
Arumi dan Amira sedang berada di ruang keluar, mereka menonton televisi dan membicarakan hal-hal ringan yang sudah lama tidak mereka lakukan sejak Arumi menikah.
Sampai akhirnya bunyi bel membuat Arumi buru-buru beranjak dari sofa.
"Itu pasti Kak Agam, aku buka pintu dulu Mah." Arumi tampak antusias dan senang, berfikir seseorang yang datang pukul 10 malam itu adalah suaminya. Agam memang tidak memberinya kabar kapan dia akan kembali ke Bandung, pasalnya ponsel Agam saja tidak bisa di hubungi. Tapi Arumi yakin Agam bisa pulang malam ini juga.
"Say,,," Arumi langsung mengatupkan rapat-rapat bibirnya. Panggilan sayang yang tadinya untuk menyambut sang suami, kini tertahan di tenggorokan. Wajah berbinarnya perlahan mulai meredup, berganti ekspresi tak suka melihat seseorang di depannya.
Seseorang itu telah menggoreskan luka di hati, meninggalkan perasaan trauma yang tidak bisa di hindari. Juga kebencian pada sosok yang tidak seharusnya di benci. Tapi itu bukan salah Arumi jika di hatinya tumbuh rasa benci. Bagaimanapun perbuatannya cukup tak berperasaan.
"Sayang,,, kamu juga tinggal disini.?" Dia tersenyum teduh menatap sang putri. Matanya berbinar penuh kerinduan setelah 1 minggu tidak bertemu.
"Untuk apa Papa datang.?! Bukankah sedang sibuk mengejar wanita murahan tidak tau diri itu.!" Sinis Arumi dengan perasaan yang berkecamuk. Untuk pertama kalinya dia bicara sinis dan mengeluarkan kata-kata kasar di depan orang tuanya. Tanpa ada maksud kurang ajar, Arumi hanya mencoba mengungkapkan suara hatinya atas rasa kecewa yang dia terima.
"Arumi,, jangan bicara seperti itu." Pinta Andrew memohon, tatapannya semakin sendu, apalagi dia bisa melihat kebencian di mata putrinya.
"Kenapa.? Papa sakit hati karna aku menghina wanita simpanan itu.?!" Seru Arumi tak habis pikir, entah racun apa yang sudah di masukkan kedalam otak sang Papa oleh wanita itu, sampai-sampai Papanya lebih memilih wanita itu di banding keluarga yang sudah menemaninya sejak belasan tahun.
Dalam hati Arumi mengumpat kasar wanita itu sekalipun dia belum pernah bertemu dengannya. Gara-gara wanita murahan itu, keluarganya jadi hancur berantakan.
"Bukan begitu sayang,, tapi semua ini salah Papa, dia tidak sepenuhnya bersalah." Arumi malah tersenyum kecut mendengar pembelaan dari mulut Papanya untuk wanita itu. Entah wanita itu yang sangat berusaha keras untuk menggoda, atau memang Papanya mudah berpaling.
"Papa minta maaf,," Andrew berlutut di depan Arumi dan hendak meraih tangannya, tapi gerakan itu di sadari oleh Arumi dan dia langsung mundur.
"Untuk apa Papa minta maaf kalau pada saat melakukannya tidak memikirkan perasaan aku dan Mama.!" Arumi tersenyum sinis, sepertinya dia salah mengagumi seseorang selama belasan tahun. Bagaimana bisa dia mengagumi sosok Papanya yang pada akhirnya menciptakan kehancuran dan merenggut kebahagiaan dalam sekejap.
"Aku benar-benar kecewa.! Sebaiknya Papa pergi saja dan temui aku.!" Teriak Arumi penuh kekecewaan dan amarah yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Arumi,, ada apaaa,,," Suara Amira mengambang begitu melihat sosok pria yang telah menghancurkan hati dan perasaannya.
Amira buru-buru menghampiri putrinya, membawa Arumi dalam dekapan karna putrinya itu tiba-tiba menangis.
