My Berondong Husband

My Berondong Husband
#108 Keylan Pulang



Sekitar pukul sembilan pagi, Kevano, Keylan dan juga Kesya keluar dari ruang inap yang sudah hampir seminggu ini menampung Keylan. Hari ini Keylan sudah di bolehkan untuk pulang kerumah, dan untuk selanjutnya hanya rawat biasa serta chek secara berkala.


Kevano menarik koper kecil berisi pakaian Keylan kearah mobil, sementara Keylan terus saja merangkul sang mama, padahal ia bisa saja berjalan, tapi sikap manjanya mulai muncul lagi, membuat Kesya hanya menggeleng kepala.


Saat ketiganya sudah berada di dalam mobil, Kevano hampir saja menjalankan mobilnya, tapi ia teringat sesuatu yang mengharuskannya untuk kembali ke dalam kamar Keylan tadi.


“Mama sama Keylan tunggu sebentar, Papa mau kedalam dulu,” ujar Kevano.


“Mau ngapain, Pa?” tanya Kesya begitu melihat Kevano hendak keluar.


“Kunci rumah ketinggalan di dalam kamar tadi.”


“Kok bisa sih, Pa. Aneh-aneh aja,” ujar Kesya. Kevano hanya tersenyum kemudian berlalu pergi masuk kedalam rumah sakit kembali.


Kevano masuk kedalam rumah sakit, lalu menuju kamar Keylan tadi, berharap apa yang ia cari masih ada di tempat yang sama. Saat sampai di sana, kuncinya masih ada di atas meja dan belum berubah posisi, setelah mendapatkannya Kevano lalu berjalan kembali menuju mobilnya.


Saat berada di lorong rumah sakit, matanya menangkap sosok yang tak begitu asing baginya, pertemuan singkat tapi begitu membekas di benaknya.


“Hey, kamu yang tadi malam, kan?” tegur Kevano pada perempuan itu.


Perempuan itu menoleh, dengan ragu memperhatikan wajah Kevano. Ia mulai teringat dengan Kevano, laki-laki yang menabraknya di minimarket tadi malam.


“Oh kamu. Iya aku yang tadi malam. Ngapain disini?” ucap perempuan itu.


“Anakku masuk rumah sakit, tapi udah keluar kok hari ini. Kamu sendiri? Oiya aku Vano,” kata Kevano lembut sambil tersenyum. Lama rasanya ia tak berkenalan dengan perempuan sejak menikah dan selain dengan klien ataupun karyawannya.


“Anakku juga rawat inap di rumah sakit karena demam, aku Nata,” ucap perempuan itu yang mengaku bernama Nata.


“Senang berkenalan sama kamu, aku permisi dulu ya, anak sama istriku sudah menunggu.”


Nata mengangguk, lalu Kevano berlalu pergi menuju luar rumahsakit dan menuju mobilnya, dimana Kesya dan Keylan sudah menunggu.


“Lama banget sih, Pa,” ujar Kesya saat merasa bahwa Kevano begitu lama.


“Tadi kuncinya jatuh ternyata di bawah ranjang, jadi nyarinya susah, Ma,” jawab Kevano sedikit berbohong.


“Ayo Pa, Keylan pengen cepat pulang dan tidur, karena kamar Kevano,” rengek Kveano padahal mobil sudah mulai berjalan keluar dari area rumah sakit.


“Kamar berantakan kayak gitu di kangenin,” kata Kesya.


“Biarpun berantakan, tapi aku tetap kangen, Ma.”


Kesya tak menjawab lagi ucapan Keylan, sementara Kevano fokus dengan mobilnya, sesekali ia teringat perempuan bernama Nata tadi, entah kenapa ia jadi memikirkan sesuatu. Saat melihat Nata, ia merasa sudah begitu kenal, tapi wajah itu asing baginya.


Nata seperti mengingatkannya pada masa lalu tapi entah apa itu, ingatannya terpotong pada bagian tertentu, kadang sesekali juga tentang Renata. Tapi, mana mungkin ia Renata, wajahnya saja sedikitpun tidak mirip, meskipun sudah lama sekali ia tak melihat Renata sejak memiliki Keylan.


