
Reno memasuki kantor laki laki dengan tanda tanya besar dikepalanya.
Wajahnya tak seramah biasanya saat ia ingin bertemu dengan laki laki yang bekerja sama dengannya.
"Ras, bosmu ada?" Tanya Reno saat melintasi Laras didepannya.
Laras diam sesaat karena kaget Reno tahu namanya
"Sepertinya tadi ada, Pak." Jawab Laras.
"Makasih, ya." Ucap Reno, Laras mengangguk kemudian berlalu pergi.
Reno meneruskan berjalan menuju ruangan laki laki itu, saat sampai didepan pintu ia mengetuk lalu membukanya dengan perlahan.
Laki laki itu nampak terkejut karena Reno datang tiba tiba tapi kemudian ia berusaha terlihat biasa agar wajahnya nampak natural tanpa sedikit pun bingung.
"Tuan Reno, tumben sekali. Ada apa?" Sapa laki laki sambil bertanya.
"Apa yang kamu lakukan pada Bian?" balik tanya Reno.
"Melakukan apa?"
"Kamu yang pindahkan Bian ketahanan umum, kan. Itu melanggar aturan."
"Oh ya. Polisi yang mengatur kepindahan Bian bukan aku. Aku cuma ngasih mereka uang saja tidak lebih, apa itu salah."
"Salah. Karena itu melanggar hukum."
Reno tak habis pikir bagaimana mungkin laki laki itu bisa melakukan semua hal yang menyalahi aturan.
Awalnya Reno bergabung dengan laki laki itu karena ia merasa kesal dan kecewa dengan semua kepopuleran yang didapatkan Bian, sementara ia hanya sebagai pemeran pengganti, gak lebih.
Tapi sampai sekarang menurutnya sudah melampaui batas kewajaran dan terasa aneh.
Seperti ada dendam yang begitu dalam antara Bian dan Laki laki itu.
Laki laki berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju belakang Reno.
"Kenapa?" Tanya laki laki itu pada Reno sambil berbicara lirih didekat telinganya.
"Aku gak suka sikap berlebihan mu."
"Kamu itu hanya pesuruhku. Kenapa protes dengan apa yang telah aku lakukan. Diam saja. Ikuti kemauanku."
"Tapi, kamu bisa mendapat masalah jika sampai Bian tahu atau pihak polisi tau."
"Rencana ini hanya kita berdua yang melakukannya, jika bukan aku yang membuka mulut pasti kamu. Tak ada orang lain yang tahu."
Reno meneguk salivanya, benar apa yang dikatakan laki laki. Tapi, ada kata-katanya itu apa dia bermaksud membuat Reno untuk tutup mulut.
"Apa maksudmu?" Tanya Reno memastikan ucapan laki laki itu.
"Seperti yang aku katakan, aku melakukan apapun yang aku inginkan tanp siapapun bisa melarangnya."
"Tapi..." Kata Reno terpotong tanpa bisa melakukan apapun.
"Aku sudah biasa melakukan ini pada orang, bahkan dulu melakukannya pada keluarga Bian."
Reno tak mengetahui maksud ucapan laki laki itu, tapi Seperti nya laki laki lebih jahat dari apa yang ada dalam pikirannya.
Buktinya ia bisa melakukan semua itu hanya untuk membalas kan dendamnya.
Reno Mulai berpikir, jika seandainya nanti ia terpaksa buka mulut, apa laki laki akan melakukan hal yang sama padanya.
Ia seperti ketahuan, rautnya berubah tak menentu.
"Tidak usah takut, semalam kamu jaga rahasia ini. Aku tak akan melakukan apapun. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu, semalam berurusan denganku. Ada banyak mata ku yang mengintaiku." Sambung laki laki itu.
"Ternyata kamu seperti ini. Aku gak menyangka."
"Kita ini sama-sama orang jahat tuan Reno, dan menjadi jahat jangan setengah-setengah, itu menjadi tanggung kan."
Semakin lama berbicara dengan laki laki itu semua pusing kepalanya dan juga semakin banyak hal yang tak bisa ia pernah dengan mudah.
"Aku permisi." Ucap Reno kemudian sambil berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?"
Laki laki itu mengangguk, Reno berjalan keluar pintu, kemudian hilang tertutup pintu dan entah kemana.
Sementara laki laki duduk kembali di kursinya dengan senyum yang terus ia sungging.
