Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 68



Arumi berdecak kesal. Mencegahnya agar tetap berada di dalam kamar pasti hanya akal-akalan Agam saja. Pria itu jelas sangat tau bagaimana cara membujuknya. Arumi sampai menghela nafas kasar setelah itu. Dia meras telah bertindak bodoh karna selalu luluh dengan rayuan dan sentuhan Agam. Tidak peduli seberapa besar Agam membuatnya kesal dan kecewa, dia akan selalu mudah memberikan maaf padanya.


"Kita bicara di luar atau aku akan berteriak minta tolong agar penjaga rumah mengusir Om.!" Arumi terpaksa mengancam. Jika tidak begitu, dia yakin Agam akan menahannya di dalam kamar.


Meski awalnya sempat menolak, tapi keduanya kini sudah berada di luar kamar Arumi. Duduk di sofa tak jauh dari kamar Arumi. Suasana di lantai 2 cukup sepi, tidak ada pekerja rumah yang pergi ke lantai atas jika sudah malam. Kecuali jika di panggil. Jadi suasananya tetap mirip di kamar Arumi. Tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Mereka mau melakukan apapun, tidak akan dilihat oleh orang lain. Bahkan di sana tak di lengkapi cctv.


Tanpa sepengetahuan Arumi, Agam diam-diam mengamati keadaan sekitar. Pria itu sedang mencari celah untuk membujuk Arumi dengan cara instan tanpa harus berdebat lebih lama dan hanya akan membuang-buang waktu.


"Sebenarnya Om mau apa lagi.? Belum puas menuduhku tidur dengan laki-laki lain.?" Sindir Arumi ketus. Kedua tangannya di lipat ke dada, bibirnya sedikit mengerucut.


"Kalau memang nggak percaya sama aku, batalkan saja pernikahan kita. Aku nggak masalah." Ucapnya enteng. Padahal Arumi masih sangat mencintai Agam, terbukti dia tidak bisa membenci pria itu meski sudah menurut yang tidak-tidak. Hanya ada amarah dan kekecewaan saja, itu mungkin hal yang wajar karna sudah di tuduh melakukan perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.


"Jangan seperti itu, pernikahan kita sudah di depan mata. Itu hanya kesalahpahaman saja." Agam mendekat, berniat menghapus jarak dengan Arumi, tapi gadis itu langsung paham situasi dan sadar akal bulus Agam, Arumi buru-buru bergeser menjauh.


Agam seketika menghela nafas berat. Dia mungkin harus membutuhkan usaha ekstra untuk membujuk Arumi kali ini. Tidak seperti biasanya yang mudah untuk di bujuk. Entah karna Arumi sudah lelah dengan sikap Agam, atau memang Agam yang terlalu keterlaluan menuduh Arumi


"Kesalahpahaman yang Om buat sendiri.! Om menuduhku dan memaksaku mengakui perbuatan yang nggak pernah aku lakukan." Arumi terus menyerocos.


"Oke, aku minta maaf. Sebaiknya masalah ini kita selesaikan, jangan sampai orang tua kita tau." Agam tulus meminta maaf, tapi Arumi malah beranggapan permintaan maaf Agam tidak tulus, semata-mata hanya untuk membuat amarahnya mereda dan permasalahan ini tidak sampai diketahui kedua orang tua mereka.


"Jadi Om minta maaf biar aku nggak mengadukan masalah ini pada orang tua kita.?" Tebak Arumi sewot.


"Kalau benar seperti itu, berarti Om nggak mengakui kalau Om sudah melakukan kesalahan." Bukannya mereda, emosi Arumi malah semakin meletup-letup. Agam memang tidak pandai membujuk remaja. Pria dewasanya sepertinya memang sulit memahami gadis yang sering dia sebut bocah ingusan itu.


Agam kembali membuang nafas berat. Mungkin sudah lebih dari 3 kali dia melakukannya. Sepertinya menghadapi kemarahan Arumi jauh lebih memusingkan dari pada mengurus bisnisnya.


"Aku mengaku salah Arumi,," Agam berucap lembut namun penuh penekan. Mungkin agar Arumi puas dan yakin kalau dia benar-benar mengakui kesalahannya dan ingin meminta maaf.


