
Peringatan Glen yang melarang Ricko agar tidak menyentuh Gea, justru membuat Ricko semakin tertarik untuk mendekati gadis itu. Dia juga penasaran dan ingin mencari tau ada hubungan apa Glen dengan Gea hingga keduanya bisa ber cinta di toilet itu. Ricko yakin keduanya sudah saling mengenal dan mungkin sudah sering ber cinta sebelumnya. Sikap Gea dan Glen yang terlihat tidak saling mengenal ketika bertemu di toilet tadi, membuat Ricko berfikir jika mereka sedang melakukan pengalihan saja agar tidak di curigai.
"Glen memang breng-s*k,," Cibir Ricko dengan senyum miring dan gelengan kepala. Dia tidak membenci Glen ataupun kesal pada temannya itu, hanya saja tidak habis pikir dengan jalan pikirannya sampai ber cinta di toilet hotel dan dalam situasi seperti ini.
Tadinya Ricko sudah pergi dari toilet, tapi dia melupakan sesuatu yang ingin di tanyakan pada Glen. Saat memutuskan untuk kembali ke toilet, Ricko tidak mendapati Glen ada di sana. Padahal jalan keluar dari toilet menuju ballroom hanya ada satu, dan dia belum melihat Glen keluar dari sana.
Saat itu juga pikiran Ricko tertuju pada seorang gadis yang juga ada di toilet. Kedua orang itu belum pergi dari sana, tentu saja hal itu mengundang kecurigaan Ricko pada mereka berdua. Ricko awalnya mengecek toilet pria, dia membuka satu persatu pintu toilet tanpa menimbulkan suara gaduh. Namun dia tak mendapati keberadaan mereka.
Beralih ke toilet wanita, Ricko malah menyesal telah masuk ke dalam toilet wanita. Karna saat dia baru masuk, langsung di sambut oleh suara de Sa han yang saling bersautan. Meski samar-samar, tapi bisa terdengar jelas di telinga Ricko.
Hanya dengan mendengar suara de Sa han mereka saja, Ricko sudah bisa membayangkan sepanas apa percintaan keduanya hingga menimbulkan de Sa han seperti itu.
"Sialan.!" Ricko mengumpat kesal. Dia jadi teringat kejadian tidak menyenangkan yang harus memergoki sahabatnya ber cinta dengan gadis belia. Gara-gara suara ******* dan bunyi penyatuan yang beberapa menit lalu dia dengar, otaknya mulai sulit berfikir jernih.
Sebagai pria dewasa, Ricko jelas ter angsang dan saat itu juga ingin melakukan hal yang sama. Kini dia harus menahan diri dan entah sampai kapan.
...******...
"Apa masih lama.? Aku sudah mengantuk Om." Lirih Arumi dan dia kembali menguap entah sudah berapa kali. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, rasa kantuk sudah menyerang. Terlebih 1 hari sebelum acara, Arumi kurang istirahat karna gelisah memikirkan pernikahannya. Dia kesulitan tidur dan hanya tidur 5 jam kemarin malam, tanpa tidur siang keesokan harinya.
"Mau ke kamar sekarang.?" Tawar Agam. Dia serius mengajak Arumi ke kamar agar gadis itu bisa istirahat. Apalagi Arumi terlihat sangat kelelahan. Agam tentu tidak mau Arumi jatuh sakit setelah menikah. Bisa-bisa dia gagal menikmati indahnya menjadi pengantin baru yang menikahi gadis pera-wan.
"Tapi aku benar-benar mengantuk dan lelah Om. Boleh kan kalau aku langsung tidur.?" Arumi bertanya dengan wajah memelas. Pertanyaan polos itu sontak membuat Agam mengacak pelan pucuk kepala Arumi dengan gemas. Tadinya dia kesal saat Arumi mengatakan malam pertama mereka sebaiknya di tunda. Tapi melihat Arumi sangat kelelahan dan mengantuk, pria itu jadi kasihan juga padanya dan tidak tega untuk memaksakan kehendak.
