
Semalam Agam memutuskan pulang dari rumah Arumi. Dia hanya pamit pada Andrew yang kebetulan turun dari kamarnya tak lama setelah Arumi naik.
Tanpa ada niatan untuk membujuk ataupun menjelaskan lebih detail dengan tunangannya, karna Agam merasa sudah memberikan jawaban yang sebenarnya. Dia memang tidak sengaja bertemu dengan Livia di jalan. Baju wanita itu tempak basah, Agam memberikan jaketnya untuk di pakai Livia. Tidak ada maksud tertentu, hanya karna kasihan saja.
Pagi ini Agam sudah bersiap untuk terbang lagi ke Batam. Di antar supir keluarga Airlangga, pria itu meminta untuk di antara ke rumah Arumi dulu sebelum ke bandara.
Sejujurnya Agam enggan membuang waktu hanya untuk membujuk Arumi. Tapi mengingat gadis itu baru saja merayakan ulang tahunnya, Agam merasa kasihan jika membuat gadis itu terus berfikir macam-macam dan sedih.
Ponsel Arumi juga tidak bisa di hubungi sejak semalam. Menonaktifkan ponsel adalah jurus andalan Arumi ketika sedang kesal padanya.
Satpam penjaga rumah Arumi membukakan pagar yang menjulang tinggi setelah Agam menurunkan kaca mobil.
Agam tidak yakin pemilik rumah sudah bangun karna sekarang masih pukul setengah 6 pagi.
"Den Agam.?" Ujar seorang ART setelah membukakan pintu. Dia agak bingung melihat Agam datang pagi-pagi buta.
"Saya mau bertemu Arumi sebentar."
ART itu lalu mempersilahkan Agam untuk masuk. ART itu bahkan berencana membangunkan Arumi yang memang masih tidur. Namun Agam melarangnya karna dia sendiri yang akan membangunkan Arumi.
Agam sudah berdiri di depan pintu kamar Arumi. Dia hanya berani mengetuk pelan pintu kamar itu karna takut membangunkan kedua orang tua Arumi. Meski jarak kamar keduanya tidak terlalu dekat.
"Coba buka saja Den, biasanya Nonton Arumi suka lupa mengunci pintu." Ujar ART yang rupanya menghampiri Agam karna melihat Agam terus mengetuk pintu.
Mendengar penuturannya, Agam sontak menggerakkan handle pintu untuk membukanya.
"Dasar ceroboh." Agam bergumam lirih lantaran pintu kamar Arumi benar-benar tidak di kunci. Dia dengan mudah bisa membukanya.
Agam segera masuk, dia membiarkan pintu kamar tetap terbuka agar tidak membuat ART itu berfikir macam-macam. Walaupun sang ART juga tidak akan mengusik privasi majikannya.
Agam berhenti tepat di sisi ranjang Arumi. Tubuh gadis itu meringkuk di atas ranjang sembari memeluk guling.
Dalam balutan baju tidur pink motif strawberry, Arumi seperti bocah di bawah 12 tahun. Agam sampai geleng-geleng kepala melihat baju tidur yang melekat di badan Arumi. Dia seperti akan menikahi anak-anak di bawah umur.
"Arumi, bangun." Agam menggoncang kaki Arumi. Suara berat dan nada bicaranya yang tinggi, mampu mengusik kedamaian Arumi yang terlelap.
Tubuh gadis itu menggeliat. Baju tidur dengan celana pendek itu semakin tersingkap ke atas saat kaki Arumi bergerak. Paha mulusnya yang putih bersih seperti melambai-lambai pada Agam untuk disentuh. Sebagai pria normal, bohong jika Agam tidak tergiur. Dia bahkan sudah menelan ludah beberapa kali.
"Arumi.!" Panggilnya lagi. Suaranya lebih keras dan berhasil membuat Arumi membuka kedua matanya.
Kedua kelopak mata Arumi mengerjap beberapa kali. Dia bengong melihat Agam tengah berdiri di dekat ranjangnya.
"Ini mimpi atau bukan,," Gumamnya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Menurutmu.?" Ujar Agam.
"Aku harap cuma mimpi. Karna Om Agam di dunia nyata sangat menyebalkan." Tutur Arumi. Bibirnya mencebik kesal. Agam di dalam mimpinya selalu bersikap romantis dan lembut padanya, berbanding terbalik dengan Agam di kehidupan nyata.
