Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 45



Arumi menggandeng tangan Agam, dia menuntun pria itu ke arah sofa dan memintanya untuk duduk di sana. Agam tidak menolak ataupun protes, tapi dia tampak terpaksa duduk di sofa dengan menatap tajam pada Arumi.


Sementara itu, Arumi yang berdiri di depan Agam tampak menaikan baju yang dia pakai. Melihat tindakan konyol Arumi, Agam sontak berdiri dan mencegahnya.


"Apa yang kamu lakukan.?" Tanya Agam tak habis pikir. Arumi terlihat heran lantaran reaksi Agam tidak seperti biasanya. Harusnya pria itu senang saat Arumi akan membuka baju, tapi malah mencegahnya.


"Buka baju, memangnya apa lagi.?" Arumi balik bertanya.


"Om harus liat ruam merah di da-daku." Ujarnya sedikit kesal.


"Pintunya belum di kunci.!" Seloroh Agam seraya mendorong kening Arumi dengan telunjuknya, lalu beranjak ke meja kerjanya untuk mengunci pintu otomatis.


Arumi hanya bisa melongo, dia salah sangka pada Agam. Pada kenyataannya Agam tetaplah Agam, si duda dewasa yang tingkat kemesumannya di atas rata-rata. Di sodorkan tulang beserta daging, mana mungkin akan di sia-siakan begitu saja. Agam pasti tidak mau rugi.


"Sekarang kamu sudah bisa buka baju. Kalau perlu, turunkan juga roknya." Ujar Agam setelah pintu ruangan benar-benar di kunci.


Arumi makin melongo saja di buatnya. Mulut Agam benar-benar vulgar.


"Aku masih kecil Om, belum boleh buka-bukaan." Jawab Arumi meledek. Dia memilih duduk di sofa dan tidak berniat untuk membuka bajunya lagi. Sepertinya dia lebih tertarik untuk mengerjai Agam saat ini.


"Ck.! Kamu lupa sudah sering keluar.?" Celetuk Agam tanpa filter. Arumi langsung di buat tak berkutik. Dia kalah telak dan tidak bisa membalas ucapan Agam.


"Aku ingat, tapi Om yang mengajariku." Akhirnya Arumi menemukan jawaban setelah beberapa saat berfikir keras.


"Kamu yang mulai, Arumi." Agam menekankan kalimatnya. Dia lantas duduk di samping Arumi dan langsung mendorong bahu Arumi hingga gadis itu berbaring di sofa.


"Om,, jangan mesum dulu. Om harus lihat akibat perbuatan Om kemarin." Arumi berusaha mendorong dada Agam agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"Sudah jangan banyak protes, aku akan mengeceknya sendiri." Kini Agam malah menahan kedua tangan Arumi ke atas, dengan menggunakan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi di gunakan untuk menyingkap ke atas baju Arumi hingga sebatas leher.


"Ya ampun, aku seperti sedang di per ko sa.!" Arumi mendengus jengkel, tapi dia juga tidak bisa berkutik di bawah kungkungan Agam.


"Kenapa jadi merah begini.?" Tanya Agam heran. Dia memperhatikan beberapa ruam merah yang terlihat di bagian da -da Arumi. Ruam seperti alergi.


"Mana aku tau.! Ini gara-gara Om yang mengoleskan minyak abal-abal.!" Arumi mencebikkan bibir.


"Minyak mahal Arumi, bukan minyak abal-abal.!" Tegas Agam. Pria itu tidak terima minyak yang dia beli dengan harga mahal di sebut abal-abal oleh Arumi. Walaupun faktanya da-da Arumi jadi banyak ruam setelah memakai minyak itu.


"Tapi da-daku jadi begini Om. Kalau bukan abal-abal, lalu apa.?" Protesnya.


"Oh,,, jangan-jangan minyak yang Om beli itu minyak palsu. Om ditipu." Ujar Arumi. Dia bicara sesuai fakta yang ada meski itu hanya dugaan sementara. Karna Agam bersikeras jika minyak itu di beli dangan harga mahal.


"Sialan,,! Edwin pasti menipu ku.!" Gerutu Agam dan langsung turun dari sofa.


