Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 59



"Waw,, ternyata sudah keduluan nenek gayung." Seloroh Arumi ketika masuk ke ruangan Agam dan berjalan santai menghampiri mereka berdua yang duduk berhadapan di meja kerja Agam.


Kedatangan Arumi tentu saja membuat Livia memasang wajah masam dan sinis. Tatapannya begitu tajam pada Arumi. Sedangkan Agam bersikap datar.


"Siapa yang kamu sebut nenek gayung.?" Tanya Livia lirih. Agaknya dia ingin menjaga imagenya di depan Agam supaya terlihat tetap baik di mata pria itu. Arumi hampir mual mendengar nada bicara Livia.


"Nenek itu sebutan untuk wanita yang sudah tua, dan nenek gayung adalah karakter nenek jahat yang menyeramkan di film horror. Hiihhh,,, jadi merinding,," Arumi meringis dan bergidik ngeri seraya mengusap-usap kedua lengannya di samping Livia. Dia juga menatap Livia dengan tatapan mengejek.


Arumi bisa melihat kedua tangan Livia mengepal kuat di bawah meja. Arumi semakin tertawa puas dalam hati. Dia senang melihat amarah Livia yang tertahan. Livia pasti tidak akan berani memarahi Arumi. Imagenya yang dewasa dan lembut bisa rusak jika dia berani marah pada Arumi di depan Agam.


"Kamu itu bicara apa.?" Agam mengerutkan kening. Dia bisa melihat aura peperangan di antara dua wanita beda usia itu. Tapi dia tidak paham pembahasan Arumi yang menyebut Livia dengan panggilan nenek gayung.


"Sayang, aku sedang bicara tentang seseorang yang bermuka dua. Terkadang seperti bidadari, kadang seperti nenek gayung." Ujar Arumi seraya melirik sinis ke arah Livia. Dia kemudian berjalan mendekati Agam dan duduk di pangkuannya tanpa permisi. Hal itu membuat Agam kebingungan dan berusaha menurunkan Arumi.


Tapi Arumi justru mengalungkan kedua tangannya di leher Agam dan bergelayut manja.


"Dia bukan wanita baik-baik,," Bisik Arumi di telinga Agam. Gadis itu sengaja menempelkan wajahnya di telinga Agam hingga terlihat seperti sedang mencium pipi Agam di depan Livia.


Amarah Livia semakin tak terbendung. Kedua tangannya semakin mengepal kuat. Tanpa sadar Livia menggebrak meja kerja Agam dan membuat Arumi tersentak kaget. Begitu juga dengan Agam.


Pria itu menatap heran pada Livia.


"Ma,,maaf, aku nggak sengaja." Ucap Livia gugup. Arumi langsung menyeringai kecut.


"Nggak masalah Kak, bisa aku maklumi. Memang sulit mengontrol emosi kalau sedang cemburu." Ujar Arumi mengejek. Dia semakin menjadi saja dalam pangkuan Agam, jemarinya bermain di atas dada bidang Agam. Arumi sengaja berbuat begitu agar Livia terbakar cemburu.


"Aku pulang dulu." Livia beranjak dari duduknya. Kedua mata dan hatinya sudah panas dan tidak tahan lagi melihat kedekatan Arumi yang begitu intim pada Agam.


"Kenapa nggak dari tadi," Sahut Arumi ketus, tanpa menatap Livia. Gadis itu malah fokus menatap wajah Agam dan mengedipkan mata padanya.


"Jangan lupa habiskan makan siangnya. Aku memasak makanan kesukaan kamu." Kata Livia pada Agam sembari tersenyum manis. Ucapan ketus dari Arumi bahkan tidak dia hiraukan sama sekali.


Arumi langsung mengikuti arah tatapan Agam di atas meja. Dia baru sadar kalau di sana ada kotak makan. Mungkin itu makanan yang di maksud oleh Livia.


Tak mau membiarkan Agam menerima masakan dari Livia, Arumi lantas turun dari pangkuan Agam dan mengambil kotak makan itu.


"Calon suamiku nggak butuh sumbangan makanan dari wanita lain." Sinis Arumi seraya meraih tangan Livia dan mengembalikan kotak makan itu padanya.


"Sebaiknya bawa pulang saja, atau berikan pada satpam di bawah." Ujarnya kesal.


