My Berondong Husband

My Berondong Husband
#78 Yunda Mengetahui Tentang Dokter Abrar



"Selamat pagi, Yunda. Apa kabar? Mau menjenguk Papanya ya?" Tanya Dr.Abrar pada Yunda yang baru saja tiba di Rumah Sakit.


Mereka bertemu di pintu masuk Rumah Sakit itu. Sang Papa masih saja harus dirawat penuh di Rumah Sakit karena penyakitnya.


"Iya, Dok. Aku harus menjenguk Papa sebelum berangkat ke Kantor." Jawab Yunda cuek.


"Kenapa tadi malam tidak datang berkunjung? Papa kamu nanyain kamu terus lho." Ucap Dr.Abrar dengan ragu - ragu.


Yunda tersenyum manis dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan sang Dokter. Yang dia tau, itu adalah privasinya. Dan anehnya, si Dokter malah bertanya tentang hal itu.


Senyuman manis yang diterima Dr.Abrar pun membuatnya salah tingkah. Dia sendiri juga merasa aneh pada dirinya sendiri.


"Aahh, iya. Aku mau ke sana dulu. Kamu duluan saja, nanti aku menyusul. Karena pagi ini ada pemeriksaan intensif." Ucap Dr.Abrar yang mengalihkan keadaan canggung mereka karena pertanyaannya yang dibalas hanya dengan senyuman.


"Baik, Dok." Jawab Yunda singkat sambil lalu. 


Dia langsung melangkah menuju ruang rawat inap sang Papa. Dihampirinyalah Papanya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Papa." Yunda memanggil Papamya dengan lembut sambil memeluk tubuh Papanya. 


"Kenapa tadi malam kamu tidak datang mengunjungi Papa, Yun? Papa mau perhatian dari Anak perempuan Papa ini setiap harinya." Tutur Pak Rendra sambil mengelus puncak kepala Anaknya.


"Yuyun kan ada acara tadi malam sama temen, Pa. Maaf ya, Pa. Yuyun sudah buat Papa khawatir. Lain kali, Yuyun pasti akan kasih kabar sama Papa." Jawab Yunda dengan wajah sendunya.


Dia sangat menyayangi Papanya. Sebenarnya, dia sudah menolak ajakan temannya. Tapi, apa dayanya yang sudah sempat berjanji untuk menemani temannya itu ke Club sejak minggu lalu. Pada akhirnya, dia tidak sempat mengunjungi sang Papa di Rumah Sakit.


"Sudahlah, Yun. Papa tidak menyalahkanmu. Jadi, kamu tidak perlu minta maaf segala. Sekarang coba kamu bangkit dari Papa. Dr.Abrar sudah menunggu lama." Bujuk Pak Rendra pada Anak kesayangannya itu.


Yunda yang baru saja menyadari kehadiran Dr.Abrar pun menjadi salah tingkah. Pasalnya, baru kali ini dia kepergok bermanja - manja seperti tadi oleh lelaki yang sedang disukainya.


"I.. Iya.. Pa.. Silahkan Dok." Jawab Yunda dengan tergagap.


Dr.Abrar tersenyum tipis melihat tingkah Gunda yang menurutnya berbeda dari perempuan yang selama ini mendekatinya. Dia pun bergerak untuk memeriksa kondisi Pak Rendra.


"Nanti sore kita akan melakukan terapi ya, Pak. Saya akan menjemput Pak Rendra sekitar pukul 4 sore." Ucap Dr.Abrar pada Pak Rendra.


"Baik, Dok. Terimakasih banyak ya, Dok." Jawab Pak Rendra sambil menyunggingkan senyumannya pada Dr.Abrar. 


"Pa, Yuyun mau berangkat ke Kantor dulu ya. Papa istirahat yang cukup. Nanti malam Yuyun datang berkunjung." Ucap Yunda sambil mendekati Papanya dan mencium pipi kiri sang Papa.


Dr.Abrar yang melihat hal itu pun mulai merasa bahwa Yunda adalah Anak yang berbakti pada Orangtuanya. Dia memperhatikan setiap gerak - gerik dari Anak ceria yang ada di hadapannya kini.


"Dok, jaga Papaku dengan baik ya. Aku akan menuntut Dokter jika ada yang terjadi pada Papa. Sampai bertemu lagi, Dok." Ucap Yunda pada Dr.Abrar yang masih belum berkedip melihat tingkah Yunda yang dilihatnya berbeda dari biasanya.


"Iya, aku akan menjaga Papamu dengan baik. Datanglah berkunjung malam ini. Agar Papamu punya teman mengobrol malam ini." Ujar Dr.Abrar pada Yunda yang sempat menghentikan langkahnya karena perkataannya dibalas oleh Dr.Abrar.


Yunda pun hanya bisa menunjukkan senyum centilnya pada Dr.Abrar dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Dia merasa pipinya sudah merona karena hari ini Dr.Abrar terlihat sangat ramah padanya.


