My Berondong Husband

My Berondong Husband
#55 Yunda Masih Dilema



Yunda duduk termenung di taman rumah


sakit, sambil tediam. Sudah dua hari ini ia berada disana, untuk terus menjaga keadaan sang Papa yang belum kunjung baik.


Ia, Raihan dan sang Mama bergantian menjaga jika mereka ada waktu senggang, karena ketiganya memilki kesibukan masing-masing.


Raihan dengan kantornya, Yunda dengan pekerjaannya, dan Sang Mama dengan resto chinesenya.


Dalam keadaan seperti itu, ia sebenarnya merindukan keluyuran, clubing dan menghamburkan uang. Kedua orangtuanya tak pernah melarang ia ataupun marah saat ia melakukan hal itu, karena mereka tahu Yunda juga yang mencari uangnya.


Tapi, disisi lain, Yunda kadang mereka bosan dan jenuh. Ia ingin merasakan sesuatu yang lain, memiliki pacar misalnya. Ia ingin menikmati berjalan bersama kekasihnya, menonton, makanan, bercanda dan lainnya. Namun, setelah ia sadar, ia sudah berusia matang. Tak mungkin ia terus memikirkan soal pacaran seperti anak muda.


Yunda ingin menikah, seperti Kesya, meskipun tidak dengan Berondong, tapi dengan seseorang yang tulus mencintainya. Bukan hanya karena ia memiliki uang ataupun karena ia perempuan karier.


Namun, di jaman sekarang, semakin sulit mencari laki-laki biasa yang tulus. Apalagi jika mereka tahu perempuan itu kaya raya, pasti akan diporoti dengan mudah, seperti halnya Yoga.


"Melamun aja." Ucap Seseorang. Yunda kaget lalu terbangun dari lamunanya.


Yunda menoleh kesumber suara, saat matanya melihat dokter Abrar menatapnya. Yunda hampir terjungkal dari bangku jika saja tak menahan tubuh nya sendiri.


"Hallo." sambung dokter Abrar.


"Eh, dokter. Anu, itu. Kenapa ya?" Tanya Yunda gugup.


"Anunya siapa?" balik tanya dokter Abrar sambil duduk di dekat Yunda.


"Maaf dokter, tadi cuma salah ngomong." Ujar Yunda berusaha menutupi gugupnya.


Yunda menarik napasnya berulang kali, lalu mencubit pipinya sedikit keras, berusaha meyakinkan bahwa itu bukan mimpi. Dan rasanya sakit, berarti itu nyata.


"Sendirian aja," Ucap dokter Abrar.


"Enggak kok, dok. Tadi sama bayangan, sekarang sama dokter."


Dokter Abrar tersenyum mendengar ucapan konyol dari Yunda itu.


"Dokter ngapain kesini? Awas pasiennya jangan ditinggal."


"Saya lagi gantian sama dokter lain, mau istirahat. Mau makan juga. Kamu sudah makan?"


Yunda menggeleng pelan, ragu sekaligus bingung. Ada apa dengan dokter Abrar, kenapa tiba-tiba bisa begitu ramah padanya?


"Jangan telat makan, masa mau menyusul Papamu masuk rumah sakit." Ucap dokter Abrar lagi, bibirnya tak lepas menyinggung senyum. Senyuman manis yang membuat seorang Yunda jatuh cinta.


Bagai ditaburi bubuk piksi, Yunda serasa terbang dengan senyuman termanis yang baru ia lihat sekali. Ternyata pangeran tampan itu benar ada. Batin Yunda.


"Enggak telat dok, cuma memang belum lapar. Maklum biasanya makan mengikuti istirahat kantor."


"Memang istirahat kantor jam berapa?"


"Jam setengah satu sih."


Dokter Abrar melirik jam yang melingkar pergelangan tangan kanannya.


"Sepuluh menit lagi. Kita jalan kekantin, habis itu pesan makanan pas setengah satu."


Mendengar ucapan Dokter Abrar, Yunda berusaha mencerna, apa maksudnya si dokter mengajaknya makan siang?


"Ayo temani saya makan, kamu sekalian makan."


