
Rena menutup pintu kamarnya dengan perlahan, lalu menaruh buku dan tasnya diatas meja belajar.
Direbahkannya tubuhnya diatas tempat tidur yang terasa lelah, tapi bukan itu yang menganggu pikirannya, ia kepikiran soal Kevano.
Ia tahu kalau Kesya mengajar di kampusnya sebagai dosen pengganti, dan entah kenapa sudah dua hari selama mengajar ia selalu melihat Kesya bersama Kevano.
Mereka terlihat akrab dan selalu terlihat obrolan yang seru, kadang saat dikantin ataupun taman kampus Kevano bersikap manja seolah mereka menjalin hubungan spesial.
Tapi, tidak mungkin. Kesya itu calon istri dari kakaknya, beberapa bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan, dan lagi pula sepertinya Kesya bukan tipe yang bisa tertarik dengan anak sekecil Kevano.
Renata mengguncang kepalanya, kenapa ia bisa memikirkan soal Kevano, ia tidak menyukainya, tapi jika tidak kenapa ia terlihat cemburu dengan kedekatan Kesya da Kevano.
Ia memang cemburu, bagaimana tidak. Kevano adalah laki-laki yang bisa melakukan apapun untuknya, bahkan Kevano sering mengantarnya pulang kerumah. Ia terus memastikan Kevano suka padanya. Tapi, sudah beberapa tahun sejak mereka bersama di SMA, Kevano tak mengutarakan perasaanya.
Ia sempat berpikir bahwa ia jelek. Tapi, banyak yang bilang ia cantik. Bahkan sebenarnya tak sedikit lelaki yang menyukainya.
Bagi Renata, Kevano itu beda dari yang lain. Bandel tapi, lucu. Dulu saat sekolah, Kevano sering sekali bolos, ikut tawuran dan langganan masuk ruang BP. Tapi, bagi Kevano itu sesuatu yang harus ditertawakan.
"Kadang kita harus menikmati hidup dengan cara yang konyol." Begitu kata Kevano yang masih Renata ingat.
Sifat konyol itu membuat banyak perempuan menyukainya bukan hanya ia. Bahkan ia pernah satu kali dilabrak seorang kakak kelas karena terlalu dekat dengan Kevano, sayangnya Kevano lebih membelanya ketimbang kakak kelas itu.
Saat ia masih memikirkan Kevano, pintu kamarnya terbuka. Bian datang dengan berjijit dan mengagetkan Renata.
"Apaan sih, Kak." Ucap Renata yang mendatarkan wajahnya. Ia mengatur napas karena kaget. Jantungnya masih berdetak dengan kencang.
"Ngapain sih dikamar? Kata Mama habis ngumpul kamu langsung masuk kamar." Kata Bian sambil mengedarkan pandangannya keseisi kamar, lalu berhenti pada sebuah rak. Dan berjalan mendekati rak yang penuh barang-barang itu, mulai dari buku dan benda lainya. "Gak makan? Diet?"
"Diet?" Ulang Renata. "Kakak mau aku makin kayak lidi."
"Siapa tau. Ini udah lewat makan makan." Bian belum menoleh pada Renata, ia sibuk membongkar lemari itu.
Ia jarang sekali melakukan hal itu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya, nanti aku makan. Mau ganti baju dulu. Sekarang kakak keluar." Ucap Renata berusaha mengusir Bian.
"Kenapa? Malu?"
Renata mengangguk.
"Heleh, dulu aja kamu sering minta mandi bareng sama Kakak." sambung Bian mendekati Renata sambil membawa sebuah bola.
Bola sepak itu milik Renata, dulu saat sekolah Renata memang terkenal tomboy dan suka olahraga.
"Ih itukan pas kecil. Sekarang aku udah malu, dadaku juga udah tumbuh."
"Dada kecil kayak cetakan jeli aja kok."
Dak!
Renata melempar buku yang sebelumnya berada diatas meja, hampir saja mengenai Bian. Jika Bian tak menunduk.
"Sembarangan. Cepat keluar!" Teriak Renata, sambil terus mengusir Bian.
Tapi, belum sempat sampai dibelakang pintu, Renata memanggil.
"Kak,"
"Apaan? Katanya Kakak suruh keluar." Bian masih sibuk dengan bolanya.
"Kok Kak Kesya mengajar sih,"
Bian menghentikan kakinya saat mendengar nama Kesya dari mulut Renata.
"Maksudnya?" Tanya Bian dengan nada bingung.
"Iya, Kak Kesya ngajar di kampus aku. Udah dua hari ini. Masa kakak gak tau,"
Bian menggeleng bingung.
"Kakak kan pacarnya masa kak Kesya gak ngasih tau sih."
"Ngajar apa emangnya?" Selidik Bian makin penasaran.
Apa maksudnya dengan mengajar. Kenapa selama dua hari ini Kesya tak pernah mengatakan jika ia mengajar di kampus? kenapa harus mengajar? Ada apa?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya, tiba-tiba saja membuatnya berpikir aneh.
"Pengantar Managemen."
"Kakak kok gak tau."
Renata mengangkat bahunya. Lalu berucap, "Dan kakak tau gak, kalau kak Kesya itu dekat banget sama Vano."
Lagi-lagi Bian menggeleng.
"Itu lho teman yang ngantar Renata pulang pakai moge."
Vano-Vano, Bian berusaha mengingat. Apa Vano yang dimaksud Renata adalah bocah yang dua kali bertemunya di rumah Lesmana dan yang meminta bantuan pada Kesya untuk mengajarinya?
Ia baru mengingatnya.
"Sedekat apa? Teman belajar mungkin, Kevano kan adik bosnya Kesya." Ucap Bian berusaha tak berpikir yang macam-macam.
"Ih orang dekat banget kok."
Bian semakin kepikiran soal kedekatan Kesya dan Kevano. Ia tak bisa membiarkan kedekatan mereka terus berlanjut, apalagi jika Kevano mengatakan sesuatu yang tidak tidak baik pada Kesya soal kedekatannya dengan Lesmana.
Sebagai seorang pekerja iklan dan yang berhubungan dengan agensi, sudah pasti Kesya mengenal siapa itu Lesmana. Jika sampai ketahuan ia ada dibalik masalah Lesmana, itu bisa membuat permasalahan makin sulit.
Bagaimana jika Kesya marah dan memutuskan pernikahan mereka. Tidak. Bian sudah mendambakan pernikahan itu selama ini, menikah dengan Kesya adalah impiannya.
Bian semakin gusar. Ia menendang bola yang tadi ia mainkan kedinding yang membuat Renata kaget. Sesaat setelah itu ia keluar dari kamar Renata.
Tujuan utamanya adalah apartemen Kesya. Ia datang bukan karena cemburu, tapi karena ia tak ingin kedekatan Kesya dan Kevano mengganggu kesepakatan antara dirinya dan Lesmana, jika terbongkar uang ratusan juta akan lenyap.