My Berondong Husband

My Berondong Husband
#95 Trio Kalong Reuni dan Tentang Keylan



“Ini gimana


sih!” teriak seorang perempuan yang tak lain pengunjung restoran pada salah


satu pelayan.


Beberapa


orang yang ada di sana melihat hal itu, sementara sang pelayan terus meminta


maaf sambil melpa meja yang sempat tertumpah kuah santan dari makanan.


Kesya yang


melihat hal itu dari kejauhan mendekati keduanya.


“Ada apa


ini?” tanya Kesya lembut pada pelayan restorannya, tapi sang pelayan hanya


terdiam karena takut jika berbicara nanti salah. “Maaf bu ada apa?”


“Kamu


siapa?!” tanya peremuan itu dengan nada yang sedikit agak kasar. Wajahnya ketus


dan tak bersahabat.


“Saya


pemilik restoran ini.” Jawab Kesya.


“Oh bagus


deh.” Kata perempuan itu mencibir, belum mengatakan apa yang sebenarnya


terjadi. “Lihat itu pelayanmu, masa dia numpahin kuah santan di meja. Dasar


b*d*h.”


Kesya


mengelus dadanya dengan ucapan perempuan itu, kata-katanya sedikit kasar untuk


tampilan perempuan elegan dan modis. Dari pakaiannya saja terlihat kalau dia


salah seorang kaya raya.


“Maaf atas


keteledoran pelayan saya, kami bersihkan sebentar, nanti kami ganti makannya.”


Kata Kesya masih berusaha bersikap ramah.


Kesya tak


mungkin memarahi pegawainya, karena pasti hal itu tak sengaja ia lakukan.


“Halah gak


usah, saya mau pergi saja. Gak cocok saya makan ditempat seperti ini, tempatnya


saja yang bagus, tapi pelayannya kurang.” Lagi-lagi perempuan itu menyindir


Kesya dan restorannya. Dengan sekali langkah ia mengambil tas dan kemudian


berlalu pergi tanpa berniat sedikit pun untuk membayuar apa yang telah ia makan


tadi setelah kuah santan tadi habis ampasnya.


“Maaf bu,


saya gak sengaja.” Akhirnya suara pelayan perempuan itu keluar, sambil melap


mejanya dan Kesya membantu mengambil pecahan beling dari mangkok yang


berserakan di lantai.


“Udah gak


apa-apa, ayo bersihkan. Setelah itu kamu masuk kedalam dan istirahat, ya.”


Sang pelayan


mengangguk.


Dengan


cekatan Kesya membantu sang pelayan membersihkan kekacauan itu dan mencoba


bersikap tenang. Setelah selesai ia berniat meninggalkan tempat itu, karena


beberapa pengunjung masih melihat kejadian tadi dan seolah menunggu adegan


selanjutnya.


Sepertinya


mereka menunggu Kesya memarahi sang pelayan lalu memecatkanya. Tapi, Kesya tak


akan melakukan hal itu, karena yang ia tahu itu adalah karyawan barunya. Jadi


wajar saja jika masih tahap belajar dan beradabtasi dengan lingkungan baru.


Belum sempat


ia berjalan menjauh dari sana, ia kembali mendengar suara sumbang melengking


yang sudah lama tak ia dengar oleh pendengarannya.


“Keses!”


teriak suara itu. Kesya menoleh, dan ia menemukan Yunda dan Ganda yang berjalan


dari arah pintu resto mendekatinya. “Syukur banget kamu ada di resto.”


“Duduk deh.”


Kata Kesya mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang sudah


dibersihkannya tadi. “Tumben kalian kesini, dan kamu Ndis udah lama banget gak


kelihatan.”


“Baru juga


seminggu gue nemenin ziarah di makam Papa kamu.” Ucap Yunda.


“Iya, aku


lupa soal itu. Kamu Ndis?”


“Biasalah,


masih sibuk merancang baju gitu deh. Beberapa bulan terakhir lagi ikutan New


York Fashion week.” Kata Ganda berlagak memamerkan dirinya sendiri yang sudah


menajdi perancang go internasional.


