
Melihat kondisi Arumi yang baru saja bangun tidur, Agam memutuskan untuk mengantarkan Arumi pulang menggunakan mobil gadis itu.
Dia tidak mau mengambil resiko terjadi sesuatu pada Arumi jika mengemudi sendiri. Walaupun gadis itu sudah terlihat segar setelah mencuci muka, tetap saja Agam harus menjamin Arumi baik-baik saja kalau tidak mau mendapatkan masalah.
"Om, mampir nanti sebentar ke kedai es krim ya." Pinta Arumi. Wajah belianya yang khas remaja itu menatap berbinar.
Entah kenapa Agam langsung mengangguk setuju tanpa mendengus lebih dulu seperti biasanya.
"Kita cobain es krim yang lagi viral itu. Katanya nggak bisa lihat bangunan kosong, besoknya langsung di jadiin kedai." Celotehnya sembari meraih lengan kekar Agam dan mendekapnya.
Beberapa karyawan menatap gemas saat melihat sikap manis Arumi ketika mendekap tangan Agam. Pasangan yang terlihat jelas perbedaan usianya itu tampak sangat serasi.
Arumi yang ceria memang cocok untuk Agam dengan segala sikap dingin dan acuhnya.
"Es krim apa.?" Tanya Agam tampak penasaran. Kedua alisnya sampai menukik saat melirik Arumi.
Dia bukan orang yang update dengan hal yang berbau kuliner. Perusahaannya bergerak di bidang design interior dan properti.
"Es krim miksue Om, masa nggak tau sih.?" Jawab Arumi heran.
Agam mengangkat kedua bahunya acuh. Dia baru kali ini mendengar es krim dengan brand yang disebutkan oleh Arumi.
"Om wajib cobain nanti." Ujar Arumi antusias. Agam tidak merespon lagi, dia melangkah tegap penuh wibawa dan berkharisma.
Beberapa karyawan yang menyapa hanya di beri anggukan samar tanpa senyum sedikitpun.
Sedangkan Arumi membalas sapaan mereka dengan senyum ramah. Sungguh berbanding terbalik dengan Agam. Itulah kenapa semua mata yang melihat pasangan itu setuju kalau Agam dan Arumi pasangan serasi.
...*****...
Sampainya di kedai es krim, Arumi kembali berceloteh panjang lebar pada Agam. Dia mengenalkan varian apa saja yang ada di sana dan rekomendasi menu yang paling banyak di minati.
"Om mau pesan yang apa.?" Tanyanya.
Agam tidak begitu suka dengan es krim. Tapi melihat antusias Arumi saat menjelaskan padanya, pria itu memutuskan untuk ikut memesan. Terlebih melihat banyaknya pengunjung di kedai tersebut. Agam jadi penasaran seenak apa rasa es krim itu.
"Boba sundae." Jawabnya padat dan singkat. Begitu juga dengan ekspresinya yang datar alias kaku. Arumi mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan semacam itu, baginya Agam tetap keren dan yang pasti hot. Berbeda dengan orang-orang di sana, mereka melihat sosok Agam yang angkuh dan dingin. Ditambah tatapan matanya yang memang tajam, semakin menambah kesan menyeramkan meski wajahnya rupawan.
"Oke, kalau begitu aku varian lain biar Om juga bisa cobain punyaku." Tutur Arumi. Agam mengangguk samar.
Gadis itu kemudian menyebutkan pesanannya setelah mendapatkan giliran. Mereka keluar dari kedai es krim itu dengan membawa 2 es krim dan 1 minuman.
Setelah masuk ke dalam mobil, Agam langsung melajukan mobilnya.
"Langsung pulang saja ya Om. Nanti biar aku yang suapin Om." Kata Arumi yang sudah mengeluarkan satu es krim milik Agam dan membukanya.
"Mampir sebentar ke rumahku, ada yang mau aku ambil." Ujar Agam tanpa menoleh pada Arumi. Dia membelokkan mobilnya ke arah cluster rumah sederhana miliknya. Kebetulan kedai es krim itu dekat dengan rumahnya.
