My Berondong Husband

My Berondong Husband
#117 15 Tahun Lalu (Satu)



Kita semua punya alasan untuk jatuh dan mencinta, kita semua punya alasan untuk patah hati, kita semua punya alasan untuk kecewa, tapi pernah kah kita berpikir kenapa kita harus punya alasan?


Setelah keluar dari gerbang kantor tahanan, Bian mulai menghirup udara segar, aromanya menusuk hidung hingga tak terasa ia mulai berhalusinasi sejenak. Papa, mama dan adiknya Renata sudah menunggu keluargnya Bian dari penjara.


Bian tersenyum menuju mereka yang berada di luar mobil kini. Ketiganya juga nampak bahagia saat melihat Bian sudah keluar, meskipun tubuh Bian terlihat lebih kurus,


memakai kaos polos dan celana jins usang.


Biasanya Bian, tiga tahun lalu adalah seorang pengacara sukses yang selalu rapi dengan setelan kemeja dan jas hitamnya, kini hal itu tak terlihat lagi. Bian memang sudah


berniat meninggalkan pekerjaan yang membesarkannya itu, memulai hidup baru


dengan meneruskan bisnis orangtuanya, mungkin.


“Gimana rasanya sudah keluar dari tahanan, sayang?” tanya sang mama pada Bian, saat mobil yang keempat orang itu kendarai tengah melaju di jalanan melewati kantor polisi lebih jauh.


“Yang pasti bebas, Ma,” ucap Bian sambil terus tersenyum, senyumnya yang henti merekah, ucapan syuukur dan janji tak akan mengulangi lagi terus mengudara dalam pikiran dan


hatinya.


Namun, meskipun


begitu ia masih memikirkan satu hal, tentang hati seseorang yang munkin masih


terluka kini, meskipun sudah menikah dengan lelaki lain. Kesya, tak mungkin


begitu mudah memaafkannya, dengan semua hal yang ia lakukan.


“Lain kali jangan


coba-coba main ke penjara lagi deh, Kak,” ucap Renata sambil menggoda Bian.


“Apaan sih, gak


mungkin kakak mau main kesana lagi,” ujar Bian menanggapi godaan Renata.


Mereka terus saja


berbicara dan bercanda seolah tak pernah bertemu lama, padahal itu hanya tiga


tahun saja. Bian sudah bisa menarik napas lehganya, hidup di penjara tidak lah


enak, dikekang dan kadang di marahi para sipir, bahkan ia ingat saat di


pindahkan ke sel baru yang tak seharusnya menjadi tempatnya, namun entah kenapa


ia bisa sampai masuk didalam sana.


Sang sipir bilang


itu perintah atasannya, padahal Bian tahu sekali jika itu adalah ulah laki-laki


itu yang semakin ingin membuat dirinya di dalam penjara, bahkan ia juga


mendengar dari Reno jika laki-laki itu mengingikan ia terus mendekam didalam


penjara dalam waktu yang lama, dengan mengatur siasat yang tak jelas.


Seketika Bian


teringat bagaimana kejamnya laki-laki itu pada dirinya dan sang papa, tapi


dilain sisi ia juga tak yakin jika orang yang dulu baik, yang hampir menjadi


mertuanya, lalu berubah menjadi orang paling buruk yang ingin menhancurkannya,


ia masih tak yakin meskipun Reno dan sang papa juga mengatakan hal yang sama.


Bian ingat apa yang


di ucapkan papanya, ia pikir papanya mati karena tak pernah muncul, menghilang


begitu saja, bahkan sang mama juga tak pernah menyinggung soal papanya, namun


itu hanya siasat dari orang bodoh yang ingin mengahncurkan keluarganya.


“Setelah ini kamu


mau apa lagi, Bian?” tanya sang papa tiba-tiba membuyarkan lamunan Bian


seketika.


tanya balik Bian seolah tak paham dengan pertanyaan sang papa.


“Setelah keluar


dari penjara gak mungkin kamu Cuma diam saja kan, ‘kan.”


Bian mulai memahami


dengan ucapan sang papa. Ia memang sudah memutuskan untuk mengundurkan diri


sebagai seorang pengacara, lalu setelah itu ia tak pernah memikirkan apapun.


Bian mulia berpikir


apa ia harus balas dendam dengan semua hal yang sudah laki-laki itu lakukan


atua diam saja menunggu Tuhan menghukumnya? Mungkin tidak. Ia ingin menemui


laki-laki itu, setidaknya mengatakan apa yang terjadi, apa yang seharusnya ia


lakukan dan perbuat.


Mungkin meminta


laki-laki mengatakan yang sebenarnya adalah pilihan yang tepat.


“Besok Bian mau


ketemu-dia-Pa,” ujar Bian, sang papa mengerti lalu mengangguk.


Meskipun tanpa


mengucapkan namanya saja mama dan papanya sudah mengerti apa maksud Bian,


sementara Renata tak begitu peduli dengan ucapan Bian, jika Renata mengerti


makan ia akan semakin benci dengan mantan pacar kakaknya itu.


Mobil yang mereka


tumpangi terus melaju di jalan raya, Bian sesekali melihat keluar jendela,


sesuatu yang tak ia lakukan sejak tiga tahun lalu, setiap saat yang ia lihat


jeruji besi dan tembok, kadang rumput di luar.


Tapi, sekarang ia


bisa melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit, dengan suasan indah ibukota


yang terus macet. Tiga tahun lalu gedung-gedung itu adalah sesuatu hal paling


malas ia lihat, karena semakin banyak gedung akan semakin penuh ibukota, namun


kini berbeda.


Tak berapa lama


mobil yang mereka tumpangi sampai dirumah, Tedi memarkirkan mobilnya, sementara


Renata, Bian dan Tante Mira sudah keluar dari sana dan mulai masuk kedalam


rumah.


Saat sampai didalam


rumah, raut bahagia kembali terlihat di wajah Bian, ia sangat rindu dengan


rumahnya itu, rumah megah yang dulu di beli dari hasil bekerja sang mama. Rumah


itu tak banyak berubah, tetap sama dan semakin terlihat terang.


Bian terus


memandangi rumahnya, kakinya belum ingin berlalu dari ruang tamu. Untuk hari


ini dan seterusnya ia akan mulai betah berada di rumah, lebih sering


menghabiskan waktu bersama dengan keluarga, tidak keluyuran lagi seperti dulu.