
Kita semua punya alasan untuk jatuh dan mencinta, kita semua punya alasan untuk patah hati, kita semua punya alasan untuk kecewa, tapi pernah kah kita berpikir kenapa kita harus punya alasan?
Setelah keluar dari gerbang kantor tahanan, Bian mulai menghirup udara segar, aromanya menusuk hidung hingga tak terasa ia mulai berhalusinasi sejenak. Papa, mama dan adiknya Renata sudah menunggu keluargnya Bian dari penjara.
Bian tersenyum menuju mereka yang berada di luar mobil kini. Ketiganya juga nampak bahagia saat melihat Bian sudah keluar, meskipun tubuh Bian terlihat lebih kurus,
memakai kaos polos dan celana jins usang.
Biasanya Bian, tiga tahun lalu adalah seorang pengacara sukses yang selalu rapi dengan setelan kemeja dan jas hitamnya, kini hal itu tak terlihat lagi. Bian memang sudah
berniat meninggalkan pekerjaan yang membesarkannya itu, memulai hidup baru
dengan meneruskan bisnis orangtuanya, mungkin.
“Gimana rasanya sudah keluar dari tahanan, sayang?” tanya sang mama pada Bian, saat mobil yang keempat orang itu kendarai tengah melaju di jalanan melewati kantor polisi lebih jauh.
“Yang pasti bebas, Ma,” ucap Bian sambil terus tersenyum, senyumnya yang henti merekah, ucapan syuukur dan janji tak akan mengulangi lagi terus mengudara dalam pikiran dan
hatinya.
Namun, meskipun
begitu ia masih memikirkan satu hal, tentang hati seseorang yang munkin masih
terluka kini, meskipun sudah menikah dengan lelaki lain. Kesya, tak mungkin
begitu mudah memaafkannya, dengan semua hal yang ia lakukan.
“Lain kali jangan
coba-coba main ke penjara lagi deh, Kak,” ucap Renata sambil menggoda Bian.
“Apaan sih, gak
mungkin kakak mau main kesana lagi,” ujar Bian menanggapi godaan Renata.
Mereka terus saja
berbicara dan bercanda seolah tak pernah bertemu lama, padahal itu hanya tiga
tahun saja. Bian sudah bisa menarik napas lehganya, hidup di penjara tidak lah
enak, dikekang dan kadang di marahi para sipir, bahkan ia ingat saat di
pindahkan ke sel baru yang tak seharusnya menjadi tempatnya, namun entah kenapa
ia bisa sampai masuk didalam sana.
Sang sipir bilang
itu perintah atasannya, padahal Bian tahu sekali jika itu adalah ulah laki-laki
itu yang semakin ingin membuat dirinya di dalam penjara, bahkan ia juga
mendengar dari Reno jika laki-laki itu mengingikan ia terus mendekam didalam
penjara dalam waktu yang lama, dengan mengatur siasat yang tak jelas.
Seketika Bian
teringat bagaimana kejamnya laki-laki itu pada dirinya dan sang papa, tapi
dilain sisi ia juga tak yakin jika orang yang dulu baik, yang hampir menjadi
mertuanya, lalu berubah menjadi orang paling buruk yang ingin menhancurkannya,
ia masih tak yakin meskipun Reno dan sang papa juga mengatakan hal yang sama.
Bian ingat apa yang
di ucapkan papanya, ia pikir papanya mati karena tak pernah muncul, menghilang
begitu saja, bahkan sang mama juga tak pernah menyinggung soal papanya, namun
itu hanya siasat dari orang bodoh yang ingin mengahncurkan keluarganya.
“Setelah ini kamu
mau apa lagi, Bian?” tanya sang papa tiba-tiba membuyarkan lamunan Bian
seketika.
tanya balik Bian seolah tak paham dengan pertanyaan sang papa.
“Setelah keluar
dari penjara gak mungkin kamu Cuma diam saja kan, ‘kan.”
Bian mulai memahami
dengan ucapan sang papa. Ia memang sudah memutuskan untuk mengundurkan diri
sebagai seorang pengacara, lalu setelah itu ia tak pernah memikirkan apapun.
Bian mulia berpikir
apa ia harus balas dendam dengan semua hal yang sudah laki-laki itu lakukan
atua diam saja menunggu Tuhan menghukumnya? Mungkin tidak. Ia ingin menemui
laki-laki itu, setidaknya mengatakan apa yang terjadi, apa yang seharusnya ia
lakukan dan perbuat.
Mungkin meminta
laki-laki mengatakan yang sebenarnya adalah pilihan yang tepat.
“Besok Bian mau
ketemu-dia-Pa,” ujar Bian, sang papa mengerti lalu mengangguk.
Meskipun tanpa
mengucapkan namanya saja mama dan papanya sudah mengerti apa maksud Bian,
sementara Renata tak begitu peduli dengan ucapan Bian, jika Renata mengerti
makan ia akan semakin benci dengan mantan pacar kakaknya itu.
Mobil yang mereka
tumpangi terus melaju di jalan raya, Bian sesekali melihat keluar jendela,
sesuatu yang tak ia lakukan sejak tiga tahun lalu, setiap saat yang ia lihat
jeruji besi dan tembok, kadang rumput di luar.
Tapi, sekarang ia
bisa melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit, dengan suasan indah ibukota
yang terus macet. Tiga tahun lalu gedung-gedung itu adalah sesuatu hal paling
malas ia lihat, karena semakin banyak gedung akan semakin penuh ibukota, namun
kini berbeda.
Tak berapa lama
mobil yang mereka tumpangi sampai dirumah, Tedi memarkirkan mobilnya, sementara
Renata, Bian dan Tante Mira sudah keluar dari sana dan mulai masuk kedalam
rumah.
Saat sampai didalam
rumah, raut bahagia kembali terlihat di wajah Bian, ia sangat rindu dengan
rumahnya itu, rumah megah yang dulu di beli dari hasil bekerja sang mama. Rumah
itu tak banyak berubah, tetap sama dan semakin terlihat terang.
Bian terus
memandangi rumahnya, kakinya belum ingin berlalu dari ruang tamu. Untuk hari
ini dan seterusnya ia akan mulai betah berada di rumah, lebih sering
menghabiskan waktu bersama dengan keluarga, tidak keluyuran lagi seperti dulu.