Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 130



Gea mengurung diri di kamarnya sejak tadi sore. Perasaannya semakin rumit ketika mendengar Glen mengutarakan cinta padanya. Gea berusaha pada pendiriannya, tidak ingin luluh begitu saja hanya dengan ungkapan cinta yang keluar dari mulut Glen. Mungkin saja itu hanya trik yang dilakukan Glen agar dia mau memaafkannya. Jadi sebisa mungkin Gea menyakinkan diri bahwa pengakuan Glen hanya omong kosong.


Beberapa kali gedoran pintu dan panggilan Glen di luar kamar tidak di hiraukan oleh Gea. Sekarang sudah pukul 8 malam, mungkin sudah hampir 1 jam Glen berdiri di depan pintu kamar Gea dan memintanya agar keluar untuk makan malam.


Gea sama sekali tidak peduli. Lagipula dia sudah menyimpan banyak makanan di dalam kamarnya tanpa sepengetahuan Glen sejak kembali ke apartemen. Jadi Gea tidak merasa khawatir kelaparan meskipun dia mengurung diri di kamar seharian.


"Kamu boleh marah padaku, tapi jangan menyiksa dirimu sendiri dan anak kita." Seru Glen dengan suara lembut. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. Wajar karna Glen mengira Gea tidak memakan apapun sejak tadi sore. Dia mengkhawatirkan kesehatan Gea dan anaknya yang harus mendapatkan asupan makanan.


"Buka pintunya, aku sudah bawakan makan malam dan susu untukmu. Tidak apa-apa kalau ingin mengunci pintu lagi setelah ini," Bujuk Glen dengan kalimat yang sudah dia ucapkan berulang kali. Dia hanya menyuruh agar Gea mengambil makanannya.


Gea malah menarik selimut dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Usaha Glen untuk membujuknya hanya sia-sia saja. Gea sama sekali tidak berniat membuka pintu ataupun keluar dari kamar. Tidak peduli meski di luar sana Glen semakin cemas dan mengkhawatirkannya. Anggap saja sebagai hukuman karna sudah berbuat kasar padanya.


Glen menghela nafas berat. Sudah 1 jam lebih dia membujuk Gea tapi tidak mendapat respon apapun. Glen yakin Gea belum tidur, tapi wanita itu memang sengaja mengabaikannya.


Glen sadar sudah menorehkan luka dan kekecewaan di hati Gea, dia sangat menyesali perbuatannya dan benar-benar ingin menebus kesalahannya.


Dering ponsel membuat Glen beranjak. Dia membawa kembali nampan berisi makanan dan susu yang seharusnya untuk Gea.


Sebelum membawa nampan, pira itu sudah mengangkat panggilan lebih dulu.


Wajah Glen berubah lesu ketika mendengar suara seseorang di seberang sana langsung meluapkan kekecewaan padanya.


"Maaf Uncle. Kalau tidak membatalkan pernikahan dengan Adeline, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan perbuatanku." Tutur Glen. Dia memahami kemarahan Ricard, sampai pamannya itu mengatai dirinya sebagai keponakan yang tidak tau diri karna sudah membuatnya malu di depan keluarga Adeline.


Sebagai paman sekaligus wali untuk Glen selama membahas perjodohan dan persiapkan pernikahan, Ricard sudah pasti mendapat amukan dari orang tua Adeline. Ricard ikut terseret dan disalahkan atas keputusan Glen yang membatalkan pernikahan secara sepihak.


"Tapi keputusanku sudah bulat." Lirih Glen dengan perasaan bersalah.


"Baik, aku kesana sekarang." Glen berucap lesu. Dia memutuskan sambungan telfonnya kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil.


...******...


Bughh.!!


Tidak ada perlawanan ataupun berusaha menghindar ketika tinjuan itu mendarat di wajahnya untuk ketiga kalinya. Sudut bibirnya sampai mengeluarkan sedikit darah, dan beberapa memar kemerahan di bagian pipi.


Glen tertunduk pasrah dan hanya bisa menahan perih di bagian wajah karna tinjuan dari Pamannya. Karna merasa bersalah, Glen sengaja tidak menghindari tinjuan itu. Dia membiarkan Pamannya melampiaskan amarahnya.


"Bagaimana bisa kamu sebodoh ini.!!" Bentak Ricard tak habis pikir. Padahal perjodohan dengan Adeline sudah cukup lama di bahas, pertunangan dan pernikahan juga sudah di bicarakan beberapa bulan lalu, harusnya Glen tidak memiliki hubungan dengan siapapun selain Adeline selama proses perjodohan itu. Tapi nyatanya malah sampai menghamili wanita yang tidak jelas asal usulnya.


Wajar kalau Ricard mengatakan Glen bodoh. Di depannya sudah ada wanita cantik, pintar, lulusan universitas luar negeri, dan berasal dari keluarga kaya raya. Tapi malah merusak masa depan dengan menabur benih pada wanita biasa.


"Maaf sudah membuat Uncle kecewa." Ucap Glen penuh kesadaran. Dia tau Pamannya diam-diam menaruh harapan besar pada pernikahannya dengan Adeline. Orang tua Adeline memiliki perusahaan besar yang di harapkan bisa membantu perusahaan Pamannya agar bisa sejajar dengan perusahaan-perusahan besar lainnya.


Nafas Ricard tampak memburu, tatapan tajamnya tidak kunjung redup. Dia sudah mengurus Glen sejak kedua orang tua Glen meninggal, memberikan perhatian pada keponakannya itu seperti anak sendiri. Sampai memberikan posisi terbaik di perusahaan miliknya. Semua di lakukan Ricard demi masa depan Glen.Tapi balasan Glen justru sangat mengecewakan.


"Tinggalkan wanita itu atau Uncle akan menarik semua fasilitas dan jabatan kamu di perusahaan.!" Tegas Ricard. Dia sengaja memberikan pilihan itu karna sangat yakin bahwa Glen lebih memilih meninggalkan wanita itu dibanding kehilangan semua kemewahan yang dia miliki selama ini.


Glen mengangkat wajah, beradu tatapan dengan Ricard. Ada kekecewaan dalam sorot mata Glen karna Ricard memberikan pilihan yang membuatnya merasa sangat buruk di mata sang paman. Bagaimana bisa seseorang memberikan pilihan antara anak dan harta kalau orang tersebut tidak berfikir buruk tentangnya.


"Baik, akan aku mengembalikan semua fasilitas dari Uncle secepatnya." Tegas Glen tanpa keraguan sedikitpun. Wajah Ricard sampai memerah, tidak menyangka Glen lebih memilih wanita itu.