My Berondong Husband

My Berondong Husband
#58 Nyonya Mira dan Pekerjaannya (1)



"Mama mau kemana?" Tanya Renata begitu melihat sang Mama tengah berdandan rapi didalam kamarnya.


"Ketemu client, urusan kerja." Jawab nyonya Mira sambil membenarkan make-punya.


"Jam segini? Ini kan udah malam, Ma."


Nyonya Mira mengindahkan ucapan Renata lalu menatap jam silver yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Masih setengah tujuh sayang. Lagian kalau siang kan Mama kerja."


"Mama gak mau ketemu laki-laki lain atau pacar, kan?" selidik Renata.


"Ngaco ah, client Mama memang laki-laki tapi bukan pacar Mama. Udah tua begini masa mikirin pacar."


"Siapa tau kan, lagi jamannya oma-oma jalan sama Berondong."


"Hus." Tegur Nyonya Mira. Kemudian berlalu dari depan cermin. Mengambil tasnya yang berada diatas meja. "Mama gak lama, kalau sudah selesai Mama pulang. Nanti kalau mau titip apa-apa, chat Mama aja ya."


Renata mengangguk. Dibarengi dengan kepergian Nyonya Mira yang berjalan keluar dari rumahnya, menuju mobilnya.


Sesampainya dimobil ia menjalakan kendaraan itu, melaju memasuki jalan raya.


Memang ini sudah malam, meskipun tak begitu larut. Seharusnya ia istirahat dirumah, berhenti beraktivitas untuk memulihkan tenaga agar esok bisa bekerja lebih baik lagi.


Tapi, ia tak bisa meninggalkan pekerja ini, ada client penting yang meminta ingin bertemu, untuk membicarakan soal saham dan pekerjaan yang sepertinya begitu mendesak.


Pak Bondan mengatakan bahwa besok pagi pagi sekali ia harus pergi ke singapura untuk beberapa lama.


Nyonya Mira mau tidak mau pun harus menyanggupi permintaan Pak Bondan, karena ditangannya semua urusan saham dan pekerjaan bisa berjalan dengan mudah.


Meskipun ia harus bekerja dari pagi hingga malam, tapi nyonya mira tak pernah sedikitpun mengeluh, karena pekerjaan ini sudah ia lakukan sebelum ia memiliki keluarga.


Sang Papa meninggal dan mewariskan perusahaan padanya, karena ia tak memiliki saudara laki-laki, dan ia juga anak pertama dari tiga bersaudari.


Setelah menikah ia menyerahkan perusahaan pada Tedi, sang suami yang juga merangkap sebagai pengacara. Tapi, Tedi dengan bodohnya pergi beberapa tahun lalu.


Awalnya Tedi hanya berpamitan untuk urusan kerjanya, tapi sudah berminggu minggu hingga bulanan tak kunjung pulang bahkan tak ada kabar. Hari-harinya berlalu tanpa suami, dari Renata dan Bian kecil hingga mereka tumbuh dewasa Tedi tak pernah muncul.


Terakhir kali yang ia dengar bahwa Tedi sudah menikah lagi dan memiliki anak, mungkin usia nya tidak jauh berbeda dari kepergiannya.


Jika mengingat tentang Tedi, sakit rasanya. Pernikahan sah mereka hancur tiba-tiba, bukan karena masalah, juga bukan karena orang ketiga.


Awalnya ia selalu terpikirkan soal Tedi, menangis setiap mengingatnya, tapi semua tak ada gunanya.


Nyonya Mira tak ingin selalu terkungkung oleh sakit hati dan masa lalu, meskipun perasaan kecewa itu masih membekas dalam pikirannya.


Ia memfokuskan diri pada kendaraannya, jika ia tak konsentrasi bisa terjadi hal gawat nantinya, apalagi ia berada dijalan raya.


Pertemuan dengan client berada disebuah resto italia, meraka sengaja melakukannya disebuah resto agar terkesan santai dan tenang. Yang memilih tempat itupun Nyonya Mira.


Tak sampai dua puluh menit, Nyonya Mira sampai di tempat tujuan. Memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari sana.


Ia merapikan pakaian yang ia kenakan, ia ingin terlihat fress dan tak nampak wajah kelelahan padanya. Diberi simpati oleh client itu sesuatu yang memalukan baginya.