“Bukannya


kamu ngerancang baju buat Miss Universe juga ya, Ndis?” tanya Yunda.


“Ih salah


ya, bukan Miss Universe tapi Mis Comunication.” Gelak Ganda sambil menahan tawa


manjanya.


“Aku serius


Ganda Jaenudin.” Rungut Yunda. “Pesenin minum dong Kes, haus banget nih habis


teriak-teriak sama Abrar tadi.”


“Tunggu ya,


kalian harus cobain minuman baru disini, aku yang bikin.”


Yunda dan


Ganda mengacungkan jempolnya, sementara Kesya berjalan menjuah dari meja kedua


anggaota kalong yang tak pernah akan bubar itu.


“Ngapain


kamu teriakin si Abrar?” tanya Ganda saat Kesya sudah berllau pergi.


“Biasalah,


dia masih seperti dulu, terlalu sibuk sama kerjanya, sampai gak ada waktu buat


aku sama si kembar tampan.” Ucap Yunda berusaha mendramatisir keadaan.


Sudah lebih


dari lima belas tahun Yunda dan dokter Abrar menikah, dan pernikahan mereka


sebenarnya tergolong harmonis. Mereka di karuniai dua anak kembar laki-laki


yang begitu tampan, keduanya sudah masuk SMA tahun ini.


Tapi, yang


membuat Yunda kadang sebal dengan Abrar adalah ia masih terllau sibuk dengan


pekerjaannya, jarang ada waktu bersama dirumah, hal itu juga membuat kedua


putra ikut-ikutan jarang pulang. Rumahnya sepi, alhasil meskipun sudah tak muda


lagi Yunda tetap ayik keluyuran.


“Suami kamu


kerja juga buat kamu, kan, Yun.” Ujar Ganda. “Skincare kamu itu mahal, makanya


dia mikir gimana supaya kamu bisa beli.”


“Tapi, kan


aku juga punya uang, Ndis. Warisan perusahaan papa masih jalan, Mama juga


banyak uang.”


“Beda lah


itu, Yun.” Tambah Kesya yang baru saja datang sambil membawa tiga buah minuman.


Lalu memberikan kedunya pada Ganda dan Yunda. “Abrar begitu karena ingin


memberikan nafkah buat keluarganya, meskipun kamu dapat warisan dari rumah atau


pun uang keluargamu tak berseri itu.”


Yunda dan


Ganda hanya bisa mengangguk sambil menikmati minuman yang dibuat Kesya tadi.


“Eh gimana


kamu tadi, Ndis.” Sambung Kesya.


“Apanya?”


tanya Ganda belum meletakkan gelasnya.


“Katanya


kamu merancang baju buat Mis Universe, makin keren dong nama kamu di kacncah


dunia per-fashionan.”


“Ah


berlebihan kamu. Kan sudah aku bilang bukan Miss Universe, hanya sekelas Mis


Internasional.” Kata Ganda, dari katanya yang berusaha merendah itu sebenarnya


Ganda berharap dapat pujian dari kedua sahabatnya.


“Kamu bilang


‘hanya’, eh Ganda Jaenudin, Miss Internasional itu juga udah keren banget lho.


Bangga aku sama kamu.” Puji Yunda dibarengi tepuk tangan pelan dari Kesya,


karena mereka tahu itu yang dibutuhkan seorang Kusma Ganda Jaenudin atau biasa


dipanggil Gendis Jamilah.


Sudah tujuh


belas tahun berlalu, sejak kejadian yang menimpa hidupnya, Ganda keluar dari


kantor, menjual beberapan barang miliknya untuk melunasi hutang sang mama.


Setelah itu membawa adik laki-laki yang tengah kuliah hidup bersamanya di


ibukota.


Setelah


keluar dari kantor ia membuka sebuah distro anak muda yang dibantu sang adik,


lambat laun ia mulai mencoba merancang pakainnya sendiri. Dan kemudian menjadi


perancang baju yang sekarang menjadi terkenal, para artis, orang kaya, bahkan


tokoh terkenal menggunakan bajunya.


