Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 134



Nasehat Arumi menjadi bahan renungan bagi Gea untuk mengambil keputusan. Setelah memikirkan matang--matang, Gea akhirnya mencoba untuk berdamai dengan keadaan seperti perkataan Arumi. Hati Gea memang masih cukup sakit dan benci pada sosok Glen, tapi jika tidak berusaha untuk memaafkannya, sudah pasti Gea akan kesulitan berdamai dengan keadaan dan sulit merelakan semua yang telah terjadi. Itu sebabnya mulai detik ini Gea bertekad membuka pintu maafnya untuk Glen perlahan-lahan.


Sebenarnya bukan hanya nasehat Arumi saja yang pada akhirnya membuka hati dan mata Gea pada sosok Glen. Gea mulai sedikit tersentuh ketika Arumi menceritakan pengorbanan apa saja yang telah dilakukan oleh Glen demi tetap berada di sampingnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jujur saja Gea merasa sangat di hargai dan diharapkan oleh Glen. Pria itu sampai rela meninggalkan semuanya dan memilih memulai dari nol dengan bekerja keras tanpa campur tangan pamannya lagi.


Glen sepertinya sedang membuktikan ucapannya yang mengatakan bahwa semua orang bisa berubah terlepas seperti apa masa lalunya. Dan saat ini keseriusan Glen untuk berubah benar-benar terlihat sangat nyata. Dengan melepas semua kemewahan yang dia miliki, itu cukup menjadi bukti jika Glen memang tidak main-main. Bagi seorang yang sudah terbiasa hidup dalam kemewahan, hidup sederhana pasti tidak mudah. Apa lagi kalau mengingat sifat arogan Glen dan gengsinya yang cukup besar, hidup dari kata mewah mungkin akan menjatuhkan harga dirinya. Tapi alih-alih mempertahankan kemewahan, Glen malah lebih memilih bertanggungjawab pada Gea dan calon anaknya.


Gea beranjak dari sofa ruang tamu, tadi lebih dari 1 jam dia termenung di sana dengan pikiran yang lebih jernih setelah pulang dari kampus.


Gea lantas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan mengistirahatkan sejenak tubuhnya agar pikirannya semakin jernih ketika bangun tidur nanti.


3 jam kemudian, Glen sedang dalam perjalanan menuju unit apartemennya setelah seharian bekerja di perusahaan milik Agam. Menjadi karyawan biasa, tentu penampilan Glen berubah drastis. Jika biasanya ada dasi yang bertengger di leher, serta jas mahal yang membalut tubuh kokohnya hingga membuatnya terlihat sangat gagah, kini Glen hanya mengenakan celana panjang dan kemeja saja jika berangkat ke kantor. Tak jarang dia juga memakai kemeja pendek.


Sampainya di apartemen, Glen membuka pintu kamar dngan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Glen seolah tau kalau Gea sedang istirahat, jadi engga membuat tidur Gea terganggu.


Tapi rupanya Gea sudah bangun. Namun wanita itu masih berbaring di ranjang sembari memainkan ponsel. Saat melihat Glen masuk ke dalam kamar, Gea menatap sekilas ke arahnya.


Tatapan Gea membuat Glen sedikit heran karna bukan tatapan sinis seperti yang biasa Gea tunjukkan pada Glen selama ini.


Merasa suasana hati Gea sedang bagus, Glen tidak ragu untuk mendekat dan duduk di sisi ranjang.


"Baru bangun tidur.?" Tanya Glen basa-basi. Dia kebingungan membuka obrolan.


Gea menganggukkan kepala, lalu meletakkan ponselnya di nakas dan ikut duduk seperti Glen.


"Aku beli makanan untuk kalian, mau di makan sekarang.?" Tanya Glen yang semakin terlihat kaku.


Gea menggeleng.


Pria itu langsung membulatkan mata dengan tatapan berbinar ketika tau maksud ucapan Gea.


"Terimakasih,, aku akan mengurus secepatnya." Ujar Glen seraya meraih tangan Gea untuk di genggam. Pria itu tersenyum lebar, kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. Jawaban ini yang Glen tunggu-tunggu sejak beberapa minggu yang lalu. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk bertanggung dan menebus kesalahannya pada Gea.


"Tapi aku ingin ada perjanjian." Tegas Gea.


Senyum Glen seketika memudar, suasana hatinya langsung berantakan mendengar kata perjanjian. Glen bisa menebak kalau Gea belum benar-benar bisa memaafkan dan menerimanya, itu sebabnya harus ada perjanjian di antara mereka.


"Baik, kamu tulis saja poin-poin perjanjiannya. Nanti akan aku cetak." Glen menyetujui permintaan Gea tanpa berniat menentangnya.


Bagi Glen tidak masalah meski ada perjanjian asal Gea mau menikah dengannya. Setidaknya akan ada perkembangan yang baik dalam kelanjutan hubungan mereka.


...******...


Pagi ini Glen mengajak Gea pergi ke Surabaya untuk menemui orang tua Gea. Sudah lama Glen ingin berhadapan dengan orang tua Gea untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada putri mereka. Glen tidak menutup mata akan resiko yang akan dia dapat ketika mengakui kesalahannya di depan kedua orang tua Gea, namun pria itu tidak merasa takut sedikitpun. Dia siap lahir batin menerima kemarahan dan amukan dari orang tua Gea.


Setelah menempuh perjalanan udara, keduanya sampai di kota tersebut. Gea langsung mengabari kedua orangnya kalau dia sedang dalam perjalanan ke rumah.


Mereka menggunakan taksi dari bandara menuju tempat tinggal orang tua Gea.


Sesekali Gea melirik Glen yang tampak tenang. Pria itu benar-benar terlihat sudah siap menghadapi calon mertuanya.


Sedangkan Gea, pikirannya sudah kacau sejak masih di Jakarta. Menemui orang tuanya dalam keadaan hamil di luar nikah, Gea sadar reskio membawa aib untuk kedua orang tuanya. Kabar kehamilannya pasti akan membuat kedua orang tuanya terkejut, marah dan kecewa. Gea bahkan khawatir kedatangannya untuk meminta restu mungkin akan menjadi pertemuan terakhir jika kedua orang tuanya tidak mau mengakuinya lagi sebagai anak.