Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 51



Melihat Agam yang semakin dekat, Arumi membuang pandangan ke sisi lain. Dia akan pura-pura tidak melihat bunga dan paper bag yang baru di ambil oleh Agam dari kantornya.


Arumi masih pada posisinya saat Agam membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Pria itu keheranan melihat Arumi tidak menoleh sama sekali ke arahnya. Gadis itu malah mengambil ponsel dari dalam tas dan sibuk memainkannya.


"Katanya 3 hari lagi kamu ulang tahun." Agam membuka obrolan. Dia sudah menutup pintu dan meletakkan bunga serta paper bag di sampingnya.


Mendengar Agam membicarakan ulang tahunnya, seketika Arumi menoleh. Dia padahal sengaja tidak memberi tau Agam. Dia ingin melihat apakah Agam tau hari ulang tahun tunangannya atau tidak tau sama sekali.


Tapi setelah mendengar pernyataan Agam, Arumi berfikir jika seseorang telah memberitahu Agam hari ulang tahunnya.


"Siapa yang ngasih tau.? Mama atau Papa.?" Tebak Arumi tanpa ekspresi.


"Itu bukan hal penting yang harus di bahas." Agam enggan menjawab. Pria itu malah menyodorkan buket bunga dan paper bag pada Arumi.


Gadis berkulit putih itu langsung berbinar menatap barang di tangan Agam. Arumi menerima dengan senyum lebar. Tidak masalah meski cara memberinya terkesan kaku dan biasa saja, yang terpenting niat Agam untuk memberikan bunga dan kado untuknya. Begitu pikir Arumi.


"Makasih Om,," Ucap Arumi tulus.


"Besok aku berangkat ke luar kota. Mungkin setelah 4 hari baru pulang ke Bandung." Tuturnya setelah memberikan bunga dan kado ulang tahun untuk Arumi. Tanpa di iringi do'a atupun ucapan romantis.


Senyum di bibir Arumi redup saat itu juga. Buket bunga di dekapannya tidak lagi terlihat indah, kini tampak biasa saja. Paper bag dengan brand ternama itu juga tak terlihat mewah lagi. Mungkin karna Arumi kecewa lantaran Agam dipastikan tidak akan ada di sampingnya di hari ulang tahunnya nanti.


"Om akan pergi di hari ulang tahun ku.?" Suara Arumi sedikit bergetar. Dia menahan tangis karna merasa kecewa.


Sikap Agam semakin membuat Arumi merasa bahwa dirinya memang tidak berharga untuk Agam. Dengan status mereka yang sudah beruntungan dan kurang dari 2 minggu lagi akan menikah, harusnya Agam sedikit memprioritaskan momen penting tunangannya.


"Pekerjaanku sangat banyak Arumi. Aku sibuk." Jawab Agam lirih. Pria itu sedikit melembutkan nada bicaranya karna menyadari mata Arumi sudah berkaca-kaca.


”Papa juga sangat sibuk, tapi dia selalu punya waktu di hari ulang tahun Mama." Ucap Arumi. Dia meletakkan bunga dan paper bag begitu saja di sampingnya dan memilih membuang pandangan ke arah lain.


"Aku mau pulang." Pintanya tanpa menatap Agam.


Pria itu lantas menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah Arumi.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Keduanya sama-sama diam. Terlebih Agam yang memang sangat jarang bicara jika tidak di tanya.


Arumi terus membuang pandangan ke luar jendela. Dia berusaha menguatkan hati yang sedang kecewa. Dan membendung air matanya agar tidak tumpah.


Ulang tahunnya yang ke 18 itu akan menjadi ulang tahun paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Tanpa di hadiri calon suaminya, orang yang sangat dia cintai.


Mobil Agam sudah memasuki halaman rumah. Arumi buru-buru melepaskan seatbelt meski mobil Agam belum berhenti. Gadis itu sudah bersiap untuk turun, membawa buket bunga dan kado dari Agam meski dia tidak menginginkannya lagi.


Begitu menghentikan mobilnya, Agam langsung memegang pergelangan Arumi. Dia mencegah Arumi yang hendak membuka pintu.


