Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 49



Suara dering ponsel menghentikan aktivitas Glen yang tengah menyantap makan malamnya. Dia mengambil ponsel di atas meja dan mengangkat panggilan telepon dari seseorang.


Sementara itu Gea sempat melirik sekilas saat ponsel berdering dan dia kembali fokus pada makanannya.


"Ya sayang,,," Suara lembut Glen terdengar saat menyapa seseorang di seberang sana.


Detik itu juga Gea langsung berhenti mengunyah. Panggilan sayang itu cukup mengejutkan Gea dan membuatnya gusar.


Manik matanya menatap Glen seolah ingin mencari tau siapa yang di panggil dengan sebutan sayang oleh pria itu.


Seandainya dia adalah kekasih Glen, harusnya pria itu tidak menahan Gea di apartemennya untuk di jadikan partner di atas ranjang.


"Bagaimana kalau besok.? Hari aku aku sangat lelah." Nada bicara Glen tampak di buat-buat agar terdengar seperti sedang kelelahan.


"Iya aku janji, mana mungkin aku bohong." Ucapnya begitu manis. Gea sampai bengong mendengarnya. Cara bicara dan sikap Glen jadi berkali-kali lipat lebih lembut di banding saat berbicara dengannya. Hal itu semakin menguatkan dugaan Gea tentang seseorang di seberang sana yang mungkin benar-benar kekasih Glen.


"Hem,," Deheman Glen mengakhiri sambungan telfon itu. Gea buru-buru mengalihkan pandangan agar tidak tertangkap basah oleh Glen kalau sejak tadi dia memperhatikan Glen sedang menelfon.


Glen meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia melirik Arumi sekilas dan melanjutkan makannya. Glen sebenarnya tau kalau Gea sempat memperhatikannya, tapi pria itu memilih diam lantaran merasa tidak perlu menegur Gea.


"Ternyata Om udah punya pacar." Gea bicara tanpa menatap Glen. Lebih tepatnya seperti bergumam.


Glen menatap sekilas namun tidak memberikan respon apapun. Itu karna dia dan Gea tak punya hubungan apapun. Hanya dua orang asing yang dipertemukan, lalu Gea menjadi partner ranjangnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jadi Glen merasa tidak perlu memberikan keterangan apapun soal kehidupan pribadinya.


"Bagaimana kalau dia tau ada aku disini.?" Nada bicara Gea terdengar khawatir. Dia juga menatap Glen karna ingin mendapatkan jawaban dari pria itu.


Gea tidak mau menambah masalah baru lagi. Mendengar Glen memanggil seseorang dengan sebutan sayang, Gea patut untuk waspada. Gadis itu enggan disebut sebagai orang ketiga dalam hubungan orang lain, meski faktanya Glen sendiri yang membuat Gea harus menjadi pemuasnya.


"Jangan pikirkan apapun, fokus saja pada tugas mu untuk menebus kesalahan yang sudah kamu perbuat." Jawab Glen.


Tidak tau apa yang ada dalam pikiran pria itu. Glen tampak santai saja tanpa ada ketakutan sedikitpun seandainya hubungan terlarangnya dengan Gea di ketahui orang lain.


"Tapi aku nggak mau di salahkan kalau seandainya pacar Om tau hal ini. Aku sudah bilang akan mencicil semua uangnya, tapi Om membuat situasi jadi seperti ini." Keluh Gea bimbang.


Rasa sesal kembali menyeruak dalam hati Gea, namun dengan alasan yang berbeda.


Dia sejak awal tidak banyak pertimbangan saat menerima tawaran Glen yang terkesan memaksanya. Gea menyesal karna tidak mempertanyakan status Glen sejak awal. Tapi malah berasumsi sendiri kalau Glen masih single.


Kini sudah hampir 2 minggu berlalu, Gea baru tau kalau Glen memiliki seseorang yang spesial di luar sana.


"Kamu cukup lakukan tugas mu, selebihnya itu jadi urusanku." Ucap Glen penuh ketegasan. Agaknya keluhan Arumi sedikit mengusik ketenangan Glen. Terlihat dari nada bicara dan ekspresi wajahnya yang tampak kesal.


...******...


Detik-detik menjelang hari bahagia, Arumi mempersiapkan segala hal untuk menyambutnya. Dia ingin pernikahannya menjadi hari paling bahagia dan tak terlupakan sepanjang hidupnya.