Kini dia malah di buat tersenyum tipis oleh pertanyaan istrinya itu. Mungkin Arumi takut dia akan marah padanya kalau malam pertama mereka harus tertunda.
"Om, aku serius." Arumi merapikan rambutnya meski Agam tidak membuat tatanan rambutnya berantakan.
"Kita lihat nanti saja." Jawaban Agam malah ambigu dan reaksi Arumi langsung mengerucutkan bibir.
"Tunggu di sini, aku akan meminta kunci kamar." Agam beranjak dari pelaminan dan mencari orang tuanya untuk meminta kunci kamar.
Mata Arumi terlihat sayu dan semakin menyipit lantaran terlalu mengantuk. Dia hanya menatap lurus ke depan, dimana beberapa tamu masih asik mengobrol di meja masing-masing dan menikmati makanan serta minum yang di sediakan.
Perlahan pandangan mata Arumi mulai kabur. Suara bising di ballroom itu juga terdengar samar di telinga Arumi. Dia benar-benar kelelahan setelah menerima banyak tamu dan meladeni foto bersama.
"Masih banyak tamu, kenapa buru-buru sekali.?" Komentar Hana ketika putranya menagih kunci kamar hotel. Sadar jika putranya seorang duda dan mungkin sudah tidak sabar untuk melakukan ritual malam pertama, tapi suasana di ballroom masih cukup ramai. Bagaimana nanti tanggapan para tamu kalau melihat pengantinnya buru-buru meninggalkan acara.
"Ya ampun, apa Arumi ketiduran.?" Seru Amira tak percaya. Dari jarak lumayan jauh, dia bisa melihat putrinya berstandar di sofa dengan mata terpejam.
"Sepertinya begitu Mah." Jawab Agam santai. Dia tidak kaget karna sejak tadi melihat Arumi menguap.
"Anak itu benar-benar membuat malu. Bisa-bisanya tidur di pelaminannya sendiri." Komentar Amira yang harus menahan malu di depan menantu dan besannya. Dia tidak enak hati, takut Agam dan orangtuanya menganggap Arumi tidak menghargai acara pernikahan itu karna sampai tertidur.
"Sudah biarkan saja Amira, menantuku itu pasti sangat lelah." Hana tampak tidak mempermasalahkan hal itu. Kini dia malah mengambil kunci kamar dan memberikannya pada Agam.
"Antar saja ke kamar, kamu kembali lagi untuk menemani tamu sampai mereka pulang." Pesannya setelah menyodorkan kunci itu pada Agam.
"Hmm,, aku akan kembali kalau ingat." Jawabnya lalu setengah berlari meninggalkan meja itu, mencoba kabur agar tidak mendapat amukan dari sang Mama.
"Anak itu memang kurang ajar." Gerutu Hana sambil menatap putranya yang sudah kabur lebih dulu. Amira terkekeh kecil, merasa lucu dengan interaksi Hana dan anaknya.
"Biarkan saja, lagipula sudah malam. Mereka harus istirahat." Ujar Amira.
...******...
Agam sampai harus menggendong Arumi sampai ke kamar hotel. Karna Arumi seperti orang mati saat sedang tidur. Istrinya itu tidak mau membuka mata meski sudah si bangunkan berkali-kali.
Di bantu petugas hotel untuk membukakan pintu kamarnya. Agam kemudian membawa Arumi masuk ke dalam kamar.
Kamar besar itu si penuhi banyak bunga cantik dan kelopak mawar merah di atas ranjang.
Arumi pasti akan terkejut jika melihat kamar pengantinnya di siapkan sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik.
Agam merebahkan tubuh Arumi di ranjang. Wanita yang masih memakai gaun pengantin itu sama sekali tidak terusik meski tubuhnya di jatuhkan ke ranjang.
Agam menghela nafas sembari melepaskan high heels Arumi.
"Begini kalau menikahi anak kecil, baru jam 11 lewat sudah terbang ke alam mimpi." Gumamnya menggerutu.
Agam lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Hana memberi tau kalau di kamar itu sudah ada 1 koper berisi bajunya dan baju Arumi.