Begitu sampai di pintu masuk, seorang pelayan menyambutnya, lalu membimbingnya duduk disebuah kursi sambil menyodorkan menu.


Nyonya Mira menolak, mengatakan untuk menyimpan menu itu nanti.


Sesuai kesepakatan, pertemuan itu dilakukan pukul tujuh malam. Berarti sepuluh menit dari sekarang.


Sambil menunggu ia mengecek ponselnya, ada pesan masuk dari Renata yang menitip beberapa makanan dan cemilan. Anak perempuannya itu memang berbeda dari anak perempuan lainnya.


Renata memiliki hobi yang doyan makan dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan makan, padahal seharusnya perempuan seusianya memikirkan soal menjaga pola tubuh dan diet untuk menjaga diri. Tapi, anehnya Renata tak peduli.


Dilihat seksama, Renata memang mirip dengannya waktu muda dulu, ia pun malas memikirkan bentuk tubuh, tapi karena ia dianugerahi gen kurus, sebanyak apapun makanan yang ia konsumsi ia tetap memiliki tubuh kurus.


Namun, semakin bertambah usia, Nyonya Mira harus memikirkan pola makan dan hidup sehat, ia tak ingin tiba-tiba jatuh sakit disaat yang tidak tepat.


Jika sampai ia sakit dan Renata masih kuliah, siapa yang akan menggantikan pekerjaanya, Bian tak mungkin mau.


Bian lebih memilih meniti karier sebagai pengacara, sebagai pesuruh orang, padahal Mamanya memiliki perusahaan sendiri. Tapi, Bian selalu mengatakan untuk lepas dari belenggu bayang bayang harga keluarga.


Saat memikirkan hal itu, nampak dari ekor matanya seorang laki laki dengan usia yang tak jauh berbeda dengannya berjalan mendekatinya.


"Selamat malam, Nyonya Mira." Sapa laki laki bernama Bondan itu. "Terima kasih sudah mau menunggu."


"Selamat malam juga Pak Bondan. Silahkan duduk." Ucap Nyonya Mira ramah.


Pak Bondan menarik kursinya, saat Nyonya Mira memanggil seorang pelayan dengan gerakan tangannya. Mereka berdua hanya memesan minuman dan sedikit cemilan untuk teman mengobrol.


"Sudah lama menunggu?" Tanya pak Bondan.


"Tidak juga, Pak. Saya juga baru datang."


"Maklum bu, jalanan kalau sesore ini masih cukup ramai, anak-anak muda menuhin jalanan sambil asik pacaran." Ujar Pak Bondan lagi.


"Biasa Pak, dulu waktu muda kita juga begitu, kan." Kata nyonya Mira sambil mengulas senyum tipis. Kemudian tangannya membuka penutup tas yang sejak tadi ia bawa, mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang berisikan beberapa berkas dan data yang hendak mereka bicarakan. "Ini berkas soal proyek kita, Pak."


Pak Bondan menerima map itu lalu membuka dan melihat isi dari berkas-berkas yang akan mereka bicarakan. Dibacanya satu persatu kata yang ada, setiap lembaran dan detailnya, agar tak kurang atau ada salah pemahaman nantinya.


"Kenapa saham di PT Sangga Mitra, pindah tangan, Nyonya? Sayang sekali padahal, sekali gol bisa banyak menguntungkan." Tanya Pak Bondan.


"Kemungkinan saya tidak bisa meneruskan saham ini, Pak. Saya sudah terlalu lelah untuk mengurus banyak pekerjaan, apalagi bapak tahu Bian didalam penjara, Renata masih kuliah yang tak mungkin mengurus perusahaan dalam waktu dekat."


Pak Bondan mengangguk, ia tahu masalah tentang itu. Siapa yang tak kenal Bian, pengacara sukses relasi para pejabat tinggi, bahkan ia dulu pernah hampir bekerjasama dengan Bian, saat terjerat masalah dengan salah satu perusahaan milik relasinya.


"Berkas saham ini akan saya baca nantinya, saya akan pahami dulu, sekiranya cocok akan kita bicarakan nantinya bu. Untuk proyek kita bagaimana?"


"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelum kalau kita akan berkerja sama untuk proyek ini," Nyonya Mira menunjuk sebuah kertas salinan proyek rangkap dua.


