
Gea tersenyum puas penuh kemenangan, bagaimana tidak.? Glen lebih tertarik pada tubuhnya di banding menepati janji untuk bertemu dengan Adeline.
Kini pria gagah itu tengah terlelap di atas ranjang setelah 3 kali menyemburkan cairannya.
Glen tampak kelelahan, mungkin karna sejak pagi dia berkutat dengan pekerjaan sampai pukul 6 sore. Sekarang malah terkapar setelah olahraga panas yang menguras banyak tenaga dan keringat.
Gea bisa membayangkan kekecewaan Adeline pada Glen karna tidak datang menemuinya.
Ponsel Glen bahkan beberapa kali berdering, Gea dengan sigap mengecilkan volume setiap kali ada panggilan masuk dari Adeline.
"Maaf Kak Adeline, salahkan saja adikmu yang biadab itu." Lirih Gea penuh kebencian pada Sean.
Dia tidak mempermasalahkan kesuciannya yang hilang karna Sean, karna sadar saat itu dia melakukannya atas kemauan sendiri tanpa paksaan dari Sean.
Yang membuat Gea sakit hati, Sean berselingkuh dan lebih memilih selingkuhannya di banding dia. Setelah semua yang sudah dia berikan pada Sean. Dan itu cukup menghancurkan hati Gea hingga akhirnya menimbulkan dendam.
30 menit berlalu, Adeline tidak lagi melakukan panggilan ke ponsel Glen. Gea lantas meletakkan benda pipih itu ke tempat semula dan bergabung bersama Glen di atas ranjang. Gea sengaja menempel pada pria itu dan memeluknya erat.
"Kamu harus jadi milikku." Batin Gea.
...***...
Sementara itu di sebuah ruangan VIP salah satu restoran, Adeline menatap nanar layar ponsel di tangannya setelah berusaha menghubungi Glen. Jangankan membalas chatnya, tunangannya itu bahkan tidak menjawab panggilan telfonnya meski sudah di hubungi berkali-kali.
"Kenapa tiba-tiba tanpa kabar,," Lirih Adeline curiga. Padahal 2 jam lalu Glen bilang akan segera datang ke restoran. Dan Adeline telah menunggu Glen hampir 2 jam. Sampai detik ini Glen tidak terlihat batang hidungnya.
"Apa ada hubungannya dengan Gea.?" Adeline menebak karna feelingnya mengatakan begitu.
Sedetik kemudian, Adeline meremas kuat ponsel di tangannya. Raut wajah dan sorot matanya di penuhi amarah kala bayangan Glen dan Gea yang sedang berciuman, muncul di ingatan.
Adeline lantas tersenyum miris, entah dia bodoh atau apa. Jelas-jelas dia ada di sana saat kejadian menyakitkan itu terjadi, tapi tidak berfikir untuk muncul di hadapan mereka dan berbuat sesuatu pada dua orang itu.
Padahal sah-sah saja kalau saat itu Adeline muncul dan meluapkan kekecewaannya pada Glen ataupun Gea. Dia punya hak karna saat itu Glen sudah menjadi tunangannya.
"Mudah sekali kalian mempermainkan perasaanku." Adeline mengukir senyum getir. Matanya sudah berkaca-kaca, dia hampir menangis namun sebisa mungkin di tahan.
Menangisi orang yang tak berperasaan sama saja menjadikan dirinya seperti orang bodoh.
"Sebenarnya apa mau mu.!" Gigi Adeline mengatup rapat, kepalan tangannya semakin kuat. Dia mencurigai Gea memiliki maksud tertentu.
Karna Gea sudah tau kalau Glen akan bertunangan, tapi malah memiliki hubungan dengan Glen di belakangnya.
Adeline beranjak dari restoran karna sudah semakin malam dan tidak ada tanda-tanda Glen akan datang. Dia meninggalkan restoran dengan kekecewaan di hatinya.
...*****...
