Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 122



1 minggu berlalu. Glen masih mengalami couvade syndrom yang sampai sekarang belum dia ketahui. Mualnya semakin parah, bukan hanya setiap pagi saja. Tapi juga setiap malam menjelang tidur. Anehnya dia akan berhenti mual ketika tidur satu ranjang dengan Gea. Glen tidak tau saja kalau aroma tubuh Gea sudah seperti penawar dari rasa tidak nyaman pada perutnya.


Itu jelas karna Gea sedang mengandung darah dagingnya.


Dan karna kebiasaan muntah-muntahnya yang tidak kunjung sembuh, pria itu sampai memeriksakan diri ke dokter. Berbagai jenis obat-obatan untuk meredakan mual sudah di resepkan oleh dari, sampai yang termahal sekalipun. Tapi tetap saja mualnya tidak hilang. Karna itu bukan suatu penyakit yang akan sembuh dengan hanya meminum obat.


Glen mengalami kehamilan simpatik, dia akan terus mengalami morning sickness seperti ibu hamil di trimester pertama kehamilan. Jadi selama kehamilan Gea masih di bawah 3 bulan, bisa di pastikan Glen akan terus mengalami mual.


Bagi Glen yang belum mengetahui kehamilan Gea, dia tentu bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Tapi tidak dengan Gea, dia tau betul faktor yang menyebabkan Glen selalu muntah-muntah setiap hari.


Sekalipun Glen tidak menginginkan Gea hamil, namun Gea bukan wanita jahat yang akan dia saja ketika melihat Glen mengalami morning sickness. Dia selalu sigap menyiapkan minuman hangat untuk Glen dan melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa mualnya.


Saking tidak teganya melihat penderitaan Glen, Gea sampai mencari tau di internet apa yang harus di lakukan untuk menangani morning sickness.


Tak hanya itu saja, Gea juga mencatat beberapa makanan yang bisa memicu mual semakin parah.


Semua yang Gea lakukan penuh dengan ketulusan. Tidak peduli meski setelah ini dia harus pergi dari kehidupan Glen dengan membawa sebagian dari diri Glen.


Tak lagi memikirkan dendam, Gea hanya ingin buah hatinya bisa dilahirkan ke dunia. Tanpa perlu khawatir Glen akan memaksanya menggugurkan kandungan.


Meski tidak berhasil merebut Glen, setidaknya Adeline sudah terluka mengetahui hubungan terlarangnya dengan Glen.


"Minum dulu tehnya Om." Gea menyodorkan teh tawar hangat pada Glen untuk meredakan rasa mual setelah muntah-muntah.


Glen menerimanya dan langsung meneguk habis. Tenaganya sudah terkuras dan kini hanya bisa bersandar pada kursi di ruang makan.


Gea mengambil cangkir itu dan membereskan bekas alat makan mereka untuk di bawa ke wastafel. Glen dari tempat duduknya terus memperhatikan Gea. Dia menatap intens tubuh Gea dari ujung kaki sampai kepala. Mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab dugaannya selama ini.


Sebenarnya Glen masih berfikir kalau Gea hamil. Dia sempat percaya saat Gea mengaku sedang haid, tapi karna rasa mualnya tak kunjung hilang meski sudah memeriksakan diri ke dokter, akhirnya Glen meminta Gea untuk menunjukkan bukti. Dan saat itu Gea benar-benar menunjukkan sedang memakai pembalut. Tapi sejujurnya Glen memiliki perasaan yang lain. Antara percaya dan tidak.


"Kamu yakin tidak hamil.?" Tanya Glen tiba-tiba.


Gea yang mendadak di todong pertanyaan seperti itu, sontak terkejut hingga menghentikan aktifitasnya yang sedang mencuci. Beruntung posisinya membelakangi Glen, jadi pria itu tidak melihat kepanikan di wajahnya.


"Kalau aku hamil, aku pasti sudah minta di nikahi." Jawab Gea sebisa mungkin bicara tenang. Padahal jantungnya bergemuruh, dia sedang berperang hati dan pikirannya sendiri. Ada perasaan ingin mengakui kehamilannya pada Glen, tapi juga ada rasa takut yang membuatnya mengurungkan niat.


