
Dua hari sebelumnya.
Bian tertangkap pihak kepolisian setelah buron lebih dari dua minggu, saat ditemukan Bian tengah dalam keadaan mengiap disebuah hotel . Ketika keluar dari mobil polisi dengan borgol plastik ditangannya, sudah banyak sekali wartawan yang menunggu untuk meminta kejelasan tentang kasus yang menimpanya.
Sebagai pengacar sukses yang kondang dengan banyak masalah yang telah ia tangani, ia berlagak bak artis. Dan pantas saja saat mendengar bahwa seorang Biandra Arya Wijaya terkena kasus suap hakin, wartawan berburu headline newa untuk berita mereka.
Dari berbagai statisun televisi, masalah, dan surat kabar semua berkumpul, mereka mewawancarai seperti orang yang tengah menginterogasi.
“Pak Bian apa benar, bapak yang melakukan suap?”
“Apa suap itu bapak lakukan untuk membantu sidang Lesmana?”
“Apa pak Bian sengaja kabur dari kepolisian?”
“Bagaimana dengan rencana pernikahan pak Bian?”
Dan banyak pertanyaan lagi, hingga mulut mereka berhenti saat Bian sudah berada didalam kantor polisi, didalam sana ada Nyonya Mira dan Renata yang sudah menunggu sejak berita penangkapan Bian itu kabarkan.
“Pak, saya mau bicara dengan Bian.” Ucap Nyonya Mira pada seorang polisi yang membawa Bian.
Sang polisi mengangguk lalu meninggalkan Bian, dengan mama dan adiknya.
“Ma, maafin Bian, ya?” Ucap Bian dengan mata yang berkaca-kaca.
Nyonya Mira menahan air matanya, melihat anak lelakinya yang menjadi terdakwa ia begitu sedih.
“Ini resiko pekerjaanmu, Bian. Mama sudah mengatakan untuk tidak bermian-main dengan yang namanya uang, kan.”
“Iya, Ma. Bian nyesel . Bian minta maaf.” Perkataan Bian begitu tulus pada mamanya.
Memang awalnya ia tak pernah ingin menyuap ataupun disuap, tapi karena bayaran yang ditawarkan Lesmana ia begitu tergiur dan tanpa sadar menyetujinya, apalagi Reno juga akan bersedia membantunya jika terkena masalah.
“Bgaiaman dengan Kesya, Ma?” sambung Bian kemduian saat ia teringat dengan Kesya.
Mendengar nama Kesya refleks tangan Nyonya Mira menampar wajah Bian. Bian hanya bisa diam, ia tahu ia salah telah meninggalkan Kesya lebih dari tiga minggu dan Kesay pasti mencarinya.
“Mungkin tamparan itu bisa menjawab pertanyaanmu, bagaimana keadaan Kesya sekarang. Jika kamu menjadi tersangka nanti, Kesya akan menikah sama siapa, Bian.” Kata Nonya Mira sambil kini menhana amarahnya.
Bian terdiam. Ia masih memikirkan soal Kesya, tapi ia terlalu takut untuk menemui Kesya, bahkan ia sengaja memblok nomor Kesya, meminta semua teman dan siapapun yang kenal Kesya untuk tak berbicara apapun tentangnya.
“Katakan maaf Bian pada Kesya,Ma.”
Nyonya Mira terdiam, sambil mengangguk pelan.
Kemduian seorang polisi mengatakan bahwa Bian akan segera diperiksa, maka ia membawa Bian pergi meninggalkan mama dan Renata.
Dari kejauhan sebuah pintu kaca, nampak sebuah mata layaknya burung hantu yang mengintai, bibirnya tersenyum jahat sambil berucap, “Ini masih permulaan Biandra.”
%%%
Siang ini. Sekarang.
Kevano menarik tangan Kesya, sambil mengetuk pintu rumah orang tua Kesya. Kevano dengan wajah datarnya tanpa ekspresi, sementara Kesya gudup dan sedikit gemetar.
Tak berapa lama seorang perempuan paruh baya membukakan pintu, Nyonya Susan ibu dari Kesya. Nyonya Susan nampak bingung dengan kedatangan mereka berdua, tapi tetap membawanya masuk.
“Om ada tante?” tanya Kevano pada Nyonya Susan.
“Ada, kenapa?”
“Boleh saya berbicara sebentar?”
Nyonya Susan mengangguk, ia kemudian berlalu pergi smabil menarik tangan Kesya dan meninggalkan Kevano sendirian diruang tamu.
Sebelum memanggil Tuna Susanto, Nyonya Susan lebih dulu mengajak Kesya berbicara.
"Nur, anak itu siapa?" Tanya Nyonya Susan saat mereka sudah menjauh dari Kevano.
