My Berondong Husband

My Berondong Husband
#42 Setelah Pernikahan Mereka



Happy Reading, This is Season 2


Lebih fokus permasalahan setelah


mereka menikah


***


"Selamat pagi," Sapa Kevano pada Kesya yang keluar kamarnya.


"Pagi. Kamu masak lagi?" Tanya Kesya yang melihat Kevano melap koasnya, karena beberapa bumbu menempel disana.


"Sudah ayo makan dulu." Kevano mengucapkan itu sambil membawa sepiring penuh nasi goreng dan menggandeng tanggapan Kesya menuju meja makan. "Ayo dimakan."


Kesya menarik bibirnya keatas, hampir setiap pagi setelah pernikahan mereka Kevano selalu memasak. Masakan aneh yang rasanya berantakan itu dihidangkan penuh cinta, meskipun tak pernah berubah rasanya menjadi enak.


"Cepat dimakan, sayang." Sambung Kevano saat melihat Kesya terdiam dengan sendok yang berada didepan mulutnya.


"Ini aku makan kok." Dengan perasaan was-was Kesya memasukan makanan itu kedalam mulutnya, saat sampai dirongga mulut, ia langsung menelannya. "Enak banget, Sya (Arsya). Kamu masukin bekal aja ya, aku sudah telat, ehmm.. itu ada meeting."


"Oke."


Kevano mengindahkan ucapan Kesya, lalu memasukkannya nasi goreng tadi ketempat bekal. Sedangkan Kesya terus meneguk air, asin sekali rasanya masakan Kevano. Seperti biasanya.


Sejak pernikahan mereka Kevano sering masak, apalagi sekarang mereka tinggal berdua di Apartemen. Kesya tak ada waktu untuk memasak, karena pagi-pagi ia harus berangkat dan pulang sekitar pukul lima sore. Kevano pun pulang kuliah malam, akhirnya mereka memesan makanan online.


Tak berapa lama Kevano kembali dengan bekal yang sudah terbungkus rapi, setelah itu Kesya bersalaman layaknya istri yang berpamitan ada suami.


"Pipinya," Ucap Kevano. Kesya menyodorkan Pipi, Kevano menciumnya lembut.


Pertama kali melakukan itu Kesya sedikit geli, tapi perlahan ia menerima semua itu.


Kesya keluar dari apartemen, meskipun sudah menikah ia tetap menggunakan bus, karena dari sana semua cerita itu bermula. Kesya bahagia menggunakan kendaraan itu.


Disusurinya daerah Apartemen itu, hingga sampai berada dibalut, tak berapa lama bus yang ditunggunya datang.


Semantara Kevano masih sibuk didapuk dan membersihkan apartemen, pekerjaan yang hampir setiap hari ia lakukan. Ia tak masalah melakukan hal itu, karena ia belum bekerja.


Setelah ia rasa cukup, ia mulai duduk dan mengambil nasi goreng yang dimasaknya tadi. Ia ingin mecicipinya.


Ketika mulutnya mengunyah, ia hampir saja memuntahkanya, rasanya benar-benar asin. Seperti garam satu wadah diaduk menjadi satu, Kesya berbohong lagi padanya.


Ini sudah kesekian kali Kesya mengatakan bahwa masakannya enak, ia pun sebenarnya tahu bahwa ia tak pandai memasak, meskipun sudah mengikuti arahan resep dari Youtube.


Dibuangnya masakan itu kedalam tempat sampah, karena Chiko saja tak mungkin mau memakannya.


Sesaat membuangnya, Kevano tersenyum. Setelah menikah ternyata rasanya aneh, ia harus tinggal satu atap dengan orang yang dulu selalu dikejarnya. Hidup berdua, bertemu dan berkumpul bersama.


Pernikahan yang terjadi karena terpaksa itu, membuat cerita baru di hidupnya. Meskipun sampai sekarang ia masih bertanya, apa Kesya benar-benar mencintainya?


Selesai melakukan semuanya, Kevano mengambil tasnya dan bergegas pergi kuliah. Setelah menikah ini hari pertamanya kembali kekampus, memulai aktivitas membosankan.


Ia berjalan keluar apartemen, mengambil motornya yang berada diparkiran, dan melajukannya dengan perlahan.


Jalanan ibukota pagi itu nampak lengang, hari yang biasanya macet terlihat sepi, ini bukan hari minggu ataupun tanggal merah, tapi entah kenapa bagi Kevano semua terlihat hening. Perasaan tenang pada dirinya.