Kemudian meraka terus membicarakan proyek kerja sama itu. Bagaimana proyek itu akan di laksanakan dan dijalankan, bagaimana seterusnya.


Pembicaraan itu berhenti saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Pak Bondan mengatakan untuk mengakhiri pertemuan itu, Nyonya Mira setuju.


Pak Bondan lebih dulu berlalu pergi, Nyonya Mira menyusul setelahnya.


Nyonya Mira sedikit bernapas lega, mungkin benar kata Pak Bondan, bahwa pelepasan saham itu cukup disayangkan, mengingat setiap semsternnya menghasilkan cukup banyak uang. Tapi, Nyonya Mira tak bisa terus mengurusnya, karena itu menyita banyak aktivitasnya.


Ia kini berjalan masuk kedalam mobil, badannya mulai terasa pegal dan lelah, ia sepertinya butuh istirahat dan menenangkan diri.


Dijalankannya mobilnya melaju lagi dijalan lagi, lalu sesekali singgah di tempat makanan dimana Renata menitip sesuatu.


Meskipun ia sedang ingin cepat cepat sampai rumah, tapi ia tak ingin membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan masih ramai, itu akan membahayakan dirinya jika terlalu bersemangat berkendaraan.


Mengingat usianya, ia bukan anak muda lagi. Hal yang paling buruk adalah terjadinya kecelakaan, lalu masuk penjara karena menghilangkan nyawa orang lain dan menikmati sisa hidupnya didalam sana.


%%%


Sesampainya dirumah, Nyonya Mira langsung masuk kedalam, tak lama Renata menyambutnya dengan senyum bahagia.


"Rena kira Mama pulangnya malam, jadi Rena mau nelphone ojol buat beli makanan." Ujar Renata sambil mengambil bungkusan makanan yang pegang sang Mama.


"Kan sudah Mama bilang urusannya gak lama, kalau ketemu pacar baru lama." Nyonya Mira merebahkan diri diatas sofa, lalu menaruh tasnya diatas meja.


Nyonya Mira berusaha melepaskan penatnya, ia rasanya sudah benar benar ingin pensiun dini, tapi bagaimana nasib perusahaannya.


"Mama capek, ya?" Tanya Renata sambil duduk disamping sang Mama.


Nyonya Mira mengangguk perlahan.


"Sini Renata pijitin." Sambungnya sambil memijat pelan tangan dan kaki nyonya Mira.


"Tumbenan, pasti ada maunya, kan?" Selidik nyonya Mira sambil melihat gerak gerik Renata.


"Apaan sih, Ma. Enggak ada, Renata mijit Mama karena kasihan lihat Mama capek." Jawab Renata mengelak.


"Kalau kasihan cepat lulus dan Bantuin Mama."


"Ini juga lagi berusaha, Ma. Baru juga semester tiga."


Nyonya Mira tak menjawab, ia berusaha menikmati pijatan dari tangan kecil Renata, meskipun itu sepeti tidak berpengaruh bagi tubuhnya yang seperti hampir mencapai batas sakitnya.


"Mama kenapa gak Bantuin Kak Bian, sih." Sambung Renata kemudian, Nyonya Mira membuka matanya.


"Bantu gimana?" Tanya nyonya Mira, berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan pernyataan dari Renata.


"Mama kan banyak uang, bantulah Kak Bian biar cepat keluar dari penjara, kasian Renata lihat."


Nyonya Mira terdiam, ucapan itu lagi. Beberapa bulan lalu Bian juga memintanya membantunya untuk keluar dari penjara, tapi ia menolak dengan alasan agar Bian jera dengan masalah itu.


Beberapa orang relasi dan karyawannya juga mengatakan hal yang sama berulang kali agar membantu sang anak lepas dari masalah besar. Tapi, ia belum pernah berubah pikiran.


Kadang ia berpikir ia egois dengan tidak memberikan uang jaminan pada kasus Bian, meskipun ia tahu resiko pekerjaan Bian memang begitu.


Dulu Tedi juga hampir masuk pada masalah yang sama, tapi ia berusaha membuat semuanya tenang. Saat ia yakin semuanya berjalan seperti yang ia mau, Bian malah menghancurkan.


