
“Ini gimana
sih!” teriak seorang perempuan yang tak lain pengunjung restoran pada salah
satu pelayan.
Beberapa
orang yang ada di sana melihat hal itu, sementara sang pelayan terus meminta
maaf sambil melpa meja yang sempat tertumpah kuah santan dari makanan.
Kesya yang
melihat hal itu dari kejauhan mendekati keduanya.
“Ada apa
ini?” tanya Kesya lembut pada pelayan restorannya, tapi sang pelayan hanya
terdiam karena takut jika berbicara nanti salah. “Maaf bu ada apa?”
“Kamu
siapa?!” tanya peremuan itu dengan nada yang sedikit agak kasar. Wajahnya ketus
dan tak bersahabat.
“Saya
pemilik restoran ini.” Jawab Kesya.
“Oh bagus
deh.” Kata perempuan itu mencibir, belum mengatakan apa yang sebenarnya
terjadi. “Lihat itu pelayanmu, masa dia numpahin kuah santan di meja. Dasar
b*d*h.”
Kesya
mengelus dadanya dengan ucapan perempuan itu, kata-katanya sedikit kasar untuk
tampilan perempuan elegan dan modis. Dari pakaiannya saja terlihat kalau dia
salah seorang kaya raya.
“Maaf atas
keteledoran pelayan saya, kami bersihkan sebentar, nanti kami ganti makannya.”
Kata Kesya masih berusaha bersikap ramah.
Kesya tak
mungkin memarahi pegawainya, karena pasti hal itu tak sengaja ia lakukan.
“Halah gak
usah, saya mau pergi saja. Gak cocok saya makan ditempat seperti ini, tempatnya
saja yang bagus, tapi pelayannya kurang.” Lagi-lagi perempuan itu menyindir
Kesya dan restorannya. Dengan sekali langkah ia mengambil tas dan kemudian
berlalu pergi tanpa berniat sedikit pun untuk membayuar apa yang telah ia makan
tadi setelah kuah santan tadi habis ampasnya.
“Maaf bu,
saya gak sengaja.” Akhirnya suara pelayan perempuan itu keluar, sambil melap
mejanya dan Kesya membantu mengambil pecahan beling dari mangkok yang
berserakan di lantai.
“Udah gak
apa-apa, ayo bersihkan. Setelah itu kamu masuk kedalam dan istirahat, ya.”
Sang pelayan
mengangguk.
Dengan
cekatan Kesya membantu sang pelayan membersihkan kekacauan itu dan mencoba
bersikap tenang. Setelah selesai ia berniat meninggalkan tempat itu, karena
beberapa pengunjung masih melihat kejadian tadi dan seolah menunggu adegan
selanjutnya.
Sepertinya
mereka menunggu Kesya memarahi sang pelayan lalu memecatkanya. Tapi, Kesya tak
akan melakukan hal itu, karena yang ia tahu itu adalah karyawan barunya. Jadi
wajar saja jika masih tahap belajar dan beradabtasi dengan lingkungan baru.
Belum sempat
ia berjalan menjauh dari sana, ia kembali mendengar suara sumbang melengking
yang sudah lama tak ia dengar oleh pendengarannya.
“Keses!”
teriak suara itu. Kesya menoleh, dan ia menemukan Yunda dan Ganda yang berjalan
dari arah pintu resto mendekatinya. “Syukur banget kamu ada di resto.”
“Duduk deh.”
Kata Kesya mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang sudah
dibersihkannya tadi. “Tumben kalian kesini, dan kamu Ndis udah lama banget gak
kelihatan.”
“Baru juga
seminggu gue nemenin ziarah di makam Papa kamu.” Ucap Yunda.
“Iya, aku
lupa soal itu. Kamu Ndis?”
“Biasalah,
masih sibuk merancang baju gitu deh. Beberapa bulan terakhir lagi ikutan New
York Fashion week.” Kata Ganda berlagak memamerkan dirinya sendiri yang sudah
menajdi perancang go internasional.
“Bukannya
kamu ngerancang baju buat Miss Universe juga ya, Ndis?” tanya Yunda.