"Ini berkas-berkas pengalihan aset milik Tuan Andrew sudah di alihkan atas nama Anda dan Nona Arumi." William menyodorkan beberapa lembar kertas pada Amira.
Wanita 43 tahun itu langsung mengambil berkas di hadapannya dan memeriksa satu persatu, memastikan tidak ada satupun aset milik Andrew yang terlewatkan untuk di alihkan menjadi miliknya.
"Tinggal di tanda tangani saja oleh Tuan Andrew." Ujar William saat Amira selesai memeriksa semua berkas di tangannya.
"Sudah tugas saya, Nyonya." William membalas senyum Amira.
"Kalau begitu saya permisi."
William bergegas keluar dari apartemen Amira. Pria paruh baya yang berstatus duda itu seperti menghindari interaksi terlalu lama dengan Amira jika hanya sedang berdua. Itu sebabnya William tak bertahan lebih dari 30 menit jika menemui Amira di apartemen seorang diri.
...*****...
Agam menutup laptopnya setelah menyimpan file. Dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tak mau terlalu larut berkutat dengan pekerjaan, Agama kemudian beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang kerjanya untuk pergi ke kamarnya.
Agam membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dia takut menganggu istrinya yang mungkin sudah tertidur pulas.
Tapi ternyata Agam salah, Arumi terlihat masih terjaga dan tengah memainkan ponsel di tangannya sembari bersandar pada kepala ranjang.
"Kenapa belum tidur.?" Tegur Agam setelah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Kedatangan Agam sontak membuat Arumi tampak gelagapan, dia buru-buru meletakkan ponsel di atas nakas dan tersenyum manis pada Agam.
Tingkah aneh Arumi membuat Agam menautkan alisnya.
*Aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk." Jawab Arumi seraya turun dari ranjang dan menghambur ke pelukan Agam.
Tingkah Arumi benar-benar aneh, dan itu membuat Agam ingin mencari sesuatu yang mungkin sedang di sembunyikan oleh Arumi.
Agam langsung menatap ponsel di atas nakas, ponsel itu tadi sedang di mainkan oleh Arumi, tapi buru-buru di taruh saat melihatnya masuk ke kamar.
Tatapan Agam semakin tajam, dia sedang memastikan kalau ponsel di atas nakas itu adalah ponsel miliknya. Sekarang Agam tau kenapa Arumi gelagapan melihatnya masuk ke kamar.
"Kenapa lama sekali, aku menunggu dari tadi." Nada bicara Arumi sedikit merengek. Dia juga memukul pelan dada bidang Agam.
"Tapi kamu jadi punya kesempatan mengecek ponselku kan." Sahut Agam datar. Pelukan Arumi mengendur, perlahan melepaskan pelukannya dan mundur sedikit untuk menatap suaminya.
Wajah Arumi berubah tegang. Dia seperti kaget karna Agam tau apa yang baru saja dia lakukan pada ponsel suaminya itu.
"Sayang,, a,,aaku,," Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Agam sudah menyela.
"Kamu menemukan apa saja di ponselku.?" Potong Agam cepat.
"Menemukan chat dengan wanita lain.? Atau riwayat panggilan dengan nomor tanpa nama.?" Cecar Agam masih dengan nada bicara dan wajah datarnya.
Arumi menggelengkan kepala dan memasang wajah bersalah dan menyesal. Tidak seharusnya dia diam-diam mengecek ponsel Agam di saat pria itu sudah mengatakan berulang kali kalau tidak akan macam-macam di belakangnya.
Kini setelah tertangkap basah mengecek ponsel milik Agam, pasti Agam akan berfikir dia tidak percaya padanya.
"Aku minta maaf,," Arumi kembali memeluk Agam, kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.
"Sepertinya aku harus melakukan konsultasi dengan psikolog." Ujar Arumi frustasi. Dia hanya merasakan ketakutan dan kecemasan setiap saat ketika teringat perbuatan sang Papa.