Dan untuk


pertama kalinya dalam tahun ini ia mendapatkan kesempatan merancang baju untuk


salah satu Miss Internasional perwakilan Indonesia, di Filiphina.


%%%


Bian menarik


napas beratnya lalu berulang kali menghembuskannya,sambil menyesap kopi hitam


pahit sambil ditemani roti selai kacang yang di buatkan sang istri, Laras. Kata


orang, masakan istri adalah masakan yang paling enak di dunia. Kata orang itu


selalu dibenarkan oleh Bian sendiri.


Meskipun


hanya roti biasa dan kopi biasa, tapi Laras selalu bisa membuat semua yang


masuk dalam tubuhnya menjadi sesuatu yang sangat spesial, bahkan lebih spesial


dari nasi goreng dua telur mata sapi.


Bagus sekali


bukan, diusianya yang bukan muda lagi, bahkan sudah cukup matang, ia ditemani


istri yang begitu baik padanya, bahkan bukan hanya itu, ia kini sudah memiliki


seorang anak perempuan yang cantik dan tumbuh besar. Namanya Ayudia, yang tahun


ini akan masuk SMA.


Memang tak


lama setelah Bian keluar dari penjara ia langsung menikahi Laras, meskipun ia


harus mengurs permasalah lebih dulu dengan tuan Susanto.


Saat


teringat nama laki-laki kejam itu, ia kembali teringat Kesya. Perempuan baik


hati yang berubah menjadi pendendam karena dirinya, Kesya yang dulu manis


bersikap ramah, kini saat melihanya berubah menjadi perempuan pendiam dan


bahkan malah terlihat acuh.


Jika saja


semua tak terjadi karena kesalahannya, mungkin sekarang ia sudah menikah dengan


Kesya dan memiliki anak setampan Keylan, tapi semua itu hanya menjadi kata jika


saja. Ia tak bisa kembali lagi kesana dan merubah semuanya, semuanya sudah


terjadi bukan atas kehendaknya, tapi karena pilihannya sendiri.


“Ayu sudah


bangun, Ma?” tanya Bian pada Laras, saat melihat sang anak tak nampak di ruang


makan saat itu


“Kayaknya


belum, Pa.” Jawab Laras sambil membereskan kulkasnya dan menata beberapa barang


disana, sesaat setelah ARTnya membeli beberapa kebutuhan mingguan.


“Bangunin


lah, ini sudah hamoir jam tujuh, masa perempaun bangun siang.” Kata Bian lagi.


Laras tak


menjawab hanya mengangguk sesaat. Kemudian berjalan meninggalkan Bian. Tapi,


belum sampai Laras keluar dari dapur sang anak sudah muncul dengan wajah


datarnya, wajah yang tak diturunkan dari kedua orang tuanya.


Garis wajah


yang tak pernah menyungging senyum dan nampak biasanya itu sangat melekat pada


wajah nyonya Mira, Mama dari Bian.


“Ayu sudah


bangun, Pa.” Kata Ayudia mendekati meja makan. Sambil sesekali menguap, tanda


ia sangat mengantuk.


“Jam berapa


ini kamu baru bangun,” ujar Bian yang hanya bermaksud menjelaskan bahwa ini


hampir siang.


“Jam tujuh.”


Jawab Ayudia datar. “Lagian ini hari minggu, Pa. Ayu pengen bangun siang.”


“Gak ada


alasan, ya. Mau minggu ataupun bukan minggu kamu tetap[ harus bangun pagi. Kamu


kan bisa bantuain mama atau bersih-bersih kamarmu sendiri.”


“Kita kan


punya pembantu, ngapain Ayu ngerjain semuanya sendiri.” Kata Ayudia.


Kata-katanya memang pelan, tapi bagi yang tak paham dengan sifat Ayudia pasri


akan sakit hati dengan hal itu. Untung saja Bian dan Laras sudah terbiasa.


“Meskipun


kita punya pembantu, buykan berarti kamu harus bermalas malasan kan, kamu kan


bisa mealkukan pekerjaan lain. Atau kamu bisa belajar mumpung hari minggui.”


