
Jika pasangan Agam dan Arumi sedang merasakan kebahagiaan bersama keluarga besarnya karna menyambut kehamilan kembar tiga Arumi. Hal sebaliknya justru di rasakan oleh Gea. Dia mengalami hari-hari yang sulit dan menyedihkan selama 1 minggu terakhir ketika dirawat rumah sakit.
Meski tidak pernah kurang mendapat perhatian dari Glen, bukan berarti Gea bisa tersenyum bahagia. Bagaimana pun hatinya masih terluka setiap kali mengingat perbuatan Glen yang mengakibatkan salah satu janinnya tidak tertolong.
Tidak peduli seberapa besar perhatian Glen padanya saat ini, tak peduli meski berulang kali pria itu mengatakan akan bertanggungjawab dengan menikahinya. Semua yang di lakukan Glen sama sekali tidak ada artinya di mata Gea saat ini.
Kini sudah 2 hari sejak Gea di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Gea terpaksa tinggal dengan Glen lagi karna tidak punya pilihan lain. Jika memaksakan diri pergi dari hidup Glen, Gea tidak punya cukup banyak uang untuk menyewa tempat tinggal dan memenuhi kebutuhannya.
Mengingat kondisinya yang baru saja mengalami keguguran, Gea enggan mengambil resiko dengan membahayakan nyawa calon anaknya yang tersisa. Setidaknya sampai janinnya benar-benar kuat, dia akan memanfaatkan Glen sebaik mungkin.
Soal ucapannya pada Adeline di telfon beberapa hari lalu, itu hanya ucapan spontan saja karna merasa sakit hati mendengar Adeline menyebut darah dagingnya sebagai anak sialan.
Sekarang suasana hati dan pikiran Gea sudah lebih tenang, jadi Gea sudah mengambil langkah yang terbaik dengan pikiran yang matang.
Suara bel memaksa Gea beranjak dari kamarnya. Sebenarnya dia sudah di peringatan Glen untuk tidak keluar dari apartemen ataupun membukakan pintu apartemen jika ada orang lain yang datang.
Tapi bel itu terus berbunyi sejak 10 menit lalu, membuat Gea merasa jengkel karna suara bising itu.
"Ck,,!" Gea berdecak sinis ketika menatap layar kecil di samping pintu apartemen. Dia sudah menduga pasti Adeline yang datang.
Gea tidak habis pikir, bagaimana bisa Adeline masih mengejar-ngejar Glen setelah Glen membatalkan pernikahan secara sepihak. Padahal Adeline juga sudah tau alasan Glen membatalkan pernikahan mereka, tapi tetap ingin mempertahankan pria yang sudah menghamili wanita lain.
Entah cinta Adeline yang terlalu besar, atau wanita itu sudah kehilangan akal sehatnya.
Gea membuka pintu tanpa ragu dan langsung di sambut dengan tatapan tajam dan penuh amarah dari Adeline. Sama sekali tidak merasa takut, Gea berdiri santai di depan Adeline seraya tersenyum.
"Om Glen belum pulang, telfon saja kalau ingin bertemu dengannya." Gea langsung bicara ketika melihat Adeline mulai membuka mulut. Sepertinya Adeline akan melemparkan hinaan padanya, terlihat dari wajahnya yang sudah memerah.
"Bagaimana bisa kamu masih memiliki muka di saat sedang mengandung anak ha-ram.!" Ketus Adeline.
Gea tersenyum miring, diam-diam tangannya mengepal kuat. Sudah dua kali Adeline menghina calon anaknya. Beberapa hari lalu menyebut anak sialan, kali anak ha-ram.
Anak ha-ram.? Batin Gea penuh amarah.
Sejak kapan ada anak ha-ram. Sekalipun anak itu hadir dari hubungan di luar nikah, tidak sepantasnya anak itu disebut anak ha-ram.
Perbuatan kedua orang tua kandungnya memang salah, tapi tidak seharusnya kesalahan itu di limpahkan pada anaknya dengan menyebutnya anak ha-ram.
"Kak Adeline,, mulutmu sangat berbisa." Gea tersenyum miring.
"Kamu boleh menghinaku, tapi sekali lagi kamu menghina anak ku yang bahkan belum lahir ke dunia ini, aku tidak akan tinggal diam.!" Bentak Gea. Rasa sakit hati dan amarah membuat tatapan Gea terlihat sangat mengerikan.
Adeline salah jika bermain-main dengan calon ibu.
Dia tidak tau bagaimana seorang ibu yang bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi anaknya.
Gea juga tidak akan diam saja jika seseorang. menghina anaknya.
"Ya.!! Aku memang sengaja melakukannya.!" Seru Gea yang sudah terlanjur geram. Kalau saja Adeline bisa menjaga perkataannya, mungkin Gea masih bisa mengontrol emosinya.
"Kapan lagi aku bisa membalaskan dendam ku pada Sean.!" Gea terkekeh sinis.
"Bagaimana reaksinya melihat Kakak tercintanya hancur dan gagal menikah.?" Ujarnya dengan tawa kecil yang mengejek.
"Aku sangat penasaran, dia pasti sangat sedih kan melihat nasibmu seperti ini." Gea memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Sengaja untuk mengejek Adeline.
Tapi sedetik kemudian raut wajahnya memerah dengan sorot mata tajam.
"Semua ini gara-gara adikmu.!!" Teriaknya.
"Jadi jangan salahkan aku kalau ingin menghancurkan hubunganmu dengan Om Glen.!"
Adeline mengepalkan kedua tangannya.
"Dasar ja-lang sialan.!!" Adeline mengangkat tangannya, dia hampir saja melayangkan tamparan di wajah Gea.
"Adeline.!!" Teriak seseorang yang membuat Adeline tidak jadi melayangkan tangannya.
Kedua wanita yang tadi berdebat itu, kini kompak menoleh.
Adeline langsung tersenyum puas melihat seseorang yang tadi menegurnya.
Melihat posisi orang itu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, Adeline sangat yakin kalau orang itu mendengar semua pengakuan Gea.
Tanpa ragu, Adeline menghampiri seseorang yang tak lain adalah Glen.
Dia sudah menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menciptakan kobaran api di antara Glen dan Gea.
"Kakak dengar sendiri kan.? Selama ini Gea memang sengaja memanfaatkan Kakak untuk balas dendam padaku dan Sean." Ujar Adeline dengan wajah sendu.
Glen terdiam, tatapan matanya terus tertuju pada Gea yang berdiri tenang di ambang pintu.
Glen menatap Gea dengan tatapan yang sulit di artikan. Sepertinya memang benar kalau Glen mendengar semua perkataan Gea. Jika tidak, pria itu pasti sudah menyeret Adeline karna hampir menampar Gea.
"Dia tidak benar-benar serius dengan hubungan kalian, tujuannya hanya untuk menghancurkanku." Ujar Adeline yang masih berusaha menarik simpati Glen.
"Sebaiknya kamu pulang." Usir Glen pada Adeline. Dia melirik datar kemudian beranjak mendekati Gea.
Adeline menatap tak percaya, tapi melihat kekecewaan di wajah Glen, Adeline yakin hubungan Gea dan Glen akan berantakan setelah ini. Jadi Adeline memilih pergi dari sana meski sebenarnya ingin melihat apa yang akan dilakukan Glen pada Gea setelah mengetahui semuanya.
"Masuk,," Lirih Glen.
Gea langsung berbalik badan dan masuk lebih dulu. Dia kemudian duduk di sofa ruang tamu, disusul Glen yang baru saja mengunci pintu.