My Berondong Husband

My Berondong Husband
#69 Nyonya Mira dan Pekerjaannya (2)



Nyonya Mira baru saja membereskan berkas dan tasnya, ia berniat keluar dari ruangannya dan pulang. Rasa lelah sudah bergelayut pada tubuhnya.


Sesekali ia menarik napas lelah sambil berjalan meninggalkan kantor. Beberapa karyawan yang ada disana terseyum dan menyapa.


Sikap rumahnya membuat para karyawan menaruh hormat dan segan padanya. Ia memang harus begitu, jika tidak mungkin mereka akan keluar dari kantor.


Untuk beberapa bulan terakhir, kantor mengalami inflasi drastis, ia mencoba membalikkan keadaan. Jika tidak, resiko terbesarnya adalah perusahaan bisa benar benar Failid.


Ia merelakan menjual beberapa saham dan beberapa cabang kantor agar kantor berjalan sebagaimana mestinya, meskipun itu masih tak memberikan dampak baik.


Pak Bondan berniat membantunya, tapi resiko yang akan ia terima nantinya jauh lebih besar dari apa yang ia dapatkan. Tapi, kadang hanya itu jalan satu satunya.


Nyonya Mira sampai dimobil, lalu membawanya pergi. Mungkin makan lebih dulu bisa sedikit membuatnya tenang. Lagi pula ia memang sedikit lapar, karena ia menahan makan untuk beberapa jam terkahir.


Mobilnya melaju di jalan raya, jalanan padat saat jam pulang sepertinya. Macet dan tak bersahabat. Mereka bertumpuk dijalan, membuat Nyonya Mira terus menarik napas berat.


Ponselnya berbunyi.


"Hallo." Ucap Nyonya Mira pada orang diujung telephone sana.


"Ma, nanti Renata pulang agak terlambat, ya. Mau ada acara sebentar."


"Acara apa? Tumben. Sama Angga, ya?"


"Ih Mama, kepo deh. Iya jalan sebentar, gak papa ya."


"Jangan kelewat malam."


"Siap Bos."


Percakapan itu berhenti. Ia membiarkan Renata itu berjalan bersama Angga, bukan berarti ia membuat Renata bebas, hanya kadang ia ingin melihat Renata sedikit merasa lapang.


Nyonya Mira terus perlahan menjalan kan mobilnya. Mirip seperti siput yang kewalahan membawa rumahnya. Ia hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit. Yang membuatnya tak sabar, apalagi orang yang ada dibelakangnya terus membunyikan klakson, seperti jalanan hanya miliknya sendiri. Menyebalkan.


Saat ada putaran, nyonya Mira langsung berputar karena ia tahu ada jalan lebih dekat disana.


Dan betul saja ia sampai di tempat tujuannya yaitu sebuah Mall di sana ada sebuah Resto yang menyajikan makanan cukup enak meskipun sedikit mahal tapi untuk memanjakan dirinya ia tak peduli.


Setelah memarkirkan mobil, ia masuk dan menyusuri pusat perbelanjaan itu. Mungkin makanan sekaligus berbelanja cukup menyenangkan.


Saat ia berjalan, tak sengaja ia menabrak seseorang. Makanan yang dibawa orang itu berhamburan ke lantai.


"Ma-maaf saya tak sengaja." Ucap Nyonya Mira berusaha membereskan kotak makanan orang itu.


"Iya, enggak apa-apa." Kata orang itu.


Suara orang itu nampak familiar ditelinga nyonya Mira. Hingga ia menunggu orang itu selesai memungut kotak makanan cepat saji.


Laki laki itu berdiri, lalu mendongakkan wajahnya, menatap nyonya Mira. Laki laki itu yang awalnya tersenyum kemudian mengendurkan bibirnya.


"Mira." Kata laki laki itu kaget.


Nyonya Mira pun ikut kaget bahkan seperti tak percaya dengan orang yang ada di depannya wajah yang selama bertahun-tahun tak nampak sekarang begitu jelas.


"Tedi?" ucap Nyonya Mira tak percaya. Segala mengucapkan hal itu Refleks Nyonya Mira hendak pergi, tapi Tedi memegang tangan kanannya dengan erat. "Lepas, Ted."


"Aku mau ngomong sama kamu, Mir."


"Semua itu salah paham, Mir. Aku mohon aku perlu bicara."