“No. Enggak,


Pa. Aku sudah belajar enam hari dalam seminggu, delapan jam sehari, masa hari


minggu pun aku tetap belajar. Im need holiday.”


Bian tak


bisa berucap satu kata pun lagi jika suara Ayudia sudah sedikit meninggi. Anak


gadisnya itu jika dibantah akan lebih keras dan akhirnya marah padanya.


Meskipun ia papanya tapi melihat Ayudia yang sakit hari karena amarahannya itu


lebih menyakitkan.


“Sudah gak


usah ribut, masih pagi juga.” Lerai Laras pada Bian dan Ayudia. “Ini nasi


gorengnya sudah siap, ayo di makan. Mama masak spesial lho.”


Mendengar


ucapan Laras yang lembut itu membuat keduanya menjadi luluh dan kemudian


berebut mengambil nasi goreng. Laras tersenyum simpul melihat keakraban anak


dan suaminya, meskipun kadang mereka terliaht keribuatn kecil, seperti yang


terjadi beberapa menit lalu.


Laras tak


pernah menyangka bahwa hidupnya akan sebahagia ini. Dulu menjadi pacar Bian dan


menunggu Bian keluar dari penjara adalah hal yang paling sulit, apalagi saat


tahu bahwa Bian tak menyukai nya lagi, dan bahkan lebih memilik Kesya.


Namun, entah


bagaimana, akhirnya semuanya berubah, Tuhan berkata lain dan menjodohkannya


denganya Bian.


Sifat Bian


pun perlahan berubah padanya. Bian yang awalnya tak peduli padanya, menjadi


sadar bahwa hanya ia yang sering menjenguk di penjara dan setelah itu menikahinya.


Tepatnya


enam belas tahun lalu.


Sudah tiga


tahun Laras terus mengunjungi Bian di dalam penjara, menjenguk dan membawakan


makanan. Saat Bian keluar dari penjara ingin rasanay ia menyambut, tapi tak


bisa karena kesibukan pekerjaanya.


Berhari-hari


setelah Bian keluar, Bian tak nampak muncul untuk menemuinya, ia pikir Bian


akan melupakannya dan kembali mencari Kesya, tapi setelah perasaan hampir


menyerah itu. Bian malah datang melamarnya bersama kedua orang tuanya.


Sejak saat


itu hidup barunya bersama Bian dimulai dan semuanya berubah, tak ada lagi Bian


yang dulu, yang ada Bian yang baru yang memiliki sifat penyayang dengan


keluarganya.


"Ma,


Pa. Ayu main keluar ya." Ucap Ayu membuyarkan lamunan Laras.


"Kemana?


tumben." tanya Laras.


"Tadi


Papa yang nyuruh Ayu beraktivitas, sekarang malah dibilang tumben."


"Iya.


Yaudah sana jalan-jalan aja." kata Bian setengah menyuruh Ayudia bergegas.


Semantara


Ayudia tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung meninggalkan meja makan itu.


%%%


"Gimana


ini gak jalan, Ka?" tanya Keylan sambil berusaha menggerakkan motornya,


tapi susah sekali tak bergerak.


Raka menoleh


kearah Keylan, lalu mendengus saat melihat apa yang dilakukan Keylan. Ternyata


bukan hanya tak pandai dalam bidang pembelajaran, Keylan juga tak pandai


mengendarai motor gede.


"Lah


malah melamun, cepetan kampret." sambung Raka.


"Ini


lho kopling gak lu lepas. Lepasnya pelan pelan, jangan kejutan nanti hilang


kendali lu." jawab Raka membantu Keylan menjalankan motornya.


"Pelan-pelan,"


kata Keylan sambil melepaskan kopling itu pelan dibarengi gas motornya.


Pelan sekali


ia melepaskan nya, supaya motor itu tak lepas kendali. Dan...


Dengan


kecepatan tinggi motor yang di naiki Keylan melaju begitu saja di jalanan.


Bahkan Raka sampai kehilangan jejaknya.


Dengan


bergegas Raka mengambil motor matic miliknya, lalu membawanya pergi mencari


Keylan.


