
Semenjak Arumi memberitahukan kehamilannya pada Gea, saat itu juga Gea tidak bisa konsentrasi selama mata kuliah berlangsung. Dia sibuk memikirkan kondisinya yang mungkin juga sedang hamil seperti Arumi.
Siang itu setelah pulang kuliah, alih-alih ikut dengan ketiga sahabatnya yang akan pergi ke kafe, Gea memilih absen dan buru-buru meninggalkan kampus.
Sebelum pulang ke apartemen, Gea lebih dulu berhenti di apotik untuk membeli alat tes kehamilan. Bukan tanpa alasan Gea membeli testpack, Gea engga di hantui rasa penasaran ataupun hanya menduga-duga saja mengenai kondisinya. Jadi memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan agar bisa memastikan dia benar-benar hamil atau tidak.
Kini Gea sedang berada di dalam kamar mandi. Berdiri di depan wastafel, menatap alat tes kehamilan yang baru saja dia celupkan ke dalam wadah kecil berisi urine miliknya.
Raut wajah Gea penuh dengan kecemasan, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi Gea.
Melakukan tes kehamilan sebelum menikah, tentu saja bukan keinginan semua wanita di manapun. Meski sadar bahwa perbuatannya dengan lawan jenis selama ini bisa mengakibatkan kehamilan, tapi tidak ada satupun yang akan menyambut kabar kehamilan dengan senang hati layaknya wanita yang sudah menikah.
...******...
Sementara itu ruangan presiden direktur sebuah perusahaan kontruksi, seorang pria beberapa kali keluar masuk toilet yang ada di ruangannya.
Wajahnya yang biasa terlihat tegas dan gagah, kini tampak lesu dan pucat. Penampilannya juga sedikit berantakan, tanpa memakai jas yang selalu melekat di tubuh atletisnya.
Pria berbadan tinggi itu hanya memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku. Dasinya sudah mengendur dan miring tidak karuan. Rambutnya sedikit berantakan, karna sesekali mengusap kasar kepalanya.
Penampilannya benar-benar kacau dan pastinya dia sedang menahan rasa tidak nyaman pada perutnya akibat memuntahkan isi perut secara teratur sejak beberapa jam yang lalu.
Tak lama, seseorang mengetuk pintu ruangannya dan menyelonong masuk. Pria di dalam ruangan itu hanya melirik sekilas karna sudah tau siapa orang yang bisa masuk ke ruangannya tanpa perlu persetujuan darinya.
"Felix bilang kamu menunda pertemuan dengan Tuan Thomas. Apa kamu baik-baik saja.?" Tanya pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Aku sedang tidak enak badan Uncle." Jawabnya lemah. Sebenarnya tanpa mengatakan hal itu sekalipun, pria paruh baya itu bisa melihat jika keponakannya sedang tidak baik-baik saja.
Penampilannya yang berantakan dan kusut sama sekali bukan ciri khas keponakannya yang selalu tampil rapi dan gagah.
"Kamu seperti tidak punya tenaga dan gairah hidup." Komentarnya sesuai apa yang dia lihat.
"Sebaiknya periksa ke dokter, kamu mungkin sakit karna banyak pikiran. Menjelang pernikahan memang seperti itu." Tuturnya seraya duduk di depan meja kerja sang keponakan.
"Tidak perlu Uncle, aku hanya,," Dia tidak meneruskan ucapannya karna tiba-tiba perutnya kembali bergejolak seperti di aduk-aduk. Tak mau memuntahkan isi perutnya di depan sang paman, dia bergegas menutup mulut dan berlari ke kamar mandi.
"Glen,, are you okay.?" Pria paruh bayar itu segera menyusul Glen. Dia mendadak panik ketika melihat Glen seperti menahan sesuatu sampai wajahnya memerah.