"Aku nggak mau lihat Papa lagi Mah,," Suara Arumi tercekat. Benci, kecewa, dan muak, itu yang tengah di rasakan oleh Arumi. Tidak peduli dia akan di sebut anak durhaka karna tidak mau bertemu dengan orang tuanya lagi. Asalkan itu berdampak baik pada psikisnya, lebih baik memang tidak bertemu sama sekali.
"Amira,,," Andrew menatap pilu, matanya mulai berkaca-kaca. Mendengar putrinya berkata tidak ingin melihatnya lagi, tentu hal itu menjadi pukulan terberat bagi Andrew.
Dia sadar perbuatannya mampu menghancurkan mental anaknya sampai tidak sudi melihatnya lagi.
Amira menatap datar suaminya. Sekilas dia memejamkan mata dan menarik nafas berat.
"Sebaiknya kamu pergi." Usirnya demi menjaga perasaan putrinya.
Andrew dengan cepat menggelengkan kepala.
"Kita harus bicara,," Pintanya memohon. Wajahnya tampak sendu dan frustasi.
Amira menyuruh Arumi berbaring di ranjang. Dia mengusap air mata putrinya kemudian menyelimuti tubuhnya. Tak lupa mendaratkan kecupan di kening Arumi.
"Fokus saja pada kebahagiaan kamu dan rumah tanggamu. Jangan menjadikan hal ini sebagai beban yang akan menghambat kebahagiaan kamu, sayang." Ucap Amira lembut. Dia sadar putrinya sangat sayang dan peduli padanya, namun Amira tidak mau melihat Arumi sedih karna masalah ini.
"Kamu lihat, Mama baik-baik saja." Ujarnya sembari tersenyum lebar untuk meyakinkan Arumi.
"Dunia Mama bukan hanya untuk Papamu, Mama akan jauh lebih sakit kalau melihatmu sedih." Amira mengusap lembut pipi putrinya dan menatap teduh.
Arumi mengangguk mengerti.
"Tetap di sini dan istirahat." Ujarnya kemudian beranjak dari sisi ranjang. Amira akan menemui Andrew dan menyelesaikan permasalahannya sampai selesai.
"Mah,,," Arumi menahan tangan Amira.
"Ya sayang.?" Amira tersenyum teduh.
"Lupakan Papa, Mama harus bisa memulai hidup baru dan lebih bahagia dari sebelumnya." Pinta Arumi penuh harap.
"Tentu saja. Mama akan bahagia selagi bisa melihat kamu bahagia." Amira menahan air matanya, padahal dia ingin menangis karna terharu dengan ucapan putrinya.
Saat ini hanya Arumi satu-satunya sumber kebahagiaan dan kekuatannya.
"Om William, bukankah dia sangat baik.? Aku rasa Om William bisa menjaga dan melindungi Mama."
Amira seketika tertegun, bagaimana bisa Arumi tiba-tiba membahas William dan berfikir William bisa menjaganya.
"Kamu bicara apa." Amira mengusap gemas pucuk kepala Arumi tanpa menanggapi lebih jauh ucapannya.
"Mama keluar dulu,," Dia bergegas keluar dari kamar Arumi dan menemui Andrew.
Rupanya pria itu sudah duduk di sofa ruang tamu dengan raut wajah yang tampak kacau.
"Kita sudah selesai kan.?" Amira membuka obrolan dan membuat lamunan Andrew buyar.
"Tolong tanda tangani surat cerainya dan semua berkas pengalihan aset." Ujarnya seraya mengotak-atik ponselnya untuk mengirimkan pesan pada William agar membawa surat cerai dan berkas pengalihan aset miliknya.
"Amira,, apa semuanya akan berakhir.?" Andrew menatap frustasi. Dia menyesal, tapi tidak bisa memutar waktu. Semuanya sudah terjadi.
"Kamu bertanya seolah lupa dengan kesalahanmu." Amira tersenyum kecut. Entah apa yang ada dalam pikiran Andrew sampai menanyakan hal konyol seperti itu. Andrew pikir dia akan memaafkan kesalahannya dengan mempertahankan rumah tangga mereka.
"Aku sudah ikhlas kamu bersama Sofia, seharusnya kamu bahagia." Sindirnya.
Andrew di buat bungkam dan menunduk lesu. Dia akan kehilangan Amira dan Arumi, bahkan di benci oleh mereka.