewa atas perbuatannya.
Jika hanya melakukan kekerasan pada fisiknya, mungkin Gea bisa mempertimbangkan Glen lagi. Sayangnya kekerasan fisik yang dilakukan Glen sampai merenggut salah satu calon anaknya. Bagaimana bisa Gea memaafkannya, apalagi bersedia menikah dan hidup dengannya semudah itu.
"Dia juga anakku." Lirih Glen namun tegas. Tidak terima karna Gea selalu menyebutnya sebagai anakku saja, padahal mereka anak Glen juga.
Gea tersenyum kecut. Menyesal katanya. Tapi beberapa waktu lalu pernah memaksanya melakukan tes kehamilan. Glen seperti takut jika Gea hamil dan bisa menganggu rencana pernikahannya dengan Adeline.
"Aku pikir Om akan sengaja melenyapkan anak-anak ku agar tidak mengganggu pernikahan Om dan Adeline jika tau aku hamil." Ujar Gea sinis.
"Aku tidak sekejam itu. Bagaimana bisa kamu berfikir aku tega melenyapkan anakku sendiri." Sahut Glen tak habis pikir.
Mana mungkin dia tega melenyapkan darah dagingnya sendiri. Glen mungkin sempat khawatir ketika mencurigai Gea sedang hamil. Bahkan meminta Gea agar melakukan tes kehamilan untuk memastikan kecurigaannya. Namun setelah mengetahui Gea benar-benar hamil anaknya, Glen sama sekali tidak merasa khawatir. Dia justru merasakan perasaan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Perasaan yang menghangat dalam hatinya.
"Tapi kenyataannya Om sudah melenyapkan salah satunya.!" Bentak Gea kemudian beranjak dari duduknya. Setiap kali berdebat dengan Glen, emosinya tidak bisa di kontrol. Amarah dan kekecewaannya pada pria itu masih menggebu-gebu.
"Kamu pikir aku sengaja.?" Glen menatap iba, dia ikut beranjak dan menghampiri Gea. Pria itu menarik Gea dalam dekapannya tanpa permisi.
Gea memberontak, tapi Glen tidak memberikan Gea kesempatan untuk lepas dari pelukannya.
"Apa tidak bisa memaafkan ku dan memberiku kesempatan.?" Lirih Glen penuh sesal.
"Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Aku janji tidak akan menyakiti kalian lagi. Tolong pikirkan baik-baik, anak itu butuh kita." Glen berucap pelan, meresapi setiap kata yang dia ucapkan dengan perasaan menyesal.
"Lepas.!" Pinta Gea tegas.
Sepertinya percuma saja Glen bicara panjang lebar mengakui kesalahan dan penyesalannya di depan Gea. Hati wanita itu masih terbalut luka dan amarah, apapun yang Glen katakan tidak akan membuat Gea luluh selama perasaan itu masih membalut hatinya.
Glen mengurai pelukannya, namun sebelah tangannya masih merengkuh pinggang Gea. Satu tangannya lagi menangkup pipinya. Pria itu menatap intens dan dalam.
"Tidak bisa memaafkan ku.?" Ujar Glen frustasi.
Gea memperhatikan dalam diam. Bibirnya seolah kelu saat akan menjawab tidak.
"Aku bukan sekedar ingin bertanggungjawab, aku mencintaimu,," Ucapnya dalam.
Glen mendekatkan wajah dan mencium singkat bibir Gea tanpa ada penolakan.
"Bagaimana dengan perasaan mu.?" Tanya Glen.
Bukannya menjawab, Gea malah mendorong dada Glen dan pergi ke kamarnya.