
"Om, nanti malam kita nonton ya." Pinta Arumi seraya mengalungkan kedua tangan di leher Agam. Gadis itu tengah duduk manja di pangkuan Agam dan memasang wajah manis untuk merayu tunangannya agar mau menuruti keinginannya.
Selama ini keduanya memang hampir tidak pernah jalan berdua untuk sekedar menonton atupun pergi ke suatu tempat layaknya sepasang kekasih. Mereka hanya akan pergi makan malam, itupun jika kedua orang tua Agam ataupun Arumi udah mulai menanyakan tentang perkembangan hubungan mereka saja.
"Nggak ada waktu, aku sibuk." Tolak Agam. Dia merogoh ponselnya dan tampak menghubungi seseorang. Arumi baru saja membuka mulut untuk protes, tapi Agam menutup mulut Arumi menggunakan tangannya dan memberikan isyarat untuk diam.
"Bawa berkasnya ke ruanganku sekarang." Suara tegas Agam terkesan dingin namun penuh wibawa. Pria itu kemudian memutuskan sambungan telfonnya dan kembali menatap Arumi.
"Turun, Edwin sebentar lagi akan kesini." Ujarnya dan membuat Arumi langsung melompat dari pangkuan Agam. Wajahnya berubah pucat, Arumi jelas tidak siap bertatap muka dengan Edwin.
"Aku pulang saja." Arumi menyambar tasnya di atas sofa, dia lebih baik cepat-cepat keluar dari ruangan Agam sebelum Edwin datang.
"Siapa yang mengijinkan kamu pulang.?" Agam menahan pergelangan tangan Arumi dan menarik tangan gadis itu hingga terduduk di sofa.
"Tetap di sini, kamu belum memberiku jatah." Ucapnya dan Arumi langsung melongo tak percaya.
Arumi pura-pura sibuk dengan ponselnya ketika pintu ruangan di buka. Dia jelas tau siapa yang masuk ke ruangan Agam. Tak mau bertatap muka dengan Edwin, Arumi benar-benar fokus pada layar ponselnya. Lebih baik begitu daripada semakin malu.
Edwin berjalan menghampiri Agam di meja kerjanya. Pria itu sempat melirik ke arah sofa, dimana tunangan bosnya sedang sibuk memainkan ponsel. Pikirannya selalu melayang kemana-mana setiap kali melihat Arumi ataupun sekedar mendengar seseorang membicarakan tentang tunangan Agam.
"Berkasnya masih ada yang direvisi, mungkin 1 jam lagi selesai." Ujar Edwin dan menyodorkan setumpuk berkas di tangannya pada Agam.
"Minta untuk di percepat. Bukannya kamu tau semua berkas itu harus lengkap secepatnya.!" Nada bicara Agam terdengar dingin hingga menembus tulang.
Arumi yang tidak berniat untuk mengalihkan pandangan dari layar ponsel, perlahan mulai melirik kecil ke arah meja kerja Agam.
Posisi duduk Edwin yang membelakanginya, membuat Arumi berani untuk menatap lebih lama dan memperhatikan interaksi keduanya.
"Baik Pak." Edwin mengangguk paham.
"Kamu bisa lanjutkan pekerjaan." Ujar Agam, secara tidak langsung menyuruh Edwin untuk keluar dari ruangannya. Asisten pribadi Agam itu kemudian langsung beranjak dari kursi dan pamit keluar dengan buru-buru.
Edwin cukup sadar diri dan tidak mau menganggu dua sejoli yang sedang berjuang keras membesarkan 2 bukit menggunakan minyak.
Arumi menghela nafas lega sesaat Edwin keluar dari ruangan Agam. Kini gadis itu menghampiri Agam yang sedang fokus memeriksa berkas dari Edwin.
"Om, aku mau pulang." Arumi pamit, meski dia yakin Agam akan mencegahnya.
"Duduk. Kamu lupa aku minta apa.?" Agam berkata datar tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangan.
"Aku masih sangat muda untuk pikun." Ujar Arumi.
"Om datang saja ke rumah nanti malam, temani aku nonton kalau ingin jatah." Arumi tersenyum penuh kemenangan, dia yakin cara ini akan membuat Agam mau pergi dengannya untuk menonton.
Agam meletakkan berkas di tangannya dan kini menatap Arumi.
