
“Serius?!” tanya Yunda dan Kesya dengan raut wajah tak percaya saat Ganda mengatakan tentang kencan pertamanya dengan Maya beberapa malam lalu.
“Kok bisa sih, Ndis? Tumben banget lu mau kencan sama cewek?” tanya Yunda masih dengan wajah penasarannya. Jelas sekali, karena baginya ini keajaiban dunia yang perlu di abadikan dengan ghibahan.
“Kamu gak bohong kan, Ndis?” kini Kesya yang bertanya, meyakinkan dirinya kalau apa yang di ucapkan Ganda si tulang belulang bukanlah sebuah kebohongan.
Ganda tak peduli dengan ucapan kedua sahabatnya itu, karena ia tahu reaksi itu akan mereka lakukan saat ia mengucapkan kalau dirinya berkencan dengan Maya.
Setelah hari itu, sekitar beberapa hari lalu, memang ia dan Maya sudah cukup dekat. Maya begitu pintar dengan caranya berbicara, bisa membuat lawan bicaranya paham. Begitupun Ganda yang terus membuat Maya penasaran, karena berbedanya Ganda dari laki-laki lainnya.
“Apaan sih lu pada. Iya gue kencan sama Cewek yang namanya Maya, kami ketemu karena Manda yang kenalim,” ujar Ganda ketika perkenalan dengan Maya.
Lalu Ganda mulai bercerita dengan detail sejuah apa dirinya mengenal Maya, siapa Maya dan bagaimana Maya di matanya. Maya cantik, pintar, baik dan banyak hal yang keluar dari mulut Ganda tentang pujiannya pada Maya.
Yunda dan Kesya mendengar dengan seksama, sambil sesekali saling pandang wajah Ganda yang cukup bahagia saat menceritakan soal Ganda. Mereka tak habis pikir bagaimana seorang Ganda bisa menyukai seorang perempuan dalam waktu secepat itu, padahal sebelumnya Ganda tak berniat untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan atau bahkan menikah.
“Terus kapan acara lamarannya?” tanya Kesya lagi, raut wajah Ganda nampak bingung.
“Nikah,” ujar Ganda terpotong. “Harus ya? Gak bisa apa sedekat ini saja?”
“Ya gak bisalah Gendis Jaenudin bin Hermanto, lu harus nikah, jangan sampai Cuma sebatas teman atau hubungan tanpa status,” celetuk Yunda.
“Tapi,” kata Ganda belum melanjutkan ucapannya.
“Tapi-tapi, ini udah bagus kamu mau kenalan sama cewek. Sekarang pikirkan untuk menikah, umur kamu udah hampir setengah baya. Masa nunggu anakku punya anak lagi baru kamu nikah,” ucap Kesya panjang lembar.
Ganda yang awalnya tak berpikir untuk menikahi Maya, mulai meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin memiliki Maya adalah pilihan yang tepat, dan memilikinya adalah dengan cara melakukan pernikahan.
“Kes, Yun, gue belum pernah menikah. Bantuin gue.” Kini wajah Ganda nampak berharap, matanya berbinar seolah minta bantuan dengan kedua sahabatnya begitu tulus.
“Belum pernah, lu kira kita nikah berapa kali, Gendis Sujatmiko,” ujar Yunda.
“Iya-iya Ndis, kita bantuin buat lamaran kamu, tapi sebelum itu lu bilang dulu ke Maya sama keluarganya,” ucap Kesya memberi persetujuan pada Ganda.
Senyum Ganda nampak manis sekarang, ia mulai berpikir sekarang untuk menikah dengan Maya dan mungkin akan mempersiapakan diri untuk rencana lamaran.
Setelah itu mereka mulai pindah ke permasalahan lainnya, saling mengghibah dan bercerita satu sama lain tentang apapun, pekerjaan, keluarga dan teman-teman. Hingga resto milik Kesya sudah hampir tutup.
Kesya membereskan restonya, sementara Ganda mengantar Yunda untuk pulang kerumah, karena malam itu Yunda memang tak membawa mobil. Memang alasannya karena Yunda ingin irit, tipikal orang kaya yang begitu pelit.
Beberapa menit berlalu, Ganda sudah sampai di depan rumah Yunda. Yunda turun dan membiarkan Ganda berlalu pergi untuk pulang kerumahnya sendiri.
Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam, ia tak mau mendengar mamahnya bertanya dan cerewet karena Ganda terlambat untuk pulang kerumah, padahal Ganda bukan anak-anak lagi.
