
Gea menggeliat. Bunyi alarm memaksanya untuk membuka mata. Mengakhiri tidur panjangnya yang nyenyak.
Di balik kejadian buruk yang menimpanya, ada kepuasan yang terselip di dalamnya. Gea terlalu bahagia karna yakin bisa membuat Sean murka.
Dia juga berharap Sean mengadukan semuanya pada Adeline.
"Om.?!" Pekik Gea kaget, pasalnya ada Glen yang sedang tidur di sampingnya dalam keadaan bertelanjang dada.
Pria itu tampak tidak terusik dengan suara Gea. Matanya masih terpejam rapat di sertai dengan deru nafas yang teratur.
Entah jam berapa Glen pulang ke apartemen,
Gea juga tidak sadar saat Glen masuk ke kamarnya dan ikut tidur di sampingnya.
Pria itu memiliki alis yang tebal, hidung mancung, bibir seksi dan struktur wajah yang sempurna.
"Benar-benar tampan." Lirih Gea tanpa sadar. Dia kemudian turun perlahan dari ranjang.
"Mau kemana.?" Gea terperanjat begitu pergelangan tangannya di tahan. Rupanya Glen terbangun dan itu membuat Gea kaget.
Gea menoleh, tersenyum tipis pada pria yang masih merebahkan diri di atas ranjang.
"Ke kamar mandi." Jawab Gea dan Glen melepaskan tangannya.
"Om pulang jam berapa.?" Gea yang sudah turun dari ranjang, kini duduk di tepi ranjang.
Dia melihat peluang dan kesempatan bagus yang sayang jika di lewatkan. Terlebih suasana hati Glen sepertinya sedang baik, terbukti dari ekspresi wajah dan sorot matanya yang teduh.
"Jam 1 mungkin,," Glen tampak ragu dengan jawabannya sendiri. Karna semalam dia tidak melihat jam sama sekali. Pukul 12 lewat dia meninggalkan hotel dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di apartemen.
Glen bahkan tidak sempat mengganti baju karna langsung masuk ke kamar Gea begitu tiba di apartemen. Alhasil Glen melepaskan kemeja dan celana panjangnya. Dia bergabung dengan Gea setelah membersihkan diri.
Merebahkan tubuhnya di samping Gea dalam keadaan bertelanjang da-da dan hanya memakai celana pendek saja.
"Apa Sean menyakitimu.?" Glen merubah posisi dengan duduk bersandar pada kepala ranjang.
Dua manik mata Gea seketika terfokus pada otot-otot yang tercetak di da-da dan perut Glen.
Pahatan indah itu memang selalu mencuri perhatian Gea. Roti sobek milik Glen seolah ingin di jelajahi menggunakan jemarinya.
"Sentuh saja kalau ingin." Perkataan Glen membuyarkan otak me sum Gea. Dia reflek menggelengkan kepala, padahal dalam hati sangat ingin menyentuhnya. Hanya melihat tubuh atletis Glen saja, Gea merasakan darahnya berdesir dan merasakan hawa panas. Terlebih ketika ingat sehebat apa permainan Glen di atas ranjang.
"Sean hanya menjambak rambutku dan mendorongku ke lantai." Gea menyentuh lututnya, semalam terasa sakit karna membentur lantai toilet. Pagi ini sudah meninggalkan memar kebiruan di lututnya.
"Sepertinya aku harus memberi peringatan padanya." Sorot mata Glen sedikit berkabut amarah. Gea merasa sangat penting dalam hidup Glen lantaran pria itu membelanya.
"Bagaimana dengan Kak Adeline.? Apa dia marah pada Om.?" Tanya Gea penasaran. Dia lebih tertarik dengan reaksi Adeline. Sean pasti akan mengadukan kejadian itu pada sang Kakak.
"Tidak, dia baik-baik saja." Jawaban Glen sungguh mengecewakan. Gea pikir Adeline sudah mengetahui apa yang terjadi. Berharap wanita itu marah dan sakit hati.
"Baik-baik saja.?" Ujar Gea memastikan. Glen membalas dengan anggukan.
"Tapi Sean melihat Om menolongku, kita bahkan berciuman di depannya. Dia pasti akan mengadu pada Kak Adeline." Tutur Gea sendu. Dia pura-pura sedih dan menunjukkan wajah bersalah di depan Glen. Enggan membuat Glen curiga kalau sebenarnya dia menginginkan kehancuran Sean dan Adeline melalui Glen.