Tedi mengendurkan tarikannya begitu pula Nyonya Mira meskipun ia tetap tak yakin dengan pembicaraan itu.


Bagaimana mungkin ia harus meladeni orang yang selama bertahun-tahun pergi darinya. Kemudian datang seperti tanpa masalah.


Meskipun sudah lama berlalu tapi sakit hatinya belum juga kering rasanya Masih Membekas dan sakit begitu kejamnya, Tedi pergi darinya bahkan seakan tak ingat kalau iya sudah memiliki dua anak.


Nyonya Mira kadang berpikir, apakah Tedi Sempat mengingat anak anaknya atau bahkan disengaja membuang semua perasaan itu lalu menikah lagi dengan orang yang lain, ntah bagaimana status perkawinannya yang dulu.


%%%


Akhirnya luluh perasaan nyonya Mira, ia membiarkan Tedi mengajaknya berbicara, disebuah resto yang sengaja tadi ingin ia kunjungi.


"Aku minta maaf jika selama bertahun tahun aku tak ada kabar." Ucap Tedi kemudian. Nyonya Mira tak merespon dengan ucapan itu. "Mungkin ini sepertinya aneh, tapi aku pergi bukan tanpa alasan Mira. Ini terjadi begitu saja."


"Kamu yang sengaja pergi dari hidupku dan anak anakmu. Apa kamu pikir bagaimana mereka tumbuh dan berkembang? Aku yang selama ini menjadi tulang punggungnya." Ujar Nyonya Mira masih menahan amarahnya.


"Iya aku minta maaf atas kesalahanku. Aku tak memuaskan kembali padaku, tapi mohon percayalah padaku."


Kemudian Tedi bercerita apa yang terjadi padanya beberapa tahun lalu. Awalnya ia pulang bekerja seperti biasa, saat ada dua orang tiba-tiba mendekatinya, dan membiusnya.


Ia tak sadarkan diri, hingga akhirnya ia terbangun disebuah tempat. Disana sudah ada dua orang yang tadi membiusnya, dan seorang lagi yang sangat ia kenal.


Laki laki yang hendak ia masukkan kedalam penjara karena tersandung masalah perselisihan serasa kantor.


Dua orang yang disewa laki laki itu memukulinya hingga babak belum dan kemudian ia pingsan.


Tiga hari ia terbangun dan di rumah sakit, Tedi tak mengingat apapun. Ia amnesia dan kemudian menjadi seorang yang baru bernama Rian.


Tedi tak mengingat dirinya, Mira ataupun anak-anaknya. Bahkan ia tak memiliki nomor untuk menghubungi pihak keluarga, karena ponsel dan semua tanda pengenalnya hilang bersamaan dengan tragedi itu.


Saat ia tahu ia dibuang jauh dari tempat asalnya. Tedi ditemukan seseorang dan akhirnya hidup seperti seorang miskin.


Selama bertahun tahun ia menjadi pegawai biasa dipabrik kayu, hingga akhirnya ia menikah lagi dengan seorang perempuan, yang perlahan mengubah hidup buruknya.


Tak berapa lama setelah pernikahannya itu, ia perlahan mengingat masa lalunya. Ia mengingat Mira, Bian dan juga Renata. Tedi berniat mencari mereka ketempat asal. Tapi Mira dan keluarnya sudah pindah.


Mendengar cerita itu, raut wajah nyonya Mira seperti tak peduli. Karena sakit hati masih ada dalam dirinya.


"Mungkin seperti mengada-ada, tapi begitu adanya, Mir. Aku selama ini mencari kalian, selama belasan tahun. Aku sudah bercerai dengan istri ku. Bisa kita berkumpul seperti dulu?"


Nyonya Mira menggeleng.


"Kenapa?" Sambung Tedi sambil bertanya.


"Semua gak semudah itu Ted. Aku sudah berusaha melupakanmu. Begitu juga Bian dan Renata."


"Tapi Bian dan Renata itu anakku, meraka pasti rindu sama aku, kan."


"Enggak. Mereka sudah lupa bagaimana rasanya punya Papanya. Lebih baik sekarang kamu lupakan kalau kamu punya anak. Aku bisa mengurus keduanya. Lihat sampai sekarang mereka sudah sukses."


"Tapi, Mir."


Nyonya Mira tak peduli, ia berjalan meninggalkan mejanya dan berlalu pergi. Tedi disana sambil terdiam.