"Memangnya kalau di mimpi, aku seperti apa.?" Agam mendekat, dia duduk di sisi ranjang dan mengungkung tubuh Arumi. Gadis yang belum sepenuhnya sadar itu hanya bisa diam dan mengerjapkan mata berkali-kali.
"Se,,seperti ini,," Arumi menjawab terbata. Dia mendadak grogi lantaran tatapan mata Agam semakin intens. Belum lagi jarak wajah mereka cukup dekat.
"Apa seperti ini juga.?"
"Kenapa diam.?" Tanya Agam. Dia makin menjadi-jadi untuk mengerjai Arumi. Tangannya mulai menyusuri pipi, rahang dan leher Arumi. Gadis yang berbaring tegang itu hanya diam saja.
Dia masih sulit untuk mencerna apa yang terjadi padanya. Dan bingung membedakan mimpi atau kenyataan.
Agam semakin mendekatkan wajahnya, sedangkan mata Arumi reflek terpejam. Detik berikutnya Agam sudah me lu mat pelan bibir Arumi. Dia menye sap lembut untuk beberapa detik dan buru-buru menjauhkan wajahnya karna ingat pintu kamar Arumi terbuka lebar.
"Masih marah soal semalam.?" Tanya Agam.
Saat itu juga Arumi sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi. Arumi lantas melirik jam dinding, dia terkejut melihat jam yang baru menunjukan pukul setengah 6 pagi.
"Om menginap di rumahku.?" Tanya Arumi penasaran. Rasanya tidak mungkin sepagi ini Agam sudah berada di rumahnya, kecuali tadi malam Agam menginap.
"Kalau aku menginap, mungkin dari semalam aku sudah masuk ke kamarmu." Jawaban Agam secara tidak langsung mengatakan kalau dia tidak menginap di rumah Arumi.
"Banyak orang lain di rumah ini, kenapa pintu kamarnya nggak di kunci.?" Tegur Agam.
Arumi mengubah posisinya dengan duduk bersender di kepala ranjang.
"Aku lupa." Jawabnya singkat.
"Om mau apa kesini.?" Nada bicara Arumi langsung berubah ketus. Moodnya turun karna kembali mengingat pesan dari Livia di ponsel Agam.
"Membujukmu, memangnya mau apa lagi." Jawab Agam.
"Kamu berharap aku berbuat sesuatu.?" Godanya. Arumi reflek melayangkan pukulan di lengan Agam.
"Aku kesal sama Om.! Sebaiknya Om pulang saja." Arumi membuang pandangan ke arah lain, padahal dia juga rindu pada pria itu. Semalam baru 1 jam dia berada di samping Agam dan bisa menatap wajahnya. Gara-gara pesan dari Livia, semuanya jadi kacau.
"30 menit lagi aku ke bandara." Ujar Agam memberi tau. Dia akan melakukan penerbangan pukul 7 pagi.
Arumi kembali menatap Agam. Sorot matanya jelas menunjukkan kesedihan.
"Jadi Om benar-benar akan ke luar kota lagi.?" Tanyanya sendu.
"Hum. Apa kamu masih mau menyuruhku pergi sekarang.?" Agam kembali menggoda Arumi.
Gadis itu menggeleng malu. Arumi sendiri bahkan bingung dengan perasaannya. Dia kesal pada Agam, tapi rindu juga padanya.
"Kemari." Agam menepuk sisi kosong di sampingnya. Arumi menurut, dia bergeser dan duduk di sebelah Agam.
"Untuk apa menyiksa diri sendiri dengan kecemburuan." Ujar Agam.
"Aku sudah jelaskan padamu, kenapa masih marah." Lirihnya.
"Aku cemburu karna Om perhatian sama wanita lain tapi acuh padaku."
"Salahnya dimana kalau aku marah.?" Arumi menatap intens.
"Oke aku minta maaf." Ucap Agam yang memang tidak mau kekesalan Arumi terus berlanjut.
"Percuma minta saja minta maaf kalau Om masih seperti itu." Arumi beranjak, dia berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tapi baru beberapa langkah, Agam sudah menahannya dan menyambar bibir Arumi.