"Apa.? Kak Edwin.?!" Dua bola mata Arumi nyaris melompat dari tempatnya. Pikirannya langsung kacau setelah Agam menyebutkan nama Edwin.


"Aku menyuruh Edwin membeli minyak itu." Jelas Agam.


"Aaaaargh,,!!" Seperti jatuh di tengah keramaian, Arumi berteriak seraya menutup wajahnya. Tiba-tiba dia sangat malu dan serasa kehilangan mukanya.


"Astaga Om Agam.!" Tegas Arumi seraya membenarkan posisinya untuk duduk.


"Kenapa harus menyuruh Kak Edwin membeli minyak itu.? Mau di taruh dimana mukaku.?" Keluh Arumi dengan wajah yang lesu dan frustasi.


"Pantas saja tadi saat berpapasan dengan Kaka Edwin di depan ruangan, tatapan terlihat aneh." Ujar Arumi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri sampai berantakan.


"Om.! Mau taruh dimana mukaku kalau bertemu Kak Edwin nanti.?" Arumi merengek. Kali ini dia benar-benar menahan tangis karna malu.


Melihat Arumi yang gusar dan frustasi karna perkara minyak pembesar, Agam hanya menghela nafas berat.


"Untuk apa di pikirkan.!" Ujar Agam enteng. Tapi Arumi tidak bisa acuh begitu saja. Walaupun berpura-pura tidak tau, tapi tetap saja dia akan malu jika bertemu dengan Edwin.


"Pokoknya aku nggak mau pakai minyak-minyakan lagi.!" Arumi mencebik kesal. Dia bergeser menjauh dari Agam sebagai bentuk kekesalannya pada pria itu.


Ruam merah di da-danya kini bukan jadi masalah lagi bagi Arumi. Dia lebih frustasi memikirkan harga dirinya di depan Edwin.


Entah apa yang ada di pikiran Edwin saat tadi melihat Arumi. Pria itu pasti berfikir kalau Agam tidak puas dengan da -da Arumi yang kecil, sampai memutuskan membeli minyak pembesar.


"Kalau begitu yang alami saja." Agam menarik tangan dan pinggang Arumi hingga gadis itu berpindah ke pangkuannya.


"Lepas Om. Aku lagi nggak mood berbuat mesum.!" Agam hampir terkekeh mendengar perkataan Arumi.


"Yakin nggak mood.? Bagaimana kalau di cium disini." Agam langsung membenamkan wajah di leher Arumi dan menjadikan leher putih itu sebagai sasarannya untuk dihujani ciuman. Sesekali meng hi sap pelan dan membuat tubuh Arumi menegang hingga mengeluarkan de sa han tertahan.


"Om, hentikan.! Pikiran dulu bagaimana caranya menghilangkan ruam merah itu.!" Kini Arumi menodong bahu Agam sekuat tenaga dan berhasil menyingkirkan wajah Agam dari lehernya.


"Periksa ke dokter saja. Aku akan mengantarmu nanti." Jawab Agam tanpa mempertimbangkan bagaimana dampaknya untuk Arumi.


Gadis itu pasti akan semakin kehilangan muka kalau sampai pergi ke dokter.


"Nggak mau.! Aku akan malu kalau dokter itu tau penyebab ruam merah di da-daku karna minyak pembesar." Jawab Arumi dengan ekspresi frustasi.


"Pakai masker saja kalau malu.!" Celetuk Agam geram. Dia jadi pusing sendiri mendengar keluhan Arumi.


"Om,, aku serius." Arumi merengek dan memeluk lengan Agam. Dia juga menyenderkan kepalanya di bahu Agam.


"Tunggu 2 hari lagi. Kalau ruamnya nggak berkurang, kamu harus tetap pergi ke dokter." Ujar Agam memberi solusi. Nada bicara yang terdengar serius dan lembut, sontak membuat Arumi mendongak menatapnya.


Entah kenapa hatinya tiba-tiba teduh setelah mendengar suara Agam yang tidak seperti biasanya.


Bersamaan itu, Agam juga menunduk dan tatapan mata mereka bertemu.


"Kenapa liat-liat.?" Tegur Agam dengan dahi berkerut.


Arumi menggeleng seraya mengulum senyum, dia semakin menempelkan kepalanya dan mendekap erat tangan Agam.