"Aku sibuk, Arumi. Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini." Jawabnya tanpa kebohongan sedikitpun. Bahkan sudah kedua kalinya Agam mengatakan alasan yang sama.
Pria itu bahkan berencana untuk lembur dan pulang malam hari ini karna masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Ekspresi wajah Arumi tiba-tiba berubah serius dan menatap intens.
"Kenapa Om sangat pelit waktu padaku.?" Tanyanya.
"Aku cuma ingin kita lebih dekat di luar hal-hal yang sudah sering kita lakukan." Arumi semakin intens menatap Agam kala mengeluarkan isi hatinya.
Perbuatan mesum yang sering dia lakukan bersama Agam memang memberikan kebahagiaan tersendiri. Namun Arumi hanyalah gadis remaja pada umumnya, dia juga menginginkan kisah percintaan seperti kebanyakan remaja pada umumnya.
Menghabiskan waktu bersama di luar, meski hanya pergi ke taman atupun menonton. Tidak melulu di tempat tertutup dan berbuat mesum.
Agam tampak menarik nafas dalam. Berusaha memahami perasaan gadis 18 tahun di depannya yang terlihat sedang kecewa.
Dia bukan tidak mau pergi dan menghabiskan banyak waktu di luar bersama Arumi. Tapi pekerjaan menuntutnya untuk terus menghabiskan lebih banyak waktu.
"Baiklah, tapi jangan hari ini. Pekerjaanku benar-benar banyak." Ujarnya seraya melirik tumpukan berkas di depannya.
Jawaban Agam seketika membuat dua bola mata indah Arumi tampak berbinar.
"Om nggak bohong kan.?" Tanyanya memastikan.
"Hmm,, lusa aku sudah bisa menemanimu." Jawab Agam menegaskan.
Arumi seketika menghampiri Agam, berdiri di samping kursinya dan memeluknya.
"Makasih Om. Om memang terbaik,," Ucapnya, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Agam dengan gemas.
Pria yang baru saja di cium pipinya itu hanya menggelengkan pelan kepalanya. Sikap Arumi memang sangat kekanakan, tapi hal itu yang justru membuat Agam terkadang merasa terhibur sekaligus gemas. Sayangnya pria itu terlalu gengsi untuk menunjukkannya di depan Arumi.
"Nanti dulu, aku belum selesai bicara." Agam sedikit memundurkan kursinya dan membuat posisi Arumi berada di depannya.
"Bicara apa lagi.?" Kening Arumi sampai berkerut.
"Tapi ada syaratnya." Kata Agam seraya memegangi satu tangan Arumi. Dengan sekali tarikan, tubuh Arumi jatuh di atas pangkuan Agam.
"Ya ampun Om.!" Arumi sempat terpekik kaget lantaran terjerembab di atas dada bidang Agam. Arumi hendak bangun dari pangkuan Agam, tapi kemudian gadis itu malah terdiam tanpa berani bergerak. Dia menatap Agam seolah meminta penjelasan dan melirik kebawah.
"Dia sudah sejak tadi berdiri." Ujar Agam dan membuat Arumi menepuk jidatnya sendiri. Pantas saja dia merasakan benda asing yang menempel dengan bo kongnya. Rupanya monas berurat itu dalam keadaan tegang.
Beberapa detik saling pandang, Agam menyambar bibir Arumi tanpa permisi. Dia memberikan ciuman lembut namun dalam dan menuntut. Tangannya juga sudah aktif menjelajahi apapun yang bisa dia mainkan.
Arumi yang tadinya enggan melakukan perbuatan mesum itu, sekarang malah menikmati dan membalas setiap kenikmatan yang di berikan oleh Agam padanya.
Lebih dari 30 menit, dua sejoli itu sibuk mengejar dan memberikan kenikmatan.
Tanpa ada penyatuan, mereka bisa mendapatkan pelepasan.
Agam tampak tersenyum puas. Arumi semakin mahir dan tidak perlu di bimbing lagi.
"Bersih-bersih dulu sebelum pulang." Ujar Agam seraya membenarkannya rok Arumi yang tadi tersingkap ke atas.
"10 menit lagi, aku masih lemas." Arumi menjawab dengan mata yang terpejam. Dia berbaring lemas di atas sofa panjang.
Agam membiarkan Arumi untuk istirahat sebentar, tapi Agam lebih dulu memberikan minuman kaleng dingin pada Arumi.