
Malam sudah menunjukkan pukul tujuh, saat Kevano berjalan menuju kamar, Kesya sejak pulang kerja tadi gak keluar kamar, yang membuat Kevano sedikit khawatir.
Kesya tidur diranjangnya sambil menutupi dirinya dengan selimut tebal. Disingkapnya selimut itu oleh Kevano perlahan.
"Nur, kamu kenapa? Kok dari tadi gak keluar." Tanya Kevano pelan.
"Kepalaku pusing, agak dingin." Ucap Kesya berusaha membuat tubuhnya duduk.
Saat duduk itulah, tiba-tiba perutnya sakit dan terasa mual hingga terasa ingin muntah. Kesya menutupi mulutnya dengan telapak tangan dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Suara Kesya yang berusaha mengeluarkan semua muntahan itu terdengar ditekuninya Kevano, ia menyusul Kesya dan menunggu diluar pintu.
Beberapa kali Kesya terlihat mengeluarkan isi perutnya, setelah selesai dengan lemas ia berjalan keluar.
"Kamu kenapa?" Tanya Kevano lagi, memastikan keadaan istrinya.
"Enggak tau nih, rasanya perutku gak enak dari di kantor tadi. Mual melilit."
"Jangan-jangan kamu hamil." Ucap Kevano kemudian, Kesya memicingkan matanya, mengenyeritkan keningnya dengan kutipan kata 'hamil'.
"Ngaco kamu, Sya. Aku paling cuma masuk angin." Kata Kesya mengelak ucapan Kevano.
"Enggak, pokoknya sekarang kita kerumah sakit."
"Aku gak mau, Sya."
Meskipun Kesya mengatakan tidak dengan ucapan Kevano, Kevano tetap menarik dan membawa Kesya berjalan keluar. Berulang kali Kesya menolak tarikan itu.
"Apaan sih, Sya." Sambung Kesya sambil berusaha melepaskan tangan Kevano.
"Kita pastikan aja, kamu hamil apa enggak."
"Masuk angin biasa."
Mereka berdua terus berjalan keluar dari apartemen, menuju parkir dan masuk kedalam mobil milik Kevano. Setelah itu Kevano menjalankan mobilnya.
"Nur, ini sudah berjalan empat bulan sejak kamu berhubungan sama Bian, dan keadaanmu itu gak kayak orang masuk angin." kata Kevano saat mobil itu sudah mulai berjalan.
"Sya, kenapa sih kamu ngomong gitu? Aku gak mau hamil, terlebih anak Bian. Kamu buat aku parno."
"Aku gak buat kamu parno."
Kesya tak berucap lagi, ia benar-benar tak ingin hamil anak Bian. Tapi, jika kata Kevano benar bagaimana, karena selama ini ia dan Kevano belum pernah melakukan hal layaknya pasangan suami dan istri.
Sementara itu Kevano juga ikut cemas, ia belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan jika Kesya harus hamil anak Bian. Ia tak bisa membayangkan harus menjaga anak seseorang musuhnya, meskipun ia pernah berjanji anak menjaga anak itu, tapi ia masih ragu.
Mobil itu terus melaju, melewati geliat kendaraan di jalan, kemudian mereka sampai disebuah rumah sakit yang tak begitu besar.
Setelah meminta nomor urut, mereka menunggu panggilan dari seorang suster.
"Kenapa, kamu cemas gitu?" Tanya Kevano saat meraka duduk disebuah kursi.
"Enggak Apa-apa kok, Sya. Cuma.." Kesya tak melanjutkan ucapannya.
"Cuma apa? Kabar baik kan kalau kamu hamil."
"Baik apanya, aku gk mau hamil anak Bian."
"Siapa tau itu anak Kita,"
"Enggak mungkin, kita belum pernah ngapa-ngapain." Ucap Ketus Kesya pada Kevano.
Saat percakapan mereka, nomor urut mereka dipanggil. Mereka berdua masuk secara bersama, mengatakan keluhan mereka kepada dokter memeriksa.
Dengan tenang si dokter melihat keadaan Kesya, tuhbuhnya diperiksa. Setelah itu meraka duduk di kursi.
%%%
Dimalam yang sama, Adrian tengah berusaha mencari udara segar untuk dirinya sendiri. Sejak Papanya masuk kedalam penjara, mamanya selalu saja mengomeli dirinya.
Ia jarang bisa keluar malam ataupun balapan, ia selalu dipaksa untuk mengurusi usaha yang memang sedang tidak ada pengurusnya.
Adrian menolak, karena ia masih terlalu muda untuk mengurus apapun terkait usaha ataupun perusahaan, apalagi ia tak begitu mengerti soal dunia managemen.
Saat melamun itulah seseorang menepuk pundaknya, Adrian menoleh malas. Saat matanya beradu dengan seorang perempuan cantik bergaun hitam pendek sebatas lutut, ditambah rambut sepunggung atas.