Seandainya saja tidak ada kekhawatiran dalam raut wajah Glen ketika ingin melakukan tes kehamilan padanya, mungkin Gea bisa berkata jujur padanya.


Sayangnya bukan hanya menunjukkan kekhawatiran saja, tapi Glen juga terang-terangan tak menginginkan ada kabar kehamilan.


"Jangan berfikir terlalu jauh, aku akan menikah sebentar lagi." Ucap Glen dingin.


Gea menyembunyikan senyum kecutnya mendengar perkataan Glen yang cukup mengiris hati. Tanpa bicara seperti itupun, Gea sudah tau Glen akan menikah dengan Adelin 1 minggu lagi.


...******...


3 hari berlalu,,,


Calon suaminya itu datang dengan keluarga pamannya, mewakili kedua orang tua Glen yang sudah meninggal.


Semua orang tampak saling mengobrol satu sama lain setelah menghabiskan makan malam.


Aura kebahagiaan sudah menyelimuti keluarga itu menjelang pernikahan sakral yang akan menyatukan dua keluarga. Namun tidak dengan Adeline yang justru terlihat gusar.


Dia sesekali melirik Glen tanpa pria itu sadari.


Perasaannya kacau mengetahui Glen masih menyembunyikan Gea di apartemen. Padahal pernikahan mereka sudah di depan mata, tapi Glen seperti tidak ada niat untuk mengakhiri hubungan terlarang itu dengan Gea.


Sakit dan hancur sudah pasti. Tapi cinta membuat Adeline bodoh hingga rela bertahan meski tau kebusukan Glen di belakangnya. Wanita itu bahkan memilih bungkam dan tutup mata. Alih-alih meminta Glen berhenti berhubungan dengan Gea, Adeline malah bertahan pada harapan. Dia berharap Glen akan mengakhiri hubungan terlarang itu dengan sendirinya.


"Kak,,," Panggil Adeline lirih. Dia menyentuh lengan Glen, membuat pria itu menoleh padanya.


"Bisa bicara berdua.?" Pintanya.


Glen mengangguk cepat tanpa ragu, kemudian beranjak lebih dulu dari kursinya sembari pamit pada semua orang untuk mengajak Adeline ke taman belakang.


Kini keduanya sudah duduk di bangku taman. Sempat sama-sama terdiam beberapa saat karna sibuk bergulat dengan pikiran masing-masing.


"4 hari lagi kita akan menikah, aku sudah sangat lama menunggu momen bahagia itu." Gumam Adeline memecah keheningan. Tatapan matanya lurus ke depan, bibirnya mengukir senyum dan matanya berbinar menggambarkan bagaimana dia pernah merasa sangat bahagia menyambut hari pernikahan itu.


"Harusnya saat ini aku sangat bahagia, tapi entah kenapa,," Adeline menghentikan ucapannya. Dia memejamkan mata rapat-rapat dan menarik nafas dalam, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.


Sedangkan Glen, Pria itu menatap Adeline penuh tanda tanya. Dia bisa merasakan kesedihan dari raut wajah Adeline meski wanita itu menutup mata. Padahal sejak tadi Adeline masih bersikap biasa saja dan selalu mengulas senyum manis di bibirnya. Lalu sekarang.? Tiba-tiba terlihat sangat rapuh.


"Kamu baik-baik saja.?" Tanya Glen cemas.


Adeline sontak tersenyum pilu. Bagaimana bisa Glen bertanya dia baik-baik saja sedangkan hatinya sudah hancur karna perselingkuhan Glen dengan Gea.


Adeline membuka mata dan langsung menatap dalam kedua mata Glen.


"Kakak tidak akan membatalkan pernikahan kita kan.?" Tanyanya dengan tatapan sendu dan penuh kesedihan di dalamnya.


"Apa yang kamu bicarakan." Tegur Glen. Dia tampak tidak nyaman dengan pertanyaan Adeline.


Adeline tersenyum getir.


"Entahlah, aku hanya mengatakan apa yang aku khawatirkan beberapa minggu ini." Tuturnya.


"Semuanya sudah di siapkan, mana mungkin aku membatalkannya." Sahut Glen cepat.


Harusnya jawaban itu bisa membuat Adeline tenang dan yakin, tapi kekhawatiran di mata Adeline tidak berkurang sedikitpun.