Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 40



Saat masuk ke dalam rumah Agam dan melihat Glen langsung berdiri seraya menatap tajam, Gea semakin memberingsut mundur dan bersembunyi di balik punggung Arumi.


Takut dan malu jadi satu, itu yang sedang di rasakan oleh Gea saat ini pada sosok pria dewasa di hadapannya. Pria yang 1 minggu lalu menjadi pelanggan pertamanya ketika dia memutuskan untuk menjual diri.


Berakhirnya kisah percintaannya dengan sang kekasih dan juga masalah finansial yang sedang di hadapi oleh keluarganya, membuat Gea akhirnya memilih jalan pintas dengan menjajakan diri lewat seseorang.


"Kau.!! Mana jam tangan milikku.?!!" Seru Glen geram. Tidak peduli meski gadis bertubuh sintal itu sudah sangat memuaskannya 1 minggu yang lalu. Kekagumannya pada Gea langsung berubah muak setelah sadar bahwa gadis itu telah membawa lari jam tangan mahal miliknya.


"Om Glen, jangan seperti itu." Tegur Arumi memohon.


"Kita bicarakan baik-baik." Pintanya dengan suara dan ekspresi teduh. Amarah Glen langsung menurun drastis melihat kelembutan sikap dan cara bicara Arumi. Seandainya Arumi bukan tunangan sahabatnya, mungkin Glen akan mendekati Arumi sejak pertama kali bertemu di restoran mall.


"Dimana Om,,maksudku Kak Agam.?" Arumi bertanya seraya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Agam.


"Ada di kamarnya," Jawab Glen.


"Ge, kamu tunggu disini sebentar. Aku akan memanggil Om Agam." Ucapnya setengah berbisik. Gea langsung menggelengkan kepala, dia melarang Arumi meninggalkannya seorang diri di ruang tamu bersama Glen.


Gea terlihat benar-benar ketakutan saat Arumi pamit.


"Jangan takut, kamu bisa teriak kalau Om Glen macam-macam." Ucapnya dan melirik tajam ke arah Glen. Pria itu langsung mengerutkan kening melihat Arumi meliriknya tajam.


"Tapi Ar,,," Gea tak meneruskan ucapannya lantaran di potong cepat oleh Arumi.


"Om Glen sebenarnya sangat baik, iya kan Om.?" Kini Arumi berlagak seperti seorang penjilat setelah tadi sempat memberikan tatapan tajam pada Glen.


"Memangnya aku ada tampang penjahat.?" Glen mendengus kesal karna kalimat Arumi yang ambigu. Seolah-olah dia sudah pernah melakukan kejahatan sebelumnya.


"Bukan begitu maksudku. Tentu saja Om Glen memang baik." Arumi menyengir kuda tanpa dosa.


"Aku titip Gea dulu sebentar, tolong jangan di marahi ataupun di bentak. Aku akan memanggil Kak Agam sebentar." Ujarnya dan langsung meninggalkan Gea begitu saja bersama Glen di ruang tamu.


Gea sudah berteriak memanggil Arumi, sayangnya Arumi tetap berlalu dan menghilang di balik kamar Agam.


"Duduk.!" Suara berat dan tegas Glen sampai membuat Gea menelan ludah dengan susah payah. Dia sedikit gemetar kemudian duduk di seberang Glen yang sudah lebih dulu duduk.


"Aku minta maaf,," Lirih Gea penuh penyesalan dan rasa bersalah atas perbuatannya.


Padahal Glen telah menjadi pelanggan pertamanya dan pria itu sama sekali tidak bermain kasar. Tapi karna melihat jam tangan mahal yang tergeletak di atas nakas, Gea menjadi gelap mata. Dia tergiur dengan banyaknya uang yang akan diperoleh setelah menjual jam tangan tersebut.


"Apa gunanya kata maaf.?" Sinis Glen.


"Kembalikan saja jam tanganku, setelah itu masalah selesai.!" Tegasnya. Sebenarnya Glen enggan membiarkan masalah itu selesai begitu saja, tapi karna Agam memintanya untuk tidak memperpanjang pencurian itu, dia jadi tidak punya pilihan lain.


"Tapi jam itu sudah aku jual." Lirih Gea menahan takut. Kedua tangannya sampai bertautan karna gugup.