Gadis itu sampai turun tangan untuk mengatur dan memilih segala sesuatunya. Termasuk memilih konsep wedding yang sesuai dengan impiannya.


Tak hanya mempersiapkan tubuhnya, Arumi bahkan sampai belajar bagaimana caranya menyenangkan pasangan melalui vidio panas.


Konyol memang, tapi seperti itulah Arumi. Dia terlalu antusias untuk menghadapi malam pertama.


Seperti sore ini, Arumi menyempatkan diri menonton vidio dua satu plus ketika sedang menunggu Agam selesai meeting. Arumi datang ke kantor Agam karna harus fitting baju.


"Apa nggak patah burungnya kalau berputar-putar seperti itu,," Komentar Arumi saat melihat adegan dengan posisi wanita berada di atas dan meliuk-liukkan pinggulnya. Arumi sampai meringis ngilu melihatnya, padahal kedua orang dalam vidio itu cukup menikmati.


"Ya ampun, dia terlalu agresif. Aku mana bisa begitu." Ujarnya lagi. Pemeran wanita dalam vidio itu terlalu agresif dan mahir, sulit bagi Arumi untuk mencontohnya.


Beberapa detik kemudian, ponsel di tangan Arumi sudah berpindah ke tangan Agam.


"Astaga Arumi.! Apa yang kamu tonton di ruanganku.!" Tegur Agam. Kedua mata Agam melotot sempurna melihat adegan di ponsel Arumi.


"Om, kembalikan ponselku." Arumi berdiri dan mencoba mengambil ponsel dari tangan Agam. Tapi pria itu malah mengangkat ponsel Arumi tinggi-tinggi, membuat Arumi kesulitan mengambilnya meski sudah melompat-lompat.


"Bisa-bisanya kamu menonton vidio seperti ini di ruanganku." Omel Agam lagi. Dia lantas menghapus vidio itu.


"Itu namanya edukasi sebelum menikah Om." Jawab Arumi yang enggan mendapat teguran lagi.


"Om kan tau sendiri aku masih murni, jadi harus belajar supaya nanti Om terpuaskan saat malam pertama." Tuturnya dan menyengir kuda tanpa dosa.


"Apa kamu tau menonton vidio seperti itu akan memberikan dampak buruk.?" Cecar Agam seraya mengembalikan ponsel Arumi.


Gadis itu sontak mengecek ponselnya. Dia sempat mencebik kesal karna tau vidio itu sudah di hapus oleh Agam.


"Iya aku tau Om. Apa lagi kalau di tonton berdua dengan lawan jenis, bisa-bisa langsung di praktekan. Benar kan.?" Ujarnya sok tahu.


Agam berdecak, telunjuknya dengan enteng mendorong kening Arumi.


"Dasar bodoh." Cibirnya. Agam melepaskan jas, meletakkannya di sandaran sofa dan duduk di sana dengan sedikit kaki yang terbuka.


"Cuma Om yang ngatain aku bodoh." Gerutu Arumi kesal. Dia menyimpan ponselnya di atas meja, lalu duduk di pangkuan Agam dalam posisi miring tanpa permisi.


"Om,, lebih suka di bawah atau di atas.?" Pertanyaan konyol Arumi membuat Agam kembali menoyor kepalanya.


"Kamu sepertinya stres menjelang pernikahan." Untuk kedua kalinya Agam mencibir tingkah Arumi.


"Iiish.! Aku serius Om." Arumi merengek. Dia mengalungkan dua tangannya di leher Agam dengan manja. Tubuh gadis itu juga bergerak-gerak seolah sedang memancing burung untuk keluar dari sangkarnya. Padahal Arumi bergerak karna ingin bermanja di pangkuan Agam.


"Turun.! Sofa di sebelah masih kosong." Agam mencoba menurunkan Arumi dari pangkuannya sebelum burung itu semakin memberontak di dalam sana karna bersentuhan dengan pan tat Arumi yang bergerak-gerak.


"Nggak mau, aku kangen sama Om." Bukannya turun, Arumi malah memeluk Agam dan meletakkan kepalanya di bahu pria itu. Arumi diam-diam menahan tawa, dia sebenarnya sudah tau kalau benda di bawah sana mulai mengeras. Arumi enggan turun karna ingin menyiksa Agam.