Raka terus


menengok kanan kiri, memastikan ia menemukan Keylan, tapi tetap saja tak ada.


Hingga..


Sebuah


sepeda melaju di depannya, Raka kaget dan menghindar, sayangnya pemilik sepeda


itu malah membanting setir dan terjatuh di dekat trotoar.


Raka


memarkirkan motornya, mendekati pemilik sepeda itu.


"Maaf,


kamu gak apa apa?" tanya Raka sekaligus meminta maaf karena sudah


menyebabkan pemilik sepeda itu terjatuh.


"Gak


apa apa gimana, udah tahu gue jatuh gini. Pakai tanya lagi." Jawab pemilik


sepeda itu judes, seorang gadis kecil yang usianya tak berbeda jauh dengan


Raka.


"Gue


cuma mastiin aja kalau kamu gak apa apa. Perlu dibantu?"


"Perlu."


kata gadis itu, "Tapi sepeda gue, bukan gue."


Raka


mengurungkan niatnya yang ingin membantu gadis itu berdiri, lalu mengambil


sepedanya yang tak jauh dari tempat gadis itu terjatuh.


Kemudian


Raka dan


gadis itu duduk dibangku, sementara gadis itu masih mengaduh karena samping


siku tangannya lecet meskipun tak sampai mengeluarkan darah.


"Gue


minta maaf ya." ucap Raka lagi.


Gadis itu


mengangguk pelan. Meskipun tak begitu menguhiraukan ucapan Raka.


"Gue


Raka," sambung Raka mengulurkan tangannya.


"Ayudia,


panggil aja Ayu." jawab singkat gadis itu yang tak lain Ayu. Seperti


biasa, sikapnya memang sedikit kaku dan pendiam.


"Kamu


dari mana kok naik sepeda?" tanya Raka lagi, ia mencoba akrab dengan Ayu,


meskipun sikap Ayu seperti tak bersahabat.


"Dari


rumah, rumah gue deket aja kok dari sini."


Kemudian


Raka terus mencoba berbicara sesuatu yang selama ini tak pernah ia keluarkan,


Ayudia tetap bersikap seperti biasanya. Hampir tak peduli dengan banyak ocehan


dari Raka. Sifat Raka yang biasanya pendiam entah kenapa menjadi sedikit


agresif dan banyak omong hingga tak bisa berdiam.


"Ka! Lu


ngapain disitu, malah ngobrol sama cewek lagi!" Teriak Keylan dari atas


motornya. Saat mengetahui bahwa Raka tengah berbicara dengan seorang gadis.


Raka dan


gadis itu menoleh bersamaan, sementara Keylan turun dari motornya, layaknya


sang pangeran yang turun dari kudanya. Keren.


"Eh lu,


Yu. Ngapain disini?" sambung Keylan pada Ayudia, bersikap seolah akrab


dengannya.


"Lu


kenal sama Ayu?" tanya Raka.


"Kenal


lah, Ayu kan anak nya Om Bian, teman kerja Papa ku. Jawab Yu, diam aja."


"Tuh."


Ayudia menunjuk sepedanya yang bagian depannya sedikit penyok. "Ditabrak


sama temanmu."


"Eh


Ngawur aja, gue gak nyenggol, lu sendiri kan yang jatuh gara gara ketabrak sama


trotoar." Kilah Raka tak ingin dituduh yang macam macam oleh Ayudia.


"Tapi


kan kalau lu gak meleng, gue pasti gak jatuh."


"Gue


meleng karena nyari Keylan." Kata Raka sambil melihat Keylan.


"Loh kok


jadi salah gue." Keylan hanya bisa diam dan pasrah saat tertuduh.


"Halah bodo amat, gue minta maaf ya Yu, Ka. Sekarang kita pulang,


Ka."


Ajak Keylan


pada Raka, seolah tak merasa bersalah karena sudah membuat Ayudia terjatuh.


Keduanya


berlalu pergi, membawa motornya masing-masing, sementara Ayudia hanya terdiam


disana, lalu mencoba bangkit dan mengambil sepedanya kembali.