"Oke." Jawab Arumi dan memasukkan kembali es krim di tangannya ke dalam plastik. Dia berfikir untuk makan es krim setelah sampai di rumah Agam.
"Berapa tahun nggak makan es krim." Sindir Agam datar. Dia sibuk membuka pintu rumahnya.
Arumi hanya terkikik geli dan beranjak setelah memasukan satu suapan es krim ke dalam mulut. Gadis itu mengekori Agam yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Sini Om, makan dulu es krimnya. Nanti keburu cair." Arumi duduk di sofa ruang tamu, dia tampak sibuk sendiri dengan bawaannya.
Agam lantas duduk di samping Arumi dan mengambil es krim miliknya saat Arumi menyodorkan padanya.
"Biasa saja," Komentar Agam setelah memakan es krim itu.
Arumi mengukir senyum penuh arti dan sedikit bergeser mendekat.
"Bagaimana kalau makan es krim dari mulutku.? Siapa tau es krimnya jadi kerasa enak di lidah Om." Perkataan Arumi membuat pria di sampingnya itu menoleh tak percaya. Untuk gadis yang belum pernah berpacaran sebelumnya, usul Arumi tentu membuat Agam bertanya-tanya. Entah darimana Arumi mengetahui hal semacam itu.
"Kamu itu terlalu banyak mendengarkan hal-hal mesum. Kurangi membicarakan hal mesum dengan teman-temanmu itu." Tegurnya menasehati. Agam melarang Arumi membicarakan hal-hal mesum, tapi dia sendiri malah sering mengajak Arumi berbuat mesum.
Jadi tidak heran kalau Arumi mengabaikan teguran dari Agam.
"Tapi Om sendiri malah mengajariku berbuat mesum." Jawab Arumi.
"Itu jauh lebih baik dari pada membicarakannya." Kata Agam tak mau kalah. Padahal secara logika apa yang di ajarkan pada Arumi jauh lebih membahayakan daripada sekedar teori saja.
"Apa kamu lupa kalau aku calon suamimu.? Kalau bukan aku yang mengajarimu, lalu siapa lagi.?" Ujarnya lagi.
"Kalau begitu sekarang ajari aku memindahkan es krim dari mulutku ke mulut Om." Arumi tampak antusias untuk mencoba. Dia sampai mencondongkan badanya ke arah Agam.
Memang dasar pri mesum, Agam langsung mengambil keuntungan dari rasa penasaran Arumi. Pria itu langsung memasukkan es krim ke dalam mulut dan menyambar bibir Arumi tanpa permisi hingga membuat kedua mata Arumi membelalak lebar.
Untuk sesaat Arumi di buat diam. Sensasi dingin dan manis di bibirnya perlahan membuat mulutnya mulai terbuka. Arumi menye-sap banyak-banyak es krim yang bisa dia ambil dari mulut Agam. Hingga es krim di dalam mulut mereka habis tak tersisa, ciuman itu masih berlanjut. Li dah saling membelit, Agam memperdalam ciumannya, begitu juga dengan Arumi. Keduanya seperti remaja yang sedang di mabuk cinta, tampak enggan untuk melepaskan ciuman yang intim itu meski nafas sudah tersenggal.
Suara dering ponsel yang akhirnya menghentikan kegiatan mereka.
Agam merogoh ponselnya dalam saku celana, sementara Arumi langsung menghirup oksigen banyak-banyak karna kehabisan nafas.
"Hmm,, ada apa.?" Tanya Agam pada Glen di seberang sana.
"Gadis yang mencuri jam ku, dia kuliah di kampus yang sama dengan tunanganmu." Adu Glen kesal.
"Nggak ada hubungannya denganku.!" Ketus Agam.
"Ckk.! Kau itu masih saja seperti dulu.!" Glen menggerutu.
"Tolong tanyakan pada Arumi apakah dia mengenali gadis itu. Aku akan mengirimkan foto padamu dan tanyakan pada Arumi." Kata Glen dan langsung mengakhiri panggilan telfonnya.
Agam mendengus jengkel. Dia paling tidak suka terlibat dalam masalah orang lain karna menurutnya tidak penting dan hanya membuang-buang waktu.