Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 106



"Kenapa aku harus memiliki Papa seperti dia.! Aku akan membencinya seumur hidup karna sudah menyakiti Mama.!" Arumi mengumpat dalam pelukan Amira. Rasa kecewanya pada Andrew sangat besar, membuat Arumi jadi benci pada pria yang selama hidupnya di kenal sebagai sosok orang tua yang baik.


Perbuatan Andrew telah mematahkan hati seorang anak yang menjadikannya sebagai cinta pertama dalam hidupnya.


"Kenapa Mama tidak menangis.? Menangis saja kalau itu membuat Mama merasa lega." Ujar Arumi yang merasa heran karna Mamanya seperti tidak ada keinginan untuk menangisi semua yang terjadi.


Amira malah tersenyum lebar seraya mengusap pucuk kepala Arumi dengan sayang.


”Kalau seseorang sudah tidak menginginkan kita dan menganggap keberadaan kita tidak berarti, untuk apa di tangisi.?" Tutur Amira santai. Tampak tidak ada beban kesedihan dari nada bicara ataupun sorot matanya.


Arumi sampai heran dan menatap lekat manik mata sang Mama. Arumi khawatir kalau sang Mama hanya berusaha kuat di depannya dan menahan tangis agar tidak terlihat lemah.


Hanya membayangkan dikhianati saja sudah membuat dada sesak dan ingin menangis. Itu sebabnya Arumi menyuruh sang Mama untuk menangis, setidaknya rasa sesak di dadanya akan sedikit berkurang jika menangis.


"Aku tau Mama kecewa, menangis bukan berarti kita lemah kan Mah.?" Arumi menatap iba. Hatinya seperti di sayat-sayat menatap sayang Mama yang terlihat tegar dan kuat, padahal Arumi yakin kalau hati sang Mama sudah hancur berkeping-keping.


"Kamu benar sayang, tapi jangan melakukan hal yang sia-sia. Mama tidak akan menangisi Papamu. Mama melepasnya pergi untuk mencari kebahagiaan yang dia inginkan." Amira tersenyum tenang, dia lantas mengalihkan pembicaraan dengan membahas kuliah Arumi.


...******...


"Saya tidak keberatan kerja apa saja, saya butuh uang." Seorang wanita muda menyodorkan kartu Identitas dan ijazah sarjananya. Dia memohon pada seorang satpam untuk meminta pekerjaan karna harus bertahan hidup. Lebih tepatnya untuk mempertahankan janin tak berdosa dalam rahimnya.


Jika saja tidak ada kehidupan baru di dalam rahimnya, mungkin sejak kemarin dia mengakhiri hidup. Dosanya sudah terlalu banyak jika harus membunuh janin yang tak berdosa bersama dirinya.


"Restoran sedang tidak membutuhkan karyawan."


"Tapi tunggu sebentar, kemarin pemilik restoran sedang mencari asisten rumah tangga." Satpam itu merogoh ponselnya untuk menghubungi pemilik restoran. Dia tidak tega melihat wanita itu memelas dengan keringat yang bercucuran di pelipis.


"Terimakasih banyak Pak. Apa saja asal saya bisa mendapatkan uang." Ujar Sofia dengan mata berbinar penuh harap.


Ya, wanita mengenaskan itu adalah Sofia. Dia sudah berkeliling sejak pukul 6 pagi untuk mencari pekerjaan di kota yang baru saja dia datangi.


Tak memiliki kerabat ataupun teman di kota ini, Sofia hanya berfikir pergi ke kota ini untuk melarikan diri dari Andrew. Berhenti melakukan dosa besar karna telah menyakiti hati wanita lain.


Sofia memperhatikan satpam yang sedang menelfon, satpam itu mengatakan jika dia bertemu seseorang yang membutuhkan pekerjaan.


"Baik Nyonya, saya mengerti." Ucapnya kemudian memutuskan sambungan telfon.


"Kamu bisa datang langsung ke rumahnya, nanti saya tuliskan alamatnya. Tapi belum tentu di terima, Nyonya sangat selektif memilih asisten rumah tangga." Tutur satpam itu, Sofia hanya mengangguk paham dan berulang kali mengucapkan terimakasih padanya.