Yunda kini sudah berada didalam rumahnya yang megah namun sepi, Abrar belum pulang dari rumahnya sakit dengan alasan banyak pasien, sementara kedua anak kembarnya sibuk keluyuran yang entah kemana. Yunda sampai bingung, ia merasa tinggal sendirian, seperti tak memiliki anak atau pun suami.
Maka dari itu ia lebih suka pergi jalan-jalan ataupun membuang uang hanya untuk mencari keramaian, kemana pun.
Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu dan dua remaja tampan masuk rumah dengan santainya.
“Dari mana kalian jam segini baru pulang?” tanya Yunda pada anak kembarnya, padahal jarang sekali ia bertanya kemana perginya anak-anaknya.
“Cuma jalan-jalan aja kok, Ma,” jawab salah satu anak lelakinya, Rasya.
“Cuma-Cuma, ini sudah jam sebelas. Harusnya kalian tidur, besok sekolah.”
“Keluarkan dompet kalian,” minta Yunda.
“Buat apa, Ma?” tanya Rasya.
“Cepetan, gak usah banyak tanya.”
Rasya dan Pasya merogoh kantong belakang celananya, dan mengambil dompet mereka, lalu memberikanny pada sang Mama.
Yunda menerima dompet itu, mengambil isinya dan memberikannya kembali pada si kembar.
“Kartu kredit kalian Mama sita, sampai kalian bisa betah dirumah,” ujar Yunda.
“Tapi-tapi, Ma,” kata Pasya terpotong.
“Enggak ada tapi-tapian.
Setelah mengucapkan hal itu Yunda berlalu pergi meninggalkan kedua anak kembarnya yang masih bertanya-tanya sambil bingung dengan sikap sang mama.
Sementara itu di tempat berbeda, Kesya sudah selesai dengan pekerjaanya di resto, resto pun sudah tutup. Ia masih menunggu Keavno untuk menjemput, beberapa anak buahnya berpamitan untuk pulang.
Tak berapa lama Kevano datang, Kesya masuk kedalam mobil.
“Tumben kamu terlambat jemput?” tanya Kesya begitu mobil itu melaju pergi.
“Kenapa? Kamu pengen cepat-cepat ketemu suamimu yang ganteng ini, ya?” goda Kevano pada Kesya, sambil mencolek dagu Kesya dengan gemasnya.
Kesya hanya bisa menyipitkan matanya, mendatarkan bibirnya melihat tingkah aneh Kevano. Umurnya sudah lebih dari 36 tahun, tapi kelakukannya masih sama seperti anak-anak remaja.
“Senyum dong cantik,” sambung Kevano terus menggoda Kesya yang kini memaksakan senyumnya.
“Nih aku senyum, manis kan,” ujar Kesya sambil memperlihatkan bibirnya.
“Manisnya senyum mbak kunti ini, jadi makin tayang deh,” ucap Kevano dengan sikap alaynya.
Kesya kembali terdiam dengan ucapan Kevano, sementara Kevano fokus pada mobil yang tengah ia bawa itu.
Sesaat kemudian Kesya teringat dengan ucapan Ganda yang mengatakan tengah dekat dengan seorang perempuan, padahal selama ini Ganda tak pernah terlihat ingin memiliki hubungan dengan perempuan manapun.
Kesya bahagia mendengar hal itu, melihat Ganda mulai terbuka dengan seorang perempuan, awalnya Kesya pikir jika Ganda tak menyukai perempuan yang dari sikapnya saja sudah nampak kemayu, namun pikiran buruknya hanya menjadi buruk.
“Ngelamunin apa sih, Yang?” tanya Kevano membuyarkan lamunan Kesya.
“Itu tadi Ganda bilang lagi dekat sama perempuan,” jawab Kesya.
“Wah bagus dong, aku kira dia gak suka cewek.”
“Hus,” Kesya memukul pelan lengan Kevano, “Gak boleh ngomong gitu,”
“Eh kan kau Cuma mengira karena tingkahnya itu,” kata Kevano membela dirinya sendiri, meskipun Kesya awalnya juga berpikir hal seperti itu.
Kini Kesya berniat membantu Ganda untuk melancarkan niat melamarnya, karena Kesya ingin yang terbaik untuk sang sahabat, begitupun yang mungkin diinginkan Yunda untuk kebahagian Ganda juga.