Bola mata Glen membulat sempurna lantaran mendengar pengakuan Gea. Rasa marah, kecewa dan sedih bercampur jadi satu. Jam itu merupakan salah satu jam yang berharga dalam hidupnya karna merupakan hadiah dari orang tuanya sebelum mereka berdua meninggal karna kecelakaan pesawat 2 tahun silam.


"Berani sekali kamu menjual jam itu." Geram Glen dengan amarah tertahan.


Gea memaku, tatapannya tampak menerawang jauh dan berubah kosong.


Perkataan Glen terasa menancap di hatinya hingga menimbulkan rasa sakit.


...******...


"Di sebelah mana Om.? Aku nggak lihat handuk di lemari." Arumi mendekat ke arah pintu kamar mandi dan kembali berteriak pada Agam yang masih berada di dalam.


Tadi pria itu menyuruhnya untuk mengambilkan handuk baru.


"Cari lagi yang benar.! Ada di tumpukan paling bawah sebelah kanan. Itu space khusus untuk handuk-handuk.!" Agam jadi ikut berteriak dari dalam kamar mandi.


"Oke,, Oke,, akan aku cari lagi." Arumi bergegas mengikuti instruksi dari Agam. Dia akhirnya menemukan handuk bersih yang di minta oleh pria itu setelah memeriksa lemari ke tiga di walk in closet.


"Ini handuknya, Om,," Arumi masukan tangan kanannya ke dalam kamar mandi untuk menyodorkan handuk pada Agam.


Gadis itu tidak tau kalau di balik pintu itu Agam sedang mengukir senyum smirk.


"Sini masuk.!" Ujar Agam dan langsung menarik tangan Arumi begitu saja sembari membuka pintu kamar mandi lebar-lebar.


Arumi sontak menjerit, namun Agam dengan sigap membungkam mulut Arumi hingga gadis itu tidak bisa berteriak lagi dan hanya bisa meronta.


"Kamu berisik sekali." Agam menggerutu.


"Diam, jangan coba-coba teriak lagi.!" Ancamnya penuh penekan. Arumi terpaksa mengangguk paham dan membuat Agam berhenti membungkam mulutnya.


"Om,, jangan bercanda. Di luar ada Gea dan Om Glen." Keluh Arumi memelas. Apalagi saat melihat Agam menutup dan mengunci pintu kamar mandi, membuatnya terperangkap di ruangan berukuran 3x3 meter bersama seorang pria yang tidak memakai apapun.


"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." Jawab Agam santai.


"Aku juga akan menyelesaikan masalahku denganmu." Ucapnya dan langsung menyambar bibir Arumi tanpa permisi. Satu tangannya menarik pinggang Arumi agar lebih dekat, bahkan menempel dengan tubuh polosnya.


Handuk di tangannya sudah di lempar ke wastafel, membuat sebelah tangan Agam leluasa menggerayangi bagian depan tubuh Arumi.


Arumi melenguh, hati dan tubuhnya tidak sejalan. Dia bahkan merutuki dirinya sendiri yang terbuai dengan sentuhan Agam disaat sahabatnya mungkin sedang membutuhkan bantuannya.


Mata Arumi membulat saat Agam mengarahkan tangannya untuk menggenggam benda yang keras. Meski terkejut, tapi Arumi melakukan apa yang di arahkan oleh Agam.


Terlebih saat mendengar Agam menahan erangan, tangan Arumi semakin semangat saja untuk bekerja. Dia benar-benar selalu kehilangan akal sehat jika sudah berbuat mesum bersama Agam.


Mereka berdua fokus mengocok arisan dan menunggu giliran keluar, tidak peduli meski di dalam rumah itu ada orang lain.


"Kamu semakin berbakat." Ledek Agam dengan senyum penuh kepuasan setelah mendapatkan giliran.


"Itu karna Om selalu mengasah bakatku kapan dan dimana pun berada." Jawab Arumi acuh. Dia langsung membersihkan diri. Agam mengulum senyum tipis, lalu kembali mengguyur tubuhnya untuk mandi lagi.


Arumi memilih buru-buru keluar dari kamar Agam selesai membersihkan diri. Namun dia terkejut saat mendapati Glen dan Gea sedang beradu bibir.