“Ih salah
ya, bukan Miss Universe tapi Mis Comunication.” Gelak Ganda sambil menahan tawa
manjanya.
“Aku serius
Ganda Jaenudin.” Rungut Yunda. “Pesenin minum dong Kes, haus banget nih habis
teriak-teriak sama Abrar tadi.”
“Tunggu ya,
kalian harus cobain minuman baru disini, aku yang bikin.”
Yunda dan
Ganda mengacungkan jempolnya, sementara Kesya berjalan menjuah dari meja kedua
anggaota kalong yang tak pernah akan bubar itu.
“Ngapain
kamu teriakin si Abrar?” tanya Ganda saat Kesya sudah berllau pergi.
“Biasalah,
dia masih seperti dulu, terlalu sibuk sama kerjanya, sampai gak ada waktu buat
aku sama si kembar tampan.” Ucap Yunda berusaha mendramatisir keadaan.
Sudah lebih
dari lima belas tahun Yunda dan dokter Abrar menikah, dan pernikahan mereka
sebenarnya tergolong harmonis. Mereka di karuniai dua anak kembar laki-laki
yang begitu tampan, keduanya sudah masuk SMA tahun ini.
Tapi, yang
membuat Yunda kadang sebal dengan Abrar adalah ia masih terllau sibuk dengan
pekerjaannya, jarang ada waktu bersama dirumah, hal itu juga membuat kedua
putra ikut-ikutan jarang pulang. Rumahnya sepi, alhasil meskipun sudah tak muda
lagi Yunda tetap ayik keluyuran.
“Suami kamu
kerja juga buat kamu, kan, Yun.” Ujar Ganda. “Skincare kamu itu mahal, makanya
dia mikir gimana supaya kamu bisa beli.”
“Tapi, kan
aku juga punya uang, Ndis. Warisan perusahaan papa masih jalan, Mama juga
banyak uang.”
“Beda lah
itu, Yun.” Tambah Kesya yang baru saja datang sambil membawa tiga buah minuman.
Lalu memberikan kedunya pada Ganda dan Yunda. “Abrar begitu karena ingin
memberikan nafkah buat keluarganya, meskipun kamu dapat warisan dari rumah atau
pun uang keluargamu tak berseri itu.”
Yunda dan
Ganda hanya bisa mengangguk sambil menikmati minuman yang dibuat Kesya tadi.
“Eh gimana
kamu tadi, Ndis.” Sambung Kesya.
“Apanya?”
tanya Ganda belum meletakkan gelasnya.
“Katanya
kamu merancang baju buat Mis Universe, makin keren dong nama kamu di kacncah
dunia per-fashionan.”
“Ah
berlebihan kamu. Kan sudah aku bilang bukan Miss Universe, hanya sekelas Mis
Internasional.” Kata Ganda, dari katanya yang berusaha merendah itu sebenarnya
Ganda berharap dapat pujian dari kedua sahabatnya.
“Kamu bilang
‘hanya’, eh Ganda Jaenudin, Miss Internasional itu juga udah keren banget lho.
Bangga aku sama kamu.” Puji Yunda dibarengi tepuk tangan pelan dari Kesya,
karena mereka tahu itu yang dibutuhkan seorang Kusma Ganda Jaenudin atau biasa
dipanggil Gendis Jamilah.
Sudah tujuh
belas tahun berlalu, sejak kejadian yang menimpa hidupnya, Ganda keluar dari
kantor, menjual beberapan barang miliknya untuk melunasi hutang sang mama.
Setelah itu membawa adik laki-laki yang tengah kuliah hidup bersamanya di
ibukota.
Setelah
keluar dari kantor ia membuka sebuah distro anak muda yang dibantu sang adik,
lambat laun ia mulai mencoba merancang pakainnya sendiri. Dan kemudian menjadi
perancang baju yang sekarang menjadi terkenal, para artis, orang kaya, bahkan
tokoh terkenal menggunakan bajunya.
Dan untuk
pertama kalinya dalam tahun ini ia mendapatkan kesempatan merancang baju untuk
salah satu Miss Internasional perwakilan Indonesia, di Filiphina.