Setelah Yunda pergi dan tidak kelihatan lagi, Pak Rendra mulai meminta kepada Dr.Abrar untuk meluangkan sedikit waktunya.


"Bagaimana sejauh ini, Dr.Abrar? Kelihatannya kamu sudah mulai sedikit tertarik pada Anakku." Ucap Pak Rendra sambil tersenyum tipis melihat reaksi Dr.Abrar yang sedikit terkejut dengan ucapannya.


"Maaf, Pak. Saya hanya menyadari sesuatu yang berbeda dari Yunda. Ternyata dia itu tipe Anak yang sangat menyayangi Orangtuanya. Aku hanya sedikit kagum melihat kasih sayangnya yang tulus itu pada Pak Rendra." Dr.Abrar mengatakan hal itu sambil menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, jangan sungkan begitu, Dr.Abrar. Bagaimanaoun, aku yang ingin kalian menikah. Aku yang menyuruhmu untuk mendekati Anakku. Tapi, aku rasa itu tidak perlu lagi." Ucap Pak Rendra dengan antusias.


Dr.Abrar merasa ada kejanggalan dari perkataan Pak Rendra. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Maksudnya bagaimana ya, Pak?"


"Aku lihat, Yunda sudah menyukaimu lebih dulu. Sikapnya yang malu - malu kucing itu membuatku teringat akan sikap Mamanya saat kami pertama kali bertemu. Dia memang suka keluyuran, tapi sampai saat ini Yunda tidak pernah membawa kabar buruk sekecil apa pun. Dia sangat berbeda dengan Raihan, Kakaknya. Kalau Raihan, selama ini dia hanya bisa menyusahkan kami. Aku selalu memarahinya. Dan sekarang, kamu tinggal memilih jalanmu untuk mendekatinya."


Dr.Abrar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti pada masalahnya kali ini. Selama ini, dia belum pernah berani untuk mengajak seseorang untuk menjadi kekasihnya. Dan sekarang dia malah disuruh untuk melamar seorang perempuan centil.


"Ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Kamu bebas menentukan kapan waktu yang tepat bagimu untuk mendekati Anakku. Aku yakin kalau kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Aku berharap banyak padamu, Dr.Abrar." Ucap Pak Rendra sebelum dia kembali menyelimuti dirinya dan menutup matanya untuk melanjutkan waktu istirahatnya yang sempat tertunda.


Dr.Abrar hanya bisa tersenyum simpul mendengar permintaan Pak Rendra. Dia pun berpamitan dengan membungkukkan setengah badannya dan membalikkan badannya. Dia keluar dari ruangan itu dengan pikiran yang sedikit kacau.


Dr.Abrar masih saja mengeluh dalam hati saat dia dimintai hal - hal yang masih baru baginya. Akhirnya, Dr.Abrar pun kembali memfokuskan dirinya untuk bekerja. 


Hari menjelang sore, Dr.Abrar pun berkunjung ke ruang rawat inap Pak Rendra. Dia memulai kegiatannya untuk melakukan pemeriksaan intensif pada Pak Rendra.


Selesai dengan kegiatan pemeriksaannya, Dr.Abrar pun berpamitan pada Pak Rendra untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum akhirnya dia pulang ke Rumahnya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah memikirkannya? Aku butuh jawaban yang pasti, Abrar. Penyakitku ini semakin lama, semakin parah. Aku butuh seseorang yang pastinya akan menggantikanku menjaga untuk Yunda. Apa kamu bersedia?" Tanya Pak Rendra dengan ekspresi yang serius.


Kali ini Dr.Akbrar mulai memikirkan kembali permintaan Pak Rendra. Dia terdiam sejenak dan menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Aku akan menerima permintaan Pak Rendra. Tapi, beri aku waktu untuk bisa beradaptasi dengan dia. Aku akan berusaha mengabulkan semua permintaan Bapak." Tegas Dr.Abrar sambil menundukkan kepalanya.


Pak Rendra dan Dr.Abrar sangat serius pada perbincangan mereka. Hingga mereka berdua tidak menyadari kedatangan seseorang yang masih menahan langkah kakinya di depan pintu rawat inap itu.


Siapa lagi, kalau bukan Yunda? Dia baru saja tiba di sana dan tidak menyangka kalau dia akan mendengarkan sesuatu yang sudah membuatnya penasaran akan sikap Dr.Abrar yang tiba - tiba begitu ramah padanya.


Dia memang mendengar sedikit bagian yang diucapkan oleh Papanya. Tapi itu tidak menutup fakta bahwa dia mengerti dengan apa yang menjadi topik utama dari pembicaraan Pak Rendra dengan Dr.Abrar.


"Pantas saja Dr.Abrar menjadi lebih perhatian dan mendekatkan diri padaku. Ternyata semuanya karena ini? Hanya karena ini adalah permintaannya Papa?" Mulailah bermunculan pertanyaan - pertanyaan yang Yunda sendiri pun sulit untuk mendapatkan jawabannya. 


