
"Keylan
berangkat dulu, Ma." Ucap Keylan sambil mencium tangan sang Mama. Sang
mama hanya mengangguk sambil membalas salam setelah itu.
Keylan
keluar dari rumah, menuju Raka yang tengah duduk dengan nyaman diatas motornya.
Hari ini Raka tak memberikan motornya pada Keylan, alasanya karena ia takut
motor cantiknya dibawa ngebut oleh Keylan yang dianggapnya seperti motor gede
miliknya sendiri.
"Sini
gue bawa, lu bawa motor lambat banget." Pinta Keylan pada Raka.
"Enggak,
enggak mau. Nanti malah kamu buat ngebut lagi." Kata Raka sambil membawa
motornya itu berjalan. Meskipun benar yang dikatakan Keylan bahwa ia membawanya
sedikit terlambat.
Raka terus
membawa motornya melaju perlahan, di belakang Keylan sibuk dengan dunianya
sendiri. Bermain ponsel, kadang bernyanyi tak jelas, membuat Raka ingin
membungkus mulut Keylan yang banyak bicara.
"Lu
bisa diam gak?!" Teriak Raka.
"Enggak!"
Teriak Keylan lagi membalas teriakan Raka.
Raka
mengacuhkan nya lalu memfokuskan diri pada motornya sendiri. Saat seperti itu
entah kenapa ia jadi teringat pada gadis bernama Ayu ditemuinya tempo hari.
Bukan
ditemui tapi ia yang membuatnya sampai terjatuh dan menabrak trotoar.
Tak berapa
lama mereka sampai di sekolah. Tepat saat lonceng jam pertama di mulai Keylan
masuk ke dalam jam kelas nya begitu juga dengan Raka.
Dengan
sedikit terburu karena dibelakangnya ada Pak Azmi, Keylan memacu langkahnya.
Kemudian...
Jam
pelajaran pertama dimulai, Keylan nampak bosan dengan pelajaran yang tak pernah
ia sukai itu.
Itu
alasannya ia hanya tertidur di belakang agar pak Azmi tak melihatnya, karena
jika melihat pak Azmi akan mengatakan sesuatu yang bisa merusak gendang
telinganya dan berakhirnya dengan hukuman.
Hampir dua
jam kemudian dibarengi dengan ocehannya, Pak Azmi keluar dari kelas, Keylan
sudah dengan cepat berlari menuju kantin.
Padahal
masih ada pelajaran jam kedua dilaksanakan, tapi Keylan tak peduli dengan hal
itu, yang penting ia pergi kekasih agar cacing yang ada perutnya tak terus
memukul kulitnya.
Sesampainya
di kantin, Keylan memesan makanan, dan minuman. Setelah makannya selesai ia
menikmati nya seperti kekurangan makanan.
Saat ia
menikmati makanan itu, dua orang laki laki datang menghampiri nya berdiri tepat
didepan meja nya.
"Lu
Keylan, kan?" tanya salah satu dari laki laki itu, dari tag name nya
bernama Brian.
Keylan
menoleh dan mendongakkan wajahnya, memperhatikan siapa yang mengajaknya
berbicara saat tengah menikmati makanan.
"Iya,
gue Keylan. Ada apa ya?" tanya Keylan balik, tanpa rasa canggung sedikit
pun.
"Sombong
banget cara bicara lu, lu gak tau kita siapa?" kata teman Brian, Keylan
menggeleng kan kepalanya. "Kita ini kakak kelas mu."
"Terus?"
kembali tanya Keylan.
"Gue
lagi dekat sama Aresti, dan katanya lu juga ikut balapan motor buat dapetin
Aresti." Kata Brian. Keylan kembali mengangguk kan kepalanya. "Lu gak
usah berlagak deh, karena lu pasti kalau sama gue."
"Yakin
"Gak
mungkin."
"Gak
ada yang gak mungkin." Kata Keylan.
Brian
memanas, tapi ia membingungkan dirinya untuk membalas ucapan Keylan, apalagi
temannya menghalangi untuk melakukan tindak kekerasan.
Kemudian
Brian dan Temannya berlalu pergi meninggal Keylan yang kembali sibuk dengan
makannya.
Keylan
seperti tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Brian, karena ia memang tak
pernah perduli dengan apapun.
%%%
Siang hari,
saat tanda jam pelajaran telah usai. Keylan sudah menunggu Raka ditempat parkir
motor, sementara Raka masih belum muncul.
Saat itulah
Aresti tiba tiba saja muncul dan datang menemuinya.
"Jangan
lupa besok malam." Aresti mengingatkan perlombaan yang di adakan besok
malam.
"Tenang,
gue gak bakalan lupa. Karena gue sudah menantikan hari ini." Kata Keylan
dengan bangganya.
"Kalau
lu sampai kalah, lu tau konsekuensinya kan,"
"Tau,
tapi gue gak bakalan kalah. Gue pasti menang dan kita bakalan pacaran. Catat
baik baik tanggal jadian kita besok."
Aresti tak
peduli, kemudian berlalu pergi meninggal kan Keylan sendiri. Dan tak berapa
lama Raka datang menghampiri Keylan.
Dengan
cepatnya Raka membawa motornya berlalu pergi sekolah sana.
Didalam
perjalanan entah kenapa tiba tiba saja Keylan teringat Brian dan juga Aresti.
Jika Brian mengatakan hal itu, berarti ia bukan hanya dirinya yang berikan
kesempatan untuk menjadi kekasihnya. Berarti Aresti banyak yang menyukainya.
Mengingat
semua itu entah kenapa ia mulai tak tertarik dengan ucapan Aresti dan tak
tertarik akan menjadi kekasihnya lagi.
"Heh lu
ngapain?" tanya Raka pada Keylan sambil menggoyangkan pundaknya.
"Gak
apa apa. Emang kenapa?" tanya Keylan.
"Dari
tadi lu ngelamunin apa? Diam aja lu kayak kurang vitamin."
"Gue
jadi gak tertarik buat ikut balapan itu." Kata Keylan lagi, sekarang
sedikit melemas.
"Loh
kenapa?" tanya Raka balik, malah jadi penasaran.
"Tadi
Brian kakak kelas kita ngomong kalau dia bakalan dapetin Aresti setelah
ngalahin gue balapan."
"Terus?"
selidik Raka.
"Apa
bukan hanya gue yang dikasih syarat buat ngelakuin itu agar bisa pacaran sama
Aresti?"
"Udah,
lu gak usah mikir yang aneh aneh." Kata Raka berusaha memberikan saran
pada Keylan.
meskipun
Keylan masih memikirkan apa yang dikatakan Brian tadi.
Setelah
berapa lama mereka pulang, akhirnya keduanya sampai kerumah. Dengan perasaan
malas ia masuk kedalam rumah, Kesya yang melihat ada yang tidak beres pada sang
anak malah menjadi penasaran.