%%%
Bian menarik
napas beratnya lalu berulang kali menghembuskannya,sambil menyesap kopi hitam
pahit sambil ditemani roti selai kacang yang di buatkan sang istri, Laras. Kata
orang, masakan istri adalah masakan yang paling enak di dunia. Kata orang itu
selalu dibenarkan oleh Bian sendiri.
Meskipun
hanya roti biasa dan kopi biasa, tapi Laras selalu bisa membuat semua yang
masuk dalam tubuhnya menjadi sesuatu yang sangat spesial, bahkan lebih spesial
dari nasi goreng dua telur mata sapi.
Bagus sekali
bukan, diusianya yang bukan muda lagi, bahkan sudah cukup matang, ia ditemani
istri yang begitu baik padanya, bahkan bukan hanya itu, ia kini sudah memiliki
seorang anak perempuan yang cantik dan tumbuh besar. Namanya Ayudia, yang tahun
ini akan masuk SMA.
Memang tak
lama setelah Bian keluar dari penjara ia langsung menikahi Laras, meskipun ia
harus mengurs permasalah lebih dulu dengan tuan Susanto.
Saat
teringat nama laki-laki kejam itu, ia kembali teringat Kesya. Perempuan baik
hati yang berubah menjadi pendendam karena dirinya, Kesya yang dulu manis
bersikap ramah, kini saat melihanya berubah menjadi perempuan pendiam dan
bahkan malah terlihat acuh.
Jika saja
semua tak terjadi karena kesalahannya, mungkin sekarang ia sudah menikah dengan
Kesya dan memiliki anak setampan Keylan, tapi semua itu hanya menjadi kata jika
saja. Ia tak bisa kembali lagi kesana dan merubah semuanya, semuanya sudah
terjadi bukan atas kehendaknya, tapi karena pilihannya sendiri.
“Ayu sudah
bangun, Ma?” tanya Bian pada Laras, saat melihat sang anak tak nampak di ruang
makan saat itu
“Kayaknya
belum, Pa.” Jawab Laras sambil membereskan kulkasnya dan menata beberapa barang
disana, sesaat setelah ARTnya membeli beberapa kebutuhan mingguan.
“Bangunin
lah, ini sudah hamoir jam tujuh, masa perempaun bangun siang.” Kata Bian lagi.
Laras tak
menjawab hanya mengangguk sesaat. Kemudian berjalan meninggalkan Bian. Tapi,
belum sampai Laras keluar dari dapur sang anak sudah muncul dengan wajah
datarnya, wajah yang tak diturunkan dari kedua orang tuanya.
Garis wajah
yang tak pernah menyungging senyum dan nampak biasanya itu sangat melekat pada
wajah nyonya Mira, Mama dari Bian.
“Ayu sudah
bangun, Pa.” Kata Ayudia mendekati meja makan. Sambil sesekali menguap, tanda
ia sangat mengantuk.
“Jam berapa
ini kamu baru bangun,” ujar Bian yang hanya bermaksud menjelaskan bahwa ini
hampir siang.
“Jam tujuh.”
Jawab Ayudia datar. “Lagian ini hari minggu, Pa. Ayu pengen bangun siang.”
“Gak ada
alasan, ya. Mau minggu ataupun bukan minggu kamu tetap[ harus bangun pagi. Kamu
kan bisa bantuain mama atau bersih-bersih kamarmu sendiri.”
“Kita kan
punya pembantu, ngapain Ayu ngerjain semuanya sendiri.” Kata Ayudia.
Kata-katanya memang pelan, tapi bagi yang tak paham dengan sifat Ayudia pasri
akan sakit hati dengan hal itu. Untung saja Bian dan Laras sudah terbiasa.
“Meskipun
kita punya pembantu, buykan berarti kamu harus bermalas malasan kan, kamu kan
bisa mealkukan pekerjaan lain. Atau kamu bisa belajar mumpung hari minggui.”
“No. Enggak,
Pa. Aku sudah belajar enam hari dalam seminggu, delapan jam sehari, masa hari
minggu pun aku tetap belajar. Im need holiday.”