"Sendirian aja mas?" Tanya perempuan itu.
Adrian diam sesaat, memikirkan siapa perempuan itu, ia tak mengenalnya bahkan itu pertama kalinya mereka bertemu.
"Iya sendirian aja." Ucap Adrian menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Boleh saya temani? Saya Soal." Perempuan bernama Yola itu mengulurkan tangannya.
"Kerjaku disini, bareng mereka." Yola menunjuk dua orang perempuan lain yang berada ditrotoar itu.
Adrian berusaha melihat dengan seksama, mengamati dengan baik. Ternyata Yola dan kedua temannya adalah perempuan pekerja malam. Adrian menelan ludahnya, ini baru pertama kalinya ia berinteraksi dengan mereka.
Malam itu, ia memang tak sedang berada ditempat biasanya ia kumpul. Apalagi saat mendengar bahwa Kevano sedang mengantar istrinya kerumah sakit, terpaksa ia pergi nongkrong sendirian.
Adrian menjaga jarak, bergeser ke samping beberapa meter.
"Kenapa mas? Aku gak gigit kok." Sambungnya saat melihat Adrian bergeser.
Adrian menggeleng.
"Mas kayaknya lagi ada masalah. Siapa tau butuh teman curhat?"
"Enggak. Aku cuma cari angin aja, jangan panggil mas, aku masih delapan belas tahun."
Mendengar Adrian berbicara begitu, membuat Yola tersenyum nakal dan menggeser duduknya semakin mendekati Adrian.
"Wah Berondong dong," kata Yola kemudian.
Adrian mengangguk.
Sesaat kemudian mereka malah terlibat obrolan yang cukup serius, tentang apa dan siapa Adrian, begitu juga dengan Yola. Awalnya Adrian mencoba sedikit tertutup pada Yola tapi perempuan itu begitu baik padanya.
"Jadi Papahmu di kantor polisi?" Tanya Yola kemudian.
"Lebih tepatnya dipenjara, tapi mungkin itu resiko pekerjaannya."
"Gimana kalau untuk menghilangkan kesedihanmu kita menginap?"
"Boleh, tapi kita makan dulu. Pergi dari tadi aku belum makan."
Yola hanya bisa mengangguk. Padahal tak seperti biasanya ia mengambil seorang remaja kecil, biasanya ia hanya mengambil orang yang sudah berumur atau laki-laki yang tak puas dengan kehidupan keluarganya.
Mereka berdua masuk kedalam mobil milik Adrian, menjalankan mobil itu menuju sebuah resto yang sudah ditentukan. Yola hanya terus mengikuti kemana Adrian pergi.
Malam itu Adrian benar-benar ingin memiliki Yola.
Didalam mobil keduanya hanya bisa saling diam. Adrian dengan kendaraannya sementara Yola sibuk dengan ponselnya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil yang Adrian kendarai masuk kearea resto cepat saji. Keduanya turun kemudian memesan makanan dan memilih meja.
"Kau mau makan apa?" Tawar Adrian pada Yola.
"Apa saja, aku tak paham menunya."
Adrian beralih pada pelayan, menentukan pesanan, setelah itu sang pelayan berlalu pergi.
"Jadi sudah berapa kamu kerja ini?" Tanya Adrian.
Yola menaruh ponselnya. "Cukup lama, beberapa tahun setelah aku tak berkerja lagi menjadi SPG."
"Kenapa berhenti jadi seles? Bukannya enak ya?"
"Ada masalah lain. Hmm.. Apa aku harus bercerita sejauh ini sama client?"
"Memang biasanya bagaimana?"
Yola agak ragu.
"Biasanya aku bertransaksi, dibooking, main bersama mereka, setelah seronde aku pulang."
"Seronde berapa kamu dibayar?" Selidik Adrian.
"Biasanya aku pasang satu jam, tapi mereka kebanyakan gak sampai satu jam sudah teler. Palingan tiga sampai lima ratus ribu."
Mendengar ucapan itu, Adrian tertawa kecil.
"Kenapa?" Sambung Yola saat melihat Adrian tertawa.
"Makanan ini harga seporsinya lebih dari lima ratus ribu dan kamu belum menemaniku satu jam."
"Serius?" Tanya Yola mulai kaget.
Adrian mengangguk. "Temani aku sepuluh jam. Lima kali sepuluh, lima juta."
Yola mulai dibuat bingung dengan remaja itu, apa yang ada dalam pikirannya. Bagaimana mungkin ia meminta sepuluh jam? Padahal dalam seminggu belum tentu ia dapat sepuluh jam. Apalagi uang yang dikatakan Adrian itu begitu banyak.
Saat pikiran Yola masih bingung, pesanan mereka datang. Dengan ragu Yola makan, sementara Adrian menikmati makanan itu dengan santai.