Tak berapa


lama Keylan dan Raka sudah sampai ditempat awal meraka mencoba motor itu gede


itu, yakni rumah sang kakek dan nenek mereka.


"Lu


tadi kemana sih?" tanya Raka pada Keylan, meraka duduk didepan trotoar.


"Kan


lagi belajar motor, jadi gue bawa jalan jalan komplek, terus lewat jalan


Badarudin." Jawab Keylan dengan santainya.


Lagi lagi


Raka hanya bisa mendengus dan tak percaya dengan ucapan Keylan.


"Lu


peak ya, jalan badarudin itu jalan raya gede, rame kendaraan disana, kalau


sampai lu Ditabrak gimana? Gue harus ngomong apa sama orangtua lu." Kata


Raka sambil sedikit menahan emosinya.


"Santai


lah, kan tadi belajar. Makanya gue coba ke jalan yang lebih besar. Eh ternyata


enak juga naik motornya. Gue langsung bisa."


"Terserah


lah, awas sampai kenapa-kenapa."


Keylan


mengangguk.


Saat obrolan


itu, nyonya Putra memanggil mereka dari depan pintu rumah.


"Raka!


Keylan! Masuk sini, Nenek punya cemilan!" Teriak Nyonya Putra, tak perlu


mengunggu berapa berapa lama kedua cucunya lansung berebut lari.


Raka dan


Keylan masuk kedalam rumah, dan menuju tempat ruang bersantai yang berada di


halaman depan. Disana sudah ada Nyonya dan tuan Putra yang sedang menikmati


hari.


"Gimana


belajar motornya?" tanya Tuan Putra sambil menyesap tehnya.


"Langsung


bisa kek, Keylan kan pintar kalau cuma soal naik motor aja." jawab Keylan


sambil mengunyah kue yang dibuatkan sang Nenek.


"Tumben


kamu pengen belajar motor, mau buat apa?" kembali tanya nyonya Putra.


"Buat


dapetin hati seorang gadis, Nek." timpal Raka.


"Huss."


Kata Keylan sembari memukul pelan lengan Raka.


"Gimana


ceritanya buat dapetin hati cewek?" selidik tuan Putra.


Kemudian


Keylan menceritakan bahwa ia menyukai seorang gadis cantik primadona sekolah,


tapi gadis itu mengajukan syarat jika ingin menjadi kekasihnya.


"Jadi


syaratnya harus balapan gitu, ya?" tanya kembali tuan Putra.


Keylan hanya


mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan yang begitu enak, buatan sang


nenek, saking enaknya sampai Raka dan Keylan terus berebut kue itu.


Sementara


keduanya sibuk dengan makanan buatan sang nenek, Ayudia sudah sampai rumah.


Setelah menaruh sepedanya di garasi, ia duduk di sofa ruang tamu sambil


mengaduh, pahadal sudah tak begitu sakit.


"Kamu


kenapa, sayang?" tanya Laras begitu melihat Ayudia menggulung lengan


bajunya sambil terus meniupnya.


"Tadi


jatuh, Ma. Sepedanya menabrak trotoar."


"Kok


bisa nabrak sih. Gimana ceritanya?"


"Tadi


kan Ayu menghindari motor, trus banting setir eh malah jatuh." Papar


Ayudia pada sang Mama.


"Makanya


hati hati kalau naik sepeda, gitu kok mau minta motor. Gimana kalau jatuh pas


naik motor." Cibir Laras pada Ayudia.


Ayudia hanya


bisa terdiam mendengar sang Mama mulai menggomel dan mengatakan sesuatu yang


tak ingin ia dengar.


Memang ia


tak ingin mendengar apapun.


%%%


Keylan


berjalan pelan membuka pintu rumahnya, sudah pukul sepuluh malam saat ia baru


pulang dari belajar motor bersama Raka.


Pelan sekali


ia mengendap endap seperti maling yang takut ketahuan karena mencuri celana


dalam.


Ia melewati


ruang tamu dengan aman dan selamat, kemudian berjalan melewati ruang tengah dan


berniat menuju kamar tidurnya. Tapi, tiba tiba saja lampu menyala.