Bian tak
bisa berucap satu kata pun lagi jika suara Ayudia sudah sedikit meninggi. Anak
gadisnya itu jika dibantah akan lebih keras dan akhirnya marah padanya.
Meskipun ia papanya tapi melihat Ayudia yang sakit hari karena amarahannya itu
lebih menyakitkan.
“Sudah gak
usah ribut, masih pagi juga.” Lerai Laras pada Bian dan Ayudia. “Ini nasi
gorengnya sudah siap, ayo di makan. Mama masak spesial lho.”
Mendengar
ucapan Laras yang lembut itu membuat keduanya menjadi luluh dan kemudian
berebut mengambil nasi goreng. Laras tersenyum simpul melihat keakraban anak
dan suaminya, meskipun kadang mereka terliaht keribuatn kecil, seperti yang
terjadi beberapa menit lalu.
Laras tak
pernah menyangka bahwa hidupnya akan sebahagia ini. Dulu menjadi pacar Bian dan
menunggu Bian keluar dari penjara adalah hal yang paling sulit, apalagi saat
tahu bahwa Bian tak menyukai nya lagi, dan bahkan lebih memilik Kesya.
Namun, entah
bagaimana, akhirnya semuanya berubah, Tuhan berkata lain dan menjodohkannya
denganya Bian.
Sifat Bian
pun perlahan berubah padanya. Bian yang awalnya tak peduli padanya, menjadi
sadar bahwa hanya ia yang sering menjenguk di penjara dan setelah itu menikahinya.
Tepatnya
enam belas tahun lalu.
Sudah tiga
tahun Laras terus mengunjungi Bian di dalam penjara, menjenguk dan membawakan
makanan. Saat Bian keluar dari penjara ingin rasanay ia menyambut, tapi tak
bisa karena kesibukan pekerjaanya.
Berhari-hari
setelah Bian keluar, Bian tak nampak muncul untuk menemuinya, ia pikir Bian
akan melupakannya dan kembali mencari Kesya, tapi setelah perasaan hampir
menyerah itu. Bian malah datang melamarnya bersama kedua orang tuanya.
Sejak saat
itu hidup barunya bersama Bian dimulai dan semuanya berubah, tak ada lagi Bian
yang dulu, yang ada Bian yang baru yang memiliki sifat penyayang dengan
keluarganya.
"Ma,
Pa. Ayu main keluar ya." Ucap Ayu membuyarkan lamunan Laras.
"Kemana?
tumben." tanya Laras.
"Tadi
Papa yang nyuruh Ayu beraktivitas, sekarang malah dibilang tumben."
"Iya.
Yaudah sana jalan-jalan aja." kata Bian setengah menyuruh Ayudia bergegas.
Semantara
Ayudia tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung meninggalkan meja makan itu.
%%%
"Gimana
ini gak jalan, Ka?" tanya Keylan sambil berusaha menggerakkan motornya,
tapi susah sekali tak bergerak.
Raka menoleh
kearah Keylan, lalu mendengus saat melihat apa yang dilakukan Keylan. Ternyata
bukan hanya tak pandai dalam bidang pembelajaran, Keylan juga tak pandai
mengendarai motor gede.
"Lah
malah melamun, cepetan kampret." sambung Raka.
"Ini
lho kopling gak lu lepas. Lepasnya pelan pelan, jangan kejutan nanti hilang
kendali lu." jawab Raka membantu Keylan menjalankan motornya.
"Pelan-pelan,"
kata Keylan sambil melepaskan kopling itu pelan dibarengi gas motornya.
Pelan sekali
ia melepaskan nya, supaya motor itu tak lepas kendali. Dan...
Dengan
kecepatan tinggi motor yang di naiki Keylan melaju begitu saja di jalanan.
Bahkan Raka sampai kehilangan jejaknya.
Dengan
bergegas Raka mengambil motor matic miliknya, lalu membawanya pergi mencari
Keylan.
Raka terus
menengok kanan kiri, memastikan ia menemukan Keylan, tapi tetap saja tak ada.
