My Berondong Husband

My Berondong Husband
#87 Ruben Menikah



**Undangan untuk para readers...


Kita serbu pernikahan Ruben**!


Setelah acara lamaran yang berlangsung beberapa minggu lalu, hari ini tepat pukul delapan pagi di kediaman keluarga Putra, sebuah pesta pernikahan digelar penuh kesakralan.


Ruben Arkano Putra, anak pertama dari keluarga Putra melangsungkan akad sekaligus resepsi. Pemilihan dekorasi serba warna putih, menyatu dengan nuansa hikmat dari kedua mempelai dan para tamu undangan.


Shiha dan Ruben sama-sama menggunakan setelan putih polos, berjas dan berkebaya. Ruben nampak gagah, sedikit kurus karenna diet ketat yang ia lakukan beberapa minggu sebelum hari H. Sementara Shiha tetap cantik dengan balutan baju yang membuat wajahnya semakin nampak memesona.


Para tamu undangan, dari kerabat, saudara, teman sekantor, relasi, dan juga karyawan hadir semu disana, menyatu dengan indahnya.


Ruben talh dulu duduk disebuah banku, didepannya nampak meja dengan beberapa kertas dan buku nikah, seorang penghulu sudah siap, ditemani dua saksi dari pihak laki-laki dan perempuan. Shiha berjalan pelan diiringi sang mama yang menggunakan kebaya meja.


Ruben tersenyum haru melihat calon istrinya nampak lebih cantik dari biasanya, Shiha pun ikut tersenyum. Setelah mengalami konflik internal akhirnya mereka dipertemukan dalam kidung pernikahan.


“Siap?” tanya sang penghulu pada Ruben. Ruben mengangguk.


Kemudian tuan Lutfi  menjabat tangan Ruben. “Ruben Arkano Putra, saya nikahkan dan kawinkan dengan putri saya yang bernama Shiha Lutfi Mahmudin, dengan mahar uang lima puluh juta dibayar tunai.”


Dengan sekali tarikan napas Ruben berucap mantap. “Saya terima nikah dan kawinnya Shiha Lutfi Mahmudin dengan mahar tersebut tunai!”


Teriakan dan uacapan sah kemudian menggema seisi ruangan saat itu. Shiha mencium punggung tangan Ruben, Ruben mendoakan lalu mencium kening Shiha.


Setelahitu sang penghulu meminta Ruben membaca ikrar pernikahan diatas sebuah kertas, yang berisi tentang apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan pada Shiha sesudah pernikahan sejak hari itu.


Sesuai ijab kabul, acara resepi dilangsunkan, para tamu undangan berganti bersalaman, tapi di tengah kerumuan itu Adrian dan Kevano malah sibuk sendiri.


“Jangan banyak-banyak ambilnya, Yan. Habis nanti.” Tergur Kevano saat melihat Adrian mengambil begitu banyak makanan yang tersedia disana.


“Bodo, ini kan gratis. Dari pada nanti gak kebagian, kan.” Kata Adrian sambil terus mengambil makanan itu, disana juga nampak ada Mili.


“Adrian habis ini bantuin cuci piring, ya.” Ucap Nyonya Gio pada Adrian.


“Ma, kok gitu. Enggak mau, ya.” Ujar Adrian setelah mendengar ucapan sang mama.


Kevano mengejek sambil menjulurkan lidahnya pada Adrian.


“Kevano juga.” Sambung nyonya Gio kemudian berlalu pergi.


Adrian tertawa mendengar saat Kevano juga disuruh untuk membantu mencuci piring setelah ini.


Malam Sebelum Hari  Pernikahan...


Malam itu Shiha tengah berada didalam kamarnya, sambil membuka lembaran pekerjaan yang belum ia simpan, padahal ia meminta cuti menikah.


Saat berada didalam kamar Mama dan Papanya datang kesana.


“Belum tidur, Nak?” tanya tuan Lutfi.