"Kevano, Ma." Jawab Kesya berusaha tenang.
"Mama panggil Papa saja, nanti Mama tahu siapa dia."
Mendengar perkataan Kesya itu Nyonya Susan hanya bisa terdiam, lalu berjalan pergi mencari wang suami yang berada diruangan kerjanya.
Tak berapa lama Tuan Susanto berjalan menemui Kevano dengan tanda tanya yang sama seperti Nyonya Susan.
"Siang, Om." Sapa Kevano dengan ramah dan menyalami tangan Tuan Susanto.
Tuan Susanto menyalami tangan Kevano, "Siang juga. Siapa ya?"
"Saya Kevano, Om."
"Ada apa ya Kevano?"
"Saya mau melamar Kesya," Ucap Kevano kemudian.
Tuan Susanto terdiam sesaat, Nyonya Susan yang menguping ikut kaget dengan ucapan Kevano itu, bocah kecil itu berbicara ngelantur dan aneh.
"Apa maksud kamu?" Tanya Tuan Susanto bingung.
"Saya suka sama Kesya, dan saya ingin menjadi suaminya."
"Jangan main-main ya, Kesya sudah mau menikah sama Bian, lagi pula kamu ini masih anak-anak mau ngelamar segala."
Tuan Susanto tak habis pikir waktunya terbuang mendengarkan ucapan aneh dari bocah yang tiba-tiba saja datang menemuinya. Apalagi ia meminta untuk menikah dengan Kesya, itu tidak mungkin terjadi Kesya sudah memiliki calon suami, seminggu lagi mereka menikah.
"Tapi, Bian sekarang ditangkap Om. Dan pernikahan Kesya tinggal seminggu lagi."
Mendengar ucapan Kevano itu Tuan Susanto mulai tersadar, betul apa yang dikatakannya.
"Lalu kenapa kamu mau menikahi anak saya, nanti bagaimana kalau Bian kembali?"
"Saya akan bertanggungjawab atas kelakuan Bian pada Kesya, agar pernikahannya berjalan, jika sampai batal itu akan membuat keluarga Om malu."
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Kevano semua dibenarkan oleh pikirannya, tapi Tuan Susanto belum bisa menerima sepenuhnya. Ia belum mengenal siapa dan dari mana asal usulnya bocah yang mengaku Kevano itu.
"Nur," Panggil Tuan Susanto, ia tahu Kesya menguping dibalik dinding sejak tadi.
"Iya, Pa?" Ucap Kesya berjalan menuju papa dan Kevano yang berada diruang tamu.
"Jelaskan pada Papa, apa maksudnya semua ini," kata Tuan Susanto.
Kesya yang duduk disamping Kevano terdiam, tak menjawab perkataan papanya, ia bingung harus melakukan apa. Melihat tingkah Kesya, Kevano kemudian menggenggam tangan Kesya perlahan.
"Kesya mau nikah sama Kevano, Pa." Ucap Kesya kemudian, dengan wajah yang menunduk.
"Tapi, kenapa?" Tanya Tuan Susanto tak percaya.
"Pa, Kesya tak mungkin membatalkan pernikahan ini. Semua sudah dipersiapkan, Pa."
"Papa tahu itu, tapi kenapa harus sama anak kecil. Apa gak ada laki-laki lain."
Kesya menggeleng.
"Maaf om, mungkin saya masih kecil tapi saya laki-laki, saya bisa menjaga Kesya dari orang-orang seperti Bian ataupun yang lainnya. Saya dari keluarga Putra, tempat dimana Kesya bekerja. Bukan itu yang ingin saya banggakan, tapi setidaknya om tahu bahwa saya bukan berandalan." Papa Kevano, tuan Susanto mendengar dengan seksama.
Entah apa yang dipikirkan Tuan Susanto, rasanya ia mulai luluh dengan ucapan bocah itu. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan saat berbicara dengan Bian.
Memang semua yang dikatakan Kevano benar, jika pernikahannya anaknya gagal taruhannya adalah malu keluarganya. Tapi, jika ia mempersilahkan pernikahannya apa itu tidak membuat masalah baru.
Meskipun kepalanya banyak sekali dengan pertanyaan, tapi kepalanya mengangguk dan mulutnya mengucapkan kata setuju.
Mendengar ucapan itu Kesya dan Kevano terlihat bahagia. Kesya benar-benar bahagia awalnya keputusan menikah dengan Kevano terpaksa, tapi entah kenapa semuanya berubah.
Kesya sudah menyukai Kevano, jauh sebelum tragedi itu terjadi, tapi karena ia sudah berpacaran lama dengan Bian ia gak mungkin melepaskannya. Dari keduanya harus ada yang mengalah dan berpisah.