Hingga..
Sebuah
sepeda melaju di depannya, Raka kaget dan menghindar, sayangnya pemilik sepeda
itu malah membanting setir dan terjatuh di dekat trotoar.
Raka
memarkirkan motornya, mendekati pemilik sepeda itu.
"Maaf,
kamu gak apa apa?" tanya Raka sekaligus meminta maaf karena sudah
menyebabkan pemilik sepeda itu terjatuh.
"Gak
apa apa gimana, udah tahu gue jatuh gini. Pakai tanya lagi." Jawab pemilik
sepeda itu judes, seorang gadis kecil yang usianya tak berbeda jauh dengan
Raka.
"Gue
cuma mastiin aja kalau kamu gak apa apa. Perlu dibantu?"
"Perlu."
kata gadis itu, "Tapi sepeda gue, bukan gue."
Raka
mengurungkan niatnya yang ingin membantu gadis itu berdiri, lalu mengambil
sepedanya yang tak jauh dari tempat gadis itu terjatuh.
Kemudian
Raka dan
gadis itu duduk dibangku, sementara gadis itu masih mengaduh karena samping
siku tangannya lecet meskipun tak sampai mengeluarkan darah.
"Gue
minta maaf ya." ucap Raka lagi.
Gadis itu
mengangguk pelan. Meskipun tak begitu menguhiraukan ucapan Raka.
"Gue
Raka," sambung Raka mengulurkan tangannya.
"Ayudia,
panggil aja Ayu." jawab singkat gadis itu yang tak lain Ayu. Seperti
biasa, sikapnya memang sedikit kaku dan pendiam.
"Kamu
dari mana kok naik sepeda?" tanya Raka lagi, ia mencoba akrab dengan Ayu,
meskipun sikap Ayu seperti tak bersahabat.
"Dari
rumah, rumah gue deket aja kok dari sini."
Kemudian
Raka terus mencoba berbicara sesuatu yang selama ini tak pernah ia keluarkan,
Ayudia tetap bersikap seperti biasanya. Hampir tak peduli dengan banyak ocehan
dari Raka. Sifat Raka yang biasanya pendiam entah kenapa menjadi sedikit
agresif dan banyak omong hingga tak bisa berdiam.
"Ka! Lu
ngapain disitu, malah ngobrol sama cewek lagi!" Teriak Keylan dari atas
motornya. Saat mengetahui bahwa Raka tengah berbicara dengan seorang gadis.
Raka dan
gadis itu menoleh bersamaan, sementara Keylan turun dari motornya, layaknya
sang pangeran yang turun dari kudanya. Keren.
"Eh lu,
Yu. Ngapain disini?" sambung Keylan pada Ayudia, bersikap seolah akrab
dengannya.
"Lu
kenal sama Ayu?" tanya Raka.
"Kenal
lah, Ayu kan anak nya Om Bian, teman kerja Papa ku. Jawab Yu, diam aja."
"Tuh."
Ayudia menunjuk sepedanya yang bagian depannya sedikit penyok. "Ditabrak
sama temanmu."
"Eh
Ngawur aja, gue gak nyenggol, lu sendiri kan yang jatuh gara gara ketabrak sama
trotoar." Kilah Raka tak ingin dituduh yang macam macam oleh Ayudia.
"Tapi
kan kalau lu gak meleng, gue pasti gak jatuh."
"Gue
meleng karena nyari Keylan." Kata Raka sambil melihat Keylan.
"Loh kok
jadi salah gue." Keylan hanya bisa diam dan pasrah saat tertuduh.
"Halah bodo amat, gue minta maaf ya Yu, Ka. Sekarang kita pulang,
Ka."
Ajak Keylan
pada Raka, seolah tak merasa bersalah karena sudah membuat Ayudia terjatuh.
Keduanya
berlalu pergi, membawa motornya masing-masing, sementara Ayudia hanya terdiam
disana, lalu mencoba bangkit dan mengambil sepedanya kembali.
Tak berapa
lama Keylan dan Raka sudah sampai ditempat awal meraka mencoba motor itu gede
itu, yakni rumah sang kakek dan nenek mereka.