Sang Papa


didekat saklar lampu sementara sang Mama duduk di sofa ruang tengah.


Keylan hanya


bisa nyengir melihat kedua orang tuanya yang memasang wajah seserius itu.


Kemudian Keylan menunduk dan mencoba bersikap pasrah karena ia tahu apa


kesalahannya.


"Dari


mana?" tanya Kesya. Keylan tak bergeming, masih menundukkan wajahnya dan


tak berniat untuk mengangkat.


"Kalau


ditanya itu coba jawab, malah diam aja." timpal Kevano, Keylan malah


semakin diam.


"Keylan,


ini sudah malam ya. Gak biasa kamu pulang semalam ini. Kamu udah mulai nakal


ya?" sambung Kesya.


"Jawab!"


Suara Kevano meninggi, Keylan tersentak sendiri. Tak biasanya sang Papa begitu


marah padanya.


"Keylan


dari rumah Raka, Pa." jawab Keylan masih terus menunduk.


"Ngapain


main sampai malam begini, dan kenapa gak ngomong. Bilang aja kalau disana, atau


mau menginap disana." Kata Kesya.


"Gak


sempat, Pa." Ujar Keylan. "Niatnya tadi mau pulang sore, tapi


ketiduran habis main game sama Raka. Sorry."


Kevano


berjalan mendekati Kesya yang masih berada ditempat yang sama, lalu kemudian


berbicara sebentar, seolah tengah membiarkan sesuatu yang penting.


"Sebagai


hukumannya, besok kamu setelah pulang sekolah, cuci baju sendiri. Gak boleh


pakai mesin." Ucap Kevano.


Keylan


mendongakkan kepalanya. "Enggak bisa, Pa. Keylan gak mau, kan ada Bibi


yang cuci baju kenapa harus Keylan."


"Oh


ngelawan ya, kalau gitu uang jajan kamu Papa potong enam puluh persen."


sambung Kevano.


"Ngalah


deh, iya besok Keylan bakalan cuci baju sendiri." Setelah mengucapkan hal


itu, dengan lemas Keylan berjalan menuju kamarnya.


Pelan sekali


seperti orang yang tak memiliki daya untuk melakukan apapun. Padahal ia hanya


bersikap begitu agar orang tuanya mencabut hukumannya, tapi Kesya dan Kevano


hampir tak peduli dengan hukumannya yang sudah diberikan.


Sikap nakal


Keylan kadang keterlaluan, tapi dibalik sikap nakalnya itu membuat Kesya dan


Kevano bahagia karena Keylan bisa membuat mereka tertawa.


Sementara


Keylan sudah berada di kamarnya sekarang, melemparkan diri diatas tempat tidur


dan sambil mengocek ponselnya sendiri. Sembari melihat fotonya yang tengah


bergaya diatas motor besar yang sudah diberikan sang kakek untuknya.


Beberapamenit lalu


Di jalanan


yang agak sepi, malam itu Keylan dan Raka mencoba kembali belajar menggunakan


motor. Seolah meraka benar benar ingin memenangkan perlombaan nantinya.


"Lu


harus menang. Awas sampai lu kalah." Kata Raka sambil memberikan semangat


pada Keylan.


"Kalau


gue kalah gimana?" tanya Keylan.


"Gak


boleh, gue ambil tu motor sampai lu kalah."


"Dih


kok bisa begitu sih, enak aja main ambil motor segala."


"Harus,


pokoknya lu harus menang."


"Bawel."


Kata Keylan sambil menggeber motornya.


"Bawa


motor sana, didepan gue udah kasih palangan. Gue bakalan hitung berapa catatan


waktu lu." Kata Raka.


Keylan


mengangguk, setelah menggeber motornya berulang kali, ia membawa motor itu


kembali melaju dengan kecepatan yang tinggi, seolah ia sudah berubah dari


seorang amatiran menjadi profesional.


Sementara


Raka menunggu disana sambil mengunyah cemilannya, menghitung berapa lama waktu


yang akan ditempuh Keylan.


Dan tak


berapa lama kemudian, Keylan datang seolah sudah menang.


"Berapa


waktunya?" Tanya Keylan.