Saat Yunda ingin melangkah pergi, dia malah mendapat panggilan dari dalam ruangan itu. "Yun?" Sapa Pak Rendra saat melihat ada bayangan di balik pintu ruang rawat inapnya.


Dr.Abrar terkejut mendengar Pak Rendra memanggil nama Yunda. Dia hanya bisa duduk membisu melihat Yunda memasuki ruangan itu.


"Nak, kamu menepati janjimu pada Papa. Kamu datang tepat waktu untuk mengunjungi Papa." Ucap Pak Rendra sambil merentangkan tangannya pada Yunda.


Yunda berjalan menghampiri Papanya dan memeluk sang Papa sambil berkata, "Iya, Pa. Malam ini kan giliran Yunda untuk menemani Papa sepanjang malam ini."


"Karena kamu sudah berada di sini, Papa ingin kamu lebih memahami apa yang sudah kamu ketahui saat menguping pembicaraan kami tadi." Pak Rendra terlihat begitu serius.


Yunda hanya bisa bertingkah kaku mengetahui kalau Papanya sedang memergokinya telah menguping sedikit pembicaraan Papanya bersama Dr.Abrar.


"Duduklah." Perintah Pak Rendra pada Anak perempuannya itu.


Yunda pun duduk tepat di sebelah Papanya. Dia pun bersiap untuk mendengar semuanya.


"Yun, kamu tau sendiri kondisi Papa kan? Papa hanya ingin kamu mendapatkan seorang pendamping yang bersedia menjagamu untuk menggantika posisi Papa untuk menjaga kalian bertiga. Dan pilihan Papa jatuh pada Dr.Abrar. Dia itu masih muda tapi sudah menjadi seorang Dokter yang handal. Dalam pekerjaan saja, dia bisa dipercaya. Maka dari itu, Papa memilih dia sebagai calonmu. Bagaimana menurutmu, Yun?" Pak Rendra menjabarkan semuanya pada Yunda agar dia memgerti apa yang sedang Papanya itu pikirkan.


"Yuyun tidak suka dengan perjodohan, Pa. Papa tidak perlu melakukan hal seperti ini. Aku tidak mau terjebak dalam kisah cinta yang tanpa cinta, Pa. Biarkan Yuyun mendapatkan orang itu tanpa adanya paksaan dari Papa." Jawab Yunda panjang lebar setelah merasa Papanya tidak adil pada sang Dokter.


Meskipun dia benar - benar menyukai Dr.Abrar dan merasa sedikit senang dengan permintaan Papanya pada Dokter itu, Yunda tetap memikirkan perasaan Dr.Abrar. Dia tidak mau menjadi seseorang yang mencintai hanya bertepuk sebelah tangan.


"Papa tidak memaksakan kehendak Papa, Yun. Dr.Abrar melakukannya dengan sukarela. Papa sama sekali tidak memaksanya. Benarkan Abrar?" Lanjut Pak Rendra setelah mendengar jawaban Yunda.


Degup jantung Yunda mulai berdetak kencang. Dia merasa gugup menunggu jawaban dari lelaki yang masih saja terdiam di sebelahnya.


"Apa yang dikatakan Papamu itu benar, Yun. Aku tidak merasa dipaksa oleh Papamu. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Dan aku memang sudah memutuskan untuk mendekatimu. Apa kamu merasa keberatan jika aku mengabulkan permintaan Papamu?" Dr.Abrar merasa sudah saatnya dia berkata - kata manis pada Yunda.


"Kamu sudah mendengarnya sendiri kan, Yun?" Tanya Pak Rendra pada Anaknya yang sudah menundukkan kepalanya.


"Mulai detik ini, kita adalah sepasang kekasih. Aku tidak akan mengulur - ulur waktu lagi. Kamu juga sudah tau kalau aku ini serius dengan ucapanku." Dr.Abrar memberanikan diri mengatakan hal itu pada Yunda.


Yunda merasa bahwa pipinya memanas dan pastinya sudah berubah menjadi memerah. Dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi. 


Senang? Bahagia? Yunda memang merasakannya. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini padanya. Kisah cinta yang mulus dengan sang Dokter.


"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir jernih, Yun. Aku permisi pulang dulu ya, Pak. Aku ada jadwal operasi besok pagi, jadi harus cukup istirahat malam ini." Ucap Dr.Abrar sambil lalu.


"Jangan sungkan begitu, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi kekasih Yuyun ku, jadi panggil saja aku dengan sebutan Papa. Aku senang, pada akhirnya aku bisa melihat Yuyun ku bahagia. Terimakasih, Nak Abrar." Pak Rendra tersenyum lega mendengar Abrar sudah memutuskan kejelasan hubungan mereka berdua.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka bertiga.