"Biar kakakmu dapat pelajaran," Ujar Nyonya Mira kemudian.


"Tapi, Kak Bian kasihan, Ma. Gak seharusnya dia masuk penjara." Bela Renata pada Bian.


"Gak seharusnya gimana, dia itu salah karena udah nyuap. Tindakan pidana dan kriminal lho."


"Sudah ah, Mama egois dan enggak sayang lagi sama Kak Bian." Ucap Renata sambi membawa makannya dan berlalu pergi dari hadapan sang Mama.


Nyonya Mira masih terdiam disana, meskipun banyak yang memaksanya untuk membebaskan Bian, tapi ia tetap menolak. Ia tak ingin melihat Bian bersikap manja dan seolah ia memiliki segalanya.


Sementara itu diwaktu yang sama. Kesya dan Kevano berusaha untuk tidur setelah tak ada hal yang ingin mereka kerjakan.


"Eh Yang kamu tahu gak?" Ucap Kevano sambil bertanya.


"Tau apa?" Tanya balik Kesya.


"Katanya Stefani asistennya Pak Kevin Sanjaya, pemilik perusahaan AldeBaran Group bilang kalau mereka mau menikah."


"Panjang banget menyebutnya. Iya meraka memang mau menikah dua bulan lagi."


"Kok bisa, ya." Ucap Kevano berusaha berpikir.


"Kok bisa gimana? Ya bisa lah. Pak Kevin laki laki semangat Stefani perempuan."


"Bukan gitu, usia mereka itukan beda jauh banget, mungkin sekitar lima belas tahunan, kan."


"Lah terus usia kita ini apa? Jauh juga kan? Sembilan tahun lho."


"Iya, juga sih. Tapi kan yang..."


"Sudah tidur sana kamu." Ujar Kesya memotong ucapan Kevano, lalu memikirkan tubuhnya agar kandungannya terjaga.


Kevano masih belum bisa memejamkan matanya, karena rasanya masih cukup sore. Saat ia melirik jam yang berada di dinding jarumnya menunjuk pada angka sepuluh malam.


"Yang, kamu gak berniat jenguk Bian?" Tanya Kevano kemudian.


Kesya yang belum sepenuhnya tidur mendengar ucapan Kevano tiba-tiba kembali terjaga.


"Maksudnya?" balik tanya Kesya penasaran.


"Jenguk Bian di penjara sana yang."


"Kenapa tiba-tiba kamu ngomongin gitu?"


"Enggak ada, cuma penasaran aja selama Bian di penjara kenapa kamu gak pernah jenguk."


Kesya terdiam, tak menjawab apa yang dikatakan Kevano tadi.


Rasanya sudah hampir satu tahun ia tak mengingat soal Bian, ia bahkan hampir lupa kalau Bian itu pernah memilki hubungan khusus dengannya. Meskipun hubungan mereka berakhir dengan tidak baik.


Kesya mulai mengingat kejadian masa lalu, saat di malam paling menjijikkan dalam hidupnya, setelah dikotori Bian, ia ditinggalkan begitu saja, sakit rasanya, bahkan saking sakitnya ia harus menahan diri dan tangis.


Ia tak berangkat bekerja selama beberapa hari, tak membunyikan ponsel atau apapun, hati dan pikirannya sibuk dengan sakit yang mendera.


Bahkan hingga menikah dengan Kevano pun ia masih sempat sakit hati, meskipun akhirnya ia berusaha melupakan demi untuk membuat rumah tangganya berjalan lancar.


"Aku mau jenguk dia nanti, kalau udah ada waktunya. Waktunya entah kapan."


"Kenapa? Kamu masih sakit hati?"


"Masih. Sudah lah aku gak mau bahas soal Bian lagi. Aku mau tidur." Ucap Kesya dengan wajah cemberutnya, meskipun tak nampak dimata Kevano.


Sedangkan Kevano malah kepikiran. Ia belum bisa mengatakan sepenuhnya tentang rahasia yang ia tahu dari Ruben pada Kesya, ia juga tak ingin Kesya memikirkan hal yang sama seperti dirinya, karena ia takut itu akan berdampak buruk pada kandungan Kesya.


Ia hanya ingin Kesya baik-baik saja dan bersikap seolah semuanya berjalan baik.