"Lambat,


waktu lu dua menit tiga puluh detik. Harusnya jarak sedekat itu bisa lebih


cepat."


"Halah,


besok belajar motor lagi. Masih ada tiga hari, dan gue capek mau pulang. Udah


malam juga, aja dimarahi Mama nanti."


Setelah itu keduanya


pergi dari sana dan kemudian pulang dengan senyum Keylan yang terus mengambang.


Raka yang


melihat senyum Keylan itu hanya mencibir, Sepupunya itu sepertinya tengah


berkhayal sudah memenangkan perlombaan. Padahal Keylan sekali pun belum pernah


lomba.


Beberapamenit kemudian


Sambil terus


tersenyum Keylan membayangkan hal itu. Hingga ia tak sadar bahwa pintunya


terbuka karena sang Papa masuk.


"Ngapain


senyum senyum bukannya tidur." Tegur Kevano. Keylan menaruh ponsel nya


diatas dada.


"Papa


sendiri ngapain kesini kenapa nggak tidur Kan sudah malam nanti dicariin mama


lagi."


"Malah


bawel ngomonginnya. Papa tahu aku dari mana, karena Papa nggak yakin kalau kamu


main game soalnya katanya Om Ruben katanya kalian belum pulang dari pagi ke


Mana aja, kamu bisa bohongin mama Tapi kamu nggak bisa bohongin Papa, kalau


kamu nggak jawab apa bakalan potong uang jajan mu cepat jawab."


Keylan


kemudian menaruh ponselnya di atas meja, ia kemudian mendudukkan dirinya begitu


pula sang Papa yang duduk sejajar dengan tubuhnya.


Dengan raut


wajah kembali muram dan seolah meminta belas kasihan, ia masih begitu sulit


membuka mulutnya.


"Cepatan


jawab omongan Papa," sambung Kevano lagi. Terus memaksa.


"Keylan


Belajar motor." Kata Keylan keluar begitu saja dari mulutnya.


"Nah


gitu aja pakai bohong segala." Ucap Kevano, Keylan bingung dan tak percaya


dengan ucapan sang Papa.


"Lo,


Papa gak marah dengar Keylan Belajar motor? Ini motor gede lho, Pa."


"Ngapain


Papa harus marah sama kamu. memang Apa alasan Papa marah karena kamu cuma


belajar motor aja. Sekarang Papa tanya, kamu belajar motor punya siapa dan buat


apa?"


"Keylan


Belajar motor yang ada di rumah kakek sama nenek katanya itu punya Om Ruben.


Terus Alasan Aku belajar motor karena buat dapetin cewek itu syaratnya sih agar


aku diterima jadi pacarnya."


"Serius


itu alasannya? emang kenapa cewek itu sampai aja yang syarat kamu harus bisa


naik motor Papa kamu enggak jelek banget biarpun ganteng Papa." Ujar


Kevano.


Keylan


mendengar ucapan sombong sang Papa hanya bisa mendengus.


"Katanya


biar Keylan kelihatan macho, Pa."


"Oh


gitu ya, Papa dukung deh. Asal jangan sampai telat pulang malam lagi. Nanti


mamamu ngomel lagi."


Keylan


mengangguk mendengar ucapan sang Papa, setelah itu sang papa berlalu pergi dari


kamar Keylan.


Kevano tak


bisa marah dengan Keylan, karena dulu ia juga seperti itu. Bahkan jika


dibandingkan dengan Keylan sekarang Kevano dulu jauh lebih bandel, bahkan


saking bandelnya kedua orang tuanya sampai angkat tangan, yang bisa mengurus


Kevano hanya Ruben.


Mengingat


kejadian itu Kevano hanya bisa tersenyum simpul, mengingat betapa nakalnya ia


dulu, tapi seiring waktu semuanya berubah meskipun ia nakal nyatanya sekarang


Ia menjadi orang yang cukup sukses bahkan cukup disegani dalam bidang


perekonomian di Indonesia banyak iklan-iklan yang sudah ia kerjakan baik yang


kecil maupun yang besar mau swasta ataupun negeri.