Ia tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi, maka dari itu ia telah melakukan banyak hal agar bisa menutup mulut Reno, bahkan jika tidak bisa menutupinya dengan uang dan ancaman, ia bisa melakukannya gertakan.
Dan jika itu tak berhasil juga, ia terpaksa harus menghapus jejak dengan tangannya sendiri.
Dengan cara licik yang selalu ia lakukan sejak dulu untuk mendapatkan semua yang ia inginkan.
Seperti beberapa tahun lalu
Persidangannya laki laki itu telah selesai dilaksanakan, ia hampir saja dipidana atas kasus yang telah lama menjeratnya.
Ia tak marah pada jaksa penuntut umum, tapi pada Tedi pengacara saingannya.
"Culik laki laki yang bernama Tedi, ini fotonya." Ucap laki laki itu pada kedua bawahannya.
Kedua bawahannya mengangguk dan menyetujuinya kemudian berlalu pergi dari hadapan laki laki.
Tugas dijalankan.
Tedi yang baru saja keluar dari kantor, dibius dan dipaksa masuk kedalam mobil oleh kedua orang itu.
Meskipun dalam kedalam terbius, Tedi masih sempat memberontak. Tapi tenaganya begitu kecil dan lemah.
Tedi dibawa kedua pengawal itu kedalam sebuah pabrik kosong yang tak terpakai lagi.
Saat terbangun ia sadar dan mulai berteriak tak jelas, karena tubuhnya terikat disebuah bangku.
Laki laki masuk bersama kedua bawahannya sambil tersenyum puas.
"Kamu," ucap Tedi bingung dan tak percaya dengan apa yang ada didepannya. "Apa yang kamu lakukan padaku?"
Terus saja Tedi berteriak dan berusaha melepaskan ikatannya dengan cara menghentakkan tubuhnya.
"Aku hanya ingin bermain main denganmu, Tuan Tedi yang terhormat." Kata laki laki menakutkan.
Tedi menarik napasnya beratnya, keringat nampak menetes dari dahinya, saat laki laki menggesekkan sebuah pisau kecil di pipi kirinya.
"Lepaskan aku!" Teriak Tedi sambil terus memberontak.
Laki laki itu tak menjawab hanya mengisyaratkan jari telunjuknya didepan bibir agar Tedi tak banyak bicara.
"Kalau kamu tak bisa diam, hanya ada dua pilihan. Kamu mau anak buahku yang melakukan kekerasan atau pisau ini yang bermain di kulitmu."
Napas Tedi naik turun, mengerikan sekali laki laki yang baru saja berurusan dengannya di persidangan.
"Aku merasa tak ada salah padamu, kenapa kamu melakukan ini?" Tanya Tedi, suaranya mulai melirih.
"Tidak bersalah memang. Tapi, kata katamu berusaha memberatkanku. Aku tidak suka."
"Tapi itu permintaan Faisal, kenapa tidak bicara padanya saja."
Laki laki itu hanya mengisyaratkan pada kedua bawahannya untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Kepala Tedi ditutup dengan kain hitam, lalu perut dan wajahnya mulai banyak mendapatkan pukulan beberapa kali, hingga Tedi tak sadarkan diri.
Setelah Tedi tak sadarkan diri. Mereka membawa tubuh Tedi masuk kedalam mobil, menuju sebuah tempat sepi yang jauh dari kota.
Lalu membuangnya begitu saja dalam kedaan terikat.
Mengingat itu, laki laki itu kembali tersenyum. Siapa yang berurusan dengannya akan mendapat masalah lebih yang sama, bahkan bisa lebih buruk.
Bertahun tahun ia tahu Tedi tak kembali, ia berpikir mungkin Tedi sudah mati dan tak ditemukan lagi.
Lalu bertahun lamannya, ia mendapatkan masalah yang sama. Dan anak Tedi yang berusaha menjatuhkan dirinya dalam masalah yang sama pula.
Dendam lama terbongkar, tapi ia tak ingin membunuh Bian saat itu. Ia hanya menyimpannya untuk nanti, karena ada hal lain yang lebih penting.
Dan benar saja, takdir berpihak padanya, Bian masuk penjara karena masalah suap, disaat itulah ia mulai berjalan menjadi seorang pembuat skenario terbaik.
Ia ingin membuat Bian membusuk dalam penjara, jika ia tak bisa membuat Bian dengan tangannya sendiri.
Meskipun sebenarnya ia ingin menghancurkan Bian lebih dari itu, tapi hal yang ingin ia lakukan tak pernah terjadi.