"Marah.?" Tanya Agam lembut. Harusnya pertanyaan seperti itu tidak perlu keluar dari mulut Agam. Arumi bahkan sampai kehabisan kata-kata untuk menanggapinya.


Dengan melihat perubahan sikap Arumi saja harusnya Agam tau kalau keputusannya sudah membuat Arumi kecewa.


"Apa kedepannya Om akan terus memprioritaskan pekerjaan.?" Arumi menanggapi pertanyaan Agam dengan pertanyaan lagi.


"Kalau iya, aku bisa mempertimbangkan untuk mundur." Ujarnya penuh ketegasan.


"Aku takut hal semacam ini akan menjadi masalah di kemudian hari untuk rumah tangga kita."


Jangan sampai nanti setelah menikah mereka akan bertengkar gara-gara Agam terlalu sibuk dan menyepelekan momen-momen berharga.


Bisa-bisa setiap tahun Arumi akan merayakan Anniversary seorang diri.


”Ini pekerjaannya mendesak, nggak bisa di handle orang lain." Ujar Agam memberikan penjelasan.


Arumi menghela nafas berat. Dia mencoba untuk memahami posisi Agam. Membuang jauh-jauh impiannya untuk merayakan ulang tahun dengan seseorang yang spesial sepanjang hidupnya.


"Maaf,, mungkin aku yang terlalu egois." Arumi tersenyum tipis. Senyum itu jelas sangat terpaksa. Hanya untuk menutupi kekecewaannya.


"Makasih kadonya, hati-hati di jalan." Arumi membuka pintu dan turun dari mobil seraya melambaikan tangan pada Agam.


...*****...


"Apa kalian sibuk.? Aku ingin mengajak kalian makan malam."


Pertanyaan itu Arumi kirimkan di grup yang beranggotakan 4 orang.


Dia lalu meletakkan ponsel di atas ranjang setelah memastikan pesannya sampai pada mereka.


Arumi kemudian berbaring dengan kedua kaki yang menjuntai ke lantai.


Bunga dan kado dari Agam tergeletak di sampingnya. Arumi menoleh ke samping, memperhatikan bunga dan kado yang seharusnya spesial untuknya.


"Apa aku berlebihan bersikap seperti ini.?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tapi bagi Arumi, Agam cukup keterlaluan. Dia seperti tidak ada niatan untuk mengusahakan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar bisa pulang di hari ulang tahun Arumi.


Bunyi notifikasi chat membuyarkan lamunan Arumi, dia segera membuka grup dan membaca balasan dari Aileen. Sedangkan Sena tampak sedang mengetik pesan.


Kedua sudah menyetujui ajakan Arumi, sekarang mereka sedang memilih kafe atupun restoran dimana mereka akan makan malam. Hingga chat mereka sudah sangat banyak, Gea tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Pesan itu bahkan belum di baca oleh Gea. Hal itu tentu saja menjadi topik hangat mereka dan menanyakan keberadaan Gea saat ini.


"Nanti kita jemput paksa saja ke rumah saudaranya."


Chat dari Sena membuat Arumi panik. Jika mereka datang ke rumah saudara Gea, sudah pasti Sena dan Aileen akan tau kalau Gea berbohong soal tempat tinggalnya sekarang.


Karna Gea mengaku pada Aileen dan Sena kalau dia tinggal di rumah saudaranya.


Arumi segera menanggapi chat dari Sena.


"Aku akan telfon Gea. Kalau nanti dia bisa pergi dengan kita, biar aku yang menjemputnya."


Arumi bernafas lega karna kedua sahabatnya langsung setuju.


Mengakhiri obrolan di grup, tanpa pikir panjang Arumi menghubungi Gea. Dia ingin memastikan kalau Gea dalam keadaan baik-baik saja.


Arumi tampak gusar. Sudah 4 kali dia menghubungi Gea, tapi sahabatnya itu tak kunjung menjawabnya.


"Ya ampun Ge, aku harap kamu baik-baik saja." Gumam Arumi cemas.