"Lu
tadi kemana sih?" tanya Raka pada Keylan, meraka duduk didepan trotoar.
"Kan
lagi belajar motor, jadi gue bawa jalan jalan komplek, terus lewat jalan
Badarudin." Jawab Keylan dengan santainya.
Lagi lagi
Raka hanya bisa mendengus dan tak percaya dengan ucapan Keylan.
"Lu
peak ya, jalan badarudin itu jalan raya gede, rame kendaraan disana, kalau
sampai lu Ditabrak gimana? Gue harus ngomong apa sama orangtua lu." Kata
Raka sambil sedikit menahan emosinya.
"Santai
lah, kan tadi belajar. Makanya gue coba ke jalan yang lebih besar. Eh ternyata
enak juga naik motornya. Gue langsung bisa."
"Terserah
lah, awas sampai kenapa-kenapa."
Keylan
mengangguk.
Saat obrolan
itu, nyonya Putra memanggil mereka dari depan pintu rumah.
"Raka!
Keylan! Masuk sini, Nenek punya cemilan!" Teriak Nyonya Putra, tak perlu
mengunggu berapa berapa lama kedua cucunya lansung berebut lari.
Raka dan
Keylan masuk kedalam rumah, dan menuju tempat ruang bersantai yang berada di
halaman depan. Disana sudah ada Nyonya dan tuan Putra yang sedang menikmati
hari.
"Gimana
belajar motornya?" tanya Tuan Putra sambil menyesap tehnya.
"Langsung
bisa kek, Keylan kan pintar kalau cuma soal naik motor aja." jawab Keylan
sambil mengunyah kue yang dibuatkan sang Nenek.
"Tumben
kamu pengen belajar motor, mau buat apa?" kembali tanya nyonya Putra.
"Buat
dapetin hati seorang gadis, Nek." timpal Raka.
"Huss."
Kata Keylan sembari memukul pelan lengan Raka.
"Gimana
ceritanya buat dapetin hati cewek?" selidik tuan Putra.
Kemudian
Keylan menceritakan bahwa ia menyukai seorang gadis cantik primadona sekolah,
tapi gadis itu mengajukan syarat jika ingin menjadi kekasihnya.
"Jadi
syaratnya harus balapan gitu, ya?" tanya kembali tuan Putra.
Keylan hanya
mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan yang begitu enak, buatan sang
nenek, saking enaknya sampai Raka dan Keylan terus berebut kue itu.
Sementara
keduanya sibuk dengan makanan buatan sang nenek, Ayudia sudah sampai rumah.
Setelah menaruh sepedanya di garasi, ia duduk di sofa ruang tamu sambil
mengaduh, pahadal sudah tak begitu sakit.
"Kamu
kenapa, sayang?" tanya Laras begitu melihat Ayudia menggulung lengan
bajunya sambil terus meniupnya.
"Tadi
jatuh, Ma. Sepedanya menabrak trotoar."
"Kok
bisa nabrak sih. Gimana ceritanya?"
"Tadi
kan Ayu menghindari motor, trus banting setir eh malah jatuh." Papar
Ayudia pada sang Mama.
"Makanya
hati hati kalau naik sepeda, gitu kok mau minta motor. Gimana kalau jatuh pas
naik motor." Cibir Laras pada Ayudia.
Ayudia hanya
bisa terdiam mendengar sang Mama mulai menggomel dan mengatakan sesuatu yang
tak ingin ia dengar.
Memang ia
tak ingin mendengar apapun.
%%%
Keylan
berjalan pelan membuka pintu rumahnya, sudah pukul sepuluh malam saat ia baru
pulang dari belajar motor bersama Raka.
Pelan sekali
ia mengendap endap seperti maling yang takut ketahuan karena mencuri celana
dalam.
Ia melewati
ruang tamu dengan aman dan selamat, kemudian berjalan melewati ruang tengah dan
berniat menuju kamar tidurnya. Tapi, tiba tiba saja lampu menyala.
Sang Papa
didekat saklar lampu sementara sang Mama duduk di sofa ruang tengah.