Shiha menutup lembaran itu lalu menatap kedua orang tuanya.


“Belum Pa, Ma. Bentar lagi. Ini lagian masih jam delapan malam.”


“Tapi, kurang dari dua belas jam lagi kamu akan melangsungkan pernikahan. Jadi kamu harus tidur.” Timpal Nyonya Lutfi sambil mengelus pelan rambut Shiha.


Shiha mengangguk.


“Pa,” Ucap Shiha tertahan. “Besok, Shihah pengen banget Papa yang nikahin Shiha sama Ruben, Shiha gak mau diwakilin.”


Tuan Lutfi tersenyum pada Shiha. Lalu mengangguk.


“Iya, pasti Papa yang akan nikah kan kamu. Karena kamu satu-satunya anak Papa.”


Shiha tersenyum mendengar ucapan itu, lalu tuan Lutfi berlalu pergi dari kamar Shiha, tinggal Shiha dan sang mama disana.


“Akhirnya besok kamu nikah juga sama anak dari pemilik perusahaan kaya raya.” Kata Nyonya Lutfi.


“Mama ya yang dipikirin uang dan kayanya orang.” Ujar Shiha wajahnya berubah masam mendengar ucapan sang mama.


“Mama ini bukannya mantre ya, tapi mau hidup kamu terjamin. Mau kaya atupun miskin bukan buat mama, tapi itu buat kebutuhan kamu sama keluargamu. Biar kamu gak merasakan namanya hidup susah.” Papar Nyonya Lutfi, Shiha kemudian tertunduk. Tak berapa lama Nyonya Lutfi berlalu pergi.


Shiha terrdiam memikirkan ucapan sang mama tadi, apa yang yang dikatannya tadi memang masuk akal, meskipun awalnya terlihat seperti mata duitan, tapi ternyata sang mama memikirkan nasibnya. Tentang dirinya agar tak kekurangan dalm berumah tangga.


Memang harta bukan segalanya, tapi tanpa uang kita tak bisa memiliki segalanya. Shiha pikir mamanya benar memilih kan calon yang cocok untuknya. Dilihat dari baik tidaknya, dan bagaimana nanti seorang perempuan yang sudah dibesarkan orangtuanya diberi kehidupan yang layak.


Shiah menghilangkan pikiran itu, ia kemudian fokus pada pekerjaannya kembali.


%%%


"Rame acara pernikahannya Bang Kano tadi ya, Yang." Ucap Kesya sambil memasukkan cemilan kedalam mulutnya.


"Iya rame, sampai pegal tanganku cuci piring. Lagian apa gak ada orang lain." Kata Kevano berusaha merenggangkan otot otot nya.


Kevano menyusul Kesya yang tengah duduk didepan televisi, lalu ikut mengambil cemilan yang Kesya makan.


"Ih, ganggu aja sih." Kata Kesya menarik bungkus cemilannya.


"Pelit." Ujar Kevano singkat.


"Bodo amat." Jawab Kesya.


Keduanya menikmati acara komedi itu sambil terus tertawa saat ada adegan yang menurut mereka lucu.


"Gak gimana gimana sih dianya." Jawab Kevano tanpa mengalihkan pandangannya dari arah televisi.


"Is maksudnya, udah move on belum dianya?"


"Oh begitu, enggak tau sih. Mungkin sudah aku lihat dia datang ke acara bang kano bawa cewek tuh." Kata Kevano.


"Semoga aja bisa move on, udah kayak ditinggal mati sama orang tersayang."


"Ya namanya juga udah cinta,"


"Kalau aku nanti mati, kamu merasa kehilangan gak?"


Kevano memicingkan mata nya menatap Kesya dengan tatapan aneh.


"Ngomong apa sih kamu yang. Gak jelas."


"Jelas dong, aku kan pengen tahu aja."