Terakhir kali ia mendengar Renata menikah beberapa tahun lalu, dan itupun berlangsung di luar negeri, Bian yang mengatakannya saat tak sengaja bertemu karena menjadi salah kliennya.


Setelah tiga puluh berada di jalanan, akhirnya ketiganya sampai di rumah. Kevano turun lebih dulu untuk mengambil koper di bagasi, sementara Kesya membantu Keylan untuk keluar dari sana.


“Wah rumahku semakin besar saja, aku rindu,” ujar Keylan saat sudah di berada diluar mobil.


“Gak usah alay, Key. Kayak udah puluhan tahun aja gak pulang kerumah,” ucap Kevano sambil menarik koper itu masuk kedalam rumah, di susul Kesya. Sementara Keylan di biarkan disana.


“Den Keylan sudah sembuh,” ujar mang Didin, supir keluarga Kevano. Saat melihat Keylan sudah berada di ruang tamu.


“Udah, Mang. Mamang kemana aja sih? Masa Keylan di rumah sakit gak jengukin,” rungut Keylan.


“Maaf Den, kebetulan anak Mamang di kampung juga lagi sakit, ini juga baru sampai kota.”


“Sakit apa emangnya, Mang?” tanya Keylan begitu mendengar mang Didin mengatakan bahwa anaknya sakit.


“DBD, Den. Udah semingguan, belum sembuh tapi udah baikan.”


“Belum sembuh kok udah kerja sih Mang.”


“Enggak balik ya gak Papa gaji Mang Didin,” ujar Kevano ikut pembicaraan antara Keylan dan Mang Didin.


“Jahatnya Papa,” kata Keylan mendengar ucapan Kevano.


“Enggak apa-apa kok, Den. Lagian di sanakan ada ibu sama bibinya.” Setelah mengucapkan itu Mang Didin berpamitan untuk pergi menuju arah garasi, mungkin untuk mebersihkan mobil lainnya.


“Akrab banget sama bapaknya,” ejek Kevano pada Keylan yang kini sibuk bermain ponsel.


Keylan memalingkan wajahnya lalu menatap Kevano dengan seksama, Papanya begitu menyebalkan memang, kadang ada saja waktu untuk mengajak bertengkar.


“Ma!” teriak Keylan memanggil Kesya yang berada di dapur.


“Apa, Key?!” teriak Kesya dari arah dapur.


“Papa jahat banget sama aku!”


“Dih, ngadu,” kembali ejek Kevano pada


Kevano menjulukan lidahnya pada sang papa, meskipun mereka ayah dan anak tapi sudah seperti teman sendiri yang selalu sama bertengkar. Anehnya karena pertengkaran itu mereka menjadi begitu akrab. Apalagi Kevano dan Keylan yang memiliki hobi yang sama, yakni bermain game di ponsel.


“Kenapa sih ribut-ribut?” tanya Kesya yang baru saja datang dengan membawa sepiring kue di tangannya.


Kevano meraih cepat piring itu bahkan sebelum di letakkan di atas meja.


“Itu Keylan tadi akrab banget sama Bapaknya,” ujar Kevano yang kini mulutnya penuh dengan kue, tanpa berniat membagi pada Keylan.


“Bapaknya siapa?” tanya Kesya lagi, kini sudah duudk di antara Keylan dan Kevano.


“Mang Didin, Bapak Kevano.”


“Oh sudah siap kamu ya buat tinggal sama Bapakmu,” Kesya kini ikut mengejek Keylan.


Keylan hanya bisa merungut dan terdiam, kadang orangtuanya begitu jahil sampai membuatnya jengah, tapi ia sayang mereka.


Keylan mengambil kue yang di pegang sang papa, lalu membawanya berjalan menuju kamarnya yang sudah seminggu ini ia tinggalkan. Memang benar kata sang mama jika kamar itu berantakan, tapi ia begitu nyaman berada di sana, karena ia bisa sangat lama hanya untuk menikmati hari-hari tenangnya.


Didalam kamar ia menaruh piring berisi penuh kue itu diatas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mungkin tidur sejenak bisa menghilangkan rasa rindunya pada kamar miliknya.


Ada beberapa reader yang bilang kalau cerita ini mulus tanpa orang ketiga. Gimana kalau dalam hubungan Kevano dan Kesya ada pelakornya, setuju gak????