Arumi semakin yakin kalau Livia memang berniat merebut Agam darinya. Usahanya cucup gigih untuk bisa bertemu dengan Agam. Bahkan sampai rela membuatkan makan untuknya.


"Tapi Agam mau menerimanya. Iya kan.?" Tanya Livia pada Agam. Arumi bertingkat seolah ingin muntah lantaran mendengar suara lembut Livia.


"Hueekk,,," Arumi pura-pura menutup mulutnya. Sedangkan Livia langsung mundur karna berfikir Arumi akan muntah sungguhan.


"Ka,,kamu kenapa.?" Livia menatap heran karna Arumi tiba-tiba akan muntah. Seketika terbesit di benak Livia mengenai tanda-tanda kehamilan. Kini sorot mata Livia menatap penuh curiga. Dia berfikir jika Arumi sedang hamil.


Arumi bisa menangkap gelagat Livia, dia tau apa yang ada dalam pikiran wanita itu ketika melihatnya berpura-pura akan muntah. Tatapan Livia seolah mencurigai dirinya sedang hamil.


"Apa.?!! Hamil.?" Wajah Livia tampak syok.


"Hueekk,,, Hueekk,,," Arumi berjalan mendekati Livia dan pura-pura akan muntah di depannya.


Livia segera berlari menjauh.


"Jangan dekat-dekat.!" Pinta Livia panik. Dia takut Arumi menyemburkan muntahannya.


"Sepertinya aku akan muntah kalau Kak Livia masih ada disini. Aku mual mencium bau parfum Kakak." Ujarnya. Agam hampir tertawa melihat akting Arumi, tapi dia memilih menahan tawanya dan menonton pertunjukan itu sampai selesai.


Pria itu ingin melihat sejauh mana cara Arumi mengusir Livia.


Livia mendengus kesal, dia kemudian terpaksa keluar dari ruangan Agam dengan membawa makanan yang sudah dia masak khusus untuk Agam.


"Awas saja kamu.! Dasar bocah sialan.!" Umpat Livia begitu keluar dari ruangan Agam. Dia pergi dari sana dengan penuh amarah.


...*****...


"Bagaimana.? Akting ku bagus kan.?" Tanya Arumi yang melihat Agam menahan tawa.


Agam menganggukkan kepala, dia kemudian melambaikan tangan pada Arumi agar gadis itu mendekat. Dengan senang hati Arumi menghampiri Agam dan duduk lagi di pangkuannya.


"Jadi kamu sedang hamil.?" Tanya Agam seraya mengusap perut Arumi.


Arumi menggeleng cepat.


"Aku hanya pura-pura di depan wanita itu. Lagipula bagaimana aku bisa hamil, melakukannya saja belum pernah." Jawab Arumi cepat. Agam mengulas senyum smirk, senyum yang membuat Arumi bergidik ngeri karna merasakan tanda-tanda bahaya akan datang.


"Aku siap mengabulkannya kalau kamu mau." Ucap Agam main-main, namun dia memasang ekspresi serius dan menyeramkan. Arumi jadi tidak bisa membedakan kalau sebenarnya Agam hanya ingin mengerjainya saja.


"Om, jangan bercanda." Arumi menghentikan pergerakan tangan Agam yang mulai bergerak ke atas.


"Kamu tau sendiri aku tidak suka bercanda." Jawab Agam sembari menyingkirkan tangan Arumi dan kembali melancarkan aksinya untuk menggerayangi tubuh Arumi.


"Hentikan Om, bagaimana kalau ada orang yang masuk." Ujar Arumi panik. Pasalnya Livia baru saja keluar dan sudah pasti pintu tidak terkunci. Selain takut tertangkap basar orang lain, Arumi juga ingin melepaskan diri dari Agam.


Klik,,,


Agam menekan tombol kunci otomatis dan pintu ruangan itu langsung terkunci dengan sendirinya.


"Sudah aman." Kata Agam dengan seringai nakalnya.


Arumi membelalakan mata, dia makin panik dan meronta dalam pangkuan Agam. Terlebih tangan Agam sudah menurunkan resleting dressnya.


"Jangan hamilin aku sekarang Om, nanti aja kalau kita sudah menikah." Pinta Arumi memelas. Lagi-lagi Agam harus menahan tawanya karna ucapan Arumi.