“Enggak jelas.” Ujar Kevano kemduian sambiol berdiri dan menuju dapur untuk mengambil minum. Kadang kadang sang istri pikirannya sedikit kacau.


Sementara itu orang yang sedang mereka bicarakan yakni Adrian tengah bersama dengan Mili disebuah danau.


Malam itu danau nampak indah dengan udara dingin yang berhenbus dari ujung keujung. Lampu-lampu jarang yang berada disamping danau nampak berbaur dengan bulan purnama malam itu. Indah dan begitu menenangkan.


Piyak!


Suara saat Mili melempar batu kedalam air danau, Adrian duduk diam disampingnya tak melakukan apapun.


“Lu masih belum bisa move on dari Yola?” tanya Mili kemudian tanpa melihat kearah Adrian.


Adrian pun sama, ia tak memperhatikan apa yang tengah di lakukan Mili, pikirannya melayang entah kemana. “Dibilang move in sih sudah, tapi kadang kepikiran aja kalau sedang bersama dia dulu.”


“Gue punya cara biar lu bisa lupain Yola.” Kali ini Mili menatap kearah Adrian.


Adrian pun melakukan hal yang sama.


“Gimana?”


“Gini.” Kata Mili lalu berdiri dan menghadap danau. “Lu tatap danau itu dalam-dalam, kemudian lu sebut namanya. Yola gue bakalan lupain lu! Coba.”


Adrian berdiri seperti seperti apa yang dilakukan Mili, lalu ia menarik napas sedalam mungkin dan.. “YOLA GUE BAKALAN LUPAIN LU!”


Teriak Adrian begitu kencang, sampai ia mengatur napasnya karena teriakan itu.


“Gimana? Udah enakan?” tanya Mili setelah itu.


“Udah. Dan kayaknya setelah gue lupa sama Yola sekarang gue suka sama lu, Mil.”


“Heh? Suka? Apasih, Dri.” Ujar Mili jadi salah tingkah, “Itu enggak ada di pembahasan kita sebelumnya ya.”


“Emang gak ada, tapi gue beneran suka sama lu. Bukan karena paksaan siapapun. Lu mau jadi pacar gue, kan?”


“Gue mikir dulu, ya.”


Adrian menggelengkan kepalanya.


Mili diam tak merespon ucapan Adrian, ia bingung harus menjawab apa karena semuanya terasa begitu mendadak. Bahkan Adrian tak memberinya waktu untuk berpikir.


“Kalau gue beri banyak waktu ke lu buat mikir, akan ada ribuan cowok disana yang bakalan ngelakuin hal yang sama ke lu.”


“Ngaco’ lu. Mana ada ribuan. Lagian gak ada cowok yang mau sama gue.”


“Gue suka sama lu, serius.”


“Kecuali lu.”


Meskipun mengucapkan hal itu Mili tersenyum dan memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat senyumannya setelah Adrian menyatakan cinta padanya.


“Kenapa lu suka sama gue?”


“Apa jatuh cinta sama seseorang itu memilki alasan.”


“Pasti, karena sebuah sebab ada akibatnya.”


“Gue suka karena sikap lu beda dari perempuan yang lain. Lu gak jaim, natural bisa mengerti semua tentang yang cowok suka.” Papar Adrian.


“Oke, terus?” tanya Mili lagi sambil menyelidik Adrian.


“Terus gue mau jadi pacar lu.”


“Gue pikir-pikir dulu.”


“Aku gak mau nunggu, cewek kalau dandan aja lama, apalagi ngasih jawaban.”


“Oke, gue mau jadi pacar lu.”


“Serius?”


Mili mengangguk mendengar pertanyaan itu, Adrian ikut begitu bahagia saat Mili menerimanya. Mungkin ini jalan baru bagi Adrian untuk benar-benr bis melupakan betapa sakitnay di tinggal seorang perempuan bernama Yola.


Ini bukan pelarian, ini memang cinta.