Gea terdiam, merasa usahanya tidak berjalan mulus. Dia sudah berciuman dengan Glen di depan Sean, tapi hubungan Glen dan Adeline masih baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, aku hanya khawatir dengan hubungan kalian." Gea tersenyum tipis, senyum yang dia paksakan dengan susah payah karna hatinya sedang kecewa.
Beranjak dari duduknya, Gea hendak pergi ke kamar mandi. Tapi Glen kembali menahannya.
"Ada tanda kepemilikan Sean di lehermu, kamu tidak ingin aku menghapusnya.?" Glen menatap dalam penuh gairah.
Hasratnya sedang tinggi setiap kali baru bangun tidur di pagi hari. Tidak heran kalau sekarang Glen menatap Gea dengan tatapan ingin memangsa.
"Aku justru senang kalau Om ingin melakukannya untukku. Aku geli melihat tanda kepemilikannya tertinggal di tubuhku." Gea menjawab tanpa ragu. Dia tidak akan menolak ajakan Glen, lagipula tidak ada alasan untuk menolaknya.
Keberadaannya di apartemen Glen memang untuk menuntaskan hasrat pria itu.
Merasa mendapat lampu hijau, Glen langsung menarik tangan Gea hingga jatuh di atas tubuhnya. Belum sempat Glen meraih bibir Gea, jemari tangan Gea sudah mendarat di bibir Glen.
"Sabar Om, aku ke kamar mandi dulu. Mau pipis,," Bisik Gea dengan suara yang sengaja di buat menggoda. Gea beranjak dari atas tubuh Glen tanpa di cegah lagi.
Gea buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan tentunya menyemprotkan parfum kesukaan Glen agar pria itu semakin menempel padanya.
...******...
Agam mengulum senyum mendapati istrinya tengah sibuk di dapur. Masih memakai lingerie, Arumi menutupi bagian tubuhnya dengan apron warna gery. Rambut panjangnya hanya di gulung asal ke atas, memamerkan leher bagian belakangnya yang jenjang dan mulus.
Aroma wangi masakan sudah menguar di area dapur. Agam mendekati istrinya dan memeluk dari belakang. Tubuh Arumi sempat tersentak kaget dalam dekapan Agam.
"Ini aku sayang,," Agam berbisik mesra, dia mengecup gemas pipi Arumi.
Semakin hari, Agam menyadari bahwa cinta di dalam hatinya untuk Arumi mulai berkembang. Dia sudah terbiasa akan kehadiran Arumi yang mengisi hari-harinya dengan segala kelebihan dan keunikan dari remaja berusia 18 tahun itu.
Type ideal Agam kini berubah, tak peduli lagi meski Arumi bukan sosok wanita dewasa. Selama Arumi memberikan kebahagiaan fan ketenangan dalam hidupnya, Agam tak mempermasalahkan meski Arumi terkadang bersikap kekanakan.
Arumi menoleh seraya mengukir senyum tipis. Dia menyentuh pelan rahang Agam yang tengah meletakkan dagu di pundaknya.
"Pagi ini temani aku ke apartemen Mama ya,," Pinta Arumi.
1 jam yang lalu Arumi baru saja membalas pesan dari sang Mama yang menanyakan kabarnya. Arumi memilih untuk menemuinya langsung. Dia ingin memberikan semangat dan kekuatan pada sang Mama, karna saat ini suasana hatinya sudah lebih baik. Lebih tepatnya, Arumi tidak bisa menolak apa yang sudah terjadi dalam rumah tangga orang tuanya.
Agam tampak diam sejenak, dia ada jadwal bertemu klien dari luar negeri pagi ini. Jadwal itu tidak bisa di undur karna kliennya akan kembali ke negara asalnya pukul 12 siang.
"Sayang,, aku bicara padamu,," Arumi menggerak-gerakan tubuhnya dalam dekapan Agam karna suaminya hanya diam saja.
"Aku ada janji dengan klien. Nanti aku antar kamu ke apartemen Mama."
"Siangnya aku jemput." Agam menatap wajah Arumi dari samping. Kini Arumi yang diam, ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Tapi ini hari minggu, Kak Agam masih ada jadwal.?" Arumi berucap lembut namun ada kekhawatiran di dalamnya.
"Tidak bisa di tunda, klien ku akan kembali ke negaranya nanti siang." Jawab Agam seraya mengeratkan pelukannya. Arumi hanya mengangguk paham.
"Aku selesaikan dulu memasaknya." Arumi melepaskan kedua tangan Agam yang melingkar di perutnya. Agam menganggap itu sebagai bentuk kekecewaan Arumi padanya.