Yunda terdiam, belum menjawab. Ia shock dan bingung. Sepertinya ia harus bangun dari tidur, kenapa semua yang diinginkan dari sang dokter terjadi begitu cepat.


Tanpa menunggu ajakan kedua kalinya, Yunda berdiri dan berjalan beriringan dengan dokter Abrar.


Rasanya Yunda Masih tak percaya, gugup dan menahan sesuatu yang aneh. Bagaimana tidak, baru kemarin mereka bertemu, tanpa kenalan nama dan tiba-tiba dokter Abrar begitu ramah padanya, bahkan sampai mengajak makan siang.


Apa doa orang jatuh cinta dikabulkan sedapat ini, jika benar maka Yunda berharap dilamar secepat mungkin oleh sang dokter.


Tak berapa lama saat keduanya menuju kantin, meraka sampai. Lalu memasan makanan dan duduk disebuah kursi dipojok ruangan berdua saling menghadap.


"Kenapa? Dari tadi kok kayak bingung gitu." tanya dokter Abrar kemudian saat mereka sudah duduk.


"Bingung saja, kenapa tiba-tiba dokter begitu akrab dengan saya dan juga ngajak saya makan." Papar Yunda kemudian mengutarakan rasa bingungnya.


"Saya gak ada teman makan, jadi saya pikir apa salahnya mengajak anak tuan Rendra. Kamu keberatan?"


Yunda menggeleng.


"Oiya saya hampir lupa, nama Saya Abrabrian Bara. Biasanya orang memanggil Abrar. Kamu?" Sambung dokter Abrar.


"Saya Yunda, iya Yunda saja."


"Nama lengkapnya? Siapa tau bisa saya ingat buat ijab nanti." Gelak dokter Abrar. Yunda ikut tersenyum getir, Hampir saja tertawa tapi tak jadi.


Meskipun dokter Abrar sudah menjelaskan kenapa dan kenapa mereka sampai makan bersama, tapi Yunda Masih belum percaya dengan semua hal itu.


Mana mungkin ada seorang dokter, muda, tampan dan begitu Baik. Mau begitu saja makan dan kenalan dengan orang yang baru saja dilihatnya. Terasa janggal dan aneh.


Sementara dokter Abrar menahan dirinya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, tentang permintaan tuan Rendra.


Tepatnya pagi ini, saat dokter Abrar melakukan pengecekan diruangan tuan Rendra. Tuan Rendra awalnya menanyakan apa dokter Abrar sudah memiliki pasangan, setelah sang dokter mengatakan tidak. Tuan Rendra berusaha ingin mengenalkan Yunda pada si dokter.


"Anaknya baik dok, memang sedikit nakal dan suka keluyuran." Ucap Tuan Rendra saat itu.


"Tapi saya belum kenal sama dia, Pak. Lagi pula belum tentu dia bisa tertarik sama saya." Kata dokter Abrar meragukan dirinya sendiri.


"Dokter jangan begitu, dokter itu baik dari segala hal, pasti Yunda mau sama dokter. Saya kadang berpikir, bagaimana jadinya nanti sama anak itu kalau telat nikah beneran."


Dokter Abrar tak banyak menjawab ucapan Tuan Rendra selain mengangguk dan tersenyum. Ia memang ragu, bukan karena tak memiliki perasaan apapun pada Yunda. Tapi, ia ragu jika Yunda tak menyukainya.


Bagi dokter Abrar, Tuan Rendra adalah orang baik, suka membantu orang miskin yang susah berobat, dan juga donatur tetap dirumah sakit. Melihat sikap tuan Rendra yang begitu, pasti juga menurun pada anak-anaknya.


Maka, saat tuan Rendra mengatakan untuk berusaha mengenal Yunda, dokter Abrar gak menolak.


"Dok, dokter." Panggil Yunda sambil menggoyangkan pundak kiri dokter Abrar.


Sang dokter terjaga dari lamunanya, kemudian menyinggung senyum.


"Siang-siang melamun, kesambet nanti." Sambung Yunda. "Ini makanannya udah datang."


"Oiya, maaf kepikiran pekerjaan." Ujar dokter Abrar berbohong. Kemudian menikmati makanan yang dipesannya tadi.