Keylan hanya
bisa nyengir melihat kedua orang tuanya yang memasang wajah seserius itu.
Kemudian Keylan menunduk dan mencoba bersikap pasrah karena ia tahu apa
kesalahannya.
"Dari
mana?" tanya Kesya. Keylan tak bergeming, masih menundukkan wajahnya dan
tak berniat untuk mengangkat.
"Kalau
ditanya itu coba jawab, malah diam aja." timpal Kevano, Keylan malah
semakin diam.
"Keylan,
ini sudah malam ya. Gak biasa kamu pulang semalam ini. Kamu udah mulai nakal
ya?" sambung Kesya.
"Jawab!"
Suara Kevano meninggi, Keylan tersentak sendiri. Tak biasanya sang Papa begitu
marah padanya.
"Keylan
dari rumah Raka, Pa." jawab Keylan masih terus menunduk.
"Ngapain
main sampai malam begini, dan kenapa gak ngomong. Bilang aja kalau disana, atau
mau menginap disana." Kata Kesya.
"Gak
sempat, Pa." Ujar Keylan. "Niatnya tadi mau pulang sore, tapi
ketiduran habis main game sama Raka. Sorry."
Kevano
berjalan mendekati Kesya yang masih berada ditempat yang sama, lalu kemudian
berbicara sebentar, seolah tengah membiarkan sesuatu yang penting.
"Sebagai
hukumannya, besok kamu setelah pulang sekolah, cuci baju sendiri. Gak boleh
pakai mesin." Ucap Kevano.
Keylan
mendongakkan kepalanya. "Enggak bisa, Pa. Keylan gak mau, kan ada Bibi
yang cuci baju kenapa harus Keylan."
"Oh
ngelawan ya, kalau gitu uang jajan kamu Papa potong enam puluh persen."
sambung Kevano.
"Ngalah
deh, iya besok Keylan bakalan cuci baju sendiri." Setelah mengucapkan hal
itu, dengan lemas Keylan berjalan menuju kamarnya.
Pelan sekali
seperti orang yang tak memiliki daya untuk melakukan apapun. Padahal ia hanya
bersikap begitu agar orang tuanya mencabut hukumannya, tapi Kesya dan Kevano
hampir tak peduli dengan hukumannya yang sudah diberikan.
Sikap nakal
Keylan kadang keterlaluan, tapi dibalik sikap nakalnya itu membuat Kesya dan
Kevano bahagia karena Keylan bisa membuat mereka tertawa.
Sementara
Keylan sudah berada di kamarnya sekarang, melemparkan diri diatas tempat tidur
dan sambil mengocek ponselnya sendiri. Sembari melihat fotonya yang tengah
bergaya diatas motor besar yang sudah diberikan sang kakek untuknya.
Beberapamenit lalu
Di jalanan
yang agak sepi, malam itu Keylan dan Raka mencoba kembali belajar menggunakan
motor. Seolah meraka benar benar ingin memenangkan perlombaan nantinya.
"Lu
harus menang. Awas sampai lu kalah." Kata Raka sambil memberikan semangat
pada Keylan.
"Kalau
gue kalah gimana?" tanya Keylan.
"Gak
boleh, gue ambil tu motor sampai lu kalah."
"Dih
kok bisa begitu sih, enak aja main ambil motor segala."
"Harus,
pokoknya lu harus menang."
"Bawel."
Kata Keylan sambil menggeber motornya.
"Bawa
motor sana, didepan gue udah kasih palangan. Gue bakalan hitung berapa catatan
waktu lu." Kata Raka.
Keylan
mengangguk, setelah menggeber motornya berulang kali, ia membawa motor itu
kembali melaju dengan kecepatan yang tinggi, seolah ia sudah berubah dari
seorang amatiran menjadi profesional.
Sementara
Raka menunggu disana sambil mengunyah cemilannya, menghitung berapa lama waktu
yang akan ditempuh Keylan.
Dan tak
berapa lama kemudian, Keylan datang seolah sudah menang.
"Berapa
waktunya?" Tanya Keylan.