Sofia menerima selembar kertas itu dengan mata berbinar. Dia berharap banyak dari alamat yang diberikan oleh satpam itu.


"Sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Sofia tulus. dia bergegas pergi ke alamat tujuan menggunakan kendaraan umum.


Setidaknya jika di terima sebagai asisten rumah tangga, dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk sewa tempat tinggal. Tidak peduli meski dia memiliki gelar.


"Mama yang bersalah dan berbuat dosa, Mama pastikan kamu tidak akan menanggung semua itu." Lirih Sofia seraya mengusap perutnya yang masih rata.


...******...


"Om mau kemana.?" Gea buru-buru mencegah langkah Glen. 1 jam yang lalu Gea tidak sengaja mendengar percakapan Glen dengan Adeline lewat panggilan telfon. Malam ini mereka berencana bertemu dan makan siang bersama.


Tak rela membiarkan Glen dan Adeline menghabiskan waktu bersama, Gea tak punya cara lagi selain mencegah Glen dengan menggodanya.


Tak peduli apa yang akan Glen pikirkan tentangnya saat ini, dia hanya ingin membuat Glen tetap tinggal di apartemen tanpa menemui Adeline.


Berbalut lingerie menerawang, dengan sengaja Gea tak memakai pakaian da-lam. Membuat semua benda sensitifnya tak tertutup apapun.


Dua bukit dan lembah menggiurkan itu sontak tercetak jelas di balik kain tipis nan menerawang. Membuat jiwa kelaki-lakian Glen meronta ingin menggapainya.


Jakun Glen tampak turun naik. Beberapa kali menelan salivanya karna tidak tahan dengan godaan menggiurkan di depan matanya.


Meski sudah berkali-kali menikmati keindahan itu, Glen seolah tidak pernah puas. Dia selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Tubuh seksi itu seperti jadi candu untuknya.


"Aku ada urusan." Jawab Glen tanpa mengalihkan pandangannya dari Gea.


"Pria mana yang ingin kamu goda saat aku tidak di apartemen.?" Glen menatap tak suka. Kalau saja dia tidak ada janji dnegan Adeline, mungkin akan berbeda reaksinya. Glen tak perlu menuduh Gea macam-macam karna sudah pasti akan melahapnya tanpa sisa.


Gea menggeleng cepat. Mana berani dia menggoda pria lain dengan kain tipis itu. Jika bukan karna memiliki tujuan, dia juga tidak akan memakai lingerie di depan Glen.


"Aku pikir Om tidak pergi malam ini. Aku,,," Gea berucap lirih dan sengaja menggantungkan ucapannya untuk memancing rasa penasaran Glen.


"Aku apa.?" Seru Glen tak sabar.


Bukannya menjawab, Gea malah sengaja menggigit bibir bawahnya seraya *******-***** ujung lingerie.


"Sial.! Kau berhasil menggodaku.!" Umpatan kekesalan itu keluar dari bibir Glen karna dia tidak bisa menahan diri.


Hanya maju beberapa langkah, Glen sudah bisa merengkuh pinggang ramping Gea dan merapatkan pada tubuhnya.


"Kamu menginginkannya, hmm.?" Glen mengusap rahang Gea dan turun ke bawah.


"Sangat ingin, lakukan sekarang sebelum Om pergi." Jawab Gea tanpa ragu serta membuang rasa malunya di hadapan Glen.


Tak mau membuang kesempatan, Gea langsung memagut bibir Glen. Tujuannya untuk menahan pria itu sepertinya akan berjalan mulus. Apalagi saat Glen mulai membalas ciumannya dan tangannya mulai mencari benda favoritnya untuk di sentuh.


"Kau membuatku gila, Baby,,," Bisik Glen seraya bermain di telinga Gea.


Gea mende -sah tertahan, tubuhnya seperti di aliri arus listrik tegangan tinggi akibat ulah bibir dan tangan Glen di tubuhnya.


kegiatan itu berlanjut di sofa ruang tamu, percintaan panas tak bisa di hindari hingga desa-han saling bersautan.