Arumi tetap enggan percaya. Ekspresi wajah Agam yang datar membuatnya sulit percaya kalau pria itu sudah mengakui kesalahannya. Padahal wajah datar Agam memang sudah tercetak sejak dulu, jauh sebelum Arumi melihatnya untuk pertama kali.


"Foto-foto itu ternyata sengaja di kirim oleh Livia." Tutur Agam lirih.


Agam sempat mengalihkan pandangannya, sudah pasti karna malu pada Arumi. Seorang pemimpin perusahaan bukanlah orang sembarangan, mereka tentu memiliki keahlian dan kepintaran yang jarang di milik sebagian orang di luar. Tapi Agam sudah bertindak bodoh dengan mempercayai foto-foto Arumi bersama Zayn dan dosen itu, padahal hanya foto bisa. Dia merasa sedang mempermalukan dirinya sendiri di depan gadis berusia 18 tahun.


"Ck,, sudah aku duga. Nenek gayung itu memang wanita serigala berbulu domba.!" Arumi berdecak geram.


"Kamu mau apa kalau melihatnya.?" Agam menatap penasaran, terlebih melihat gerakan kedua tangan Arumi seperti sedang mencakar-cakar di udara.


"Om nggak liat aku sedang apa.?!" Seru Arumi sewot, tangannya malah mencakar-cakar di depan wajah Agam. Pria itu sampai menghindar. Takut terkena carakan kuku-kuku Arumi yang di lapisi naik art cantik.


"Aku akan mencakar-cakar wajahnya seperti ini.!" Ujarnya lagi, masih dengan rasa emosi.


Meskipun sudah tau dalang kerusuhan ini di sebabkan oleh Livia, tapi amarahnya pada Agam belum kunjung surut.


"Kamu mirip seperti macan." Celetuk Agam. Bukan tanpa alasan, karna ekspresi wajah Arumi juga terlihat mengerikan dengan gigi-giginya yang terlihat seluruhnya. Benar-benar mirip seperti macan yang sedang marah.


"Masih berani macam-macam sama macan.?!" Seru Arumi jengkel. Dia berhenti menggerakan tangannya dan kembali menjaga jarak dengan Agam.


"Sebaiknya Om pulang saja.! Aku mau tidur." Usirnya. Arumi kemudian beranjak dari duduknya, tapi baru sempat berbalik badan, tangannya sudah di tarik oleh Agam dan membuatnya jatuh ke pangkuan pria itu.


"Om.! Lepas.! Jangan macam-macam.!" Arumi memberontak, tapi kedua tangan kekar Agam memeluknya kuat. Dia hanya bisa bergerak-gerak dalam pangkuan Agam.


"Aku sudah minta maaf, kenapa masih marah padaku." Keluh Agam. Arumi melirik malas.


"Kemarin aku juga sudah berkata jujur, tapi kenapa Om nggak percaya dan masih menuduhku.?!" Di lempar pertanyaan menohok seperti itu, Agam langsung tidak berkutik. Dia jelas salah karna tidak berusaha mendengarkan penjelasan Arumi, malah mendesaknya agar mau mengakui.


"Lalu aku harus bagaimana.?" Kini Agam tampak pasrah. Dia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya, tapi tak membuat amarah Arumi mereda ataupun mau memaafkannya. Gadis itu malah enggan berlama-lama bicara padanya.


"Bersikap tegas pada nenek gayung itu, bilang padanya untuk berhenti menggangguku atau aku akan membuat wajahnya semakin jelek.!" Ujar Arumi berapi-api. Sebenarnya dia bisa saja mengajak Livia bertemu dan memberikan pelajaran pada wanita itu, tapi setelah di pikir-pikir, itu hanya akan membuang waktunya saja.


"Baik, aku akan menemuinya nanti." Agam memilih menuruti permintaan Arumi daripada membuat gadis itu semakin marah.


"Sepertinya Om sangat senang bertemu dengannya." Sindir Arumi ketus.


Agam seketika mengusap kasar wajahnya.


"Salah lagi," Gumamnya frustasi.