"Lambat,
waktu lu dua menit tiga puluh detik. Harusnya jarak sedekat itu bisa lebih
cepat."
"Halah,
besok belajar motor lagi. Masih ada tiga hari, dan gue capek mau pulang. Udah
malam juga, aja dimarahi Mama nanti."
Setelah itu keduanya
pergi dari sana dan kemudian pulang dengan senyum Keylan yang terus mengambang.
Raka yang
melihat senyum Keylan itu hanya mencibir, Sepupunya itu sepertinya tengah
berkhayal sudah memenangkan perlombaan. Padahal Keylan sekali pun belum pernah
lomba.
Beberapamenit kemudian
Sambil terus
tersenyum Keylan membayangkan hal itu. Hingga ia tak sadar bahwa pintunya
terbuka karena sang Papa masuk.
"Ngapain
senyum senyum bukannya tidur." Tegur Kevano. Keylan menaruh ponsel nya
diatas dada.
"Papa
sendiri ngapain kesini kenapa nggak tidur Kan sudah malam nanti dicariin mama
lagi."
"Malah
bawel ngomonginnya. Papa tahu aku dari mana, karena Papa nggak yakin kalau kamu
main game soalnya katanya Om Ruben katanya kalian belum pulang dari pagi ke
Mana aja, kamu bisa bohongin mama Tapi kamu nggak bisa bohongin Papa, kalau
kamu nggak jawab apa bakalan potong uang jajan mu cepat jawab."
Keylan
kemudian menaruh ponselnya di atas meja, ia kemudian mendudukkan dirinya begitu
pula sang Papa yang duduk sejajar dengan tubuhnya.
Dengan raut
wajah kembali muram dan seolah meminta belas kasihan, ia masih begitu sulit
membuka mulutnya.
"Cepatan
jawab omongan Papa," sambung Kevano lagi. Terus memaksa.
"Keylan
Belajar motor." Kata Keylan keluar begitu saja dari mulutnya.
"Nah
gitu aja pakai bohong segala." Ucap Kevano, Keylan bingung dan tak percaya
dengan ucapan sang Papa.
"Lo,
Papa gak marah dengar Keylan Belajar motor? Ini motor gede lho, Pa."
"Ngapain
Papa harus marah sama kamu. memang Apa alasan Papa marah karena kamu cuma
belajar motor aja. Sekarang Papa tanya, kamu belajar motor punya siapa dan buat
apa?"
"Keylan
Belajar motor yang ada di rumah kakek sama nenek katanya itu punya Om Ruben.
Terus Alasan Aku belajar motor karena buat dapetin cewek itu syaratnya sih agar
aku diterima jadi pacarnya."
"Serius
itu alasannya? emang kenapa cewek itu sampai aja yang syarat kamu harus bisa
naik motor Papa kamu enggak jelek banget biarpun ganteng Papa." Ujar
Kevano.
Keylan
mendengar ucapan sombong sang Papa hanya bisa mendengus.
"Katanya
biar Keylan kelihatan macho, Pa."
"Oh
gitu ya, Papa dukung deh. Asal jangan sampai telat pulang malam lagi. Nanti
mamamu ngomel lagi."
Keylan
mengangguk mendengar ucapan sang Papa, setelah itu sang papa berlalu pergi dari
kamar Keylan.
Kevano tak
bisa marah dengan Keylan, karena dulu ia juga seperti itu. Bahkan jika
dibandingkan dengan Keylan sekarang Kevano dulu jauh lebih bandel, bahkan
saking bandelnya kedua orang tuanya sampai angkat tangan, yang bisa mengurus
Kevano hanya Ruben.
Mengingat
kejadian itu Kevano hanya bisa tersenyum simpul, mengingat betapa nakalnya ia
dulu, tapi seiring waktu semuanya berubah meskipun ia nakal nyatanya sekarang
Ia menjadi orang yang cukup sukses bahkan cukup disegani dalam bidang
perekonomian di Indonesia banyak iklan-iklan yang sudah ia kerjakan baik yang
kecil maupun yang besar mau swasta ataupun negeri.