¥¥¥¥


Setengah jam perjalanan ke kampusnya, Kevano sampai dengan santai. Jam mata kuliah permata yang terlalu pagi masih lima menit lagi, saat itulah ia melihat Adrian.


"Yan!" Panggilnya dengan agak berseru.


Adrian dari kejauhan menoleh dan melihat Kevano yang berlari pelan menujunya.


"No, lu udah kuliah lagi." Ucap Adrian begitu Kevano berada didekatnya sambil merangkul pundaknya.


"Sudah lah, dua minggu gue gak kuliah, kangen banget."


"Dulu sebelum nikah lu aja jarang kuliah."


Kevano tergelak, dengan tertawa keduanya berjalan menuju kelas. Dari Percakapan mereka, Renata menatap dari kejauhan. Ada Rasa bahagian melihat Kevano masuk kuliah lagi, tapi ada perasaan kesal karena laki-laki idamannya sudah berstatus suami orang.


Sampai detik ini Renata masih berpikir untuk mengambil Kevano dari dekapan Kesya, meskipun ia harus disebut pelapor.


Semua salah Kesya, Renata mengungut. Kalau Kesya dan Kevano tak bertemu pasti meraka tak akan menikah, dan gara-gara Kesya juga Bian kakaknya sampai masuk penjara.


Demi menyenangkan pernikahan Kesya yang begitu mewah.


Sementara itu pukul delapan tepat, Kesya sampai di kantor, absennya tak terlambat pada perkantoran pertama.


Saat membuka pintu ruangan kerja, Yunda dan Ganda berteriak dengan kencang padanya.


"Welcome back my Kekes!" Teriak Anggota kalong.


Kesya terkaget sambil mengelus dadanya.


"Kalian kenapa sih, kaget aku." Gerutu Kesya.


"Kita bahagia karena lu udah balik kerja." Ucap Yunda.


Meraka bertiga berjalan menuju meja kerja masing-masing.


"Gimana pernikahan lu?" Tanya Ganda.


"Berjalan lancar, biasa aja sih."


"Pasti si Kekev menggoda banget kan kalau diranjang." Sambung Ganda.


Kesya menghembuskan napasnya, pembicaraan itu pasti saja terjadi. Ganda ataupun Yunda menanyakan pertanyaan aneh soal itu.


"Menggoda gimana?" Tanya Kesya berlagak tak tahu.


"Pas kalian ena-ena dimalam pertama."


"Kami belum ngapa-ngapain."


Mendengar ucapan itu Ganda dan Yunda sambil bertatap tak percaya, wajah keduanya berubah aneh.


"Bohong pasti lu." Sergah Yunda.


"Serius lah." Kata Kesya sambil menata barang-barangnya diatas meja


Tak berapa lama Pak Bos memanggil Kesya.


"Nur, ambil berkas dirungan saya." Ucap Pak Bos dari sebuah telephone.


"Baik, Pak Bos."


Setelah itu Kesya berjalan menuju ruangan pak bos dengan santannya, meninggalkan anggota trio kalong yang masih dengan raut bingung.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Kesya, membuka pintu ruangan pak bos.


"Pagi."


Kesya mengambil kursi dan duduk menghadap pak bos.


"Ambil berkas dari pak Kevin, ia tak terima iklannya dikerjakan orang lain." Sambung pak bos.


"Loh, saya kita sudah selesai pak,"


"Dia gak mau kalau bukan kamu yang ngerjain proyek ini. Usahakan secepatnya kamu kerjain."


Kesya mengangguk parau. Teman setemnya tak mengatakan bahwa mereka belum mengerjakan iklan pak Kevin.


"Baik, Pak. Secepatnya saya akan kerjakan. Saya permisi."


Kesya keluar dari ruangan pak bos dengan membawa berkas itu, hari pertama kerjanya sangat menyebalkan. Dengan geram ia menuju Yunda dan Ganda.


"Kalian!"


Brak!


Teriak Kesya sambil memukul map itu pada tangannya membuat kedua temannya kaget.


"Apaan sih, Kes. Kaget gue." Ujar Ganda menepuk-nepuk dadanya.


"Ini kenapa iklan pak Kevin belum selesai. Udah gue tinggal sebulan, lho."


"Mau gimana lagi Kes, Pak Kevin Sanjaya gak mau kalau kita yang nanganin." Ucap Yunda.


"Bener tu Kes, kita udah lembur padahal. Tapi, ya reaksinya begitulah." Sambung Ganda.


Kesya mengambil kursi kerjanya lalu mulai mengutak atik berkas itu.