"Huekk,,, hueekk,,,"
"Astaga,, kamu seperti Devon saja. Dia muntah-muntah karna sepupu mu sedang hamil." Seloroh pria paruh baya itu ketika melihat langsung bagaimana Glen muntah-muntah seperti menantunya sejak 1 bulan lalu. Awalnya keluarga menduga kalau Devon sakit, karna selalu muntah di pagi hari ataupun saat mencium aroma tertentu. Tapi ketika pergi ke dokter, tidak ada diagnosa khusus meski Devon kerap muntah-muntah. Setelah di telusuri dan di tanya-tanya lebih jauh, akhirnya dokter menyarankan Clara untuk tes kehamilan.
Rupanya gejala yang di alami Devon ada kaitannya dengan kehamilan Clara.
"Aku bahkan belum menikah, wanita mana yang bisa aku hamili." Jawab Glen spontan. Glen merasa ucapan pamannya tidak masuk akal. Pasalnya Glen belum menikah dan Adeline di pastikan tidak hamil karna mereka belum pernah melakukannya.
Tapi Glen percaya soal Devon yang muntah-muntah dan ada kaitannya dengan kehamilan Clara. Karna dia pernah melihat sendiri Devon bolak balik kemar mandi saat ada acara makan malam keluarga. Penyebabnya sangat sepele, hanya karna mencium aroma masakan.
"Siapa tau kamu sudah menabur benih lebih dulu. Uncle tau kamu pemain ulung saat di luar negeri." Sahutnya santai. Meski tau pergaulan keponakannya sangat bebas ketika di luar negeri, namun Ricard tak pernah ikut campur. Sebagai paman, dia hanya bisa memberikan nasehat tanpa melarang apapun yang sudah menjadi kebiasaan keponakannya. Karna dia yakin suatu saat keponakannya itu akan berubah dan berhenti bermain gila jika sudah menikah.
Glen terdiam di tempat. Kata-kata menabur benih membuatnya langsung teringat pada Gea.
Selama ini, hanya wanita itu yang menerima benihnya. Glen tidak menutupi bahwa dulu dia sering melakukan one night stand dengan wanita asing, tapi dia selalu memakai pengaman karna tidak mau mengambil resiko.
"Uncle,, sepertinya aku harus ke dokter." Lirih Glen lesu. Dia keluar dari toilet selesai mencuci wajah dan mulutnya.
"Jangan pergi sendiri, minta Felix saja untuk mengantarmu." Ujar Ricard sembari mengikuti langkah Glen.
Keponakannya itu sedang merapikan dasi serta kemejanya, lalu menyambar jas yang sejak pagi bertengger di sandaran kursi.
"Tangan dan kakiku masih berfungsi dengan baik, aku bisa ke dokter sendiri." Tolak Glen. Tidak mungkin juga dia akan membawa Felix, karna pergi ke dokter hanya alasan saja agar dia bisa segera pulang dan memastikan sesuatu.
"Terserah kamu saja. Jangan lupa hubungi Uncle kalau ada apa-apa." Ujar Ricard dan hanya di respon dengan anggukan kepala oleh Glen.
Pria itu kemudian melenggang keluar dari ruangannya.
...******...
"Bagaimana ini.?" Wajah Gea terlihat sangat pucat. Tangannya masih gemetar meski sudah lebih dari 5 menit memegang hasil tes kehamilan di tangannya.
Hasilnya positif, Gea benar-benar sedang mengandung anak Glen.
Beberapa waktu lalu dia memang ingin mengandung anak Glen agar bisa mendapatkan pria itu seutuhnya. Tapi ketika keinginannya terkabul, Gea malah bingung sendiri dan tampak frustasi.
Pikirannya mendadak kacau. Bagaimana kalau ternyata bukan Glen yang dia dapatkan, melainkan kehancuran karna tidak ada pertanggungjawaban dari Glen.
Mengingat beberapa minggu lagi acara pernikahan Glen dan Adeline akan di gelar, Gea khawatir Glen tetap melanjutkan pernikahan itu tanpa berniat bertanggungjawab. Karna sejak awal Glen tak pernah mau ada kata hamil.